Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. MAKAN MALAM BERSAMA
Rebeca menggigit bibirnya pelan sambil menarik kursi dan duduk. Namun bukannya langsung menyentuh makanan yang sudah tersaji, ia justru menopang dagu.
Seumur hidup, ia tak pernah membayangkan akan memiliki ibu tiri. Sejak kecil, di dalam pikirannya hanya ada satu sosok ibu, yaitu wanita yang kini tinggal di Korea. Tidak pernah ada orang lain yang menggantikan posisi itu di hatinya.
"Tapi, kalau Papa benar-benar menikah lagi ..." Rebeca mengembuskan napas perlahan. Rasa penasarannya semakin besar. "Calon istrinya seperti apa ya?" Otaknya mulai membentuk berbagai kemungkinan. "Apakah dia wanita karier, cantik, anggun, orang kaya atau ..." Beberapa detik kemudian ia menggeleng sendiri. "Ah, pastinya cantik lah." Ia membayangkan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahunan. Berpenampilan modis, cantik, tinggi semampai, dengan senyum lembut. "Hmm ... tapi pasti kecantikanya nggak bakal ngalahin Mama." Rebeca terkekeh kecil oleh pikirannya sendiri.
"Kira-kira dia orang Indonesia apa orang luar negeri ya?" Rebeca menggaruk kepalanya. "Masih gadis atau sudah pernah menikah? Jangan-jangan janda lagi, punya anak. Ihhh!" Ia mengentakkan kaki pelan di bawah meja. "Aku nggak mau punya saudara tiri. Males!" Rebeca akhirnya mengembuskan napas pelan, seolah memaksa dirinya berhenti memikirkan berbagai kemungkinan yang terus berputar di kepalanya. "Sudahlah," gumamnya pelan. "Nanti juga ketemu."
Ia tersenyum kecil, lalu meraih sendok dan garpu yang telah tersusun rapi di atas meja makan. "Mending sekarang aku makan." Ia mulai menyendok nasi hangat ke piringnya. Ia mengambil sedikit sayur, sepotong ayam, lalu menuangkan kuah sup ke dalam mangkuk kecil.
Sesekali Rebeca melirik ponselnya, berharap ada pesan baru dari Elgar. Tapi ternyata tidak ada. "Elgar pasti masih syuting. Semoga bentar lagi dia menghubungiku," gumamnya penuh harap.
***
Mobil Robinson memasuki area parkir rumah sakit. Ia memarkir kendaraannya dengan rapi, lalu berjalan cepat menuju gedung perawatan. Langkahnya mantap menyusuri lorong-lorong yang mulai lengang. Aroma khas antiseptik langsung menyambut indra penciumannya. Tak butuh waktu lama hingga ia tiba di depan ruang rawat Sinta.
Robinson mengangkat tangan, lalu mengetuk pintu pelan. "Permisi." Perlahan, ia membuka pintu. Namun langkahnya langsung terhenti di ambang pintu.
Di dalam ruangan, Cika sedang duduk di kursi yang berada tepat di samping tempat tidur adiknya. Sebuah buku dongeng terbuka di pangkuannya. "Dan akhirnya, kelinci kecil itu berhasil menemukan jalan pulang ke rumahnya," ucap Cika dengan suara lembut.
Sinta yang sejak tadi mendengarkan tampak sudah setengah terlelap. Kelopak matanya turun naik menahan kantuk. "Iya, Kak ..." gumam gadis kecil itu lirih.
Cika tersenyum hangat. Jemarinya mengusap pelan rambut Sinta sambil melanjutkan cerita dengan suara yang semakin lirih, seolah sengaja mengantar adiknya memasuki alam mimpi.
Melihat pemandangan itu, Robinson mengurungkan niat untuk masuk. Tanpa suara, ia kembali menutup pintu hingga menyisakan sedikit celah, lalu berdiri menunggu di lorong. Tangannya masuk ke saku celana, sementara tatapannya sesekali mengarah ke pintu kamar.
Entah mengapa, melihat Cika membacakan dongeng untuk adiknya membuat sudut bibir Robinson terangkat tipis. "Cika memang perempuan yang lembut," batinnya.
Sekitar lima belas menit kemudian, pintu kamar perlahan terbuka. Cika melangkah keluar sambil menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Begitu melihat Robinson masih menunggu, ia sedikit terkejut. "Maaf sudah membuat Bapak menunggu lama."
Robinson menggeleng pelan. "Sinta sudah tidur?"
"Sudah, Pak." Cika mengangguk. "Hari ini dia tidur lebih awal."
