Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Taring dalam Bayangan (Bagian 1)
Notifikasi biru itu menghilang perlahan dari pandangan Leon.
Namun kata-katanya masih terngiang di benaknya.
"Para Penjaga mulai mengenalimu..."
Penjaga?
Alpha Dire Wolf.
Shadow Lynx.
Apa mereka semua disebut Penjaga?
Belum sempat Leon berpikir lebih jauh, suara Rowan membuyarkan lamunannya.
"Fokus!"
Shadow Lynx kembali merendahkan tubuhnya.
Otot-otot di keempat kakinya menegang.
Leon langsung mengenali posisi itu.
"Itu posisi sebelum menerkam!"
teriaknya.
Tanpa menunggu aba-aba, semua pemburu langsung menyebar.
Sraaat!
Shadow Lynx menghilang dari tempatnya berdiri.
Kecepatannya jauh melampaui Dire Wolf.
Leon hanya melihat bayangan hitam melintas.
Sesaat kemudian...
Clang!
Kapak Daren bertabrakan dengan cakar Shadow Lynx.
Benturan itu membuat Daren terdorong hampir tiga meter ke belakang.
"Luar biasa kuat!"
Daren menggertakkan giginya sambil menahan kedua tangannya yang bergetar.
Monster itu tidak memberi kesempatan.
Begitu mendarat, ia kembali menghilang.
"Kanan!"
teriak Leon.
Rowan langsung memutar tubuh.
Sring!
Pedangnya menangkis serangan yang nyaris mengenai lehernya.
Percikan api beterbangan.
Namun Shadow Lynx memanfaatkan pantulan itu untuk melompat ke cabang pohon.
Ia kembali bersembunyi di antara dedaunan.
Leon mengangkat kepala.
"Dia menyerang lalu menghilang..."
"Benar."
jawab Rowan.
"Itulah gaya berburu Shadow Lynx."
"Ia tidak suka pertarungan panjang."
"Ia akan terus mengikis lawannya sampai lengah."
Leon mulai memahami.
Monster ini jauh lebih berbahaya daripada lawan yang mengandalkan kekuatan.
Kesalahan sekecil apa pun...
Bisa langsung berakhir dengan kematian.
Tiba-tiba, suara daun bergesekan terdengar dari atas.
Leon refleks mendongak.
Mata hijaunya bertemu dengan mata Shadow Lynx.
"Atas!"
Semua orang langsung berguling menjauh.
BOOM!
Shadow Lynx menghantam tanah dengan kekuatan luar biasa.
Debu dan serpihan batu beterbangan.
Tanah bahkan membentuk kawah kecil.
Leon membelalakkan mata.
"Kalau serangan itu mengenainya..."
Ia tidak berani membayangkan akibatnya.
Rowan memanfaatkan momen ketika monster itu baru mendarat.
"Giliran kita!"
Tubuhnya melesat maju.
Pedangnya berkilat diterpa cahaya matahari.
Sraaak!
Tebasan itu berhasil menggores bahu Shadow Lynx.
Setetes darah hitam jatuh ke tanah.
Monster itu menggeram pelan.
Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai...
Ia terluka.
Namun alih-alih marah, Shadow Lynx justru tersenyum memperlihatkan taringnya.
Lyra yang memperhatikan dari samping langsung memucat.
"Jangan..."
"Apa?"
Leon belum sempat bertanya.
Shadow Lynx tiba-tiba melompat mundur sejauh belasan meter.
Kemudian...
Ia mengeluarkan raungan pendek.
Bukan lolongan.
Bukan geraman.
Melainkan suara yang sangat mirip panggilan.
Rowan langsung menyadari sesuatu.
"Waspada!"
"Dia memanggil yang lain!"
Leon merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Tolong jangan bilang..."
Belum selesai kalimatnya.
Dari balik pepohonan muncul satu bayangan hitam.
Lalu dua.
Kemudian tiga.
Bukan Shadow Lynx dewasa.
Melainkan tiga Shadow Lynx muda yang ukurannya sekitar setengah dari induknya.
Meski lebih kecil, mata mereka tetap dipenuhi naluri pemburu.
Daren menghela napas panjang.
"Hebat..."
"Sekarang kita melawan satu keluarga."
Namun Rowan justru menggeleng.
"Tidak."
"Itu bukan keluarga."
Leon menoleh.
"Lalu?"
"Itu murid."
Semua orang terdiam.
"Murid?"
Rowan mengangguk.
"Shadow Lynx terkenal melatih generasi mudanya sejak kecil."
"Mereka belajar berburu dengan melihat."
"Bukan dengan bermain."
Leon menatap tiga Shadow Lynx muda yang berdiri di belakang induknya.
Mereka tidak menyerang.
Hanya mengamati.
Persis seperti murid yang sedang melihat gurunya bertarung.
Pemandangan itu membuat Leon kembali sadar.
Dunia ini bukan sekadar dipenuhi monster.
Dunia ini dipenuhi makhluk hidup yang memiliki cara belajar, naluri, dan struktur sosial mereka sendiri.
Tiba-tiba, sistem kembali berbunyi.
Ding!
【Quest Baru】
Pelajaran Seorang Pemburu
Objektif: Bertahan hidup melawan Shadow Lynx selama 10 menit tanpa bantuan langsung Rowan.
Hadiah:
EXP +300
Kelincahan +3
Skill Dasar: Insting Tempur Lv.1
Catatan: Seorang guru hanya bisa membuka jalan. Muridlah yang harus melangkah sendiri.
Leon menatap notifikasi itu dengan wajah kaku.
"Tanpa bantuan Rowan?"
Ia menoleh ke arah gurunya.
Rowan membaca ekspresi Leon lalu tersenyum tipis.
"Aku akan mengawasi."
"Tapi mulai sekarang..."
"...monster itu adalah lawanmu."
Sambil mengucapkan kata-kata itu, Rowan perlahan melangkah mundur.
Kini...
Leon berdiri sendirian di depan Shadow Lynx.
Pedang besi di tangannya terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Di hadapannya, Shadow Lynx menjilat darah di cakarnya, lalu mengambil posisi berburu.
Sepuluh menit.
Bagi orang biasa, waktu itu terasa singkat.
Namun bagi seorang pemburu yang sedang mempertaruhkan nyawa...
Sepuluh menit bisa terasa seperti sepuluh jam.