NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:783
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Rahasia Heru Mahesa

“Kamu sudah tahu jawabannya, kan?” Heru berbalik perlahan, menatap Satya dengan pandangan memohon yang teramat sangat.

“Ya.” Satya menjawab singkat.

“Sudah tahu. Lalu … kenapa kamu masih nekat muncul di hadapanku?” Heru melangkah mendekat lagi, menuntut alasan di balik kenekatan keponakannya yang bisa menghancurkan reputasi bisnis mereka dalam sekejap.

“Aku ingin memberitahu kabar bahagia.”

“Kabar bahagia?” Heru mengernyitkan dahi, bingung dengan perubahan raut wajah Satya yang mendadak melembut saat memikirkan romansa hidupnya.

Satya mengangguk. “Benar. Aku ingin menikah. Dan aku … ingin Paman datang.”

Mata Heru berkaca haru. Guratan kebahagiaan menyeruak di antara wajah lelahnya yang menua. “Aku ingin berkenalan dengan wanita luar biasa itu. Siapa dia, Bram?”

“Kapan-kapan aku akan kenalkan.” Satya bangkit bersiap pergi. Ia membetulkan letak jaketnya dan meraih masker yang sempat ia letakkan di meja kerja.

Namun Heru menahan lengan Satya dengan cepat. “Satya tunggu!”

“Apa lagi?” Satya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, menoleh dengan alis bertaut.

“Mengenai hak-mu, aku serius akan mengurusnya.” Heru menegaskan, suaranya penuh dengan penekanan yang tidak ingin dibantah.

“Aku sudah melupakan itu, Paman.” Satya menepis pelan tangan Heru, enggan terlibat dalam lingkaran setan harta Utama.

“Jangan begitu. Kamu mungkin tidak butuh. Tapi bagaimana dengan calonmu? Kamu harus memikirkan masa depan istrimu nanti, Bram!” Heru mendesak, menggunakan asmara Satya sebagai senjata untuk melunakkan keras kepalanya.

Satya menimbang. Celetukan sang paman ada benarnya. Ia teringat Melati yang semalam begitu lahap makan lauk tempe dengannya, dan bagaimana gadis itu memimpikan masa depan yang layak bersamanya.

Heru melanjutkan, melihat keraguan di mata Satya. “Kantor ini dan pabrik Utama. Bukan milikku. Pabrik kedua dan dealer, baru milik Maesa Utama grup.”

“Hmmm … iya … kenapa Paman tidak memegang milik Paman sendiri? Kenapa milik Ayah?” Satya bertanya heran, menatap sekeliling ruangan yang megah ini dengan pandangan penuh selidik.

“Dealer dipegang Bagas. Sementara pabrik kedua dikuasai Risma. Paman sebenarnya tak punya apa-apa. Pabrik pertama dan kantor pembiayaan ini, milikmu Bram. Aku pegang, untuk menyelamatkan aset kakakku dari tangan Risma. Aku sungguh menyesal menikahinya.” Heru mengepalkan tangan ke meja, menumpahkan segala kejengkelannya atas intrik pernikahan politiknya dulu.

“Tante Risma sejahat itu kah?” Satya memicingkan mata, menyadari betapa berbahayanya wanita yang kemarin mengusirnya dari rumah mewah tersebut.

“Sangat. Andai dia baik dan tidak licik. Aku tak mungkin selingkuh dengan Pitaloka.”

“Jadi wanita yang berhasil mengambil hati Paman. Dari Tante Risma … bernama Pitaloka?” Satya mencoba merangkai potongan puzzle drama kehidupan pamannya.

“Ya. Benar. Dia adik kelasku dulu di SMA. Kami kembali bertemu di pabrik ayahmu saat aku kunjungan kerja. Aku menarik Pitaloka kerja di pabrik kedua. Hubungan kami semakin dekat. Hingga semua terbongkar saat aku mengurusmu yang koma. Risma mengamuk, mengancam mengambil alih harta keluarga Utama karena memang kondisi ini, aku yang salah. Aku terpojok, dan terpaksa mengikuti kemauannya.” Heru menjatuhkan kembali tubuhnya ke kursi, tampak habis energinya menceritakan konspirasi itu.

“Lalu nasib Pitaloka bagaimana?” Satya mendesak, merasakan ada takdir lain yang ikut terseret dalam masalah ini.

Heru menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mendadak diliputi mendung penyesalan. “Aku sembunyikan dia dari Risma. Di sebuah desa terpencil. Pitaloka dan anakku, tinggal di sana.”

“Paman punya anak?” Satya tercengang. Tanpa sadar berbalik sepenuhnya menghadap Heru dengan mata membulat sempurna.

“Ya.” Heru mengangguk. “Aku punya satu anak perempuan. Mungkin dia masih sekolah menengah atas sekarang.”

Wajahnya yang menua tampak layu, guratan penyesalan tercetak jelas saat, ia membeberkan intrik rahasia yang selama ini disembunyikan rapat.

“Mungkin? Kenapa mungkin?” Satya mendesak. Ia melangkah satu hitungan lebih dekat ke meja kerja Heru, menumpukan kedua tangannya di atas meja kayu mahoni itu dengan tatapan mengintimidasi. “Bagaimana bisa seorang ayah tidak tahu persis keadaan anaknya sendiri?”

