NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

Amara berdiri mematung menyandarkan tubuhnya pada pintu yang sudah ia tutup rapat. Tangannya memegangi dada, berusaha mengatur napas yang masih tak beraturan. Kaget dan takut membuat kedua lutut dan kakinya lemas seperti jelly.

Meskipun ia sadar Abimanyu tidak lah salah, jangankan untuk sekedar menci-um bahkan melakukan hal lebih dari itupun tidak ada yang salah karena pria itu adalah suami sah nya secara agama dan negara. Namun sentuhan fisik secara mendadak baginya merupakan hal yang tabu, apalagi Abi tadi melakukannya disertai emosi.

Ia memang sudah berusia delapan belas tahun, namun dirinya bukanlah remaja yang memiliki waktu banyak dan pergaulan bebas sehingga ada waktu dan peluang untuk berpacaran. Semasa sang papa masih ada dirinya hanya disibukkan dengan belajar dan belajar, diluar jam sekolah waktunya habis untuk mengikuti berbagai macam les yang diwajibkan oleh sang mama.

Setelah beberapa saat berdiri dan merasa degup jantungnya sudah mulai normal, Amara berjongkok memunguti pakaian yang tanpa sadar terlepas dari genggamannya tadi. Berulangkali menghela napas berat, ia sadar bahwa tidak menutup kemungkinan kedepannya akan ada hal-hal lain lebih dari itu yang akan terjadi antara dirinya dan Abimanyu.

Sedangkan di ruangan lain, tepatnya di kamar utama. Abimanyu melangkah dengan gontai memasuki kamar mandi, tangannya terkepal erat bahkan sesekali pria itu menjambak rambutnya sendiri. Entah kenapa mendengar cerocosan Amara yang mengutarakan niat ingin pergi dari nya, darahnya terasa mendidih ia merasa gadis itu sudah berani melawannya.

Tanpa melepaskan pakaian bawahnya, Abimanyu berdiri di bawah shower membiarkan tubuhnya diguyur air dingin. Berharap aliran air dingin itu bisa meredam amarah dan gejolak lain yang menguasai dirinya.

"Sialan! Kenapa aku enggak bisa menahan diri hanya gara-gara dia bilang mau pergi, apa-apaan otakku ini." desis Abimanyu, ia merutuki dirinya sendiri dengan tangannya yang terkepal erat sembari menengadahkan wajahnya ke atas.

"Kenapa Abimanyu, kenapa?! kalau kamu begini, nanti bocah itu makin besar kepala menganggapmu takut kehilangan dia....Bukan, bukan begitu!" Abimanyu menggelengkan kepala.

"Aku cuma tidak suka dia melawanku, arghhh!"gumamnya diakhiri erang-an penuh emosi. Semakin ia berusaha mengelak pada batinnya sendiri wajah Amara semakin jelas membayanginya, dan itu membuat dirinya frustasi.

-

Sang fajar baru saja beranjak dari peraduannya saat Amara memanggang roti buat sarapan Abimanyu. Tangannya bergerak lincah sembari mengeluarkan pakaian yang sudah hampir kering dari dalam mesin cuci, bukan karena sudah terlatih tapi ia sengaja mempercepat pekerjaannya karena saat ini ia tak ingin berpapasan dulu dengan Abimanyu. Selain itu, dirinya juga akan memberanikan diri pergi ke rumah orang tuanya untuk menemui kedua adiknya Azarine dan Aziel sebelum mereka pergi dibawa pindah oleh Sonia.

Amara terpaksa harus berangkat sepagi mungkin sebelum Abimanyu bangun, sebab kalau menunggu pria itu bangun dirinya masih belum siap untuk berinteraksi. Bahkan secara terang-terangan Abimanyu telah melarangnya pergi keluar meninggalkan apartemen apapun alasannya.

"Alhamdulillah beres." Gumamnya sembari mengeluarkan roti dari panggangan, kemudian membawanya ke meja makan. Ekor matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar utama, setelah memastikan pintu kamar masih tertutup rapat tanpa membuang waktu lagi Amara menyambar keranjang pakaian dan membawanya ke dekat jendela untuk di gantung di jemuran lipat.

Tak sampai sepuluh menit, Amara kembali meletakkan keranjang di samping mesin cuci. Dengan langkah hati-hati dan cepat ia masuk ke dalam kamar. "Maaf om, aku mau pergi dulu." Gumamnya lalu menyambar tas selempang yang berada di atas tempat tidur.

