Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monisha Affan 04.
Masih di kediaman rumah suami dan mertua, Malam ini Mona yang biasa tidur di kamar tembok warna merah jambu yang hampir penuh dengan poster foto Carmen. Justru untuk hari ini agak merasa aneh jika ia akan tidur di kamar laki-laki seusianya.
Maghrib tadi Mona sempat meminta pulang ke mama, tapi mama bilang kalau Mona setelah menikah tidak lagi tinggal di rumah orang tua. Bukan mereka mengusir Mona dari rumah, justru orang tua mengingatkan kalau Mona sudah menjadi seorang istri yang akan mendampingi suami nya setiap saat. Dari semua itu, rumah orang tua selalu terbuka untuk Mona kunjungi kapan pun.
Pada akhirnya Mona paham dan bersikap dewasa. Di momen berduaan di kamar Affan salah satu nya. Saat mereka ingin tidur di ranjang yang sama. Entah kenapa perkataan senonoh dari ibu-ibu komplek tadi siang membuat Mona terngiang-ngiang hingga sekarang.
Affan yang hampir meraih lelapnya seketika tersentak ketika punggung nya di dorong paksa oleh Mona.
"Ngapain sih kamu!" Kata Affan yang pastinya sewot.
"Jarak kamu terlalu deket" Jawab Mona lempeng.
"Terus?" Tanya Affan singkat dengan kedua alis terangkat.
Mona lantas mengambil guling, sehingga menjadikan nya sumber batas suci untuk mereka tidur. "Jangan lewatin batas suci!"
Affan menghela nafas jengah, melihat jam di dinding sudah pukul dua malam. Jarang sekali ia melek di jam segini. Namun bagi Mona jam segini dirasa masih sore. Saat Affan mengalah dan ingin tidur, disitu Mona memiringkan hp nya untuk main game mobile legends.
Ada suara notif keras dari game ketika baru login, membuat Affan yang mulai merem kembali melek. "Tidur woy! Jam berapa ini!"
"Nyenyenye, itu mulut kok bising banget dari tadi seperti emak-emak komplek" Mona keras kepala, justru meledeknya.
Affan yang jelas benci dengan orang tidak disiplin waktu— lantas mengambil hp gadis itu tanpa diduga-duga. "Jangan main hp, cepat tidur!"
Mona yang benci diatur-atur jelas tak terima jika hp nya diambil. "Balikin hp nya!"
"Enggak, sementara hp kamu saya tahan semalaman!" Tegas Affan.
"Affan!"
"APA!" Affan menatapnya horor.
Mona merangkak seperti bayi menuju posisi Affan tidur, membuat Affan langsung duduk untuk menahan kening Mona dengan telapak tangan nya.
"Balikin!"
Affan mengabaikan rengekan Mona, pria itu memilih turun dari ranjang. "Saya akan tidur di sofa ruang tamu" Katanya, yang kemudian ia melangkah menuju pintu kamar.
"WOY HP NYA!" Teriak Mona, sayangnya di cuekin.
Pada akhirnya Mona pasrah dengan keadaan ketika mama mertua terbangun dari lelapnya, beliau memarahi keduanya untuk tidak ribut di jam malam menuju subuh. Bukan nya apa-apa, takut tetangga terganggu lalu ikutan ngamuk juga.
Di pagi hari, Mona sarapan dengan keluarga baru nya di ruang makan keluarga Affan. Gadis itu canggung luar biasa karena ini baru pertama kalinya ia sarapan bukan sama keluarga nya sendiri.
Praktis, hati Mona seketika menghangat ketika Bu Sisi mengambil lauk tambahan di atas piring punya Mona. "Makan yang banyak ya Mona, biar kondisi kamu tetap fit. Nasi masih banyak tenang aja"
"Iya mama" Mona tersenyum, kini Mona jadi bingung sendiri. Mama mertuanya perhatian dan baik hati, sedangkan anak nya kenapa nyebelin luar biasa? Hal itu dibuktikan ketika dari belakang punggung nya Affan datang lalu semena-mena melempar hp yang disita di saat pemiliknya ingin memasukkan sendok ke dalam mulut.
