Velica seorang artis terkenal yang iseng membaca novel bertema " Gadis seindah musim semi " yang sedang booming dengan banyak sanjungan banyak orang. Bukannya menyanjung, Velica justru mengkritik tokoh utama novel tersebut yang menurutnya terlalu menganiaya sang antagonis.
"Kasihan sekali Clarissa ini, Padahal Robert itu tunangannya, Tetapi mengapa ia harus di benci karna marah ketika tunangannya berselingkuh." Ujarnya kesal.
"Padahal Clarissa punya segalanya, Ia juga melakukan semuanya untuk Robert, Robert itu lah yang tidak tahu diri. Sudah di bantu dia malah menyukai anak dari seorang pelayan, Sih Nadia itu!"
"Jika aku menjadi Clarissa, Sudah ku buat kedua orang itu kehilangan wajahnya di muka umum, Beraninya dia yang seorang pemuda miskin memperlakukan Clarissa begini!" Velica melempar novel itu dengan kesal.
Tak lama, Novel itu terbuka sendiri...membuat Velica masuk ke dalam nya. Jika penasaran cuss langsung baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Misteri lukisan clarissa
...Chapter 12...
...----------------...
Luzkay baru saja menyelesaikan laporannya terkait para siswa-siswi yang telat, Kini ia sedang berjalan menuju kelasnya untuk mengerjakan tugas yang tertinggal. Tak di sangka, Ia malah melihat beberapa siswa-siswi yang sibuk memasang sesuatu di Mading sekolahnya.
Iya juga melihat Robert yang meremas sebuah kertas yang banyak menempel di Mading, Pemuda itu marah dan langsung pergi dari sana. Luzkay mendekat dan melihat apa yang baru saja di buang oleh pemuda itu.
Pemuda itu tersenyum tipis, Menatap karya baru yang saat ini sangat populer dengan wajah cantik Clarissa. Luzkay sudah tahu bahwa apapun yang berkaitan dengan Clarissa pasti akan menyita perhatian publik, Tetapi ia yakin, Wajah kesal Robert menjelaskan bahwa bukan dia lah orang yang membuat karya itu.
"Hmm...Clarissa ini cukup unik, Padahal hanya wajahnya saja yang cantik, Sifatnya sangat menjengkelkan seperti adik-ku." Gumam pemuda itu, Melempar kertas itu ke tempat sampah.
"Beraninya kau membuangnya!" Teriak seseorang, Luzkay menoleh. Menatap Axion yang berjalan cepat menuju dirinya. Luzkay tau bahwa kini Axion terlihat sangat marah, Tetapi bukan Luzkay namanya bila tidak bersikap tenang.
"Ada apa tuan muda." Ucapnya dengan nada yang seperti meledek.
"Astaga! Anda membuang foto nona Clarissa?!" Kaget Kevian menatap tempat sampah, Ia langsung memungutnya dan memberikannya pada axion.
"Bukan aku yang membuangnya, Robert yang membuangnya." Ucap Luzkay tanpa dosa, Axion menarik kerah bajunya. Tinggi mereka hanya berbeda beberapa senti saja.
"Kau baru saja membuangnya!" Kesal Axion.
"Tentu saja, Aku hanya membuang sampah pada tempatnya, Ku lihat Robert lupa di mana tempat sampah, Jadi aku membantunya membuang, Lihatlah...gambar itu sudah di remas olehnya hingga kusut." Ucap Luzkay. Axion pun melepaskan kerah baju itu.
"Melihat kau marah, Apa kau yang membuat karya ini untuk calon tunangan-mu?" Tanya Luzkay, Mendengar pertanyaan Luzkay membuat Axion menjadi kesal.
"Oh bukan ya, Pantas saja kau terlihat marah sekarang, Walaupun kau tetap ingin menyimpan foto lukisan itu." Luzkay tersenyum tipis sambil memanasi Axion.
"Dan ku rasa Robert juga bukan, Apa jangan-jangan Seorang pria pengagum rahasia milik nona Clarissa."
"CUKUP!" Axion berjalan cepat meninggalkan Luzkay, Pemuda itu terkekeh menatap kepergian Axion. Kevian pun menatap Luzkay dengan tatapan meneliti.
"Katanya dia dingin,dan sopan. Mengapa dia berbeda sekali dengan rumor." Batin Kevian menatap Luzkay.
Menyadari tatapan orang di sebelahnya, Luzkay langsung berdehem dan berjalan menuju kelasnya dengan gaya cool. Kevian langsung menggeleng tak percaya.
"Keluarga kenny memang unik." Gumamnya.
...--------------------------------...
Kelas Clarissa berisi 12 orang, Masing-masing di kelompokkan menjadi 2 orang, Dan kini Clarissa berkelompok dengan Mia. Mereka di tugaskan untuk mencoba mencangkok sebuah pohon mangga berusia 1-2 tahun.
"Kalian bisa?" Tanya Tora, Ia menatap Clarissa dengan senyuman hangat. Clarissa sama sekali tak merasa aneh. Hanya saja ia bersikap waspada, Takut-takut Tora memiliki sifat seperti Nola.
"Bisa, Tapi bagaimana cara mengikat cabang ini jika sudah di satukan?" Tanya Mia, Tora pun berjongkok dan mengajarkan bagaimana caranya mengikat kedua cabang tanaman berbeda itu.
Seiring penjelasan, Clarissa mendengarkan dengan baik, Dan Tora juga tidak terlihat seperti orang yang mencurigakan. Sehingga ia menurunkan kewaspadaannya sedikit demi sedikit.
"Kalian sudah paham?" Tanyanya, Mia dan Clarissa pun mengangguk pasti.