“Terakhir aku bertemu dengan Pitaloka sesaat usai ia melahirkan. Lalu menyuruh orang membawanya pergi menjauh. Demi keselamatan mereka. Di desa terpencil, yang aku sendiri tidak tahu lokasinya di mana.”

Heru berucap dengan suara gemetar, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan untuk menahan gejolak drama batinnya.

“Tuhan.” Satya menepuk dahi. Tak menyangka kalau sang paman akan menjadi raja tega. Bukan hanya padanya, melainkan juga ke darah dagingnya sendiri demi ketakutan pada ancaman istrinya. “Paman membuang mereka demi menyelamatkan muka di depan Tante Risma?”

“Nasib-mu masih lebih baik Bram Satya. Setidaknya di panti itu … kamu terjamin. Aku sudah memberi uang ke pemilik panti. Supaya dia lebih mengutamakan kamu.” Heru membela diri, matanya bergerak panik menatap keponakannya. "Sementara Pitaloka, entah bagaimana dia bertahan di sana. Aku hanya memberi uang sekedarnya, untuknya bisa bertahan hidup dengan anak kami."

Satya tersenyum getir. Parut luka melepuh di wajahnya berkerut, menciptakan pemandangan yang dramatis sekaligus menyayat hati. “Pantas saja. Aku dapat makan enak, tapi temanku tidak.”

“Temanmu itu … bisa makan saja sudah bersyukur. Keluarganya bahkan tak memberi uang untuk biaya hidupnya. Kamu pikir panti akan memberi makan, tanpa uang titipan kah?” Heru mencebik sinis, mencoba bersikap rasional di tengah intrik kelas sosial yang kaku. “Tidak Bram. Uang makan temanmu, diambil dari uang bulanan-mu. Meski tidak banyak. Paling tidak dia bisa makan.”

Satya tertawa pilu. Suara tawa hambarnya menggema di ruangan yang kedap suara itu, menertawakan romansa takdirnya yang begitu rumit. “Paman benar-benar luar biasa. Andai Paman tahu kalau gadis teman panti-ku itu, akan menjadi istriku.”

“Apa?” Heru kaget sampai bangkit dari kursinya. Ia menggebrak meja kerja, menatap Satya dengan mata membelalak sempurna.

“Gadis itu dari keluarga miskin. Kau tidak boleh menikah dengannya.”

“Cih, miskin? Lalu apa bedanya Melati sama aku sekarang?” Satya melipat tangan di dada, memajukan wajahnya menantang pandangan angkuh sang paman.

“Tentu berbeda, Bram! Kamu dari golongan elite, meski kebakaran merenggut semuanya. Tapi aku sudah mengamankan asetmu.” Heru bersikeras, menyuarakan ego besarnya yang masih tersisa. "Kamu memiliki darah Utama. Tidak boleh bercampur dengan darah jelata."

“Bram anak orang kaya itu sudah mati. Yang berdiri di depanmu sekarang adalah Satya. Yatim piatu, yang sudah tak lagi memiliki identitas.” Satya membalas dingin, memutus sisa harapan Heru akan kepatuhannya.

“Aku akan bicara dengan Risma. Akan aku usahakan kamu kembali. Meski tanpa nama Utama. Aku akan mengatur identitas-mu sebagai anak angkat. Ya … aku sudah memikirkan ini lama.” Heru tampak gugup. Ia berjalan mondar-mandir di balik mejanya, mencoba merangkai konspirasi baru demi menyelamatkan posisinya.

“Kenapa anak angkat? Aku kan keponakanmu?” Satya tersenyum miring, menatap jijik pada ketakutan pamannya yang begitu kentara. “Takut kena jerat hukum ya? Sebab Bram Utama sudah tertulis mati. Hak waris keluarga Utama, semua sudah beralih ke keluarga kedua. Itu tandanya, kalian mengambil sesuatu yang bukan hak kalian."

“Bram tolong mengerti.” Heru memohon, suaranya mengecil seiring runtuhnya wibawanya sebagai pemimpin perusahaan.

“Jangan panggil aku Bram!” bentak Satya, “namaku Satya.”

“Baiklah. Tapi beri Paman kesempatan. Paman akan pikirkan ini dengan tantemu. Hanya saja, tolong pikirkan lagi untuk menikah dengan gadis miskin bernama Melati itu. Dia tak sederajat dengan kita.” Heru mencoba menasihati, menatap parut luka di wajah keponakannya dengan iba yang dipaksakan.

“Aku tak peduli.” Satya berbalik sekali lagi. Namun sebelum pergi, ia memutar tubuhnya, menatap Heru dengan sorot mata yang penuh kilat intrik mengancam. “Paman. Melihat ini semua. Aku yang semula tidak peduli. Jadi berpikir untuk mengambil alih hak-ku. Aku ingin memperbaiki wajahku dan … memberi penglihatan sempurna, untuk Melati. Jadi tolong atur semua. Entah bagaimana caranya, aku mau hak-ku kembali. Kalau tidak. Jangan salahkan … kalau aku bongkar semua ini ke publik.”

Setelah berkata demikian, Satya melangkah. Menuju pintu keluar. Ia mengentak gagang pintu dengan kasar dan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Heru yang mematung lunglai menatap lantai keramik yang dingin. Menyadari bahwa bom waktu dari drama masa lalunya kini telah siap meledak kapan saja.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!