Tanpa rasa bersalah sudah menumpahkan kuah sop ayam milik Mona dari mangkuk, Affan justru santai ngambil nasi dan lauk lainnya. Mona berusaha tersenyum di hadapan keluarga ini, walau dalam hati nya ingin sekali memutilasi tubuh Affan.
**
Waktu cepat sekali berputar hingga sehabis waktu ashar, dimana Mona dan Affan di bawa ke rumah baru mereka oleh kedua orang tua yang ikut mendampingi.
Mona dan Affan sudah datangi rumah ini sebelum menikah, terlihat ada tiga kamar tidur, dan hanya ada satu kamar mandi di dekat dapur. Rumah ini cuma satu tingkat dan cukup luas ukurannya. Perabotan juga sudah di atur sedemikian rupa oleh keluarga.
Hingga bahan-bahan makanan juga sudah di sediakan oleh orang tua. Tugas Mona dan Affan menjalani nya saja.
Mama Anggun menyerahkan satu unit kunci rumah untuk Mona pegang. sementara Affan juga diberi satu kunci rumah yang sama dari mama Sisi.
Kunci rumah dengan gantungan doraemon yang menjadi simbol hubungan pernikahan mereka.
Di mana filosofi dari orang tua Mona dengan orang tua Affan, yang seolah-olah sudah anggap mereka berhasil mengubah masa depan lewat masa lalu dari mendiang kakek nya.
Di hari pertama ini, perjanjian pernikahan mereka sudah mulai digerakkan. Ketika matahari sudah mulai tenggelam, tapi orang tua masih belum mau pulang dari rumah baru mereka.
Ada kritik pedas dari orang tua Affan tentang kejadian semalaman mereka. Hingga Affan yang panik saat melihat kedua mata mama mertua mulai tidak bersahabat. Secara pria itu langsung meminta Mona untuk bertindak agar orang tua nya tidak kecewa.
Affan meminta Mona masak makanan buat makan sore keluarga. "Cepat masakin makanan yang enak, bikin orang tua kamu enggak marah lagi ke kita" Bisik Affan.
Disini terlihat cukup kelimpungan untuk Mona, di mana hari ini ia baru tahu kalau ada jadwal masak makanan saat Affan memperlihatkan selembar kertas jadwal masak harian mereka.
Hingga di detik pertama bagaimana cara Mona menelan saliva nya begitu dalam, lalu gadis itu semena-mena mengatakan. "Saya ga bisa masak, kamu aja!!"
Ini kacau, apa lagi Affan. Ceplok telor yang mudah saja kadang keasinan.
Pada detik kelima mata Mona agak membulat saat menelisik jadwal masak itu. Praktis, gadis itu langsung mengambil jadwal masak harian dari tangan Affan. Hingga mata itu semakin membulat saat menemukan nama nya terpampang jelas di bawah hari Senin, Selasa, Rabu, kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.
"Heh monyet, yang bener saja kalau bikin jadwal dong!" Protes Mona tak terima.
"Gausah bawel cepet masakin, entar saya bantu kamu goreng telor"
"Mau masak apa anjir!!" Mona mencubit pinggang Affan saking kesalnya.
"Bebas yang penting enak!" Jawab Affan seraya menabok tangan Mona yang lagi mencubit pinggangnya.
Mona menggoyang-goyangkan jari telunjuk ke arah Affan yang memberi tanda kalau ia kesal dan kecewa, hanya saja Affan masa bodo dari bahasa tubuh itu.
"Ayo masakin kita makanan!" Sedangkan Pak Reza dari ruang tamu malah antusias melihat mereka debat perkara masakan di dapur.
"Iya papah!" Teriak Mona dari arah dapur.
Dua puluh menit kemudian..
Mona berhasil masakin sesuatu untuk para orang tua yang di bantu oleh Affan.
Hingga makanan yang dimasak mereka akhirnya sudah diletakkan begitu saja di tengah meja makan. "Silahkan dimakan dulu pah, mah" Kata Mona tersenyum simpul.
Namun para orang tua tidak sama sekali bergerak untuk mengambil nasi ataupun lauk nya. Tatapan mereka seolah-olah tidak suka dengan masakan dari kedua pasutri itu.
Mona memasak mie instan goreng yang praktis dan gak ribet. Hanya saja mie itu terlihat masih belum lunak. Terlebih telor ceplok buatan Affan yang terlihat gosong di pinggiran nya.
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan