" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Sudah saat nya
Setelah menyetujui untuk ikut dengan orang tuanya ke acara bisnis, Sean bersiap-siap di ruang ganti.
"Nyenyak sekali tidurnya," senyum lebar Sean yang sedang memakai pomade di rambutnya menatap Ara yang masih tidur nyenyak memeluk boneka kelincinya.
Sean mengambil ponsel yang dia sandarkan ke kaca lalu mengecup ponselnya seolah sedang mengecup pacar kecilnya yang selalu menemani hari-hari Sean hampir sebulan ini.
Gadis polos yang awalnya begitu nekat mendekati sampai Sean risih kini berhasil masuk ke hatinya, bahkan menguasai hampir 70% kebahagiaan dalam hidup Sean.
"Ahhh, aku serasa kembali seperti ABG yang sedang jatuh cinta," kata Sean menggelengkan kepalanya.
Bisa-bisanya dia seperti orang bodoh mengecup ponsel yang jelas-jelas benda mati.
"Sean, kau sudah dewasa. Bersikaplah selayaknya pria dewasa," ucap Sean yang kadang rada geli memikirkan tingkah lakunya jika sudah bersama Ara.
"Huuftt, Sean sekarang kembali seperti biasa," ucap Sean merapikan dasinya dengan wajah cool.
Sean menjadi terlalu santai dan ramah semenjak ada Ara, bahkan sering senyum-senyum tak jelas yang berbanding terbalik dengan kebiasaannya sebelumnya.
Selama ini Sean adalah pribadi yang tegas dan teguh dengan pendiriannya, bahkan bisa melawan jika ada yang menghalangi keinginannya sekalipun itu adalah ayahnya sendiri.
......
"Aku sudah siap," kata Sean menghampiri Ayah dan Ibu yang menunggunya di dekat tangga.
"Lama sekali, bahkan Ibumu selesai lebih dulu," gerutu Ayah yang sepertinya sudah menunggu cukup lama.
"Aku ke toilet dulu, Ayah," kilah Sean, padahal sedari tadi dia membangunkan pacar kecilnya yang kenyataannya belum bangun sampai sekarang.
Sean mengantongi ponselnya dengan VC yang masih menyala walaupun tadi Ara menyuruh Sean mematikannya.
"Sean, duduk di samping sopir. Kenapa kau malah duduk di samping istriku?" ucap Ayah ketika mereka akan masuk mobil.
"Ini kan Ibuku, aku ingin duduk di dekatnya," pernyataan Sean.
"Tidak, aku yang duduk di sebelahnya," ucap Ayah yang sama keras kepalanya dengan Sean.
"Kalian akan duduk atau Ibu yang pindah ke depan?" pertanyaan Ibu membuat kedua pria itu langsung masuk sehingga Ibu berada di antara mereka.
"Jalan," kata Ayah.
....
Sesampai di acara pesta, Sean berjalan di tengah orang tuanya yang selalu memperkenalkan Sean pada setiap kolega yang mereka temui.
"Ternyata akrab dengan Ayah juga enak," batin Sean yang tersadar bahwa sejak dulu dia memang tidak begitu akrab dengan Ayahnya.
Namun, perlahan Sean menyadari ada yang ganjal. Sedari dulu mereka selalu bertengkar seolah ada yang sengaja menciptakan jarak antara mereka.
Semakin Sean melihat tatapan beberapa kerabatnya, semakin Sean menyadari bahwa ternyata sebagian besar keluarganya tidak menyukai hubungan baik Sean dengan Ayahnya.
"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" ucap Sean memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.
"Ternyata Ayah tidaklah seburuk yang Paman ceritakan. Aku membenci Ayah karena hasutan mereka," batin Sean menyadari hal yang lebih besar.
"Dan kemungkinan besar Ayah bersikap kasar padaku sejak kecil karena hal-hal yang aku lakukan memang tidak sesuai yang dia inginkan, lalu Paman mengambil celah untuk menciptakan jarak antara kami," kesimpulan Sean.
"Astaga, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Aku harus memperbaiki kesalahanku," batin Sean.
....
3 minggu kemudian.
Sean yang sedang duduk di ruang kerja bersama Ayah dan Ibunya menoleh ketika seseorang mengetuk pintu.
"Jika itu soal pekerjaan, nanti saja. Habiskan dulu pudingnya," ucap Ibu yang juga sedang menikmati puding satu cup bertiga.
