"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Pijatan Hangat dan Racun dari Masa Lalu
Keheningan yang mencekam kembali merayap di lantai dua kediaman Adiwangsa. Setelah Adrian pergi ke kantor, rumah mewah itu terasa seperti sebuah sangkar emas yang dingin. Aruna berbaring telentang di atas ranjang king-size di kamar utama. Kamar yang selama beberapa hari ini sempat direbut oleh Valerie, kini kembali ke tangannya. Namun, tidak ada rasa bangga atau rindu di hati Aruna terhadap kamar ini. Tempat ini telah menyaksikan terlalu banyak air mata dan kepalsuan selama lima tahun terakhir.
Aruna menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong namun tajam. Di tangan kanannya, ia menggenggam ponsel pintar hitam pemberian Pak Bambang. Benda kecil itu berkilau memantulkan cahaya lampu kamar, memancarkan aura ancaman laten yang sangat nyata bagi siapa saja yang berniat mengusiknya.
Aruna mengubah posisinya menjadi tengkurap, merapikan bantal, lalu menarik napas panjang. Badannya memang terasa pegal dan remuk, sisa dari ketegangan fisik dan mental yang ia lalui minggu ini. Namun, alih-alih memanggil pelayan rumah, sebuah ide manipulatif yang sangat rapi melintas di otaknya. Ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan cicilan pembalasan kepada wanita yang paling bertanggung jawab atas hancurnya harga dirinya di rumah ini.
Aruna menekan tombol interkom di dekat ranjang yang terhubung langsung ke paviliun bawah. "Bu... bisa ke kamar utama sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Aruna dengan nada suara yang sengaja dibuat selemas mungkin, penuh kepasrahan yang menipu.
Tidak butuh waktu lama, pintu kamar utama terbuka dengan sentakan kasar. Nyonya Widya Adiwangsa melangkah masuk dengan wajah yang ditekuk masam, tangannya dilipat di depan dada, memancarkan aura keangkuhan yang biasanya ia gunakan untuk mengintimidasi Aruna.
"Ada apa lagi, Aruna? Kamu sengaja memanggil Ibu siang-siang begini? Ibu sedang sibuk di bawah!" cetus Widya dengan nada suara yang melengking ketus.
Aruna perlahan membalikkan kepalanya, menatap mertuanya dari atas kasur dengan tatapan sayu yang melankolis. "Bu... aku bisa minta tolong? Badanku rasanya pegal-pegal sekali setelah semua kejadian kemarin. Tolong... pijatin aku sebentar di bagian punggung," ujar Aruna tanpa beban.
Mendengar permintaan itu, mata Widya seketika melebar. Napasnya memburu menahan amarah yang luar biasa. Baginya, ini adalah penghinaan tertinggi. Seorang nyonya besar keluarga Adiwangsa disuruh memijat menantu yang selalu ia cap sebagai "si dekil" dan "si mandul"?
"Aruna! Kamu sudah keterlaluan ya!" bentak Widya, melangkah mendekat ke tepi ranjang dengan telunjuk yang bergetar menunjuk wajah Aruna. "Kenapa tidak suruh pembantu saja sih di bawah? Mereka dibayar untuk mengurus hal-hal seperti ini! Jangan lancang menyuruh Ibu!"
Aruna tidak gentar sedikit pun menghadapi kemarahan Widya. Dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, ia mengangkat tangan kanannya yang memegang ponsel hitam canggih dari Komnas HAM. Ia meletakkan ponsel itu di atas nakas tepat di bawah sorot lampu, memastikan layar ponsel itu menyala dan menampilkan indikator sistem perlindungan aktif.
Aruna menatap Widya dengan senyuman tipis yang teramat dingin. "Para pembantu sedang sibuk di bawah, Bu... Mereka sedang membersihkan dapur dan menyetrika. Jadi... Ibu benar-benar tidak mau menolongku?" tanya Aruna, nadanya datar namun setiap katanya sarat akan ancaman terselubung. Tekan satu tombol, dan polisi akan menjemputmu atas dugaan penekanan psikologis terhadap korban.
