Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
Hari presentasi akhirnya tiba.
Sejak pukul tujuh pagi, kantor Orion Creative sudah sibuk. Semua tim mondar-mandir memastikan tidak ada berkas yang tertinggal. Nadira mengecek slide presentasi untuk kesekian kalinya, sementara Arga masih sibuk mengatur urutan konsep visual.
"Slide keempat sudah diganti?" tanya Nadira tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
"Sudah."
"Video pembuka?"
"Aman."
"Mockup?"
"Sudah masuk."
Nadira mengembuskan napas lega.
"Bagus."
Arga menatapnya sambil tersenyum tipis.
"Kamu kalau gugup jadi cerewet, ya?"
Nadira menoleh.
"Aku bukan cerewet."
"Kamu baru nanya hal yang sama tiga kali dalam sepuluh menit."
"Itu namanya memastikan."
"Iya, Bu Perfeksionis."
Nadira mendecak pelan.
"Kalau presentasi gagal, jangan salahkan aku."
Arga tertawa.
"Kalau presentasi gagal, kita salahkan kopi."
Nadira menahan senyum.
"Kamu masih ingat?"
"Mana mungkin lupa. Gara-gara itu aku dimusuhin seminggu."
"Lebih dari seminggu."
"Oke, dua minggu."
"Kamu hitung?"
"Aku hitung."
Jawaban itu membuat Nadira terdiam sesaat.
---
Ruang presentasi dipenuhi perwakilan klien.
Pak Dimas membuka pertemuan sebelum mempersilakan Nadira maju lebih dulu.
Dengan tenang, Nadira menjelaskan hasil riset pasar. Suaranya jelas, gesturnya percaya diri.
Begitu masuk ke sesi konsep kreatif, giliran Arga mengambil alih.
Ia menjelaskan setiap ide dengan santai, sesekali menyelipkan humor ringan yang membuat suasana tidak kaku.
Untuk pertama kalinya, Nadira melihat bagaimana Arga bekerja di depan klien.
Pria itu tahu kapan harus bercanda, dan lebih tahu lagi kapan harus serius.
Saat sesi tanya jawab dimulai, salah seorang direksi mengajukan pertanyaan yang cukup sulit.
"Kalau target penjualan tidak tercapai dalam tiga bulan pertama, apa strategi cadangannya?"
Arga sempat berpikir.
Namun sebelum menjawab, ia melirik Nadira.
Tatapan mereka bertemu.
Tanpa perlu berdiskusi, Nadira langsung melanjutkan penjelasan dengan data yang ia pegang.
Arga menyempurnakan jawabannya dengan strategi lapangan.
Mereka saling melengkapi.
Tidak saling memotong.
Tidak saling mendominasi.
Setelah presentasi selesai, direktur klien tersenyum puas.
"Kerja sama kalian bagus."
Pak Dimas yang berdiri di belakang hanya mengangguk bangga.
---
Begitu keluar dari ruang rapat, seluruh tim langsung bersorak.
"Yes!"
"Akhirnya selesai!"
Rina memeluk Nadira.
"Presentasimu keren banget!"
"Nggak sendiri."
Nadira menoleh ke arah Arga yang sedang membereskan laptop.
"Dia juga."
Arga tersenyum sambil mengangkat jempol.
"Partner terbaik."
Entah kenapa, kali ini Nadira tidak membantah.
---
Sore harinya, kabar baik datang.
Klien resmi menyetujui konsep yang mereka ajukan.
Pak Dimas mengumpulkan seluruh tim.
"Malam ini kita makan bareng."
Sorak sorai langsung memenuhi ruangan.
"Ditraktir, Pak?"
"Iya."
"Asyik!"
---
Restoran yang dipilih tidak terlalu mewah, tetapi suasananya hangat.
Semua orang duduk bercampur sambil bercanda.
Di tengah makan malam, Rina tiba-tiba berdiri sambil membawa gelas.
"Karena proyek ini sukses..."
Semua orang menoleh.
"...aku mau kasih penghargaan."
Pak Dimas tertawa.
"Penghargaan apa?"
"Pasangan paling kompak."
Beberapa orang langsung bersiul.
Rina menunjuk ke arah Nadira dan Arga.
"Jelas mereka."
Seketika meja dipenuhi sorakan.
"Wuuuu..."
"Speech!"
Nadira langsung menutup wajahnya.
"Rina!"
"Apa?"
"Kamu cari masalah?"
Arga malah ikut tertawa.
"Aku nggak nolak sih."
"Arga!"
"Iya, iya."
Ia langsung mengangkat tangan menyerah.
Pak Dimas menggeleng sambil tersenyum.
"Kalian memang paling sering debat."
"Justru itu," sahut salah satu rekan kerja. "Kalau debatnya sehat, hasilnya bagus."
Malam itu dipenuhi tawa.
Namun di balik semua kebahagiaan itu, Celine yang duduk di ujung meja hanya tersenyum tipis.
Ia ikut senang melihat proyek berjalan sukses.
Tetapi semakin lama ia memperhatikan, semakin jelas satu hal.
Cara Arga memandang Nadira...
Sudah berbeda.
---
Acara selesai sekitar pukul sembilan malam.
Saat semua orang mulai pulang, hujan kembali turun.
"Kok hujan lagi, ya," gumam Rina.
Satu per satu karyawan dijemput atau berlari menuju kendaraan mereka.
Nadira berdiri di bawah kanopi sambil menunggu hujan sedikit reda.
Tiba-tiba sebuah payung terbuka di sampingnya.
"Yuk."
Arga.
"Kita parkir di arah yang sama."
Nadira mengangguk pelan.
Mereka berjalan berdampingan.
Jalan menuju parkiran cukup sempit.
Sesekali bahu mereka bersentuhan.
Tidak ada yang menjauh.
Tidak ada yang berbicara.
Yang terdengar hanya suara hujan.
"Tahu nggak?" kata Arga tiba-tiba.
"Hm?"
"Aku senang."
"Karena proyeknya berhasil?"
"Itu juga."
"Lalu?"
Arga menatap jalan di depan.
"Tapi lebih senang karena ngerjainnya sama kamu."
Langkah Nadira melambat.
Jantungnya kembali berdetak tidak karuan.
"Kenapa diam?"
"Aku lagi mikir."
"Mikir apa?"
Nadira menatap hujan yang jatuh di luar payung.
"Aku dulu yakin..."
Ia tersenyum kecil.
"...orang paling menyebalkan yang pernah kutemui itu kamu."
Arga terkekeh.
"Lalu sekarang?"
Nadira menatapnya beberapa detik.
"Sekarang..."
Belum sempat kalimat itu selesai, suara seseorang memanggil dari belakang.
"Arga!"
Mereka berdua menoleh bersamaan.
Celine berdiri beberapa meter dari mereka.
Wajahnya basah karena hujan.
"Aku... mau ngomong sebentar."
Tatapan Arga berubah serius.
Sementara Nadira merasakan firasat yang tiba-tiba tidak enak.
Ia belum tahu apa yang ingin disampaikan Celine.
Namun instingnya mengatakan...
Malam ini belum benar-benar selesai.
**Bersambung ke Episode 14...**