"Syukurlah."
Suasana hening sejenak. Kemudian Robinson menatap wajah Cika yang terlihat sedikit pucat. "Kamu sudah makan malam?"
Cika menggeleng. "Belum, Pak."
"Kok belum?"
"Tadi habis salat, terus menemani Sinta. Belum sempat nyari makan."
Robinson menghela napas pelan. "Ayo."
Cika mengangkat kepala. "Ke mana, Pak?"
"Ke kantin."
Cika buru-buru menggeleng. "Nggak usah, Pak. Nanti saya makan di rumah saja."
Belum sempat Robinson menjawab, tiba-tiba suara pelan dari perut Cika terdengar cukup jelas di lorong yang sedang sepi.
Cika langsung membeku. Wajahnya memerah dalam hitungan detik. Ia refleks menundukkan kepala karena malu.
Robinson yang mendengarnya sempat terdiam beberapa detik. Lalu sudut bibirnya terangkat, berusaha menahan tawa. "Tuh perut kamu udah bunyi."
Cika menggigit bibir bawahnya. "Em ..." Mata Cika terpejam saking malunya. Ia tak sanggup mengangkat wajah.
Melihat reaksi gadis itu, Robinson akhirnya terkekeh pelan. "Ayo makan dulu."
"Tapi, Pak ..."
"Nggak ada tapi-tapian." Nada suara Robinson tetap tenang, tetapi tegas. "Kamu belum makan, dan saya juga belum makan."
Cika akhirnya mengembuskan napas pelan. "Baik lah, Pak."
Robinson mengangguk puas. "Ayo!"
Keduanya kemudian berjalan berdampingan menyusuri lorong rumah sakit menuju kantin yang berada di lantai dasar.
Beberapa menit kemudian, Robinson dan Cika tiba di kantin rumah sakit.
Meski sudah malam, kantin itu masih cukup ramai oleh keluarga pasien, tenaga medis, dan beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan malam.
Robinson memilih sebuah meja di sudut ruangan. "Kamu duduk dulu," ujarnya.
"Iya, Pak." Cika menarik kursi dan duduk dengan rapi. Sementara itu, Robinson berjalan menuju meja pemesanan.
Cika sempat memperhatikan daftar menu yang terpajang di atas etalase. "Hmm ... nasi sama telur dadar saja cukup," gumamnya pelan. Menurutnya, menu sederhana itu sudah lebih dari cukup untuk mengganjal perut.
Namun, sebelum ia sempat berdiri untuk memesan, Robinson sudah lebih dulu berbicara kepada petugas kantin. "Dua porsi nasi dengan ayam goreng, sambal. Tambah sayur dan dua teh hangat."
"Baik, Pak."
Cika yang mendengarnya langsung berdiri. "Pak ..." panggilnya pelan. Robinson menoleh. "Sebenarnya saya mau pesan nasi sama telur dadar saja."
"Kenapa?"
"Itu ... sudah cukup buat saya."
Robinson menatapnya beberapa saat. "Lauk ayamnya tidak suka?"
"Bukan begitu, Pak." Cika tersenyum canggung. "Saya cuma nggak perlu makan sebanyak itu."
Robinson menggeleng pelan. "Kamu belum makan sejak sore." Cika terdiam. "Dan dari wajahmu saja sudah kelihatan capek."
"Tapi ..."
"Nggak ada tapi-tapian, Cika." Nada suaranya tetap datar, namun sulit dibantah. "Malam ini kamu harus makan apa yang saya pesan."
Cika akhirnya mengalah. "Baik, Pak."
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.
Dua piring nasi hangat dengan ayam goreng berukuran besar, lengkap dengan sambal, lalapan, semangkuk sayur bening, serta dua gelas teh hangat mengepul.
Aroma ayam goreng yang baru diangkat dari penggorengan langsung menggoda selera.
"Silakan makan," kata Robinson.
"Iya, Pak."
Awalnya Cika masih makan dengan sangat pelan, bahkan hanya menyuapkan sedikit demi sedikit nasi ke mulutnya.
Namun setelah beberapa suapan, rasa laparnya mulai terasa. Tanpa sadar, ia mulai menikmati makanannya dengan lahap.
Robinson yang sedari tadi makan dengan tenang sesekali melirik ke arah Cika. Melihat gadis itu akhirnya makan dengan lahap, entah mengapa ada rasa puas yang sulit dijelaskan di dalam hatinya.
Setidaknya malam ini, ia tidak membiarkan calon istrinya pulang dalam keadaan lapar.