Dengan mengendap-endap gadis itu membuka pintu utama, saat tubuhnya sudah melewati pintu Amara kembali menoleh ke belakang memastikan Abimanyu belum keluar dari kamar dan melihatnya pergi. "Tidurlah... Tidurlah yang nyenyak om, aku mau pergi." Ucapnya sembari menarik pintu dan menutupnya perlahan supaya tidak menimbulkan suara.

Sesampainya di luar tanpa membuang waktu lagi Amara langsung melangkah cepat menyusuri lorong menuju lift yang akan membawanya turun sampai ke basement.

Tak butuh waktu lama lift sudah berhenti di basement, Amara mengembuskan napasnya sembari melangkah keluar dari lift bersamaan dengan ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan masuk dari tukang ojek yang sudah menunggunya di luar, setengah berlari ia keluar dari basement melewati beberapa sekuriti.

"Ayo pak jalan sekarang!" Ajaknya sembari naik ke atas motor.

Sedangkan di dalam kamar, Abimanyu membuka matanya dengan berat, seolah malam belum benar-benar melepaskan dirinya dari pelukan gelap yang panjang. Kepalanya terasa berdenyut pelan, sementara sekujur tubuhnya dipenuhi pegal yang tidak biasa. Ia mengembuskan napas panjang, lalu meregangkan kedua lengan dan bahunya. Sendi-sendinya berbunyi lirih, menjadi saksi bahwa ia nyaris tidak tidur semalaman.

Ia baru berhasil memejamkan mata menjelang subuh. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk, melainkan karena pikirannya sendiri yang menolak berhenti berputar.

Bayangan wajah Amara kembali hadir tanpa diundang. Tatapan yang terkejut, membeku, bahkan seperti kehilangan kata-kata terus menghantuinya. Ketegangan yang semula hanya dipenuhi adu argumen justru berubah menjadi penyesalan terbesar ketika emosinya lepas kendali.

Abimanyu mengusap kasar wajahnya, inginnya ia kembali merebahkan tubuh dan kembali tidur namun waktu tak bisa di ajak kompromi. Jam sudah menunjukkan hampir setengah tujuh, waktu yang biasanya ia sudah duduk di meja makan menikmati sarapan.

Dengan malas Abimanyu bangkit kemudian melangkah ke kamar mandi. Tak sampai lima belas menit mantan bujang lapuk itu sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat sedikit lebih segar. Ia menoleh ke arah lemari, dimana biasanya disana sudah menggantung pakaian kerjanya, namun kali ini tempat itu kosong.

Abimanyu menarik napas, kemudian ia melangkah ke arah lemari mengambil asal-asalan kemeja yang akan dipakainya hari ini.

Wajah tenang Abimanyu menatap lurus cermin di depan, dimana pantulan dirinya yang tengah sibuk mengancingkan baju. Berbanding terbalik dengan pikirannya yang riuh merutuki Amara yang menurutnya tidak profesional, mengabaikan tugasnya gara-gara kejadian semalam.

Setelah memastikan penampilannya rapi, Abimanyu melangkah ke arah pintu hendak mencari Amara. Ia ingin menegur gadis yang sudah membuat malamnya kacau balau.

"Mara!" Panggil Abimanyu dengan suara kerasnya, ia berdiri di depan pintu kamar Amara.

Hening, tak ada sahutan membuat pria itu berdecak. "Mentang-mentang tidur bebas jam segini masih belum bangun." Gerutu Abimanyu, ia mengangkat tangan mengetuk pintu kamar. "Mara, bangun! Kalau enggak bangun dalam lima menit ku dobrak pintunya." Serunya penuh ancaman, namun lagi-lagi seruannya tak mendapat sahutan.

Tanpa ba bi bu lagi, Abimanyu memegang gagang pintu kemudian mendorongnya perlahan. Saat pintu terbuka matanya langsung tertuju pada tempat tidur, hatinya seketika mencelos saat melihat tempat tidur kosong.

Kakinya langsung melangkah lebar menghampiri tempat tidur, "kemana dia?" gumam Abimanyu, wajahnya yang tadi menegang karena emosi berubah khawatir. Setelah memastikan tempat tidur benar-benar kosong, Abimanyu melangkah ke arah kamar mandi. "Mara! Kamu di dalam kan?" Seru nya penuh harap. Namun sama sekali tak ada sahutan, sunyi tak ada suara gemericik air sama sekali.

"Shitt!" Umpat Abimanyu, dengan langkah tergesa ia keluar dari kamar Amara. Tujuannya kali ini dapur, berharap Amara diam-diam tengah menyiapkan sarapan di sana. Namun tak jauh berbeda dari kamar, dapur juga sunyi, begitupun ruang laundry, semua sunyi.

"Amaraaa!" Teriak Abimanyu, suaranya menggema memenuhi seluruh penjuru ruangan.

