NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Logika yang Retak

Hujan bulan November di Semarang selalu membawa serta dingin yang menusuk tulang, namun bagi Viona, cuaca buruk itu justru menjadi selimut nyaman. Sudah hampir 10 bulan ia tinggal di rumah Candisari Semarang bersama Zidan, dan rutinitas antar-jemput kuliah telah berubah dari siksaan menjadi ritual yang diam-diam ia nantikan.

Mobil sedan hitam Zidan kini bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan ruang hampa tempat Viona belajar membaca bahasa tubuh pria yang enggan berbicara tentang perasaan. Disetiap perjalanan mata Viona selalu tertuju pada wajah Zidan.

Terkadang Viona Tersenyum kecil sendiri.

"Kamu kurusan," ucap Zidan tiba-tiba suatu sore, saat mereka terjebak macet di depan kampus.

Viona menoleh, jantungnya berdetak sedikit lebih kencang.

"Lagi fokus skripsi, Kak. Jarang makan siang."

"Fokus bukan alasan untuk merusak kesehatan. Besok aku pesan katering sehat ke kantinmu. Jangan ditolak."

Itu perintah. Tapi bagi Viona, itu terdengar seperti belaian. Ia tersenyum tipis, memandang Zidan dari samping.

"Aku akan coba," jawab Viona lembut. "Tapi kalau rasanya tidak enak, aku komplain ya, Kak."

Zidan melirik sekilas, dan kali ini, senyum itu muncul lagi. Senyum kecil yang hanya milik Viona.

"Silakan. Aku akan ganti makanannya sampai kamu puas."

Momen-momen seperti inilah yang membuat Viona semakin tenggelam. Setiap kali Zidan menunjukkan perhatian, sekecil apapun, logikanya berteriak bahwa itu hanyalah tanggung jawab kakak tiri. Namun hatinya membisikkan hal lain: Dia peduli padamu, Vion. Lebih dari sekadar kewajiban.

Masalahnya, Viona mulai kehilangan kendali atas batasan itu.

Suatu malam, saat Zidan lembur di ruang kerja lantai bawah, Viona turun membawakan secangkir kopi hangat. Ia menemukan Zidan tertidur pulas di sofa, tablet masih menyala di pangkuannya menampilkan blueprints gedung. Wajah pria itu tampak lelah, garis-garis kelelahan terlihat sangat jelas.

Viona berdiri di ambang pintu, cangkir kopi tergenggam erat di tangannya.

Tanpa berpikir panjang, ia meletakkan kopi di meja, lalu mengambil selimut lipat dari sandaran sofa dan menyelimuti tubuh Zidan dengan gerakan perlahan, agar tidak membangunkannya.

Saat tangannya hampir menyentuh bahu Zidan untuk merapikan selimut, mata pria itu terbuka.

Mereka saling menatap. Jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter. Aroma kopi dan parfum maskulin Zidan memenuhi indra Viona. Waktu seolah berhenti. Dalam keheningan itu, Viona bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata cokelat gelap Zidan—sebuah gadis muda dengan ekspresi yang terlalu jujur, terlalu penuh perasaan, untuk disembunyikan.

Zidan tidak bergerak. Ia tidak menarik diri, tidak marah, tidak menegur. Ia hanya menatap Viona, matanya menyelami kedalaman emosi yang terpampang jelas di wajah gadis itu.

"Eh Viona..?"

Viona menarik tangannya mundur, pipinya memanas.

"Eeeehh... Maaf, Ka Zidan.. Maaf, Kaka ketiduran. Aku cuma..... Eeeeeeeuu..Mau kasih selimut."

Ia berbalik cepat, berjalan menuju tangga dengan langkah yang berusaha tampak normal, padahal kakinya terasa lemas. Di belakangnya, ia mendengar Zidan menghela napas panjang, suara yang terdengar seperti beban yang akhirnya diakui.

Insiden itu mengubah dinamika di antara mereka. Zidan menjadi lebih hati-hati. Ia tidak lagi duduk terlalu dekat saat menonton TV bersama. Ia menghindari kontak mata yang terlalu lama. Percakapan Viona bahkan mulai seadanya.

Puncaknya datang dua minggu kemudian, saat ulang tahun Viona yang ke-20.

