Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.
Makanan Untuk Dimas
Keesokan harinya, Laras datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Di dalam tasnya, ia sudah menyiapkan bekal makanan kesukaan Dimas yang baru saja ia beli di toko roti langganan keluarganya pagi-pagi sekali. Sepanjang jalan menuju kelas, ia tersenyum sendiri membayangkan reaksi Dimas nanti—pasti senang sekali menerima perhatian seperti ini, pikirnya penuh percaya diri.
Sesampainya di ambang pintu kelas, Laras melihat Dimas sudah duduk di tempatnya, sedang berdiskusi pelan dengan Arga dan Bima. Ia segera merapikan seragamnya, memastikan rambutnya tertata rapi, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang ia anggap paling menarik.
Rara yang baru saja masuk bersama Aisyah langsung berhenti di tempat. Matanya menyipit melihat tingkah Laras yang berusaha terlihat manis, berjalan pelan sambil membetulkan posisi tas bahunya berkali-kali. Rara langsung merasa tidak nyaman. Kemarin saja ia bersikap kasar dan seenaknya, hari ini berubah total seolah ingin menjadi pusat perhatian.
"Selamat pagi, Dimas," sapa Laras dengan suara yang sengaja dibuat lembut, sambil meletakkan kotak bekal di atas meja Dimas. "Aku kebetulan lewat toko roti kesukaanmu tadi pagi. Kebetulan ada yang baru matang, jadi aku beli lebih banyak. Nih, buat kamu saja ya."
Dimas terkejut sejenak, menatap kotak itu lalu menatap wajah Laras. "Wah, terima kasih ya Laras. Tapi kok repot-repot begitu? Kamu sendiri belum sarapan kan?" tanyanya sopan namun sedikit ragu.
"Ah enggak kok, aku sudah makan banyak di rumah. Kamu saja makan ya, biar semangat belajarnya," jawab Laras sambil tersenyum lebar, tangannya hampir menyentuh lengan Dimas sebelum akhirnya ditarik kembali saat melihat Arga meliriknya tajam.
Dari sudut ruangan, Rara hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tidak suka sekali dengan cara Laras yang tiba-tiba berubah sikap hanya demi mendekati Dimas. Rasanya semua tingkahnya terlihat dibuat-buat, tidak tulus sama sekali.
"Dia itu kenapa sih?" bisik Rara pada Aisyah sambil menurunkan tasnya di bangku. "Kemarin baru saja menyusahkan orang lain dan bersikap angkuh, hari ini malah sibuk memanjakan orang lain. Rasanya aneh sekali melihatnya."
Aisyah menatap Laras sekilas, lalu tersenyum tipis menenangkan Rara. "Mungkin dia memang ingin berubah. Tapi ya memang benar sih, perubahannya terlalu mendadak. Semoga saja niatnya baik, tidak ada yang disembunyikan di baliknya."
Sementara itu, Dimas menatap kotak bekal itu sejenak. Ia tidak tega menolak secara langsung, tapi hatinya juga tidak enak menerimanya begitu saja dari orang yang belum terlalu akrab. Akhirnya ia mengambil kotak itu dan menyodorkannya kembali ke arah Laras.
"Terima kasih banyak atas perhatianmu ya Laras. Tapi lebih baik kamu bawa pulang saja atau berbagi dengan teman lain. Aku sudah dibawakan bekal cukup banyak dari rumah, takutnya nanti terbuang sia-sia kalau tidak habis. Lagian kan kita sebaiknya saling berbagi dengan teman yang belum makan, bukan cuma untuk satu orang saja," ucap Dimas dengan nada halus namun tegas.
Wajah Laras seketika berubah merah padam. Ia tidak menyangka Dimas akan menolak begitu saja. Dengan gugup ia mengambil kembali kotak itu. "Oh... begitu ya. Baiklah kalau begitu. Aku pikir kamu suka sekali roti itu," jawabnya pelan, suaranya sudah tidak seceria tadi. Ia segera berbalik badan dan berjalan cepat menuju bangkunya, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Rara melihat kejadian itu dari jauh, lalu tersenyum lega. Setidaknya Dimas tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal manis yang dibuat-buat. Ia tahu, ketulusan jauh lebih berharga daripada pemberian apa pun yang disertai niat lain.
