NovelToon NovelToon
KISAH CINTA ALDARA DAN ARIES

KISAH CINTA ALDARA DAN ARIES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chinta Maulana

Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 013: Rencana Menghentikan Kegilaan

Sudah dua hari berlalu sejak terakhir kali Aries mengirim pesan singkat. Tidak ada panggilan, tidak ada kabar lagi yang masuk ke ponsel Aldara. Setiap kali membuka layar ponselnya, hatinya selalu berharap ada pesan atau panggilan dari kekasihnya itu.

“Kamu ke mana? Kenapa tidak memberi kabar sama sekali?” gumam Aldara sambil menatap layar ponselnya yang kosong. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri agar tidak terbawa perasaan negatif.

“Mungkin saja jaringan di tempat kerjanya memang sangat sulit, atau mungkin dia kehabisan paket,” pikirnya dalam hati. Namun, meski sudah berusaha menenangkan diri, rasa gelisah perlahan tetap merayap masuk ke relung hatinya. Ia pun memilih menyembunyikan perasaan itu, tidak ingin kekhawatiran mengganggu fokusnya pada masalah yang sedang harus diselesaikannya bersama teman-teman.

Hari ini, mereka semua telah sepakat untuk bertemu guna membahas cara menghentikan kelakuan Mondol yang semakin tak terkendali dan membahayakan.

Sementara itu, di tempat lain, amarah Mondol meledak sepenuhnya begitu ia mengetahui bahwa Sheina telah pergi meninggalkan kota untuk sementara waktu. Ia merasa dipermainkan dan tidak dihargai.

“Brengsek! Dasar wanita tidak tahu diri!” makiannya keras, lalu ia menendang segala benda yang ada di sekitarnya hingga berantakan.

Rasa frustrasinya berubah menjadi amarah yang membabi buta. Baginya, kepergian Sheina adalah bentuk penghinaan, seolah-olah ia tidak lagi berkuasa atas wanita itu.

Ia pun mengamuk ke mana saja, memaki siapa pun yang tidak sengaja berpapasan dengannya, dan terus mengancam akan mencari Sheina sampai ke ujung dunia. Keadaannya makin parah karena ia sering melampiaskan amarahnya dalam keadaan mabuk, membuat banyak orang di lingkungan sekitar mulai merasa takut dan menjauh darinya.

Di tempat tongkrongan mereka yang sepi dan aman, Aldara telah tiba lebih dulu. Tak lama kemudian, satu per satu sahabatnya mulai berdatangan: Abang Chepot bersama Anha, Abang Pargoy, Dede Ara, dan Hafizah. Suasana segera berubah menjadi serius saat mereka berkumpul mengelilingi meja kayu di tengah ruangan.

“aku dengar kabar, Mondol semakin menjadi-jadi. Dia marah besar karena tidak menemukan Sheina di rumahnya dan mengira kita yang menyembunyikannya,” ucap Abang Pargoy dengan nada tegas.

Aldara mengangguk setuju, wajahnya tampak tenang namun penuh perhitungan. “Dia memang sudah melampaui batas. Kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin dia akan bertindak lebih nekat lagi. Kita harus bertindak sebelum dia menyakiti orang lain atau malah membawa masalah yang lebih besar,” ucapnya mantap.

Dede Ara yang biasanya ceria pun kali ini terlihat serius. “Tapi bagaimana caranya? Dia sekarang sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik, logikanya sudah tertutup oleh amarah,” tanyanya cemas.

Abang Chepot mengusap dagunya, berpikir sejenak sebelum menjawab. “Kita tidak perlu meladeninya dengan kekerasan, itu hanya akan membuatnya makin merasa menang. Kita harus membuatnya sadar bahwa dia tidak punya hak untuk mengatur hidup Sheina atau menghina siapa pun. Kita punya bukti dan saksi bagaimana kelakuannya selama ini.”

“Benar kata Abang Chepot,” sambung Hafizah. “Kita akan memberi peringatan tegas kepadanya. Jika dia masih juga tidak mau mengerti, kita tidak ragu untuk melaporkannya ke pihak berwajib agar dia mendapat pelajaran yang setimpal.”

Mereka pun mulai menyusun rencana secara rinci: ada yang akan menemui Mondol untuk menyampaikan peringatan, ada yang bersiap menjadi saksi jika diperlukan, dan semuanya sepakat untuk saling menjaga agar tidak ada yang menjadi korban kelakuan pria itu.

Di tengah pembicaraan itu, ponsel Aldara yang tergeletak di meja bergetar pelan. Sebuah pesan masuk, dan begitu ia melihat nama pengirimnya Aries, wajahnya yang semula tegang seketika melembut dan tersenyum lega. Rasa gelisah yang dua hari ini menghantui hatinya seketika lenyap.

"Kabar baik, Aries sudah mengirim pesan. Dia menjelaskan baru bisa mendapatkan sinyal yang cukup hari ini, dan mengabarkan bahwa beberapa hari ke depan dia akan tetap sulit dihubungi karena jaringan di tempat tugasnya memang sangat terbatas,” ucap Aldara sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada teman-temannya.

“Berarti dia kembali lagi ke luar kota setelah sempat bertemu denganmu kemarin?” tanya Abang Chepot memastikan.

“Mungkin saja, atau mungkin dia terlalu sibuk hingga lupa memberitahuku sebelumnya,” jawab Aldara santai.

Abang Chepot hanya mengangguk paham, percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Malam itu, mereka pulang dengan perasaan lebih tenang dan rencana yang sudah matang. Aldara merasa lega bukan hanya karena mendapat kabar dari kekasihnya, tapi juga karena sadar bahwa ia tidak berjuang sendirian menghadapi segala masalah yang datang.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!