Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.
Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.
Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.
Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dalam kondisi yang berbeda
Sementara di waktu yang sama, Fajar dan Fania juga mengunjungi butik.
Sebenarnya Fajar enggan datang kesini. Ia tau betul jumlah uang yang akan di keluarkan istrinya hanya untuk sekali datang.
Namun karena malam ini mereka harus datang ke salah satu pesta, ia pun tak punya pilihan lain.
"Fania, pilih satu gaun saja, jangan dicoba semuanya. Pilih juga yang sekiranya masuk diskon, kamu ingat kan kita harus berhemat."
Mendengar batasan Fajar, seketika mood Fania langsung buyar.
Wanita itu lepas pelukan dari lengan sang suami, menatap malas ke arah lain.
Fajar tarik nafas panjang, "Fania...mohon mengertilah, klinik praktik mas lagi sepi sayang..."
Semenjak ada proyek pabrik herbal baru yang naik daun kemarin, orang-orang mulai jarang datang ke rumah sakit.
Bukan tanpa alasan obat-obatan dari pabrik itu laku keras.
Selain dari manfaatnya yang bagus, untuk mendapatkannya juga terjangkau.
Para masyarakat Indonesia yang notabene-nya suka yang murah, tentu memilih yang praktis.
Alhasil, klinik Fajar jadi korbannya.
"Mas sekarang kamu kok jadi kere?"
Lontaran kata Fania bak tusukan tajam di dada Fajar.
Pria itu memejam dalam. Tangannya mengepal di samping tubuh, namun ia harus menahan sabar demi mental sang istri, apalagi Fania baru beberapa hari ini keluar dari rumah sakit.
"Iya, mas minta maaf. Mas cuma mau kita fokus ke hal-hal pokok dulu. Untuk hal beginian kan masih sekunder, kita fokus yang primer."
"Tapi kebutuhan ini juga pokok buat aku, mas! Sebulan sekali aku harus ke salon! Minimal 5 juta cuma buat spa sama pedicure. Belum menicure-nya, belum nail-art nya. Minimal sebulan aku ganti nai-art sayang!" gerutu Fania kesal.
Rahang Fajar mengetat. Fania benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama.
Tiba-tiba siluet Azarin melintas di otaknya.
Jika itu Azarin, wanita itu pasti akan setuju. Azarin selalu menurut apa kata suami. Bahkan meski Azarin tidak ingin perawatan, Fajar akan menawarkannya sendiri, dan rela mengeluarkan uang banyak untuknya.
Hanya saja Azarin masa itu tidak terlalu suka perawatan. Dan yah....kondisi fisiknya tentu apa kadarnya. Sementara Fajar juga butuh keindahan mata.
Semakin kesini Fajar jadi semakin mempertanyakan, sebenarnya hubungan ini akan sampai mana. Dan betapa banyak lagi stok sabar yang harus ia keluarkan.
Fania yang malas berdiri di samping suaminya, memilih jalan-jalan ke arah lain.
Ia lihat VIP room pemilihan gown favoritnya.
Fania menoleh ke arah suaminya di belakang cepat, melambaikan tangannya untuk Fajar mendekat.
"Mas, sini!"
Fajar pun segera berlari kecil ke arah sang istri.
Ia tatap tulisan yang tercetak jelas di atas sana.
VIP Room.
Untuk sesaat dompetnya bergetar.
"Sayang, apa tidak bisa kamu memilih gaun di luar ini saja?" ucap Fajar seraya memilih gaun-gaun yang tergantung rapi di tiang-tiang sampingnya.
Fania tatap gaun klasik itu malas.
"Itu udah berlalu, Mas. Aku mau pilih yang terbaru!"
Tenggorokan Fajar rasanya kering saking seringnya ia menelan ludah.
"Mba, aku mau masuk!" seibit Fania tiba-tiba pada sang pegawai di samping pintu masuk.
Sang pegawai merunduk sopan.
"Maaf, mba. Untuk VIP room sudah di booking. Tunggu beberapa jam lagi yah."
Mendengar itu Fania tentu melotot. Ia refleks menatap ke arah tirai yang menjuntai di sampingnya.
"Tapi saya penginnya sekarang, mba! Suruh mereka keluar gih!"
Sang pegawai tentu menolak, merunduk sopan berkali-kali.
"Mohon maaf. Kamu tidak bisa mengganggu. Ini demi keamanan costumer."
Fania makin kesal, ia ingin menyerobot masuk. Namun tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang.
Cukup kencang hingga tubuh Fania terhuyung ke belakang.
