Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Meminta Maaf di Kebun Apel
Pagi hari datang dengan cahaya matahari yang cerah. Burung-burung berkicau riang di pepohonan, dan embun pagi masih membasahi dedaunan di halaman rumah. Liora bangun dengan perasaan yang sedikit lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya. Ia mencoba melupakan kejadian kemarin—tentang buku itu, tentang penolakannya, dan tentang Alex yang pergi dengan marah.
"Semoga hari ini lebih baik," gumamnya pelan sambil turun ke dapur.
Seperti biasa, Liora mulai mempersiapkan sarapan. Ia mengambil beberapa butir telur, roti tawar, dan mentega dari kulkas. Ia juga memotong beberapa buah tomat dan mentimun untuk salad ringan. Aroma mentega yang meleleh di wajan mulai memenuhi dapur, dan suara desisan telur yang digoreng menciptakan irama pagi yang menenangkan.
Namun, setelah semua hidangan selesai dan tertata rapi di atas meja makan, Liora menyadari sesuatu. Alex belum juga turun.
Liora menatap tangga yang menuju ke lantai atas. Biasanya, Alex akan turun begitu mencium aroma masakan. Tapi pagi ini, tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara ceria yang memanggil namanya.
Liora mengerutkan kening. Ia berjalan menaiki tangga, menuju kamar Alex. Ia mengetuk pintu kamar Alex dengan pelan.
"Alex? Sudah bangun? Sarapan sudah siap," panggilnya lembut.
Tidak ada jawaban.
Liora mengetuk lagi, sedikit lebih keras. "Alex? Kamu di dalam?"
Masih tidak ada suara. Liora mulai merasa khawatir. Ia membuka pintu kamar Alex dengan perlahan.
Kamar itu kosong. Tempat tidur sudah rapi, selimut dilipat dengan sempurna. Tidak ada tanda-tanda Alex ada di dalam kamar.
Liora membelalak. Jantungnya berdegup lebih cepat. "Alex? Alex!"
Ia berteriak memanggil nama Alex sambil berjalan cepat menuruni tangga. Ia memeriksa ruang tamu, dapur, bahkan kamar mandi lantai bawah. Tidak ada siapa pun.
Liora merasa panik. Ia membuka pintu depan dan berlari ke halaman. Matahari pagi yang cerah menyinari wajahnya, tetapi ia tidak peduli. Ia mencari ke arah peternakan ayam, ke kandang kuda—tetapi Alex tidak ada di sana.
Di kejauhan, Liora melihat seorang pria tua sedang membersihkan pagar di dekat pintu masuk peternakan. Itu adalah Rama, penjaga yang ia temui kemarin.
Liora berlari mendekati Rama. "Pak Rama! Pak Rama, apa Anda melihat Alex?"
Rama menoleh, sedikit terkejut melihat ekspresi panik Liora. "Selamat pagi, Nona. Tenang, Tuan Alex sedang berada di kebun apel di sebelah timur. Tadi pagi, saya melihat dia berjalan ke sana dengan membawa keranjang kecil."
Liora menghela napas lega, tetapi rasa khawatirnya belum sepenuhnya hilang. "Terima kasih, Pak Rama. Saya akan ke sana."
Liora berjalan cepat menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah timur. Di kejauhan, ia mulai melihat deretan pohon apel yang berbaris rapi. Daun-daunnya yang hijau segar berkilau di bawah sinar matahari, dan beberapa buah apel merah mulai terlihat bergelantungan di dahan-dahan rendah.
Dan di sana, di bawah salah satu pohon apel yang paling besar, Liora melihat sosok Alex.
Alex sedang berdiri di atas sebuah tangga kayu kecil. Di tangannya, ia memegang sebuah gunting kebun dan sedang memotong beberapa buah apel yang sudah matang. Keranjang bambu tergantung di sisi tangga, sudah berisi beberapa apel merah yang tampak segar.
Liora mendekat. "Alex!"
Alex menoleh. Begitu matanya bertemu dengan Liora, ekspresi wajahnya berubah. Dari wajah yang tenang menjadi wajah yang cemberut. Ia mengalihkan pandangannya, berpaling dari Liora, dan melanjutkan memetik apel seolah tidak mendengar panggilannya.
Liora merasakan dadanya sesak. Alex masih marah padanya.
"Alex, turunlah dari sana. Sarapan sudah siap di rumah," kata Liora dengan suara pelan, mencoba bersikap lembut.
Alex tidak menjawab. Ia terus memotong apel, pura-pura sibuk.
Liora menggigit bibirnya. Ia tidak tega melihat Alex marah seperti ini. Ia tahu Alex tidak mengerti mengapa ia menolak permintaannya. Dan ia juga tahu, anak kecil yang terperangkap di dalam tubuh dewasa itu hanya butuh pengertian.
