Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Ledakan Oksidator
Garis merah menyala mulai tergambar di tengah pintu baja ruang medis. Suara desisan alat las potong asetilin dari luar terdengar seperti auman naga kelaparan yang sedang berusaha menembus masuk.
Suhu di dalam ruangan kedap udara itu melonjak drastis. Cat putih di balik pintu baja mulai melepuh, mengelupas, dan menghasilkan asap beracun yang berbau seperti plastik gosong.
Arka terbatuk hebat. Paru-parunya menolak menghirup udara yang semakin menipis. Keringat deras mengalir membasahi perban di dadanya, mencampuri sisa cairan saline dan darah yang belum sepenuhnya mengering. Di tangannya, pecahan botol kaca infus bergetar hebat. Pecahan kaca ini tidak akan berguna melawan tentara bersenjata api yang sebentar lagi mendobrak masuk.
Panas leleh baja berada di kisaran 1.300 derajat Celcius. Dengan ketebalan pintu dua sentimeter, mereka akan memotong engsel utama dalam waktu kurang dari enam puluh detik...
BZZZZT!
Sengatan saraf seketika melumpuhkan belakang leher Arka. Ia mengerang, menabrak meja pemeriksa stainless steel hingga peralatan medis berjatuhan ke lantai. Neural Feedback kembali menghukumnya. Pandangannya berputar. Ia tidak boleh menghitung.
Sambil merangkak di lantai berlapis linoleum yang kini terasa hangat, mata Arka yang pedih oleh asap menyapu ke bawah kolong meja medis. Di sana, tertahan oleh rantai pengaman, berdiri dua tabung silinder baja berwarna hijau pudar dengan regulator kuningan di atasnya. Tabung Oksigen Medis Bertekanan Tinggi.
Insting teknisinya menyala di tengah keputusasaan.
Oksigen murni bukanlah gas yang mudah terbakar, namun ia adalah oksidator ekstrem. Jika oksigen bertekanan tinggi disemprotkan langsung ke arah sumber api atau bunga api dari alat las potong, ia akan memicu pembakaran dengan suhu dan tekanan yang meledak ribuan kali lipat dalam hitungan milidetik.
Arka tidak membuang waktu sedetik pun. Sambil menahan nyeri dada yang merobek kewarasannya, ia menarik lepas rantai pengaman itu dan menggulingkan satu tabung oksigen seberat dua puluh kilogram itu melintasi ruangan.
Ia memosisikan moncong regulator kuningan tabung itu tepat menghadap ke arah engsel pintu baja yang kini sudah berubah warna menjadi jingga terang.
"Selamat tinggal," bisik Arka parau.
Ia memutar keran katup utama di atas tabung tersebut hingga terbuka penuh. Suara desisan bertekanan tinggi (Pssssshhh!) seketika memenuhi ruangan saat gas oksigen murni menyembur deras ke arah pintu yang memanas.
Tanpa menunggu sedetik pun, Arka melempar tubuhnya ke sudut terjauh ruangan, bersembunyi meringkuk di balik lemari kabinet obat dari baja tebal, menutup telinga dan menekan wajahnya ke lutut.
Di luar pintu, tentara bayaran yang sedang memegang alat las mengerutkan dahi saat mendengar desisan keras dari dalam. Sebelum ia sempat mematikan obor lasnya, aliran oksigen murni dari dalam ruangan menembus celah potongan baja yang meleleh, bertemu langsung dengan lidah api asetilin.
KABOOOOM!!!
Ledakan backdraft memekakkan telinga merobek lambung kapal. Pintu baja kedap udara itu meledak ke luar seolah ditendang oleh raksasa. Bongkahan logam panas dan gelombang kejut bertekanan masif menghantam lorong geladak, melemparkan komandan penjaga dan tukang las hingga terpental belasan meter, menghantam deretan kontainer hingga tulang mereka patah berkeping-keping.
Di dalam ruang medis, lemari kabinet yang melindungi Arka penyok parah akibat hantaman pantulan ledakan. Telinga Arka tidak sekadar berdenging; dunia seakan menjadi sunyi senyap total. Debu linoleum, pecahan kaca, dan serpihan api berserakan di sekelilingnya.
Sambil terbatuk memuntahkan asap tebal, Arka memaksa tubuhnya yang babak belur untuk berdiri. Ia menatap lubang menganga tempat pintu baja itu tadinya berada. Asap hitam pekat mengepul keluar.
Ia melangkah gontai keluar dari ruang medis, melangkahi mayat dua tentara bayaran yang hangus di lantai geladak. Bau daging terbakar dan mesiu memenuhi udara.
Alarm kapal yang tadinya hanya berbunyi ritmis, kini meraung tanpa jeda. Lampu strobo darurat berkedip gila-gilaan. Ledakan itu tidak hanya menyelamatkan nyawanya, tetapi juga telah membangunkan setiap nyawa yang ada di atas Dewi Andalas.
Arka harus segera bersembunyi ke bagian terdalam kapal ini, sebelum pasukan penuh Sitorus mengepung lorong buritan.
***
[AUTHOR NOTE] Meledak!! Inilah kekuatan otak seorang teknisi logistik! Arka nggak butuh pistol buat ngalahin musuh; dia cuma butuh tabung oksigen medis dan api las dari musuhnya sendiri buat bikin bom mematikan! Pintu bajanya hancur berantakan dan Arka berhasil kabur! Tapi sekarang ledakan itu bikin Sitorus dan seluruh kapal siaga satu. Arka terluka parah dan sendirian. Ke mana dia harus lari sekarang?!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