Rani dan Pak Wahyu mengadakan syukuran kecil di rumah. Teman-teman kampus Viona datang, membawa kado dan ucapan selamat. Suasana riuh dan bahagia. Viona tersenyum, berterima kasih, memainkan peran sebagai gadis ultah yang ceria. Namun matanya terus mencari satu sosok yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan, mengamati dengan tatapan tak terbaca.

Zidan memberinya kado. Sebuah buku edisi terbatas karya penulis favorit Viona, lengkap dengan catatan tangan di halaman pertama:

"Untuk Viona. Teruslah menulis duniamu sendiri. - Z"

Kalimat itu sederhana. Tidak romantis. Tidak ambigu. Tapi bagi Viona, itu adalah bukti bahwa Zidan mendengarkannya. Bahwa pria itu memperhatikan hal-hal kecil yang Viona katakan berbulan-bulan lalu tentang penulis kesukaannya.

Saat tamu pulang dan rumah kembali hening, Viona menemukan Zidan di teras belakang, merokok sambil menatap langit malam. Asap rokok mengepul pelan, membentuk pola yang hilang sebelum sempat dipahami.

Viona berjalan mendekati.

"Terima kasih untuk bukunya, Kak,"

Zidan menoleh, matanya redup dalam cahaya remang.

"Sama-sama."

Zidan membuang puntung rokoknya dan menoleh.

"Vion. Ada sesuatu yang harus kukatakan."

Viona menahan napas. Ini dia. Momen yang ia tunggu-tunggu sekaligus takuti. Apakah Zidan akan mengakui perasaannya? Ataukah ia akan menegaskan batas yang selama ini dijaga?

"Aku..." Zidan memulai, lalu berhenti. Matanya menelusuri wajah Viona, seolah mencari jawaban di sana.

"Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap padamu anymore."

Kalimat itu menggantung di udara malam. Anymore. Kata yang menyiratkan perubahan. Perubahan yang Zidan sendiri tidak mengerti.

Viona menatapnya, matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena lega. Karena pengakuan itu berarti Zidan juga merasakan retakan di logikanya.

"Aku juga tidak tahu, Kak," bisik Viona jujur.

"Tapi aku tahu satu hal. Apapun yang terjadi... aku tidak menyesali perasaan ini. Meski itu salah tempat."

"Ini berawal dari Aku, aku yang mungkin salah Ka. Mengganggap Kaka tidak dengan tempatnya. Karenaku kita semuanya terjebak."

Zidan terdiam lama. Angin malam berhembus, membawa aroma hujan yang akan segera turun. Ia mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh pipi Viona, namun menghentikan gerakannya di udara. Tangannya mengepal, lalu turun kembali ke sisi tubuhnya. Gestur penahanan diri yang paling menyakitkan yang pernah Viona lihat.

"Jangan," ucap Zidan akhirnya, suaranya parau. "Jangan bilang itu. Karena jika kau mengucapkannya... aku mungkin tidak akan mampu menahan diriku lagi."

Dan di situlah, Viona memahami semuanya. Zidan bukan tidak merasakan apa-apa. Zidan merasakan terlalu banyak. Dan itulah mengapa ia membangun tembok logika setinggi langit. Bukan karena ia tidak peduli, tapi karena ia peduli terlalu dalam hingga takut menghancurkan segalanya—termasuk Viona.

Cinta ini memang salah tempat. Tapi malam itu, di bawah langit Semarang yang mendung, Viona dan Zidan menyadari bahwa kesalahan tempat bukanlah alasan untuk berhenti merasakan. Itu hanyalah awal dari perjuangan untuk menemukan tempat yang benar—atau menerima bahwa cinta mereka memang ditakdirkan untuk hidup di ruang abu-abu, di antara logika dan hati, di antara kakak tiri dan sesuatu yang lebih dari itu.

Hujan akhirnya turun, membasahi teras dan menyamarkan air mata yang tidak sengaja jatuh dari mata Viona. Zidan tidak mengusapnya. Ia hanya berdiri di sana, menjadi payung diam yang melindungi Viona dari badai, meski ia sendiri basah kuyup oleh konflik batin yang tak kunjung reda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!