NovelToon NovelToon
Membangun Rumah Duka

Membangun Rumah Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Nyta Yulaeha

Vayala seorang gadis berusia 29 tahun yang gagal menikah dengan mantan kekasihnya yang toxic dan memutuskan menikah dengan pria yang baru dikenalnya selama satu bulan.

impiannya membangun rumah tangga yang bahagia nyatanya hanya membangun rumah duka,pria yang terlihat baik,royal dan perhatian itu berubah menjadi kasar,perhitungan dan silent treatment sehingga membuatnya merasa kesepian dan sedih .

bagaimana Vayala menghadapi kehidupan rumah tangga yang membuatnya menderita itu...
apakah ia bisa bahagia dengan laki laki pilihan yang baru dikenalnya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyta Yulaeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Gaji besar

 Aku memutuskan untuk mendatangi rumah ibuku dan berbicara kepada kepadanya menceritakan tentang kondisi keuangan kami yang tidak mampu untuk membayar sewa kontrakan rumah yang sudah mau jatuh tempo penagihan.

"yasudah kalau kalian enggak sanggup lagi membayar sewa kontrakan kalian pindah saja kesini"ucap ibuku mendengarku bercerita.

"iya kak tempatin aja kamar ku sebelah rumah ibu aku juga mau pindah dari sini sebentar lagi!".seru Amel adikku yang tanpa sengaja mendengar percakapanku.

"lah..memangnya kamu mau pindah kemana mel?"tanyaku bingung.

"Mas Sendy mengajakku pindah ke kontrakan dekat rumah ibu kak,kebetulan lagi kosong dan juga aku mau cari tempat yang besaran dikit dan bisa lebih privasi".sahut Amel.

"ini bukan karena aku mau pindah kesini kan Mel kamu jadi pergi?"tanyaku lagi merasa tidak enak.

"enggak kok kak..santai aja!"sahutnya sambil tersenyum .

  Aku pun segera pulang dan menunggu mas Bram yang sedang mencari orderan untuk beli token yang sudah berbunyi dari kemarin dan juga makan kami.

Beberapa jam terlihat dari kejauhan terlihat Mas Bram baru saja sampai,sebelum masuk kerumah ia mengeluarkan selembar kertas putih kecil dan naik ke atas kursi menekan tombol tombol pada meteran dipojok atas.

"Mas...sudah pulang ?"tanyaku menghampirinya.

"aku sudah bicara dengan ibu soal kontrakan kita yang harus dibayar,dan ibu menyuruh kita untuk kembali kerumahnya ."ucapku menatap wajahnya yang tambah lelah.

"baguslah..secepatnya kita pindah dari sini ,sekarang kita kerumah Bu Santi untuk berpamitan dan meminta waktu sampai besok untuk pindahan!"seru Mas Bram dengan serius.

Aku hanya mengangguk dan mengikutinya untuk mendatangi rumah Bu Yanti pemilik kontrakan yang juga sahabat ibuku yang rumahnya hanya beberapa langkah dari kontrakanku.

  Wanita tua itu terlihat sedang duduk mengawasi cucunya yang sedang bermain di teras depan rumahnya,kami menghampiri dan memberi salam kepadanya.

"Neng Vayala...Bram,ayo masuk masuk.ada apa nih kalian kerumah ibu?"tanyanya dengan ramah.

"begini Bu,Maksud kedatangan kami mau izin pamit untuk tidak melanjutkan mengontrak dirumah ibu Santi...ibunya Vayala menyuruh kami tinggal disana karena ada kamar yang kosong,sayang enggak ditempatin jadi kami yang pindah kesana."ucap Mas Bram dengan hati hati.

"cepet banget pindahnya neng...padahal ibu seneng kalian ngontrak disini,tapi kalau emang kalian mau tinggal dirumah ibumu ya ibu enggak apa apa...,oh ya kapan kalian kau pindah memangnya?"tanya Bu Santi lagi.

"Iya Bu maaf dadakan,rencana besok kita sudah angkut angkut barang Bu..!"sahut Mas Bram.

"baiklah kalau itu untuk kebaikan kalian!".

    Setelah menyampaikan maksud kami, akhirnya kami pulang mengemas pakaian dan barang sedikit demi sedikit agar tidak terlalu berat.

"Semoga saja nanti kami bisa punya rumah supaya aku tidak pindah pindah rumah lagi!"gumamku dalam hati.

Kami pun akhirnya pindah kekamar sebelah rumah ibuku yang pernah ditempati adikku dan suaminya walau hanya sekamar dengan bentuk memanjang dan juga kamar mandi didalamnya tapi untuk kami yang masih berdua itu sudah sangat cukup dan aku sangat bersyukur masih ada tempat tinggal.