-

Amara turun dari ojek di depan pintu pagar rumahnya, setelah memberikan ongkos pada driver ojol tersebut ia melangkah kemudian menekan bel dua kali berturut-turut. Pandangannya mengedar menatap rumah yang sudah seminggu ditinggalkannya, halamannya sudah kembali bersih dari karangan bunga ucapan belasungkawa.

"Kakak..."

Teriakan Aziel dari arah pintu membangunkan raga Amara. Dengan cepat gadis itu melambaikan tangan. "Ziel, buka pagarnya dek!" Seru Amara, wajahnya berbinar melihat adik bontot kesayangannya.

Aziel berlari turun dari teras, bocah sepuluh tahun itu membuka pintu pagar yang terkunci dari dalam. Tak berselang lama, setelah pintu pagar berhasil dibuka. Aziel langsung memeluk Amara.

"Kakak, kemana aja? aku kangen kakak tahu!"

"Kakak juga kangen." Ucap Amara lirih, ia mengusap puncak kepala Aziel penuh kerinduan.

"Ayo masuk, baju kakak cepet beresin! nanti siang kita kan mau pindah." Aziel melepaskan pelukannya, kemudian menarik Amara untuk masuk ke dalam rumah.

Amara melangkah melewati pagar mengikuti Aziel. "Ziel memangnya mau pindah kemana?" Tanya Amara hati-hati.

"Kita kan mau pindah ke dekat uti, mama sudah beli rumah di sana. Pokoknya kakak jangan pergi lagi ya, takutnya nanti ketinggalan." Ucap Ziel polos, matanya menatap Amara penuh harap.

"Apa? Dekat rumah uti?"

"iya.." Ziel menganggukkan kepala, anak sepuluh tahun itu melangkah melewati pintu utama tanpa melepaskan tangan Amara. "Kak! Kak Azaa... Mama... Kak Mara sudah pulang!" Teriaknya memanggil sang mama dan juga kakak perempuannya yang satu lagi.

Sedangkan Amara berdiri mematung di pintu saat melihat beberapa koper dan kardus-kardus besar yang sudah hampir memenuhi ruang tamu, hatinya seketika mencelos.

Dari arah tangga Sonia melangkah tanpa ekspresi menghampirinya. "Ziel, cepetan periksa lagi semua barang-barangnya Ziel, takut ada yang ketinggalan." Ucapnya tegas.

"Sudah semua ma.." Jawab Ziel setengah merengek.

"Cek lagi coba sekarang! Kak Mara biar ngobrol sama mama."

Aziel menatap Amara seolah meminta persetujuan dari kakaknya itu. Amara yang paham dengan sang adik yang takut dirinya pergi, langsung menganggukkan kepala.

"Kakak jangan pergi dulu ya!"

"Iya..." Jawab Amara, membuat Aziel segera melangkah.

Amara menarik napas dalam-dalam, ia menoleh pada Sonia dan menatapnya lekat. "Kenapa mama harus pindah? apa lima belas tahun kebersamaan kita sudah enggak ada artinya?" Ucapnya lirih tanpa mengalihkan pandangan. "Kupikir selama ini mama merawatku penuh kasih sayang karena mama benar-benar menyayangiku, ternyata aku salah." Amara tersenyum kecut, kemudian ia memalingkan wajah sesaat.

"Kesalahan papa memang fatal, tapi itu bukan keinginan dan permintaanku. Katakan ma! Apa salahku?" Amara merangkum bahu Sonia dan mengguncangnya.

Sonia menghela napas berat, tangannya bergerak menurunkan tangan Amara yang masih memegangi lengannya. "Tak perlu dibahas lagi, kamu tidak akan mengerti." Ucapnya datar. "Kamu disini jaga diri baik-baik, nurut sama suamimu karena Abimanyu orang baik."

Amara tak menyahut, gadis itu membalikkan badannya kemudian berlari ke arah tangga. Tujuannya kali ini adalah Azarine adik perempuannya. Sesampainya di atas, Amara langsung masuk ke dalam kamar Azarine. "Za!" Panggilnya berdiri di pintu.

"Kaaakk!" Azarine yang tengah duduk di lantai seketika bangkit, menghambur ke arah Amara.

"Kak, aku mau ikut kakak saja! Aku enggak mau pindah ke Jogja. Aku enggak mau pindah ke sekolah baru." Azarine menangis tersedu dibahu Amara, sedangkan Amara hanya diam. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa pada sang adik.

"Non Mara, ada yang mencari non di depan." Suara simbok dari arah pintu mengalihkan perhatian Amara.

"Siapa mbok?"

