NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13 Malam Pertama

Kabar tentang Eyang Maha membuat Kadipaten Cendekia seketika berubah tegang.

Danarta ingin berangkat malam itu juga, tetapi Arjuna menahannya.

"Jika Paman pergi terburu-buru, orang yang mengawasi Eyang akan tahu pesan itu sampai kepada kita."

"Lalu aku harus diam di sini sementara ayahku diracun pelan-pelan?"

"Paman tidak diam." Arjuna menatap Garuda yang baru dipanggil ke Kadipaten Cendekia. "Kirim dua orang tercepat ke tanah pengasingan. Bawa Tabib Srikandi lewat jalur Pasar Sentosa. Jangan memakai kereta keluarga Cendekia."

Garuda menunduk. "Siap."

Anindya berdiri di sisi Puspa. Gadis itu berusaha tidak menangis, tetapi jemarinya mencengkeram ujung selendang. Tanpa berpikir panjang, Anindya menggenggam tangannya.

"Eyang Maha akan bertahan," kata Anindya pelan.

Puspa mengangguk, meski napasnya masih bergetar. "Aku baru mengenalmu hari ini, tapi rasanya kau sudah seperti keluarga."

"Karena memang begitu," jawab Anindya.

Arjuna mendengar kalimat itu dari jauh. Di tengah ancaman dan darah lama, suara Anindya memberi ruang hangat yang hampir ia lupa pernah ada.

Mereka pulang saat langit mulai gelap.

Awalnya hanya gerimis. Namun ketika kereta melewati jalan batu menuju Puri Timur, angin tiba-tiba menguat. Daun-daun sawo kecik beterbangan, debu basah menempel di jendela kereta, dan langit di atas Kota Raja terbelah oleh kilat putih.

Anindya duduk di seberang Arjuna. Wulan berada di kereta belakang bersama barang-barang. Hanya mereka berdua di dalam ruang sempit yang bergoyang setiap roda menghantam lubang.

Petir pertama menyambar jauh.

Anindya menegang.

Gerakannya sangat kecil. Bahunya hanya naik sedikit, jari-jarinya hanya menekan lipatan kain. Namun Arjuna melihatnya. Tentu saja ia melihatnya. Dalam kehidupan lalu, pada malam hujan pertama setelah pernikahan mereka, ia mengabaikan suara benda jatuh dari kamar Anindya. Baru esoknya Wulan berkata bahwa Putri Mahkota tidak tidur semalaman karena petir.

Saat itu ia hanya mengangguk, lalu kembali pada laporan perang.

Kebodohan yang dingin itu masih membuatnya ingin menampar dirinya sendiri.

Petir kedua datang lebih dekat.

Anindya menunduk, berusaha terlihat tenang.

Arjuna melepas jubah luarnya dan meletakkannya di atas pangkuan Anindya.

Ia mendongak. "Yang Mulia?"

"Pegang ini."

"Hamba tidak kedinginan."

"Aku tahu."

Ia tidak menjelaskan. Pada kehidupan lalu, Anindya biasa menggenggam ujung selimut saat takut, bukan karena dingin, melainkan karena butuh sesuatu yang bisa ditahan tanpa terlihat lemah.

Anindya menatap jubah itu, ragu. Petir ketiga menyambar. Kali ini suara guntur mengguncang kereta.

Tanpa sadar, ia mencengkeram kain jubah Arjuna.

Arjuna berpaling ke jendela, pura-pura tidak melihat.

Kereta mendadak berhenti keras.

Tubuh Anindya terdorong ke depan. Arjuna menangkap lengannya sebelum ia jatuh. Di luar, kusir berteriak bahwa ranting besar patah menghalangi jalan. Hujan turun lebih deras, memukul atap kereta seperti ribuan kerikil.

"Tetap di sini," kata Arjuna.

Ia turun sebelum Anindya sempat menjawab.

Dari jendela kecil, Anindya melihat Arjuna berdiri di tengah hujan bersama dua pengawal, memeriksa jalan. Jubah dalamnya cepat basah. Rambutnya melekat di pelipis, tetapi ia tidak tampak tergesa. Ia memberi perintah pendek, mengangkat ranting bersama prajurit, lalu menoleh ke kereta setiap beberapa detik seolah memastikan ia masih aman.

Satu kilat menyambar pohon di sisi jalan.

Kuda meringkik. Kereta bergoyong keras. Pintu yang belum terkunci rapat terbuka sedikit, angin dan air masuk sekaligus. Anindya refleks bergerak menahan pintu, tetapi roda terantuk batu. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Arjuna muncul tepat saat itu.