   Beberapa bulan kami tinggal Mas Bram mendapat pekerjaan Baru sebagai sales marketing di sebuah perusahaan asuransi nomor di Indonesia yang gajinya sangat menggiurkan.

Didalam tempat mesin ATM mataku tidak berkedip melihat nominal uang yang ada di layar mesin ATM itu.

"hampir dua puluh juta mas???"tanyaku terkejut.

"Iya aku juga enggak percaya gajiku segini"sahut mas Bram menekan angka pada layar kaca dan mengambil setumpuk uang pecahan seratus ribuan yang keluar dari mesin ATM dan bergegas pergi bersamaku.

"kita bisa beli kulkas mas..aku kepingin bangeet beli kulkas!"seruku dengan semangat.

"itu nanti saja...sekarang kamu mau beli apa biar aku beliin...kamu mau emas?"tanyanya sambil mengendarai motor.

"gak usahlah mas..aku ga terlalu suka sama emas"sahutku melingkarkan tangan dipinggangnya.

"serius sayang?".

"iya..lebih baik uangnya ditabung dan beli lemari untuk meja tv kita".

Ia mengangguk dan mencari toko furniture yang kaki temui dipinggir jalan.

Sebuah meja televisi berukuran minimal yang terbuat dari serbuk kayu dan juga dua lemari pakaian kami beli disana.

Selama ini kami tidak mempunyai lemari untuk pakaian pakaian kami dan hanya menyimpannya di dalam lemari plastik yang mudah robek begitupun televisi yang hanya kami letakkan di bawah lantai .

Setelah itu kami pun bergegas pulang menunggu supir datang membawa barang yang kami beli dirumah.

"Mas abis ini beli kulkas ya....aku pengen sekali beli kulkas biar bisa menyimpan makanan dan gak harus beli es terus diluar!"pintaku merengek padanya.

"Kan aku bilang nanti saja belinya,lagian ruangan ini enggak cukup untuk banyak barang!"sahutnya .

Aku hanya terdiam mendengar jawaban Mas Bram yang sibuk menghitung uang yang tadi kami ambil di mesin ATM dan memasukkannya ke dalam koper kami berwarna hitam yang berisi surat surat penting.

"Jangan sampai orang lain tau aku dapat gaji uang segini apalagi sebentar lagi mau lebaran ...ini kasih ke ibumu!"ucapnya memberikan setumpuk uang ratusan ribu kepadaku.

"iya Mas!".

Aku segera menemui ibuku yang terlihat asik rebahan di ruang tengah.

"Bu..ini buat ibu,hari ini Mas Bram gajian!"ucapku memberikan sepuluh lembar uang ratusan ribu padanya.

"Emangnya kamu ada Vay?".

"Ada Bu ..alhamdulilah mas Bram dapet bonus ".

"Alhamdulilah mudah mudahan suamimu kerjanya selalu dilancarin ya..."ucqpnya merasa senang.

"aamiin..oh ya aku juga tadi beli lemari buat baju baju kami ,sama meja tv bentar lagi juga sampe barangnya "ucapku lagi .

"iya Vay..beli yang kalian butuhkan..tapi klo ibu saranin jangan boros boros dan ditabung kalau perlu barangkali nanti bisa beli rumah".

"Aamiin Bu..."sahutku lagi berharap Mas Bram akan awet bekerja di tempat barunya dan bisa memperbaiki ekonomi kami yang sedang terpuruk.

Memasuki Beberapa hari menyambut idul Fitri aku disibukkan dengan membeli keperluan untuk lebaran,membeli beberapa pakaian untuk keponakanku dan mas Bram dan untuk kami sendiri.

"kamu lagi ngapain...?"tanya mas Bram melirik ke arah ku yang sedang asik mencari barang di aplikasi belanja online.

"ini mas aku mau cari baju lebaran satu lagi aku kan baru satu bajunya!".sahutku .

"Gak usah banyak banyak kamu bajunya,satu saja juga sudah cukup ..buang buang duit aja!!"serunya dengan nada keras.

"Lah Mas..wajarlah mas kalau aku punya dua ..aku kan enggak pernah beli baju kan masa giliran di hari idul Fitri aja aku cuma punya satu"sahutku merasa sedikit kesal.

"Ada uang itu di hemat biar enggak cepet abis...jarang jarang kan aku dapet gaji besar...,jangan boros boros beli saja satu juga cukup!"ucapnya.

Seketika aku terdiam,padahal selama ini aku bersabar untuk membeli apa yang aku mau tapi kenapa giliran ada uang dia masih menyuruhku untuk berhemat,apa aku minta berlebihan padanya...padahal baju yang ku beli selalu di bawah dua ratus ribu harganya...

Ah...sudahlah....

...****************...

1
partini
nyesek sekali sinopsisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!