Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Mata Emas dan Harta Karun yang Tersembunyi
Keluar dari gerbang mewah kediaman Keluarga Su, Lin Chen menghirup udara pagi dalam-dalam. Angin musim gugur yang sejuk menyapu wajahnya, membawa perasaan bebas yang sudah lama tidak ia rasakan.
Ia mengeluarkan ponsel lamanya yang retak di bagian ujung layar. Sebuah pesan notifikasi dari bank luar negeri terpampang jelas:
[Pemberitahuan Saldo] Dana sebesar 10.000.000,00 CNY telah berhasil ditransfer ke rekening rahasia Anda. Status dana: Bersih dan legal.
"Sepuluh juta Yuan," gumam Lin Chen sambil tersenyum tipis. "Untuk orang biasa, ini adalah uang yang tidak akan habis seumur hidup. Tapi untuk menghancurkan raksasa seperti Keluarga Lin dan Keluarga Zhao... ini bahkan belum cukup untuk menjadi uang saku."
Di kehidupan sebelumnya, Lin Chen adalah seorang jenius bisnis di Ibukota. Ia tahu betul bahwa membangun sebuah kekaisaran membutuhkan modal awal yang masif. Untungnya, sistem baru saja memberinya kunci pembuka jalan: [Mata Emas].
Tanpa membuang waktu, Lin Chen menghentikan taksi dan menyebutkan tujuannya. "Ke Pasar Antik Jiulong."
Pasar Antik Jiulong adalah pusat perdagangan barang antik terbesar di Provinsi Jiangnan. Jalanan sepanjang dua kilometer itu dipenuhi oleh toko-toko mewah berlantai tiga hingga lapak-lapak tenda di pinggir jalan yang menjual segala jenis barang; mulai dari porselen, batu giok, lukisan kaligrafi, hingga koin perunggu berkarat.
Tempat ini adalah surga bagi para kolektor, sekaligus neraka bagi mereka yang serakah. Di sini, ungkapan 'satu langkah ke surga, satu langkah ke neraka' sangatlah nyata.
Lin Chen turun dari taksi dan melangkah memasuki keramaian pasar. Ia memusatkan pikirannya dan bergumam dalam hati, "Sistem, aktifkan Mata Emas."
[Ding!]
[Keterampilan Pasif: 'Mata Emas' diaktifkan. Memindai area sekitar...]
Tiba-tiba, pandangan Lin Chen berubah. Dunia di sekitarnya seolah mendapatkan lapisan filter baru. Dari berbagai barang yang dipajang di lapak-lapak, memancar cahaya dengan warna yang berbeda-beda.
Cahaya abu-abu redup menandakan barang palsu atau sampah. Cahaya putih berarti barang asli namun bernilai rendah. Sedangkan cahaya biru, ungu, dan emas menandakan barang-barang berharga tinggi sesuai dengan tingkat kelangkaannya.
Sejauh mata memandang, 99% barang di pasar itu memancarkan cahaya abu-abu.
"Pantas saja banyak orang bangkrut di sini," kekeh Lin Chen pelan. Ia berjalan menyusuri jalanan dengan santai, mengabaikan teriakan para pedagang yang mencoba menawarkan barang rongsokan kepadanya.
Hingga akhirnya, langkah Lin Chen terhenti di depan sebuah toko barang antik berukuran sedang yang bernama [Paviliun Harta Karun].
Matanya menyipit. Di sudut toko yang gelap dan berdebu, di tumpukan lukisan-lukisan kaligrafi tua yang ditata sembarangan dalam sebuah tong kayu, memancar seberkas cahaya keemasan yang sangat menyilaukan.
Cahaya Emas!
Lin Chen melangkah masuk. Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertubuh tambun bernama Bos Wang, sedang asyik meminum teh sambil melayani seorang pelanggan istimewa.
Pelanggan itu adalah seorang pria tua berambut putih yang mengenakan setelan tunik tradisional Tiongkok (Tangzhuang). Ia memancarkan aura wibawa yang sangat kuat. Di sisinya, berdiri seorang gadis muda cantik berusia sekitar dua puluhan, mengenakan gaun merah elegan dengan ekspresi sedikit angkuh.
"Tuan Tua Tang, Anda lihat vas porselen biru putih dari Dinasti Ming ini? Ini adalah koleksi terbaik di toko saya," rayu Bos Wang dengan senyum menjilat.
Tuan Tua Tang hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya perlahan, jelas tidak tertarik.
Lin Chen mengabaikan mereka. Ia langsung berjalan ke arah tong kayu di sudut ruangan dan menarik sebuah gulungan lukisan tua yang penuh debu. Ketika ia membukanya, lukisan itu menampilkan pemandangan burung bangau dan pohon pinus. Kertasnya menguning dan tepiannya sudah mulai rapuh.
Informasi dari Mata Emas seketika muncul di benak Lin Chen.
[Nama Barang:] Lukisan Burung Bangau Tiruan (Kualitas Rendah)
[Tahun:] Akhir Dinasti Qing.
[Nilai Permukaan:] 500 Yuan.