Rara masih menatap ke arah bangku tengah, di mana Laras sedang duduk menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Ia tersenyum tipis, lalu menoleh perlahan ke arah Aisyah yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Kamu kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri lihat ke sana," tanya Aisyah sambil menyusun buku pelajaran di atas meja.
Rara mengangguk pelan sambil menunjuk sekilas ke arah kotak bekal yang kini diletakkan sembarangan di meja Laras. "Lihat deh tadi. Dimas menolak pemberian makanan dari Laras," jawabnya pelan namun jelas.
Aisyah ikut melirik sekilas, lalu kembali menatap Rara dengan tatapan ingin tahu. "Lho, kok bisa? Biasanya kan kalau ada yang kasih baiknya diterima saja."
"Aneh ya," gumam Rara sambil menggelengkan kepala pelan. "Baru juga jadi teman, belum sempat kenal dekat, kok sudah berani-beraninya memberikan sesuatu secara pribadi begitu. Rasanya terlalu cepat dan dibuat-buat saja."
Rara mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya semakin pelan seolah takut didengar orang lain. "Tapi aku senang kok melihatnya. Ternyata Dimas tak semudah itu lho dipengaruhi oleh hal-hal manis di permukaan saja. Dia tidak langsung terbuai oleh pemberian atau sikap yang tiba-tiba berubah begitu."
Aisyah tersenyum setuju sambil menepuk pelan lengan Rara. "Benar juga ya. Dimas memang tipe orang yang berhati-hati dan sopan. Dia tahu batasan, jadi tidak sembarangan menerima sesuatu dari orang yang belum terlalu akrab. Itu tandanya dia bukan orang yang mudah tergoda."
"Iya kan?" Rara tersenyum lega, beban di hatinya perlahan hilang. "Semoga saja Laras sadar, kalau untuk mendekati orang baik tidak bisa pakai cara terburu-buru atau kepura-puraan seperti itu. Harus tulus dari hati."
Mereka berdua pun kembali tertawa kecil, lalu beralih membuka buku pelajaran, hati Rara kini jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Lo ngapain ketawa-ketawa nggak jelas kayak begitu? Lo ketawain temen gue ya?"
"Apa-apaan sih kok tiba-tiba aja lo ngomong kayak begitu? Gue nggak ngomong apa-apa ya dan gue juga nggak ketawa apa-apa jangan berpikiran yang aneh-aneh dari jadi orang!"
Citra merasa yakin banget kalau misalkan yang mereka obrolkan itu adalah Laras yang tadi tidak diterima tentang roti pemberiannya kepada Dimas makanya Citra sebagai teman barunya Laras nggak terima dong teman barunya itu di kata-katain sama orang lain apalagi teman sekolah sendiri!
Rara dan Aisyah pun meninggalkan Citra karena nggak peduli juga sama orang baru ke Citra ini apalagi mereka kan sama-sama baru kelas 10 jadi ya ngapain ngomong kayak begitu mau cari jagoan atau kayak gimana?
"Dia kayaknya tahu deh kalau misalkan sahabatnya itu atau teman barunya itu suka sama Dimas! Kayaknya dia nggak bisa diajak berteman deh soalnya kelihatan banget."
"Ya namanya teman sekelas itu beraneka ragam si karakternya dan kita juga nggak bisa ngontrol mereka untuk suka sama kita tapi ya udahlah yang paling penting kan kita tetap baik sama mereka,"
"Kita tetap baik sama mereka aduh aku ogah banget deh Aisyah, aku tuh udah capek banget menemukan teman-teman di waktu SMP jadi aku nggak mau lagi terulang kembali kayak begitu!" bantah Rara dengan cepat.