"Penjelasan kakak singkat dan sangat membantu, Terima kasih kak." Ucap Clarissa tersenyum. Tora pun mengangguk dan berkeliling mencari siswa-siswi yang masih kesusahan.
"Dia sangat berbeda dengan adik tirinya, Bukankah begitu?" Tanya Mia, Clarissa pun mengangguk.
"Sudahlah, Ayo lanjutkan." Ucap Clarissa, Kedua gadis itu kembali fokus.
Riana dan Nasya tersenyum saat Tora mendatangi kelompok mereka, Mereka sudah selesai mencangkok sebuah pohon jambu berusia 1 tahun.
"Kami sudah selesai kak." Ucap Nasya tersenyum manis,
"Bagus, tapi ikatan kalian kurang rapih." Ucap Tora, Riana dan Nasya pun menoleh dan melihat kembali tugas mereka.
"Wah iya kak, Tapi...ini..." Riana menghentikan suaranya, Ketika melihat Tora sedang menatap sesuatu sambil tersenyum. Mereka mengikuti arah pandang pria itu, Dan melihat Clarissa dan Mia.
Riana dan Nasya saling pandang, Mereka tau bahwa nona Clarissa dan Mia memang sangat mencolok. Tetapi mereka pikir Tora bukan pria seperti itu.
"Tadi penjelasan kalian bagaimana?" Tanya Tora kembali berbicara dan menatap Nasya dan Riana. Kedua gadis itu pun kembali menjelaskan.
Setelah tugas kelompok mereka selesai, Tora kembali berkeliling mencari kelompok lain yang belum selesai. Riana menatap Tora sejak tadi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Nona Riana, Nona nasya...kalian sudah selesai ?" Tanya Clarissa tersenyum, Riana dan Nasya menoleh.
"Sudah nona Clarissa, Oh yaa...kira-kira kelompok siapa ya yang akan mendapatkan hadiah?" Ucap Nasya penasaran.
"Tentu saja kelompok kami." Ucap Mia tersenyum lebar.
"Enak saja, Pasti kelompok kami." Ucap Riana tak mau kalah.
Clarissa tertawa saat menatap Mia dan Riana berhadapan seperti siap untuk berduel. Beberapa kelompok juga menatap mereka dengan tertawa ringan.
"Sudah selesai?" Clarissa merasa bulu kuduknya berdiri saat Tora tiba-tiba berada di belakangnya dan berbicara telat di Tengku lehernya. Bahkan ia bisa merasakan nafas pria itu.
"Su...sudah kak." Ucap Clarissa langsung menghindar, Pria itu tersenyum hangat seperti biasa. Tidak terlihat seperti penjahat.
"Kalau kalian?" Tanyanya menatap Riana dan Nasya, Kedua gadis itu mengangguk cepat.
"Sudah dong." Ucapnya. Tora pun maju dan melihat hasil kedua kelompok itu. Ia terkekeh pelan menatap 4 gadis itu.
"Punya nona Riana dan nona Nasya sangat bagus potongannya, Tetapi ikatannya kurang rapih. Sedangkan punya nona Clarissa dan nona Mia terlihat rapih dan tepat sekali letaknya." Ucap Tora tersenyum.
"Tuhkan, Sudah ku duga kita akan menang." Ucap Mia meledek Riana dan Nasya.
"Masih ada kelompok lain, Memangnya hanya kita yang membuat." Ucap Riana menatap teman sekelasnya.
"Baiklah, Akan kakak periksa kelompok yang lain." Ucap Tora tersenyum. Ia kembali berkeliling melihat-lihat.
"Nona Clarissa! Ini...bukankah anda?" Salah satu teman sekelasnya mendatangi Clarissa dengan wajah panik dan heboh. Mia dan Clarissa mendekat...
"Siapa yang membuat ini?" Bingung Clarissa, Pameran lukisan yang di keluarkan sebuah galeri Terkenal yang terletak di ibu kota, Dengan karya-nya yang di akui oleh beberapa ahli untuk di masukan ke dalam pameran, Dan lukisan dalam karya itu mirip sekali dengannya.
"Apa anda mengenal orang ini, Jika iya tolong beritahu aku yaa, Aku ingin memasukkan ke daftar berita milik-ku." Ucap teman sekelas Clarissa, Anggi loven. Ia berprofesi sebagai lambe turah di sebuah apk.
"Wah...lukisan yang sangat cantik, Keren sekali." Ucap Riana.
"Apa ini ada hubungannya dengan nona rosely? Lukisan nona Clarissa-kan di berikan padanya." Ucap Nasya.
"Ku rasa tidak, Karna lukisan buatan Clarissa tidak ia jual, Hanya ia pajang di rumahnya. Dan sepertinya orang ini hanya mengambil foto dan mencontoh lukisan itu dengan menambahkan wajah Clarissa saja." Ucap Mia, Riana dan Nasya pun mengangguk setuju.
"Bagaimana jika kita bertemu nona rosely, Untuk bertanya." Usul Riana, Clarissa dan Mia terlihat berpikir.
"Baiklah, Besok aku akan mengundang nona rosely, Dan kalian bertiga untuk hadir di rumahku, Jadi datanglah sore hari. "Ucap Clarissa, Ia juga penasaran. Sebenarnya siapa pembuat lukisan itu.
"Wah serius? Yey!" Teriak Riana dengan senang, Ia memang sudah menunggu lama untuk bisa dekat dengan Clarissa.
"Aku akan berdandan dengan cantik, Terima kasih sudah mau mengundang kami." Ucap Nasya tersenyum.
Tanpa keempat gadis itu sadari, Tora sedang menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan.
TBC
like dan komen yaa!