Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Panggilan Akademi
Matahari pagi yang hangat perlahan tenggelam, berganti malam yang sangat dingin di Desa Perbatasan.
Malam merayap lambat. Sunyi sekali. Hanya ada satu pendaran cahaya kuning dari lampu minyak di ruang tengah rumah kayu milik keluarga Yang.
Cahaya itu bergetar halus, mencoba mengusir pekat malam yang mengintip dari celah-celah dinding.
Di dalam ruangan, suasana terasa begitu berat. Yang Wei dan Bing Chan duduk berhadapan pada sebuah meja makan kayu berbentuk bundar.
Tidak ada mangkuk makanan atau cangkir teh hangat yang biasa menemani obrolan malam mereka. Meja itu kosong melompong.
Di tengah meja, hanya tergeletak selembar gulungan perkamen tua. Sebuah segel lilin merah yang mulai pudar warnanya menempel erat di sana. Itu adalah surat undangan resmi dari Akademi.
Jemari Bing Chan yang lentik bergerak perlahan. Ia mengusap ujung segel lilin itu berulang kali. Kulit wajahnya tampak begitu tegang di bawah siraman cahaya redup.
Melihat istrinya gelisah, Yang Wei mengulurkan tangan kasarnya yang dipenuhi kapalan akibat bertani. Ia menggenggam jemari Bing Chan, meremasnya lembut untuk menyalurkan ketenangan yang tersisa.
"Kita sudah merendah sejauh ini di lumpur perbatasan," bisik Bing Chan dengan nada parau. Matanya tidak lepas dari gulungan di atas meja.
"Iya, kita tidak perlu lagi menghawatirkan kebinasaan anak kita."
Suara wanita itu bergetar halus, menyimpan ketakutan yang dalam akan masa lalu yang berusaha mereka hindari.
Yang Wei menarik napas dalam-dalam. Wajahnya mengeras, memperlihatkan ketegasan seorang ayah yang telah siap menghadapi badai apa pun demi anaknya.
"Iya, kamu benar, Istriku," sahut Yang Wei dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Keheningan kembali turun, menyelimuti ruangan sempit itu dengan sangat pekat.
Pandangan mereka berdua kini tertuju pada segel lilin merah di atas meja. Lilin itu berkilau merah redup, memantulkan goyangan lidah api dari lampu minyak yang menari ditiup angin sepoi-sepoi.
Bing Chan akhirnya mengembuskan napas panjang. Kegelisahan di matanya perlahan memudar, digantikan oleh kepasrahan yang bulat akan takdir yang tak lagi bisa mereka hindari.
Tiba-tiba, embusan angin malam yang dingin menyusup dari celah dinding kayu yang renggang.
Wus. Api pada lampu minyak padam seketika, membuat ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan gulita.
Kelopak mata Yang Chan mendadak terbuka lebar.
Ia terbangun tepat saat fajar mulai mengintip dari celah jendela kamarnya. Ia menatap langit-langit kayu yang penuh dengan serat alami selama beberapa saat dengan pandangan tenang.
Pagi ini terasa sangat damai, tanpa ia sadari bahwa sebuah badai sedang bergerak cepat mendekati kehidupannya yang tenang.
Dengan sekali sentakan, Yang Chan bangkit dari ranjang kayunya yang keras. Ia meregangkan kedua tangannya ke atas dengan santai.
Krak. Terdengar bunyi gemeretak halus namun padat dari persendian tubuhnya yang baru saja bangun tidur.
Ia tersenyum puas merasakan sirkulasi energi Qi di dalam nadinya mengalir begitu lancar dan hangat, tanpa ada hambatan sedikit pun setelah latihan semalam.
Ia mengangkat telapak tangan ke udara. Seketika, sebuah bola logam berwarna hitam pekat muncul dari dalam jiwanya.
Itu adalah Alat Serbaguna miliknya. Ia menimang bola logam itu beberapa kali dengan santai, mengujinya seperti mainan anak-anak yang ringan.
Setelah merasa cukup, ia menciutkan kembali alat tersebut ke dalam jiwanya. Bola hitam itu lenyap dalam sekejap mata tanpa bekas.
Ia kemudian meraih caping bambu usangnya yang tergantung di dinding dekat pintu, lalu memakainya dengan gerakan yang sangat luwes.