"Alex," panggil Liora lagi, kali ini suaranya lebih lembut dan penuh penyesalan. "Aku minta maaf, ya. Tentang kemarin malam. Aku tidak seharusnya marah padamu. Maafkan Liora, ya?"
Mendengar kata "maaf", Alex sedikit mengendur. Ia menoleh ke arah Liora, tetapi masih dengan tatapan cemberut.
"Alex tidak mau Liora marah," gumamnya pelan.
Liora tersenyum sedih. "Liora tidak marah lagi, Alex. Liora hanya tidak siap. Tapi Liora janji, Liora akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Liora akan melakukan apa saja agar Alex mau memaafkan Liora. Tapi sekarang, turunlah. Kita sarapan bersama."
Alex diam sejenak. Matanya menatap Liora, mencoba membaca apakah Liora benar-benar tulus. Melihat wajah Liora yang penuh penyesalan dan kelembutan, kemarahan Alex perlahan luntur.
"Benar? Liora mau melakukan apa saja?" tanya Alex dengan suara pelan.
"Iya, Alex. Apa saja," jawab Liora dengan penuh kesungguhan.
Alex tersenyum kecil. Senyuman yang masih sedikit canggung, tetapi cukup untuk membuat hati Liora merasa lega. Ia menurunkan gunting kebunnya, lalu turun dari tangga kayu dengan hati-hati. Setelah kakinya menyentuh tanah, ia mengambil keranjang apel yang sudah penuh.
"Ini apelnya. Alex ambil banyak," kata Alex sambil menunjukkan keranjangnya pada Liora.
Liora tersenyum. "Wah, banyak sekali. Terima kasih, Alex. Nanti kita makan apel ini bersama-sama."
Mereka berdua mulai berjalan pelan menyusuri kebun apel. Alex sesekali berhenti untuk menunjuk pohon apel yang buahnya paling merah, atau bercerita tentang bagaimana ia merawat pohon-pohon itu bersama Rama. Liora mendengarkan dengan sabar, sesekali tersenyum dan mengangguk.
Mereka berjalan cukup lama, mengelilingi sebagian besar kebun apel. Udara pagi yang segar dan aroma daun apel yang harum membuat suasana terasa damai. Liora merasa kemarahan di antara mereka perlahan memudar digantikan oleh kehangatan.
Akhirnya, mereka kembali ke rumah. Liora membawa keranjang apel itu ke dapur, mencucinya, lalu menyusun beberapa apel di atas piring buah. Sementara itu, Alex duduk di meja makan, menatap sarapan yang sudah mulai dingin.
Liora memanaskan kembali makanan sebentar, lalu mereka duduk bersama untuk sarapan. Alex mulai makan dengan lahap, sesekali mengambil sepotong apel dan menggigitnya dengan suara renyah.
"Apelnya enak, Liora!" puji Alex di antara suapan.
Liora tersenyum. "Pasti, karena kamu yang memetiknya sendiri."
Setelah sarapan selesai, Liora membereskan meja. Ia kemudian menatap Alex yang masih duduk dengan puas di kursinya.
"Alex, kita harus mandi ya. Badan kita masih keringatan dari kebun apel tadi," kata Liora.
Alex mengangguk setuju. "Iya, Alex mau mandi. Badan Alex lengket."
Liora membawa Alex naik ke lantai dua. Ia menyiapkan pakaian ganti untuk Alex, lalu meminta Alex masuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Alex mandi dengan ceria, bernyanyi kecil sambil membasuh tubuhnya dengan sabun yang wangi.
Setelah Alex selesai, Liora bergantian mandi. Ia membersihkan tubuhnya yang lelah, mencuci rambutnya, dan berganti dengan pakaian yang bersih dan nyaman.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, Alex sudah duduk di ruang tamu, menonton televisi dengan wajah yang bersih dan rambut yang masih sedikit basah. Ia menatap Liora yang turun dari tangga.
"Liora cantik," kata Alex dengan polos.
Liora tersenyum. "Terima kasih, Alex."
Hari itu berjalan dengan lebih tenang. Kebun apel, sarapan bersama, dan mandi pagi—semuanya mengembalikan kedamaian yang sempat hilang. Liora duduk di sofa di samping Alex, dan mereka menghabiskan pagi dengan damai, sementara sinar matahari perlahan naik dan memanaskan desa.
Dan untuk saat ini, Liora merasa bahwa mungkin, perlahan-lahan, ia bisa menemukan cara untuk menjadi istri yang baik bagi Alex.
saling support sabi kali😉