Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan dan Keputusasaan
Langkah kaki Helena Kenneth yang terburu-buru terdengar menghentak kasar di sepanjang koridor bawah rumah susun, menyisakan gema keputusasaan yang kian pekat. Di dalam mobil sedan tua sewaan yang terparkir tidak jauh dari gerbang kompleks, Arkan duduk di balik kemudi dengan tatapan mata yang kosong dan redup. Setelan jas mahal yang biasa ia kenakan dengan penuh kebanggaan kini tampak kusut, sewarna dengan masa depannya yang hancur dalam semalam setelah seluruh aset Aliansi Naga Hitam dibekukan total oleh otoritas hukum atas perintah mutlak Devan Alister.
Begitu pintu mobil dibuka dengan kasar oleh Helena, Arkan langsung menoleh dengan rahar yang mengeras. "Bagaimana, Ibu? Apakah Keyra mau mendengarkan?" tanya Arkan, suaranya terdengar serak, dipenuhi oleh rasa frustrasi yang teramat sangat.
Helena mengempaskan tubuhnya ke atas jok samping kemudi dengan wajah yang memerah padam menahan amarah sekaligus malu. "Jalang kecil itu benar-benar sudah tidak tahu diri, Arkan! Dia tidak hanya menolak untuk membantumu membujuk Devan Alister agar mencabut laporan polisi terhadap ayahmu, tapi dia juga berani mengatai kita sedang menerima karma!" Helena memijat pergelangan tangannya yang masih terasa linu. "Dan yang lebih gila lagi, Devan Alister ternyata menempatkan barisan pengawal elit wanita yang menyamar di rusun kumuh itu. Ibu hampir saja dicelakai oleh anjing peliharaan Alister Group!"
Brak!
Arkan menghantam setir mobil dengan kepalan tangannya hingga terdengar bunyi klakson yang nyaring. Napasnya memburu cepat. "Sialan! Devan Alister benar-benar mengunci seluruh akses kita tanpa sisa! Jika dalam minggu ini utang jatuh tempo perusahaan tidak dilunasi dan nama Ayah tidak dibersihkan dari tuduhan pembunuhan berencana masa lalu, kita bukan hanya jatuh miskin, Ibu... tapi aku juga akan ikut terseret ke dalam sel penjara atas kasus pencucian uang organisasi!"
Arkan mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustrasi. Kilatan matanya yang semula memancarkan penyesalan karena telah mencampakkan Keyra, kini perlahan-lahan mulai berubah menjadi sebuah kegelapan yang pekat. Keputusasaan yang ekstrem telah menghancurkan sisa-sisa moral di dalam otaknya. Jika Devan Alister menggunakan cara yang sangat kejam untuk menghancurkan keluarganya, maka Arkan merasa ia juga berhak menggunakan cara yang paling kotor untuk bertahan hidup.
"Ibu... jika Keyra tidak bisa didekati dengan cara baik-baik, maka kita tidak punya pilihan lain selain memaksanya," desis Arkan, sepasang matanya menyipit tajam, memancarkan aura licik yang sangat berbahaya.
Helena menoleh, menatap putranya dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu, Arkan? Kamu tidak lihat sendiri betapa ketatnya penjagaan di sekitar jalang itu?"
"Penjagaan itu hanya ada di dalam lingkungan rumah susun, Ibu," jawab Arkan dengan nada suara yang teramat rendah, penuh dengan intrik kelam. "Keyra memproduksi kue kering untuk menyambung hidupnya secara mandiri tanpa menyentuh uang Alister Group. Itu artinya, setiap pagi atau sore hari, dia pasti akan keluar dari kompleks rusun itu sendirian untuk mengantarkan pesanan atau membeli bahan baku ke pasar induk tradisional yang jaraknya dua kilometer dari sini."
Arkan menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman miring yang sangat dingin dan penuh kepicikan. "Pengawal wanita suruhan Devan tidak akan bisa mengawasi setiap jengkal jalanan umum yang padat dan macet. Aku akan menyewa beberapa orang preman bayaran dari distrik hitam yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan nama Keluarga Kenneth. Kita akan memancing Keyra keluar, menculiknya secara senyap tanpa menimbulkan kecurigaan, lalu membawanya ke sebuah tempat rahasia yang tidak diketahui oleh radar siber Alister Group."
Arkan mengepalkan tangannya di depan wajahnya sendiri. "Begitu Keyra berada di dalam genggamanku, Devan Alister tidak akan memiliki pilihan lain selain menuruti semua permintaanku. Aku akan meminta Devan untuk mencabut semua tuntutan hukum terhadap Ayah, mengembalikan seluruh aset kelola Pelabuhan Barat ke tangan kita, dan memberikan uang tebusan sebesar seratus miliar rupiah jika ia masih ingin melihat ratunya kembali dalam keadaan bernyawa. Ini adalah satu-satunya kartu as terakhir yang kita miliki untuk membalikkan keadaan, Ibu!"
Helena terdiam sejenak mendengar rencana nekat putranya. Rasa takut sempat melintas di hatinya mengingat betapa kejamnya Devan Alister saat mengamuk di pelabuhan malam itu. Namun, bayangan tentang kemiskinan, jeruji besi, dan kehinaan sosial yang siap menanti di depan mata membuat wanita paruh baya itu akhirnya mengangguk setuju dengan mata yang berkilat penuh dendam. "Lakukan dengan sangat bersih, Arkan. Pastikan jalang itu tidak bisa berkutik sedikit pun. Kita harus merebut kembali semua kekayaan dan harga diri kita yang telah dihancurkan oleh mereka!"
Sementara itu, di dalam kamar nomor 302, Keyra masih duduk teraku di atas kursi kayunya. Perasaannya luar biasa tidak tenang setelah kepergian Helena Kenneth. Ancaman wanita tua itu terus terngiang-ngiang di telinganya bagai kutukan yang nyata. Ditambah lagi, fakta bahwa Devan diam-diam membeli kompleks rusun ini dan menempatkan pasukan elit untuk mengawasinya membuat Keyra merasa seolah-olah ruang geraknya kian menyempit.
Keyra menatap tumpukan kotak kue kering yang sudah rapi di atas meja. Esok pagi, ia harus mengantarkan kue-kue ini ke sebuah toko swalayan kecil di seberang distrik untuk mendapatkan modal perputaran uangnya yang pertama. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, sepasang mata masa lalu yang dipenuhi oleh keserakahan dan keputusasaan tengah menyusun sebuah jebakan maut yang siap mencabik-cabik ketenangannya yang rapuh. Badai besar baru kini tengah bergerak di balik kegelapan kota, siap menguji kembali seberapa jauh Devan Alister akan bertindak demi melindungi wanita yang dicintainya lebih dari nyawanya sendiri.