Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Tuduhan
Lintang langsung mengeksekusi dapur setelah sholat Maghrib selesai ditunaikan. Pakaian rapinya dari sekolah sudah berganti dengan celana pendek dan kaus santai rumahan yang longgar.
Menu makan malam hari ini adalah udang saus tiram. Kulit udang dia lepas satu per satu, dicuci bersih, dikeluarkan kotoran di bagian punggungnya, lalu dimasak dengan bumbu rahasia sesuai resep turun-temurun dari Mami Ilna.
Tak lupa, dia juga menggoreng tahu dan tempe sebagai pelengkap, serta mencuci kol dan timun segar untuk lalapan. Dalam hitungan menit, aroma gurih masakan itu langsung memenuhi ruangan dan semuanya tersaji rapi di atas meja makan.
Setelah selesai dengan urusan kompor, Lintang menyiapkan dua piring, dua gelas, serta mengisi teko dengan air putih hingga penuh.
"Arkaaa, makan malam!" panggil Lintang lantang dari arah dapur.
Tak lama kemudian, pintu kamar di lantai atas berderit terbuka. Arka keluar dan melangkah menuruni anak tangga, membuat pandangan mata Lintang otomatis menoleh ke arah suaminya.
Namun, gerakan tangan Lintang yang sedang merapikan sendok mendadak terhenti total. Dahinya berkerut dalam saat melihat penampilan cowok itu.
"Mau kemana?" tanya Lintang.
Arka tampak rapi dengan pakaian kasual yang modis untuk pergi keluar. Bahkan, kunci motor Ninja hitamnya sudah bergemerincing di dalam genggaman tangannya.
"Club," ujar Arka singkat tanpa menghentikan langkah kakinya sedikit pun menuju pintu depan.
Dada Lintang seketika berdenyut nyeri. "Ngapain ke club?" tanya Lintang lagi, mencoba menahan intonasi suaranya agar tidak meninggi.
"Bukan urusan lu," ujar Arka dingin, menganggap pertanyaan istrinya hanya angin lalu yang mengganggu pendengaran.
"Gue udah masak, Arka. Kalau lu nggak mau berada di rumah yang sama bareng gue, setidaknya hargai usaha gue," ujar Lintang. Suaranya mulai bergetar menahan buncahan emosi yang sejak tadi siang dipendamnya.
Langkah kaki Arka mendadak terhenti tepat di ambang pintu depan. Dia membalikkan badannya lambat-lambat, menatap Lintang dengan sepasang mata elang yang sedatar papan tulis.
"Berapa?"
Lintang tertegun, matanya membelalak kaku. "Hah...?"
"Mau dihargai berapa?" tanya Arka datar tanpa beban.
Dengan gerakan santai seolah tanpa dosa, Arka merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kartu ATM hitam, lalu melemparkannya dengan kasar ke arah Lintang. Kartu plastik itu jatuh tercampak di atas meja makan, tepat di samping mangkuk udang saus tiram yang masih mengepul hangat.
"Makan tuh harga," lanjut Arka kejam.
Cowok itu kembali membalikkan badan, bersiap melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
Batas kesabaran Lintang runtuh total malam itu. Rasa sedih, kecewa, dan dihina sebagai seorang istri membuat akal sehatnya hilang dalam sekejap. Dengan emosi yang sudah membakar dada, Lintang langsung meraih gelas kaca di dekatnya, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah pintu depan.
DUK! PRANG!
Lemparan itu telak mengenai punggung tegap Arka, sebelum akhirnya gelas kaca tersebut jatuh menghantam lantai keramik dan pecah berkeping-keping menjadi serpihan tajam.
Langkah kaki Arka kembali terhenti kaku tepat di atas pecahan kaca.
"KALAU BUKAN KARENA BUNDA, MUNGKIN GUE BAKAL PULANG KE RUMAH ORANG TUA GUE DARI KEMAREN!" bentak Lintang habis-habisan. Air matanya yang sejak seminggu lalu ditahan kini luruh bebas membasahi pipinya yang memerah padam.
Garis rahang Arka seketika mengeras sempurna. Emosinya tersulut hebat karena merasa otoritasnya sebagai kepala keluarga ditantang secara fisik.
"NGGAK AKAN GUE SABAR SEGININYA DEMI LU YANG MASIH BERDUKA!" ujar Lintang berteriak kencang, menumpahkan seluruh rasa sesak di dadanya.
Arka berbalik badan dengan cepat. Langkah besarnya merangsek maju memotong jarak. Dalam dua detik, Arka sudah berdiri tepat di depan Lintang, lalu dengan gerakan refleks yang kasar, tangan kekarnya langsung bergerak mencengkeram kedua bahu cewek itu dengan kuat hingga tubuh Lintang tersudut ke meja makan.
Sepasang mata Arka menggelap sempurna, memancarkan aura iblis yang begitu pekat dan mengerikan.
"Denger..." Arka berbisik tepat di depan wajah Lintang, napas kasarnya berembus panas menekan kewarasan istrinya.
"Jangan coba-coba kabur dari gue. Gue nggak peduli lu mau sabar atau enggak, tapi sekali lu berani melangkah keluar dari rumah ini untuk kabur..." Arka menggantung kalimatnya, memberikan tatapan mata yang paling mengintimidasi.