"Suamimu, cepetan turun temui dia! Jangan sampai berulah dan membuat pemilik baru rumah ini tak nyaman." Ucap Sonia berdiri dibelakang simbok.

Mendengar Abimanyu mencarinya, tubuh Amara menegang. Namun tak lama kemudian ia segera sadar, "Za, kakak turun dulu ya! Ada om Abi di depan." Amara menarik tubuhnya dari pelukan Azarine, ia membuka tas Selempang mengambil sebagian uang pemberian bu Halimah kemudian memberikannya pada Azarine.

"Ini buat kamu, bagi dua sama Ziel. Kakak turun dulu ya, nanti kesini lagi." Tanpa menunggu jawaban Azarine, Amara langsung bergegas keluar dari kamar meninggalkan adiknya.

Sesampainya di ujung tangga, Amara berhenti "Dimana orangnya mbok?"

"Di depan non."

Amara pun langsung melangkah cepat, sesampainya di teras ia mengedarkan pandangan, namun sosok Abimanyu tak terlihat.

"Ah, syukur lah dia sudah pergi lagi." Gumam Amara, ia membalikkan tubuhnya hendak kembali ke dalam rumah. Namun belum sampai pintu suara jeritan klakson terdengar memekakkan telinga.

"Astaghfirullah..." Amara mengusap dada. Tanpa berpikir panjang ia segera turun dari teras, kepalanya sibuk menyusun kata-kata untuk melawan Abimanyu.

Sesampainya di pintu pagar, Amara menatap tajam ke arah mobil yang melintang menghalangi jalan keluar. "Ngapain ke sini? Aku juga enggak bakalan kabur kok!" Ucapnya ketus.

"Masuk ke mobil!" Titah Abimanyu tegas, suaranya dingin membuat bulu kuduk Amara seketika berdiri. Bahkan kata-kata yang sudah ia susun beberapa saat lalu lenyap entah kemana. Namun di tengah ketakutan itu, ada gengsi yang masih bertahta membuat keberaniannya kembali naik.

"Enggak! Aku masih mau disini." Jawabnya semakin ketus.

"Masuk sekarang!" Suara Abimanyu naik satu oktaf diikuti suara mesin mobil yang tiba-tiba meraung.

"Arghhh... Dasar tua bangka!"

1
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
aku sukaaa aku sukaaaaa
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
cie cie 🤣
senyum ga tuh😂
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
weh weh weh...
orang tua itu suami mu Amara🤣
dasar bocah cilik😭
Mimi Yoh
ayo...itu apa...😄😄😄
Mimi Yoh
kalau khawatir bilang aja...nggak usah banyak alasan ya 😁😁😁
Mimi Yoh
keluar diam-diam 😯😯 ..mara memangnya kalau mau keluar kamar sambil nyanyi atau teriak gitu..
Mimi Yoh
😯😯😆😆😆😆😆
Mimi Yoh
sama-sama ngegedein gengsi
Mimi Yoh
saking khusunya masak ya mara 😁😁
Mimi Yoh
hahahahah jadi mara bener-bener nggak nyadar kalau pak suami sudah pulang dan sudah jauh pindah ke alam mimpi 🤗🤗
Mimi Yoh
berasa ada yg hilang ya om 😁😁
Mimi Yoh
tahu masih punya suami...malah dibantu selingkuh...
Mimi Yoh
dasar matre
Mimi Yoh
oooh dijanjiin sesuatu kamu ya...
Mimi Yoh
sudah tahu kesalahan ada pada jenny, masih aja dibantu untuk deketin abi, tahu abi juga sudah menikah, terpaksa ataupun tidak, tetap abi sudah punya istri...kayak bukan sesama perempuan saja, dimana hatimu tya...
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
sama-sama gengsi... padahal saling mengkhawatirkan.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaa ampun demi hadiah liburan ternyata....
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tya dimana hatimu sebagai sesama perempuan. Abi kan sekarang sudah punya istri, tapi kamu kok bisa²nya malah berusaha mendekatkan Abi dengan Jenny. Kalau posisimu sebagai seorang istri apa nggak sakit hati yaaa....
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : keknya Tya itu mkkb masa kecil kurang bahagia 😅
total 4 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh keren... begitu donk Bi, jangan mau dimanfaatkan lagi apalagi sama mantan. Semoga sikap tegasnya bisa terus dipertahankan yaa, ingat... ingat... kamu sekarang sudah bukan single lagi.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Iyaa iyaa ngerti om... tapi yaa jangan kasar² gitu donk. Seharusnya kamu lebih berpengalaman bagaimana meredakan amarah. Ini om mantan bujang lapuk beneran nggak tahu yaa caranya meluluhkan hati perempuan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!