'Frekuensi tanah di petak bagian utara sepertinya butuh sedikit penyesuaian hari ini,' batin Yang Chan sambil menepuk-nepuk sisa debu pada celana bertaninya yang usang.
'Mungkin hari ini aku juga bisa mencoba menyalin ritme pernapasan Ayah secara diam-diam saat ia sedang lengah di sawah.'
Ia menatap ke luar jendela dengan senyum tipis. Sinar matahari pagi yang hangat mulai memecah ufuk timur, menjanjikan hari baru yang ia pikir akan seindah biasanya.
Brak.
Pintu kamar tidurnya mendadak terbuka lebar dari luar, memotong seluruh lamunan damai yang baru saja ia susun di dalam kepalanya pagi ini.
Langkah kaki Yang Chan terhenti seketika tepat di ambang pintu ruang makan keluarga mereka.
Ia tertegun di tempatnya berdiri. Ujung topi capingnya sedikit terangkat akibat kepalanya yang mendongak heran melihat situasi ganjil di depannya.
Biasanya, aroma harum tumis sayur atau nasi hangat sudah memenuhi seluruh sudut dapur kecil mereka sejak subuh. Namun, pagi ini meja makan mereka justru dipenuhi oleh berbagai hidangan perayaan yang luar biasa mewah.
Ada deretan masakan daging yang berlimpah dan kepulan asap sup kaldu hangat yang menggugah selera, menggantikan rutinitas sarapan sederhana mereka.
Di dekat meja kayu itu, Bing Chan dan Yang Wei sudah berdiri tegak berdampingan dengan sikap tubuh yang sangat formal.
Pakaian mereka tampak sangat rapi dan bersih. Rambut ibunya digelung rapi ke atas dengan sebuah tusuk konde kayu sederhana yang mempertegas keanggunan alaminya.
Atmosfer di dalam ruangan ini terasa sangat berbeda dari biasanya.
Bing Chan memandang putranya dengan sebuah senyuman hangat, namun senyum itu tampak sedikit dipaksakan untuk menyembunyikan rasa cemas di hatinya.
Sementara itu, Yang Wei berdiri sangat kaku dengan kedua tangan yang disembunyikan di balik punggungnya, menatap lurus dengan wajah tanpa ekspresi.
Yang Chan mengerutkan dahi dengan dalam. Ia menunjuk deretan hidangan mewah di atas meja, lalu tertawa canggung mencoba mencairkan suasana tegang tersebut.
"Ibu... Ayah... Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Yang Chan dengan nada bercanda yang kikuk.
Yang Wei tidak langsung menjawab pertanyaan putranya. Pria paruh baya itu bertukar pandangan dengan istrinya selama sepersekian detik dengan penuh arti.
Ia kemudian mengarahkan tatapan matanya yang tajam dan dalam langsung ke dalam manik mata Yang Chan.
"Yang Chan, Anakku," ucap Yang Wei dengan suara rendah namun terdengar begitu kokoh. "Ada yang perlu kita bicarakan."
Yang Chan terpaku, tidak mampu menggerakkan tubuhnya sama sekali karena kebingungan.
Bing Chan menghela napas pendek sebelum melangkah mendekat. Suaranya terdengar begitu jernih, dingin, namun mengandung ketegasan yang sama sekali tidak bisa ditawar.
"Chan er, selamat telah membangkitkan bakatmu," tutur ibunya dengan lembut. "Dan ada yang perlu kita diskusikan mengenai akademi denganmu."
Wajah Yang Chan menegang seketika mendengar ucapan ibunya yang begitu mendadak itu.
Senyum canggung yang sempat menghiasi wajahnya kini menguap tanpa bekas dalam sekejap mata.
Rahangnya sedikit turun karena terkejut setengah mati, sementara kedua pupil matanya melebar dengan sempurna mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja meruntuhkan seluruh rencana hidup damainya sebagai petani biasa.
Mulut Yang Chan perlahan terbuka lebar. Ia baru saja hendak melontarkan kalimat protes pertamanya atas keputusan sepihak yang sangat tiba-tiba ini.
Namun, sebelum satu patah kata pun sempat lolos dari celah bibirnya—