"Fania!" sentak Fajar.
Cukup.
Ia juga punya batas kesabaran.
"Apa sih mas! Ini tempat favorit aku! Dulu jaman lajang aku biasa keluar masuk disini! Baru sama kamu ini aku jadi kere!"
PLAKK!!
Fania melotot, tatapannya berubah kosong dengan wajah tertoleh ke samping.
3 tahun menikah baru kali ini Fajar berlaku kasar padanya.
Fania balik tatap tajam Fajar, memegang pipinya yang kebas dan memerah akibat tamparan.
"Kamu berani nampar aku?!" bola mata Fania mulai berkaca-kaca.
Fajar Jambak rambutnya frustasi, mencoba menenangkan sang istri.
"Cukup Fania cukup! Mohon mengertilah! Ini rumah tangga, bukan lajang lagi. Ada masanya keuangan kita krisis. Tolong mengerti kondisi mas!"
"Tapi aku gamau, mas! Dulu aku bisa beli yang aku mau! Masuk kesini bisa sebulan 5 kali ga mikir! Tapi semenjak sama kamu, aku kehilangan semua kebebasanku!"
"Mas ngerti Fania, mas ngerti! Tolong bersabar sedikit! Setelah keuangan kita stabil, mas pasti akan ajak kamu ke semua tempat, termasuk memilih gaun yang kamu suka!"
"Tapi, mas! Aku—!"
"Terimakasih sudah berkunjung...."
Fajar dan Fania spontan menoleh ke arah tirai.
Makin terkejut mereka setelah melihat siapa yang sedari tadi membuat mereka menunggu begitu lama.
"Azarin...." kata itu lolos begitu saja dari bibir Fajar.
Menatap kosong ke arah wanita ayang tersenyum pada pria di sampingnya, Dean.
Sementara Fania. Saking tak percayanya, ia sampai mengucek matanya berkali-kali.
"Itu kan—!"
Fania masih ingat betul siapa cowo yang pernah orang tuanya rekomendasikan untuknya.
Salah satunya adalah, Dean.
Hanya saja masa itu perusahaan orang tua-nya Dean masih tahap berkembang setelah ditinggal meninggal pemimpin sebelumnya.
Dan posisi Dean masih menjadi pekerja magang di perusahaan orang tuanya sendiri saat itu.
Daripada menjadi istri pekerja magang, lebih baik Fania menikah dengan cintanya yang seorang dokter terkenal.
Siapa sangka.
Setelah Fania menikah dengan Fajar. Dean mengakui sisi perusahaan di bawah naungannya.
Dan paling tidak ia sangka-sangka, hanya dalam kurun waktu 2 tahun. Proyek perdana yang Dean luncurkan sukses besar, dan mengembalikan dana perusahan berkali-kali lipat.
"Dean?"
Merasa dipanggil, Dean refleks menoleh, begitu juga dengan Azarin dan Mia di gendongan pria itu.
Kening Dean mengerut. Sementara Fania menatap penuh binar, berlari mendekat ke arah pria itu.
"Jadi benar kamu Dean?!" Fania tatap Dean dari atas sampai bawah.
Bisa Fania taksir, kemeja yang Dean pakai sekarang harganya puluhan juta. Belum jam rolex terbaru yang melingkar di lengannya, serta cufflink berlian asli itu. Hanya dengan melihatnya saja Fania sudah silau.
Dean mundur beberapa langkah dari Fania.
Merasa dijauhi, Fania kembali mendekat, saking mepetnya sampai Dean hampir terhuyung mepet pada tirai.
Merasa kesal Azarin balik memasang badan di depan Dean dan sang putri. Menatap Fania tajam.
"Mohon jaga sikap anda. Anda membuat Tuan Dean tidak nyaman." kata-kata tegas Azarin nyaris membuat Dean terpaku.
Padahal sedari tadi wanita itu bersikap polos dan tidak enakan.
Ternyata bisa cosplay jadi kucing ganas juga.
Fajar tarik Fania ke belakang cepat. Mengsejajarinya.
"Sudah kubilang jaga sikapmu!" bisik Fajar geram, balik menoleh menatap Azarin intens.
"Maafkan Fania, Azarin. Dia—"
"Apasih alay! Reuni mantan suami istri jengkelin aja!" decak Fania lagi, melipat kedua tangan di depan dada seraya memalingkan wajah acuh.
Mia yang sedari tadi fokus menyimak pertengkaran orang dewasa di depannya itu mendongak.
"Papa, siapa tante jelek dan menol ini?"
lanjuut thor.....