[Status Tersembunyi:] Terdapat rongga rahasia (Lukisan di dalam lukisan). Di baliknya tersembunyi karya asli 'Pemandangan Musim Semi' oleh pelukis legendaris Dinasti Ming, Tang Yin (Tang Bohu).
[Nilai Asli:] Estimasi 35.000.000 - 45.000.000 Yuan.
Jantung Lin Chen berdetak sedikit lebih cepat, namun wajahnya tetap sedatar air danau yang tenang. Ia menggulung lukisan itu dan berjalan ke meja kasir.
"Bos, berapa harga lukisan ini?" tanya Lin Chen, memotong percakapan Bos Wang.
Bos Wang menoleh dengan raut wajah kesal karena diganggu. Ia menatap pakaian Lin Chen yang terlihat murah dan biasa saja, lalu mendengus meremehkan. "Itu lukisan asli dari Dinasti Ming. Kalau kau tidak punya uang, jangan sentuh sembarangan! Harganya 50.000 Yuan!"
Lin Chen tertawa dingin. "Kertasnya dari era Republik awal, tintanya mengambang dan tidak meresap, stempelnya pun dicetak menggunakan mesin. Dinasti Ming? Bos, kalau kau ingin menipu, setidaknya carilah barang tiruan yang lebih bagus. Aku beri kau 3.000 Yuan."
Mendengar analisis tajam Lin Chen, Tuan Tua Tang yang awalnya tidak peduli, tiba-tiba menoleh. Matanya memancarkan ketertarikan. Gadis berbaju merah di sebelahnya pun ikut menatap Lin Chen, meski dengan tatapan skeptis.
Bos Wang tersedak, wajahnya memerah karena kebohongannya dibongkar di depan pelanggan VIP-nya. "B-bocah kurang ajar! Kau pikir kau pakar?! Baiklah, 3.000 Yuan, ambil sampah itu dan pergi dari tokoku!"
Bos Wang setuju dengan cepat karena modal awal lukisan rongsok itu hanyalah 50 Yuan. Ia masih untung besar.
Lin Chen langsung mentransfer uang 3.000 Yuan menggunakan ponselnya. Transaksi selesai.
"Bocah, kau baru saja membuang 3.000 Yuan untuk sebuah kertas penyeka meja," ejek gadis berbaju merah itu tiba-tiba, menyilangkan lengannya. "Kakekku adalah Presiden Asosiasi Barang Antik Donghai. Sekali lihat saja, kakekku tahu lukisan itu bahkan tidak bernilai 100 Yuan. Berlagak pintar tapi sebenarnya bodoh."
"Yuyan, jaga sopan santunmu," tegur Tuan Tua Tang lembut, lalu menatap Lin Chen sambil tersenyum. "Anak muda, cucuku benar. Lukisan itu memang tiruan berkualitas sangat rendah. Mengapa kau mau menghabiskan 3.000 Yuan untuknya?"
Lin Chen balas menatap Tuan Tua Tang. Ia mengenali siapa pria ini. Tang Zhen, Kepala Keluarga Tang, salah satu dari tiga keluarga penguasa sejati di Kota Donghai—jauh di atas keluarga kelas menengah seperti Keluarga Su maupun Zhao.
"Tuan Tua Tang," ucap Lin Chen tenang. "Kadang-kadang, yang berharga bukanlah apa yang terlihat di permukaan, melainkan apa yang disembunyikannya."
Lin Chen menoleh ke arah Bos Wang. "Bos, pinjamkan aku sebuah baskom berisi air hangat dan sebuah pinset bedah."
"Untuk apa kau meminta hal-hal aneh di toko barang antikku?!" Bos Wang menggerutu, namun melihat Tuan Tua Tang yang tampak penasaran, ia akhirnya menyuruh pelayannya membawakan barang yang diminta Lin Chen.
Lin Chen meletakkan gulungan lukisan itu di atas meja lebar. Di bawah tatapan skeptis Yuyan, cibiran Bos Wang, dan mata tajam Tang Zhen, Lin Chen mencelupkan tangannya ke dalam air hangat dan membasahi ujung-ujung lukisan itu dengan sangat hati-hati.
Gerakannya mengalir, sangat presisi, seolah ia adalah seorang ahli restorasi yang telah berpengalaman puluhan tahun. Keterampilan ini, tentu saja, merupakan bagian dari pengetahuan pasif yang diberikan oleh Mata Emas.
Tiga menit kemudian, lem di sudut lukisan itu mulai meleleh.
Lin Chen mengambil pinset. Dengan gerakan secepat kilat namun sangat lembut, ia menarik lapisan atas kertas lukisan tersebut.
Sreeeekk...
Lapisan tiruan berkualitas rendah itu terkelupas sepenuhnya, memperlihatkan sebuah lapisan kertas Xuan (kertas kaligrafi Tiongkok) kuno di bawahnya. Kertas itu memancarkan aroma tinta tua yang sangat khas. Sebuah pemandangan pegunungan dan sungai musim semi yang dilukis dengan sapuan kuas yang luar biasa megah dan hidup, perlahan menampakkan dirinya di depan mata mereka semua.