"Iya, Ibu," kata Sean dengan seulas senyum, meletakkan sendok yang dipegangnya dan membuka pintu karena orang itu terus mengetuk, sementara ada orang tuanya di dalam.
Semenjak hubungan Sean dan Ayahnya membaik, dia tidak ingin melewatkan waktu penuh kebersamaan yang hangat, apalagi terganggu oleh pekerjaan.
"Sayang!" kata Ara dengan excited, langsung melompat ke pelukan Sean sampai kedua kakinya ikutan melingkar di pinggang Sean.
"Baby," ucap Sean menopang Ara dengan sebelah tangan lalu mengelus kepalanya dengan kaku.
Ara sama sekali tidak bilang akan datang.
"Ara senang banget, ujian Ara udah selesai, jadi Ara bisa main puas-puas sama Ayang," kata Ara lagi melingkarkan kedua tangannya di leher Sean.
"Sayang udah janji bakalan ajak Ara jalan-jalan. Jangan ingkar, ya," kata Ara menatap Sean yang dipeluknya. Bahkan Ara masih memegang paper bag yang dibawanya walaupun memeluk leher Sean.
"Iya, nanti kita jalan dan beli baju," ucap Sean mengelus-elus kepala Ara dengan sayang.
"Terima kasih, Ayang," kata Ara memeluk kepala Sean kesenangan sampai sudut matanya menangkap sosok lain di ruangan Sean yang sebelumnya dia kira hanya Sean sendiri.
"Sayang, mereka siapa?" kata Ara takut, langsung turun dari gendongan Sean bahkan bersembunyi di belakang Sean.
"Ayah dan Ibu," ucap Sean menarik Ara yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Kok Ayang nggak bilang?" suara kecil Ara dengan wajah merah padam.
"Ayo ke sini, berkenalan dengan mereka," kata Sean tersenyum. Sudah saatnya dia mengenalkan Ara pada kedua orang tuanya.
"Tapi..." Ara berjalan dengan tangan diseret Sean. Selain malu, Ara juga takut.
"Ayo sapa mereka," gemas Sean melihat pacar kecilnya yang malah bersembunyi di balik punggungnya.
"Cepatlah," kata Sean tersenyum gemas menarik Ara sampai berdiri di sampingnya.
"Hai, Tante, Om," sapa Ara mengulurkan tangannya dengan takut-takut.
"Panggil Ayah dan Ibu," kata Sean ketika Ara menatapnya.
"Ayah, Ibu," kata Ara bersalaman.
"Duduklah," kata Ayah yang sebenarnya masih shock melihat Sean punya pacar sekecil ini.
Ayah tidak menyangka saja putranya yang sudah dewasa berpacaran dengan gadis yang sepertinya masih remaja dan juga manja.
Ara duduk di sebelah Sean dan sesekali bersembunyi di balik lengan Sean ketika Ayah dan Ibu terus menatapnya.
"Nama kamu siapa, Nak?" tanya Ibu tergelak melihat gadis itu yang takut-takut sampai bersembunyi ke lengan Sean.
"Ara, Tante, ehhhh, Ibu," kata Ara menutup mulutnya yang salah berucap.
"Kelas berapa?" pertanyaan Ayah to the point.
"Ara udah kuliah, semester 4," jawab Ara yang membuat Ayah bernapas sedikit lega. Setidaknya Sean tidak menjadi seorang pedofil memacari anak sekolah.
Demi apa pun, melihat tampilan dan sikap manjanya, Ayah benar-benar berpikir Ara masih SMA.
"Sini duduk dekat Ibu. Kenapa takut? Ibu tidak makan orang, kok," ucap Ibu yang sejak pertama melihat Ara sudah menyukainya.
"Tapi Ayah iya," suara kecil Ara takut-takut melihat tatapan Ayah yang sangat dingin.
Sean dan Ibunya tertawa bersamaan mendengar ucapan Ara.
"Ayah itu baik, hanya tampangnya saja menyeramkan," jelas Sean rada berbisik.
"Kamu harus mengambil hatinya dulu," bisik Sean menyuruh Ara memberikan makanan yang tadi Ara bawa pada Ayah dan Ibu.
Kedua orang tuanya hanya terdiam menatap Sean yang mengajari pacar kecilnya yang penakut dan manja dengan sabar seolah bukan dia saja.