NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepercayaan.

Kampus siang itu ramai.

Di kantin, suara sendok beradu dengan piring, tawa, dan musik dari speaker jadi satu. Udara panas bercampur aroma ayam geprek dan es teh.

Serena duduk di meja panjang bersama Alya dan beberapa teman. Di depannya ada nasi kotak yang belum disentuh.

"Jadi fix ya. Malam ini kita kerjain di rumah gue." kata Alya sambil nyuapin cireng. "Biar sekalian nginep. Besok presentasi."

"Setuju." sahut Rani. "Biar nggak keteteran kayak kemarin."

Serena mengangkat wajah dari ponselnya. Ia mengernyit.

"Kerjain apa?"

Suasana di meja mendadak hening sepersekian detik.

Alya dan Rani saling pandang.

"Tugas kelompok Metodologi Penelitian, Ser." kata Alya pelan. "Yang presentasinya besok pagi itu lho."

Gelas es teh di tangan Serena hampir terjatuh.

"Tugas kelompok? Malam ini?"

"Iya." Rani mengangguk cepat. "Kita udah dari seminggu lalu bahas ini di grup. Kamu nggak baca?"

Serena menggeleng. Dahi mengerut. "Aku... nggak tau sama sekali."

Obrolan mereka terhenti sebentar.

Jake lewat. Bersama tiga temannya. Kaos putih, tas selempang, langkah santai seperti biasa.

Langkahnya melambat pas melewati meja Serena. Matanya menoleh sekilas.

Serena membalas dengan senyum kecil. Sopan. Jarak aman.

Jake juga tersenyum. Tipis. Lalu lanjut berjalan.

"Eh itu Jake kan?" bisik Dita. "Masih suka ngelirik."

Serena cuma tertawa kecil. "Udah ah. Fokus tugas."

Mereka lanjut membahas pembagian bab. Sampai akhirnya Alya menepuk dahinya.

"Ser. Tadi pagi gue udah chat lo ya? Soal jam berapa kumpul?"

Serena mengernyit. "Chat?"

"Iya. Di grup. Gue tag lo juga."

Jantung Serena turun satu tingkat. Ia meraih ponsel dari dalam tas. Layar menyala.

Tidak ada notifikasi.

Ia buka WhatsApp. Buka grup tugas. Scroll ke atas.

Kosong. Tidak ada chat dari Alya. Tidak ada chat dari siapa pun sejak jam 9 pagi.

"Serius nggak ada." gumam Serena.

"Yang bener?" Alya merebut ponsel Serena. Ia membuka grup di ponselnya sendiri.

Di sana jelas.

[09.12] Alya: Ser, malem ini jam 7 ya di rumahku

[09.13] Rani: Otw bawa laptop

[09.14] @Serena jangan telat

Tangan Serena dingin.

"Pinjem hp lo, Dit."

"Pinjem hp lo, Ran."

Satu-satu ponsel temannya dibuka. Dan benar. Chat itu ada. Nama Serena di-tag. Waktu terkirim sama.

Tapi di ponsel Serena, riwayat chat jam 9 itu tidak ada. Seolah terhapus. Atau tidak pernah masuk.

Ruangan kantin yang tadinya ramai mendadak terasa sesak.

Satu-satunya nama yang terlintas di kepala Serena saat itu hanya satu.

Revan.

Tangannya gemetar saat memegang ponsel. Ia mencoba menelepon.

Nada sambungan. Semali. Dua kali.

Jam 15.58.

Ruang rapat baru saja selesai. Revan melepas jasnya, melempar ke kursi. Baru saat itu ia meraih ponsel di atas meja.

Layar menyala.

Panggilan Tak Terjawab: Serena - 13.21

Panggilan Tak Terjawab: Serena - 14.05

Panggilan Tak Terjawab: Serena - 14.47

Dahi Revan mengerut.

Jarinya langsung menekan nama itu. Nada sambung berdering sekali... dua kali...

Lalu suara operator yang datar.

Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.

Mati.

Revan meletakkan ponsel. Tidak ada ekspresi. Tapi rahangnya mengeras.

Jam 16.10 mobil hitamnya sudah berhenti di tempat biasa. Depan gerbang samping kampus Serena.

Tempat itu biasanya ramai. Mahasiswa keluar masuk, ojek online mangkal, suara klakson.

Hari ini sepi.

Terlalu sepi.

Revan menatap gerbang. Tidak ada Serena. Tidak ada pesan.

Biasanya, kalau pulang cepat Serena akan chat: Kak, aku pulang duluan ya.

Hari ini tidak ada apa-apa.

1 menit.

10 menit.

30 menit.

Kursi kemudi berderit pelan karena genggaman tangannya.

Ia menelpon lagi. Hasilnya sama. Tidak aktif.

