Dominic Kazarov.
Seorang pria tampan, dingin, dan berbahaya. Pemimpin kelompok mafia paling ditakuti, sekaligus pemilik perusahaan raksasa DK Company. Semua orang mengenalnya sebagai monster yang tak memiliki belas kasihan.
Namun semuanya berubah setelah pertemuan keduanya dengan seorang gadis muda yang pernah menolongnya saat ia terluka.
Awalnya hanya rasa penasaran. Lalu berubah menjadi ketertarikan. Hingga perlahan menjelma menjadi obsesi yang memabukkan.
Dominic tidak hanya menginginkan gadis itu berada di sisinya.
Ia menginginkan senyumnya, waktunya, hidupnya... bahkan kebebasannya. Dominic memilih cara yang paling kejam untuk mendapatkannya. Sebuah ancaman berdarah ia berikan dengan melukai salah satu teman gadis itu, memaksa sang gadis untuk menyerahkan dirinya kepada pria yang tak ia kenal.
terjebak dalam dunia mafia yang gelap dan berbahaya, sang gadis harus memilih.
Melawan pria yang terobsesi padanya atau menyerah pada cinta seorang monster kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra_Reinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yasa Terluka
Tidak butuh waktu lama, mereka akhirnya menyelesaikan hukuman nayara. Kini mereka duduk santai di bangku taman belakang.
Tadi Kenzo sempat pergi ke kantin membeli beberapa snack dan minuman, itulah sebabnya obrolan mereka kini terasa semakin santai dan ramai. Bungkus cemilan berserakan di atas meja kecil taman, sementara suara tawa sesekali terdengar memecah suasana.
Yasa, Gio, dan naya menjadi yang paling berisik di antara mereka. Ketiganya terus mengobrol tanpa henti, saling melempar candaan hingga beberapa kali tertawa keras.
Berbeda dengan Kenzo yang hanya sesekali ikut tertawa kecil sambil menikmati minumannya.
Sementara bara... pria itu justru lebih banyak diam.
Ia duduk sedikit menyandar di bangku taman dengan kedua tangan di saku jaketnya, memperhatikan teman-temannya berbicara. Namun sesekali, tanpa sadar pandangannya berhenti pada naya.Matanya mengikuti setiap ekspresi gadis itu…mulai dari cara nayara tertawa, mengeluh saat yasa menggodanya, sampai saat gadis itu meniup pelan rambutnya yang tertiup angin.
Bara tidak banyak bicara, tetapi tatapannya seolah mengatakan kalau sejak tadi perhatiannya memang hanya tertuju pada satu orang.
Di tengah suasana yang masih dipenuhi suara tawa, ponsel naya tiba-tiba berdering.
Getaran dari dalam saku roknya membuat gadis itu menghentikan tawanya sejenak. Ia segera mengambil ponselnya lalu menatap layar dengan dahi sedikit berkerut.
Nomor tidak dikenal.
Nayara sempat ragu. Jemarinya menggantung beberapa detik di atas layar ponsel, seolah berpikir apakah panggilan itu perlu diangkat atau tidak.
"Siapa?" tanya Gio penasaran sambil melirik sekilas.
Nayara mengangkat bahu kecil.
"Nggak tau, nomor baru."
"Jangan-jangan debt collector," celetuk yasa asal yang langsung membuat Kenzo tertawa kecil.
"Cih, apaan sih."
Meski masih ragu, rasa penasarannya jauh lebih besar. Akhirnya naya menggeser tombol hijau di layar lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Hallo? "
Hening beberapa saat.
"Hallo.. Siapa? " Nayara mulai mengernyit bingung saat tidak mendapat jawaban. Namun tepat saat ia ingin memutus sambungan, suara pria terdengar berat dari seberang sana.
"Apa kau sudah puas bersenang-senangnya,sayang?"
Nayara tidak mengerti apa yang dikatakan pria di dalam telepon,kenapa tiba-tiba mempertanyakan hal itu.
"Aku memberimu waktu dua menit untuk pergi dari sana, menjauhlah dari para bajingan itu atau..... "
"Tunggu.. Tunggu... Kau siapa? kenapa kau menyuruhku untuk pergi dari teman-temanku" Nayara memperhatikan keempat temannya Bara,kenzoi, yasa dan gio.. Mereka menatap naya dengan wajah penasaran.
"Apa kau sedang memata-mataiku" Nayara memperhatikan sekeliling tapi tidak melihat siapapun yang mencurigakan.
"Hei... Dengar ya,kau tidak berhak menyuruhku pergi, dan aku juga tidak mengenalmu.. Dasar pria aneh" Saat akan mematikan panggilan pria itu berbicara kembali.
"Aku memberimu pilihan baby.. Pergi dari sana atau kau akan melihat salah satu dari mereka terluka. "
"Hei dengar ya aku tidak mengenalmu,dan sepertinya kau salah sambung, dasar pria gila"
Terdengar suara tawa yang cukup berat di seberang telepon.
"Kau tetap tidak ingin pergi dari sana.Baiklah,sepertinya kau memang harus ku beri peringatan"
"Apa mak~ " Belum sempat nayara melanjutkan ucapannya, suara erangan kesakitan terdengar di belakangnya.
"Arghhh" Seketika tubuh yasa tumbang dan darah keluar dari celana bagian betis.
"Yasaaaa... " Bara, gio dan kenzo melihat tubuh yasa terkapar dengan kaki yang mengeluarkan banyak darah, temannya itu mengerang kesakitan.