Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Alam Mistis Kuno
Suara dengung halus terdengar saat beberapa kapal udara mendarat berjejer di dataran luas berumput. Tak lama kemudian, rombongan Sekte Pedang pun turun dan segera berbaur dengan kelompok lain yang sudah lebih dulu hadir.
“Selamat bertemu kembali, Saudara Jing,” sapa seorang wanita tua berwajah ramah dengan jubah berwarna ungu gelap yang disulam motif bunga teratai emas. Ia adalah Tetua Agung Sekte Teratai Ungu, salah satu dari tiga sekte terkuat di Kerajaan Jiang.
“Ah, Saudara Sui Hu, salam juga. Terlihat Anda tetap bugar seperti dulu,” balas Jing Dan sambil tersenyum hangat. Kemudian ia melirik ke arah dua tetua yang masih saling ejek tak jauh dari sana, lalu tertawa pelan. “Lihat saja dua orang tua itu. Semakin tua justru semakin tidak tahu malu. Ini kan pertemuan para penerus, tapi mereka masih saja membuat keributan.”
Sui Hu pun ikut tertawa. “Sudah sejak dulu mereka begitu, tak akan berubah sampai kapan pun.”
Pandangan Jing Dan kemudian beralih pada sosok wanita muda yang berdiri tegak di samping Sui Hu. “Namun sepertinya rombongan Anda kali ini membawa tunas-tunas yang luar biasa, Saudara Sui.”
“Ah, Saudara Jing terlalu memuji. Jika dibandingkan dengan murid Sekte Pedang, tentu kami masih jauh tertinggal,” jawab Sui Hu dengan rendah hati namun tenang. Ia kemudian memperkenalkan gadis itu. “Ini Sui Yue, murid kesayangan sekaligus putri ketua Sekte Teratai Ungu. Kali ini ia dipercaya memimpin rombongan kami.”
Sui Yue melangkah maju dan memberi salam dengan sopan. “Salam hormat, Tetua Jing.”
Jing Dan mengangguk puas. “Masih sangat muda, tapi sudah berdiri kokoh di tingkat Raja Level Satu. Sungguh berlian yang berkilau.”
“Terima kasih atas pujiannya, Tetua,” ucap Sui Hu. “Satu hal yang kami mohonkan: di dalam sana nanti, jika memungkinkan, tolonglah lindungi murid-murid kami sebaik yang kami lakukan untukmu.”
Ucapan itu bukan tanda kelemahan. Sekte Pedang, Sekte Teratai Ungu, dan Sekte Pelangi adalah tiga kekuatan yang sudah terjalin persahabatan sejak puluhan generasi silam. Pemimpin sekte dulu adalah sahabat seperjuangan, begitu pula para tetua yang kini memegang tampuk kekuasaan. Persaudaraan itu lebih kuat daripada sekadar aliansi biasa.
“Tentu saja,” jawab Jing Dan tegas. “Kami pun berharap hal yang sama dari Anda. Mari kita saling menjaga dan mendukung.”
Ia kemudian memanggil Jing Hao untuk berkenalan secara resmi. Sebagai pemimpin rombongan, Jing Hao memahami betul makna persahabatan antar-sekte ini dan segera menyambut Sui Yue dengan sikap terbuka.
“Hahaha… Sepertinya aku terlambat! Kalian berdua curang, mengobrol seru tanpa menungguku!” Tiba-tiba terdengar suara ceria dari angkasa. Seorang wanita tua dengan jubah berwarna-warni melayang turun dengan ringan menghampiri mereka.
“Selamat datang, Saudara Lu Yang! Sudah lama sekali kita tidak berkumpul bertiga,” sapa Sui Hu ramah. Jing Dan pun menyambutnya dengan senyum lebar.
“Tetua Lu,” sapa Jing Hao dan Sui Yue bersamaan saat wanita tua itu mendarat.
Lu Yang memandang mereka berdua sambil mengangguk kagum. “Hebat sekali, dua penerus muda yang cemerlang.” Ia kemudian menoleh ke belakang dan memanggil, “Lu Lan, kemarilah!”
Dari arah kapal rombongan Sekte Pelangi berlari mendekat seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluh tahun dengan aura yang sama persis dengan Sui Yue—tingkat Raja Level Satu.
“Ah, Saudari Lu Lan!” seru Sui Yue menyambutnya dengan senyum lebar. Mereka ternyata sudah saling kenal dari beberapa kali petualangan bersama di masa lalu.
Lu Lan memberi salam kepada kedua tetua agung, lalu Jing Dan berkomentar, “Sekte Teratai Ungu dan Sekte Pelangi benar-benar memiliki mutiara yang setara. Masih sangat muda, namun pencapaiannya sungguh luar biasa.”
Benar saja, meski belum menyamai Jing Hao yang sudah di puncak tingkat Raja, pencapaian mereka jauh melampaui rata-rata. Sebagai perbandingan, Luo Jin yang juga berbakat besar baru saja mencapai tingkat Panglima Level Satu di usia yang sama.