Cemas itu datang pelan. Merayap. Tapi Revan menekannya.

Ia membuka pintu mobil. Langkahnya panjang menuju pos satpam.

"Pak, anak kampus udah pulang semua?" suaranya datar.

Satpam mengangguk. "Udah, Pak. Dari jam setengah empat. Tinggal dosen aja di dalam."

Revan tidak menjawab. Ia berbalik.

Baru tiga langkah, langkahnya terhenti.

Dari arah gerbang, Jake keluar. Bersama tiga temannya. Kaos putih, tas selempang, rambut masih agak berantakan karena helm.

Jarak mereka cuma sekitar 5 meter.

Mata mereka bertemu.

Jake jelas terkejut. Tapi hanya mengangguk kecil. Sopan.

Revan tidak mengangguk balik. Sorot matanya dingin. Menilai. Menahan sesuatu yang mendidih di dadanya.

Tidak ada kata yang terucap.

Jake dan teman-temannya terus berjalan melewati.

Revan berdiri di tempat selama 2 detik. Lalu berbalik tanpa suara.

Ia masuk ke dalam mobil.

BRAK!

Pintu dibanting keras. Suaranya menggema di area parkir yang kosong.

Ponsel kembali ia raih. Ia scroll untuk mengecek. Tidak ada chat. Tidak ada panggilan balik.

Kosong.

Dengan kasar ia melempar ponsel itu ke dashboard. Suara plastik beradu dengan kaca terdengar tajam.

Revan menginjak gas. Mobil melaju meninggalkan kampus yang sudah gelap.

Di kepalanya hanya ada satu kalimat: Kemana dia?

---

Di apartemen.

Langit sudah gelap ketika Revan sampai di apartemen.

Lampu-lampu kota menyala kuning di balik jendela. Ia mendorong pintu. Apartemen itu kosong. Sunyi.

Tidak ada suara langkah Serena. Tidak ada lampu kamar yang menyala.

Revan membanting tubuhnya ke sofa. Punggungnya menghantam sandaran dengan kasar.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku jas. Layarnya menyala. Kosong. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan balik.

Ia memejamkan mata. Satu lengan diangkat, menutupi wajahnya. Napasnya berat.

Jas hitamnya belum sempat ia lepas. Dasinya sudah melonggar. Rambutnya berantakan.

Cemas dan marah bertabrakan di dadanya. Ia mencoba menahannya.

Tidak lama kemudian terdengar suara. Klik.

Pintu apartemen berbunyi.

Mata Revan langsung terbuka. Ia berdiri dalam satu gerakan, tubuhnya langsung menghadang di depan pintu.

Pintu terbuka.

Serena berdiri di ambang pintu, langkah nya terhenti. Rambutnya diikat asal. Di tangannya ada tas ransel dan laptop. Ia mendongak.

Mereka bertatapan.

Wajah Revan datar. Rahangnya mengeras. Matanya menahan sesuatu yang hampir meledak.

Serena tidak bergeming. Ia menatap balik dengan tenang. Lalu melangkah, berusaha melewatinya seolah pria di depannya itu tidak ada.

Tapi langkahnya terhenti.

Lengannya ditarik, membuat Serena kembali ke tempat semula.

"Dari mana?"

Suara Revan rendah. Datar. Tapi mengandung amarah yang ditahan.

Serena menarik napas. "Ada tugas di rumah Alya, Kak."

Cengkeraman di lengannya tidak lepas.

"Kenapa nggak ngabarin?" Nada Revan naik. "Kamu tahu aku secemas apa, Rena? Kenapa baru pulang jam segini?"

Hening. Hanya suara AC yang terdengar.

Serena menatapnya lama. Lalu bertanya pelan.

"Kamu yang hapus chat teman-teman aku, kan, Kak?"

Revan terdiam beberapa detik.

"Iya."

Jawaban itu singkat. Tanpa ragu.

"Kenapa?" Tanya Serena, suaranya rendah.

"Karena aku nggak mau kamu menginap di luar." lanjutnya.

"Tapi aku nggak menginap, Kak." Serena menggeleng. Ada rasa kecewa di sorot matanya. "Kamu memang nggak pernah berubah." gumamnya pelan.

Dengan sekali sentak, Serena melepaskan pegangan itu. Ia berjalan melewati Revan, menuju kamarnya.

Langkah kaki Revan menyusul.

"Oke. Aku minta maaf soal chat itu."

Serena berhenti. Ia tidak menoleh. Punggungnya kaku.

"Ini bukan soal chat, Kak." Suaranya bergetar, tapi tegas. "Ini soal kepercayaan."

Pintu kamar tertutup.

Tinggal Revan yang berdiri di ruang tamu yang gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!