Ia mendorong pintu dari luar, masuk setengah badan, dan menarik Anindya ke pelukannya sebelum bahunya membentur sisi kereta. Bunyi kayu menghantam dinding terdengar keras di belakangnya.

Untuk beberapa detik, Anindya hanya mendengar napas Arjuna di dekat telinganya.

"Kau terluka?" tanyanya.

Suaranya rendah, tetapi ada ketakutan yang jelas.

Anindya menggeleng. Tangannya tanpa sadar masih menggenggam bagian depan pakaian Arjuna.

Ia ingin melepaskan, tetapi guntur berikutnya meledak tepat di atas mereka.

Tubuhnya kembali menegang.

Arjuna tidak menertawakan. Tidak bertanya. Ia hanya menutup pintu, duduk di sampingnya, lalu mengangkat jubah basahnya sendiri untuk menutup sisi jendela yang bocor agar suara dan cahaya petir tidak langsung masuk.

"Lihat aku," katanya.

Anindya mencoba mengatur napas.

"Tarik napas pelan. Hitung sampai empat."

"Yang Mulia tidak perlu..."

"Anindya."

Namanya membuatnya berhenti.

"Hitung."

Ia menelan ludah. "Satu... dua... tiga... empat."

"Bagus."

Kata itu terlalu lembut untuk malam yang ribut.

Saat kereta kembali bergerak, Anindya masih memegang jubahnya. Arjuna membiarkannya.

***

Sesampainya di Puri Timur, Wulan langsung panik melihat ujung kain Anindya basah. Adi lebih panik lagi melihat Arjuna turun dengan pakaian hampir kuyup.

"Yang Mulia harus segera ganti pakaian," kata Adi.

"Siapkan air hangat untuk Putri Mahkota lebih dulu."

"Tapi Yang Mulia..."

"Adi."

Satu panggilan cukup.

Tidak lama kemudian, Anindya duduk di kamar dengan rambut setengah kering, memegang cangkir wedang jahe. Di luar, hujan masih turun. Setiap kali petir menyala, pelita di kamar bergetar.

Arjuna masuk setelah berganti pakaian. Ia membawa kotak kecil berisi kapas lembut dan beberapa potong kain kering.

"Untuk telingamu," katanya.

Anindya menatap kotak itu.

"Jika suara guntur terlalu keras, gulung kain kecil dan tahan di telinga. Jangan terlalu dalam."

Ia meletakkan kotak itu di meja, lalu berdiri seolah hendak keluar. Sikap itu justru membuat Anindya mengangkat wajah.

"Yang Mulia akan pergi?"

"Aku tidak ingin membuatmu merasa harus menerimaku di kamar ini hanya karena hujan."

Kalimat itu membuat Wulan diam-diam mundur ke dekat pintu. Anindya merasakan panas naik ke wajahnya. Mereka memang suami istri, tetapi sejak ia masuk Puri Timur, Arjuna tidak pernah menuntut apa pun darinya. Bahkan malam ini, setelah memeluknya di kereta dan melindunginya dari pintu yang hampir menghantam, ia masih menunggu izin.

Di luar, guntur kembali bergemuruh. Lebih jauh, tetapi tetap membuat jarinya menegang di cangkir.

"Hamba..." Anindya menurunkan suara. "Hamba tidak keberatan bila Yang Mulia duduk sebentar. Sampai hujan sedikit reda."

Arjuna menatapnya, seolah kalimat itu lebih berharga daripada titah kerajaan.

"Baik."

Ia duduk di kursi dekat jendela, menjaga jarak yang sopan. Namun ketika kilat menyala, ia menggeser pelita sedikit ke arah Anindya, membuat cahaya di sisinya lebih hangat.

Wulan menoleh, terkejut. "Gusti Putri memang biasanya..."

Anindya memberi isyarat agar Wulan diam.

Jantungnya berdetak tidak teratur. Bukan karena petir kali ini. Karena Arjuna tahu terlalu tepat. Jubah untuk digenggam. Hitungan napas. Kain kecil untuk telinga. Tidak ada satu pun yang pernah ia katakan sejak masuk Puri Timur.

Arjuna seolah baru menyadari ia bergerak terlalu jauh berdasarkan ingatan yang belum seharusnya ia miliki.

"Aku hanya menebak," katanya.

Anindya menatapnya lama. Hujan menetes dari ujung atap, ritmenya pelan dan rapat.

"Yang Mulia," ucapnya akhirnya, suara nyaris berbisik, "bagaimana Yang Mulia tahu hamba takut suara petir? Hamba tidak pernah memberi tahu siapa pun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!