Di sudut kanan bawah, terdapat sebuah cap stempel merah berbunyi: 'Pelajar Romantis Pertama di Jiangnan'.
BRAK!
Tuan Tua Tang secara refleks menggebrak meja dan berdiri, matanya membelalak lebar hingga nyaris melompat keluar dari rongganya. Napasnya memburu keras.
Gadis bernama Yuyan menutup mulutnya dengan tangan, tertegun tak percaya. Bos Wang di sisi lain, kakinya langsung lemas dan ia jatuh terduduk ke lantai, wajahnya sepucat mayat.
"I-ini... sapuan kuas yang bebas namun tajam... tinta yang meresap ke jiwa..." Suara Tuan Tua Tang bergetar hebat. Tangannya yang keriput gemetar saat ia mencondongkan tubuhnya ke arah lukisan itu, seolah sedang menatap dewa yang turun dari langit.
"Ini adalah karya asli Tang Bohu! Pemandangan Musim Semi! Ya Tuhan! Lukisan di dalam lukisan! Teknik menyembunyikan mahakarya untuk menghindari perampasan di era perang!"
Tuan Tua Tang menatap Lin Chen seolah melihat monster. Pemuda berpakaian lusuh ini memiliki mata yang lebih tajam dari naga!
"Berapa... berapa nilai lukisan itu, Kek?" tanya Yuyan dengan suara bergetar, rasa angkuhnya hancur tak bersisa.
"Di lelang Xianggang tahun lalu, karya Tang Bohu dengan kualitas di bawah ini terjual seharga 30 juta Yuan. Lukisan ini... setidaknya bernilai 40 juta Yuan!" seru Tang Zhen bersemangat.
Mendengar angka "40 juta Yuan", Bos Wang memutar matanya ke atas dan langsung pingsan di tempat karena serangan jantung ringan. Ia baru saja menjual barang seharga 40 juta dengan harga 3.000 Yuan!
Lin Chen dengan tenang menggulung lukisan yang telah terbuka itu. "Tuan Tua Tang memiliki mata yang bagus. Jika Tuan Tua tertarik, aku bisa melepasnya kepada Anda."
"Benarkah?!" Tang Zhen sangat gembira. "Adik kecil, aku tidak akan mengambil keuntungan darimu! Aku akan mentransfer 45 juta Yuan ke rekeningmu sekarang juga! Yuyan, cepat minta nomor rekening Tuan Muda ini!"
Tang Yuyan, gadis cantik yang tadinya meremehkan Lin Chen, kini melangkah maju dengan wajah memerah karena malu. Ia membungkuk sedikit, memperlihatkan sikap hormat. "Tuan, m-maafkan kelancanganku sebelumnya. Boleh saya meminta nomor rekening Anda?"
Lin Chen menyebutkan deretan nomor rekeningnya dengan datar.
Hanya dalam waktu lima menit, ponsel Lin Chen kembali bergetar.
[Pemberitahuan Saldo] Dana masuk sebesar 45.000.000,00 CNY. Saldo Anda saat ini: 54.997.000,00 CNY.
Dalam waktu kurang dari dua jam sejak ia melangkah keluar dari rumah Keluarga Su, Lin Chen telah meraup kekayaan lebih dari lima puluh juta Yuan.
"Urusan bisnis telah selesai. Terima kasih, Tuan Tua Tang." Lin Chen mengangguk sopan dan berbalik untuk pergi.
"Tunggu, Adik Kecil!" panggil Tang Zhen buru-buru, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam keemasan yang sangat eksklusif. Di seluruh Kota Donghai, kartu ini hanya dikeluarkan kurang dari sepuluh lembar. Pemegang kartu ini akan diperlakukan sebagai tamu kehormatan tingkat tertinggi oleh Keluarga Tang di mana pun mereka berada.
"Hari ini aku, Tang Zhen, telah membuka mata. Tolong terima kartu ini. Jika Adik Kecil menemui kesulitan di Kota Donghai, Keluarga Tang-ku bersedia membantu dengan segenap kekuatan kami."
Lin Chen melirik kartu itu, lalu menyimpannya ke dalam sakunya. Mengingat Keluarga Tang memiliki pengaruh besar di faksi bawah tanah dan bisnis, ini akan menjadi bidak catur yang bagus untuk rencananya di masa depan.
"Akan kuingat, Tuan Tua Tang. Nama saya Lin Chen."
Setelah mengatakan itu, Lin Chen melangkah keluar dari toko, meninggalkan bayangan punggung yang penuh misteri.
Tang Zhen menatap kepergian Lin Chen sambil mengelus jenggotnya. Matanya memancarkan kilatan tajam seorang penguasa sejati.
"Lin Chen... pemuda ini seperti naga yang tersembunyi di perairan dangkal. Yuyan, segera perintahkan orang-orang kita untuk menyelidiki latar belakangnya. Pemuda dengan kemampuan menakutkan seperti ini tidak mungkin hanya orang biasa!"