Sementara suasana akrab berlangsung di antara tiga sekte sahabat, tiba-tiba terdengar suara benturan keras lagi: “Hiat… Bam!” Pertarungan Su Jiu dan Li Jian kembali terjadi di pinggir lapangan.
Seorang pria gemuk dengan senyum ramah namun aura panas yang menyengat melambaikan tangan sambil berteriak, “Hei, kalian berdua! Belum mau berhenti juga? Simpan persaingan itu untuk lain waktu! Sekarang giliran para junior yang tampil!” Ia adalah Tetua Agung Sekte Api, Yang Shuji.
Su Jiu dan Li Jian saling melirik lalu mundur bersamaan. “Huh, iblis tua, kita lanjutkan nanti. Sepertinya yang lain sudah tidak sabar saling beradu kekuatan,” gerutu Su Jiu.
“Benar. Murid-muridku pun sudah gatal jika tidak bisa menebas musuh,” balas Li Jian tak mau kalah.
Tak lama kemudian, rombongan dari sekte kelas dua dan tiga mulai berdatangan satu demi satu. Meskipun kekuatan mereka belum setara dengan tiga sekte besar, semangat dan tekad mereka tak kalah kuat. Mereka tahu di sini kesempatan untuk mengubah nasib sekte mereka selamanya.
Di kejauhan, bentuk kapal perang besar milik Kerajaan Jiang mulai terlihat mendekat. Memimpin rombongan kerajaan adalah Panglima Ba Ye, yang memiliki tingkat kultivasi setara dengan para tetua sekte—sebuah tanda penghormatan sekaligus pengingat bahwa kerajaan turut mengawasi jalannya misi ini.
“Dengarkan semua!” Suara Panglima Ba Ye bergema di seluruh dataran, memecah kegaduhan. “Pintu gerbang menuju Alam Mistis akan segera terbuka. Bersiaplah dengan kelompok masing-masing!” Setelah memberi peringatan singkat, ia kembali ke atas kapalnya.
Para tetua sekte pun segera kembali ke barisan masing-masing untuk memberikan nasihat terakhir. Semua mata kini tertuju pada tembok batu raksasa yang menjulang di hadapan—dinding pelindung kuno yang sangat kokoh, bahkan saat pertama kali ditemukan sekalipun tidak ada satu pun serangan yang mampu membuatnya retak. Namun menurut penyelidikan para ahli, formasi pelindungnya perlahan melemah seiring berjalannya waktu, dan hari inilah saatnya pintu itu terbuka.
Panglima Ba Ye turun lagi bersama seorang ahli formasi istana. Pria itu memeriksa permukaan batu dengan teliti, lalu berteriak, “Formasi pelindung tersisa satu persen! Mari kita buka bersama-sama!”
Serentak, puluhan tetua dan pemimpin rombongan melepaskan serangan terkuat mereka ke arah tembok batu. “Duar… Bom…!” Guncangan hebat membuat tanah berguncang, lalu terdengar suara deritan panjang hingga akhirnya—“Bam!”
Pintu raksasa itu terbuka perlahan, di baliknya terlihat kabut samar berwarna keemasan yang memancarkan aura kuno dan misterius.
“Ingat!” seru Panglima Ba Ye sekali lagi. “Kalian boleh bersaing, mencari harta, dan menguji kemampuan. Tapi dilarang keras saling membunuh! Kalian adalah harapan Kerajaan Jiang!”
Meskipun semua tahu aturan ini sulit ditegakkan sepenuhnya di dalam sana, peringatan itu tetap menjadi batas resmi. Seketika itu juga, para murid melangkah masuk ke dalam kabut. Riu Han dan rombongannya pun ikut bergerak maju.
Saat tubuhnya menyentuh tabir kabut itu, Riu Han merasakan sensasi lembut seperti disentuh angin musim semi, namun seketika itu juga sebuah tarikan kuat menyeretnya masuk. “Buk!” Tubuhnya terguling jatuh ke tanah yang empuk.
Riu Han segera bangkit berdiri dan menoleh ke kiri dan kanan. “Di mana ini…?” matanya terbelalak kaget. Sekelilingnya hanya hamparan ilalang tinggi yang menjulang setinggi orang dewasa, sejauh mata memandang tak ada batasnya. Luo Jin, Pah Long, Jing Hao, serta murid lain dari Sekte Pedang—semuanya sudah tak terlihat.
Ia baru teringat penjelasan Jing Dan sebelum berangkat: ini adalah sifat aneh dari Alam Mistis kuno. Siapa pun yang melangkah masuk akan dipisahkan oleh kekuatan ruang yang tak terlihat, dikirim ke titik berbeda secara acak. Tidak ada yang tahu di mana teman atau musuh berada.
Riu Han menarik napas panjang, menenangkan degup jantungnya, lalu mencengkeram gagang pedang di pinggang. “Tak apa-apa. Aku harus berhati-hati dan mencari jalan keluar dari hamparan ini dulu. Nanti kita cari teman-teman.”
Dengan langkah waspada, ia mulai melangkah menyusuri lautan ilalang yang berbisik lembut ditiup angin, menuju ketidakpastian yang menanti di depan.