Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAY - Part 2
“Kenapa lo?” tanya Maya, salah satu sahabat Jay semasa SMA.
Sebagai orang lama yang telah mengenal Jay luar dalam, Maya tentu mengetahui seluruh dinamika hubungan sahabatnya itu dengan Gea. Ia bahkan mengenal sosok Gea dengan cukup baik.
Siang itu, Jay duduk di depan Maya dengan kepala tertunduk. Jemarinya sibuk mengaduk-aduk kopi dingin di dalam gelas yang mulai berembun. Sebuah senyum getir terukir samar di wajahnya sebelum ia bergumam pelan, “gue juga gak tau.”
Maya mengamati raut kusut di wajah Jay sambil menyandarkan punggung ke kursi, melipat kedua tangan di depan dada. Di saat yang sama, ponsel Jay di atas meja bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk. Jay menyambarnya, mengetikkan balasan singkat dengan ekspresi datar.
Maya sempat melirik sekilas ke arah layar, menangkap nama kontak ‘Yaya♥’, nama kesayangan yang ia tahu khusus Jay simpan untuk Gea.
“Berantem lo?” tebak Maya langsung.
“Gitu deh,” jawabnya santai, melemparkan ponselnya ke meja dengan asal. “Dia belakangan ini mengajak gue jalan melulu. Sedangkan gue... emang lagi sengaja menarik diri kayak gini. Gue
pengen tahu, dia bakal nyariin gue atau enggak. Gue juga pengen tahu, dengan gue memperlakukan dia kayak gini, apa dia akhirnya bisa paham sama apa yang gue rasakan selama ini.”
Maya menghembuskan napas panjang, menatap sahabatnya dengan pandangan tidak habis pikir.
“Jay, lo tuh sebenernya lagi marah sama Gea… atau lo lagi marah karena lo takut kalo lo gak pernah cukup baik buat dia?”
Pertanyaan telak dari Maya membuat mata Jay membelalak sesaat. Ego dan rasa terkejutnya sempat berbenturan sebelum detik berikutnya pria itu mencoba menguasai diri kembali. Jay menyandarkan tubuhnya, memasang senyuman miring yang dipaksakan untuk menutupi kepanikan di dadanya.
“Gak ada hubungannya, May,” sanggah Jay cepat, nadanya langsung berubah defensive.
“Ada,” tekan Maya, tidak membiarkan Jay lolos begitu saja dari kenyataan. “Kalo lo dari awal
yakin dan percaya sama kapasitas diri lo sendiri, komen dari cowok random di media sosial gak
akan pernah bisa bikin lo ketakutan sampe bertingkah sejauh ini.”
Jay membuang muka, enggan menatap mata Maya. “Lo gak akan paham, May.”
“Ngejauhin dan ngediemin dia kayak gini juga gak akan pernah menyelesaikan masalah lo sama dia, Jay. Malah makin memperkeruh.”
“Kok lo malah gak ngedukung gue sih, May? Lo itu teman gue, bukan teman dia,” protes Jay, mulai merasa tersudut.
“Ya justru karena lo temen gue, gue gak mau lo bego begini!” sahut maya, suara sedikit ditekankan namun sarat akan kepedulian. “Lo sadar gak sih, kalo lo lagi nyakitin Gea…sekaligus nyakitin diri lo sendiri?”
Pertanyaan tajam dari Maya seketika mengunci lidah Jay. Pria itu terbungkam, membeku di tempatnya untuk waktu yang cukup lama. Kalimat-kalimat Maya bergaung keras di dalam
kepalanya, meruntuhkan tembok penyangkalan yang selama ini ia bangun demi melindungi egonya.
Di dalam keheningan kafe itu, Jay dipaksa untuk berpikir dan berkaca pada dirinya sendiri. Mengenai apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam hatinya, ketakutan terbesar apa yang selama ini coba ia sembunyikan di balik topeng posesifnya, bagaimana benang kusut ini bermula, hingga bagaimana caranya mereka bisa tersesat dan tiba di titik kehancuran seperti sekarang.
...****************...
Malam itu, setelah berpisah dengan Maya, Jay sengaja mengunggah foto cangkir kopi mereka yang berhadapan dengan siluet Maya menjadi latar belakang ke WhatsApp Status. Ia sengaja membiarkan lingkaran hijau di profilnya menyala, dengan satu tujuan, agar Gea melihatnya. Jay ingin Gea merasakan gejolak perih yang sama, rasa tidak aman yang selalu meremas dadanya setiap kali melihat gadis itu berinteraksi dekat dengan pria lain. Bahkan, sekalipun pria itu adalah Malik -sahabat masa kecil Gea yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih- Jay tetap tidak bisa menolak rasa panas di hatinya setiap kali orang-orang di kampus mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Malik.
Jay sengaja melempar umpan. Kini ia duduk di tepi kasurnya, menatap layar ponsel yang menyala dengan napas tertahan, menunggu reaksi yang ia dambakan. Ia menunggu Gea meledak marah. Ia menunggu Gea menuntut penjelasan karena cemburu. Ia ingin melihat ruang obrolan mereka dipenuhi oleh rentetan omelan gila dari gadis itu.
Jay berpikir, setidaknya Gea akan mengonfrontasinya dan mempertanyakan mengapa ia tidak pernah sudi mengunggah foto Gea di media sosial, tetapi dengan begitu ringan memamerkan pertemuannya dengan wanita lain. Jay mengira Gea akan mengamuk karena ajakan kencannya ditolak mentah-mentah dengan dalih 'sibuk', sementara Jay justru memiliki waktu luang untuk nongkrong bersama Maya.
Namun, satu jam berlalu, hingga malam merayap semakin larut, hal yang ia harapkan tidak kunjung tiba. Statusnya telah berubah menjadi 'dilihat oleh Yaya♥' sejak tiga puluh menit yang lalu. Tetapi, ruang obrolan mereka tetap senyap. Tidak ada notifikasi masuk. Tidak ada ketikan amarah.
Umpan beracun yang sengaja ia tebar sama sekali gagal mendatangkan hasil yang ia inginkan.
Rasa kecewa dan hampa yang teramat sangat seketika menyeruak, memenuhi setiap sudut dada Jay malam itu. Keheningan dari Gea justru terasa lebih menyakitkan daripada makian paling
kasar sekalipun. Jay meremas ponselnya, menatap langit-langit kamarnya yang sepi dengan tatapan nanar.
“Lo sebenarnya... masih sayang gak sih, Ge, sama gue?” ucapnya bermonolog ke arah udara kosong.
Suaranya bergetar pelan di dalam kesunyian kamar. Untuk pertama kalinya, di tengah ego
dan rasa insecure-nya yang menjulang tinggi, Jay mulai meragukan ketulusan perasaan sang kekasih.
...****************...