"Siap-siap gue bungkam bibir lantam lu itu sampai habis..." ancam Arka telak dengan suara baritonnya yang rendah dan bergetar geram.
Cengkeraman tangan Arka di bahunya membuat Lintang sedikit kesulitan bergerak, namun cewek itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Di balik air mata yang terus menetes deras, Lintang justru mengeluarkan kekehan sinis yang menantang ego suaminya.
"Coba aja," tantang Lintang parau, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Arka tanpa berkedip sedikit pun.
"Gue lebih berharap ada cewek lain yang bisa gantiin gue di rumah ini. Gue saranin... Bawa pulang sekalian cewek-cewek di club itu buat nemenin lu mabuk di depan mata gue!"
Cengkeraman tangan Arka di bahu Lintang perlahan mengendur, lalu terlepas begitu saja. Cowok itu mundur satu langkah, menatap Lintang dengan dada yang naik-turun menahan gemuruh emosi yang mendadak berubah menjadi rasa kecewa dan tersinggung yang luar biasa besar.
Kata-kata Lintang barusan telak menusuk ulu hatinya.
Arka terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang sarat akan rasa sakit karena disalahpahami.
Padahal, dia menerima ajakan Leon malam ini murni hanya karena jiwanya sedang terlampau lelah dan butuh pengalihan dengan mendengarkan musik DJ.
Jangankan menyentuh alkohol atau membawa cewek pulang, memikirkannya pun tidak.
Tapi di mata Lintang, dia ternyata sudah dicap serendah dan sebejat itu.
"Jadi di mata lu... gue cuma cowok brengsek yang mau mabok sama cewek-cewek?" tanya Arka. Suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, dingin, dan sarat akan kekecewaan yang mendalam.
Lintang yang masih terengah-engah mengusap lehernya yang memerah. Dia menatap Arka dengan mata berkaca-kaca, menolak untuk terlihat lemah. "Terus apa lagi?! Lu cuma bilang mau ke club tanpa peduli perasaan gue yang udah capek-capek masak di sini, Arka!"
"Terserah apa yang ada di otak lu," ujar Arka kejam.
Cowok itu menatap kartu ATM hitam di atas meja makan dengan pandangan meremehkan, lalu kembali menatap Lintang dengan sorot mata elang yang begitu tajam.
"Karena lu udah terlanjur mikir gue bakal mabok sama cewek lain... ya udah, gue kabulin doa lu malam ini."
Tanpa menunggu balasan atau teriakan Lintang lagi, Arka berbalik badan dengan kasar. Langkah besarnya melangkah lebar keluar dari rumah, lalu membanting pintu depan dengan kekuatan penuh.
BRAKK!
Suara dentuman pintu yang beradu keras itu seketika memecah keheningan malam, menyisakan Lintang yang langsung merosot lemas di lantai dapur. Tangisnya pecah seada-adanya di samping pecahan gelas kaca yang berserakan.
...----------------...
Sementara di luar halaman, suara raungan mesin motor Ninja hitam milik Arka terdengar menggelegar kasar, sebelum akhirnya melesat membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi, membawa seluruh rasa frustrasi dan egonya menuju tempat hiburan malam tersebut.
Dalam hitungan menit, motornya sampai di depan kelab malam yang bangunannya masih terlihat sangat baru.
Leon yang sudah menunggu di depan pintu masuk, langsung menyeringai lebar melihat temannya datang.
"Widiihh, beneran datang ternyata. Gue kira lu nggak bakal mau," komennya.
Arka melepas helm dan turun dari motor. "Masuk," ujarnya dingin.
Mereka melangkah ke dalam kelab malam tersebut. Bau khas ruangan beralkohol langsung menyeruak menyengat indra penciuman. Mata Leon langsung berbinar segar begitu melihat para wanita yang bekerja di sana.
"Mata lu dijaga," tegur Arka ketus.
Leon langsung membuang muka sambil berdeham canggung. "Eh, iya... khilaf, Bro," katanya, berpura-pura merasa bersalah.
"Mau ngapain di sini?" tanya Arka, tidak memedulikan tingkah temannya.
"Dengerin DJ lah, Bro. Katanya malam ini ada penampilan spesial dari Nathalie Holscher," ujar Leon antusias.
Arka mendengus kasar. "Nggak minat."
"Yah... Bro, come on. Hidup harus terus berjalan, lu nggak boleh menjalani hidup datar-datar terus. Nggak asyik," bujuk Leon.
Arka tidak menjawab, melangkah acuh tak acuh.
"Eh, gue pengen coba itu deh," ujar Leon lagi seraya menunjuk ke arah bar.
"Apa?" tanya Arka.
"Itu... Botol-botol itu," tunjuk Leon pada jajaran botol minuman keras yang dipajang di belakang meja bar. "Coba yuk. Segelas aja."
Arka terdiam sejenak. Sorot matanya kosong, menyiratkan beban pikiran yang teramat berat. Ia lalu mengangguk pelan.
Leon tersenyum menang. "Nah... Gitu dong. Ayo."
Mereka berjalan mendekati meja bar yang riuh. Leon langsung memesankan dua gelas minuman kepada sang bartender. Ketika gelas pertama digeser ke hadapan Arka, bau menyengat alkohol cair itu menusuk hidungnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia meraih gelas itu dan meneguknya dalam sekali sentakan.