Widya menatap ponsel hitam itu, lalu menatap Aruna. Nyali wanita tua yang tadinya berkobar seketika ciut total. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Perkataan Adrian tadi pagi tentang "penjara dan kehancuran bisnis" langsung berdengung keras di otaknya.
Dengan wajah yang memerah padam menahan malu dan dendam, Widya terpaksa menurunkan tangannya. Ia melangkah naik ke tepi ranjang dengan gerakan yang sangat kaku.
"Ba... baik, Ibu akan pijat kamu," jawab Widya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Anak dekil ini benar-benar semakin melunjak saja sejak memegang ponsel terkutuk itu! Adrian... kamu memang sial sekali punya istri kaya dia! Kenapa tidak dari dulu saja kamu tendang dia dari rumah ini sebelum semuanya menjadi serumit ini! jerit Widya di dalam hatinya, mengutuk takdir dengan penuh kebencian.
Widya mulai menekan punggung Aruna dengan tangannya. Pada beberapa detik pertama, ia sengaja menekannya dengan sangat keras dan kasar, meluapkan rasa jengkelnya melalui tenaga fisiknya.
"Pelan-pelan, Bu... yang lembut ya," bisik Aruna, suaranya lirih namun terdengar bagai perintah mutlak di telinga Widya.
Aruna memejamkan matanya, merasakan setiap jengkal jari-jari mertuanya yang kini terpaksa melayaninya. Rasakan penderitaanku selama lima tahun ini, pelan-pelan, Bu... Nikmati setiap detik hukumanku ini. Kamu yang membuatku seperti anjing penurut di rumah ini, dan sekarang, kamu harus bertekuk lutut di bawah ketakutanmu sendiri, batin Aruna dengan kepuasan kelam yang membakar dadanya.
"I... iyah, Aruna. Ini Ibu sudah pelan-pelan," sahut Widya, langsung melembutkan pijatannya karena takut Aruna mengeluh sakit dan memicu sistem darurat di ponselnya.
Suasana kamar menjadi sunyi selama beberapa menit, hanya terdengar helaan napas berat dari Widya yang kelelahan memijat. Aruna membiarkan keheningan itu meraba ego Widya, sebelum akhirnya ia membuka obrolan dengan nada bicara yang santai, seolah-olah sedang bergosip biasa.
"Bu... nanti setelah aku resmi bercerai dengan Mas Adrian, Ibu pasti bisa hidup lebih tenang. Valerie yang akan pindah ke sini dan mengurus semua kebutuhan Ibu," ujar Aruna, memancing percakapan dengan umpan yang sangat manipulatif.
Widya mendengus pelan, namun tetap memijat. "Tentu saja. Valerie itu wanita berkelas, tidak seperti kamu yang hanya bisa memegang sapu."
"Iya, Bu... Valerie memang pintar. Dia akan mengurus semuanya dengan sangat baik... termasuk seluruh operasional perusahaan Adiwangsa Logistik. Apalagi... mungkin saja Mas Adrian juga akan menyerahkan seluruh kepemilikan perusahaan itu kepadanya secara mutlak," lanjut Aruna dengan nada menyindir yang halus.
Gerakan tangan Widya mendadak terhenti di atas punggung Aruna. Keningnya berkerut dalam, rasa curiga seketika memenuhi benaknya. "Maksud kamu apa, Aruna?! Adrian mau memberikan perusahaan ini pada Valerie? Jangan bicara sembarangan kamu!"
Aruna membalikkan tubuhnya perlahan menjadi telentang, menatap wajah mertuanya yang kini tampak tegang dan bingung. "Mungkin saja, Bu... Kemarin aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Valerie meminta jaminan masa depan jika mereka menikah resmi nanti. Dan Mas Adrian... bukankah dia tipe pria yang akan memberikan apa saja demi wanita yang dicintainya?"
"Tidak! Adrian tidak sebodoh itu! Dan Valerie... Valerie tidak akan mungkin serakah seperti—!" Kalimat Widya mendadak terhenti di tenggorokan. Ia sadar hampir saja kelepasan bicara mengenai menantu impiannya itu.
"Seperti siapa, Bu?" susul Aruna dengan cepat, matanya menyipit menuntut jawaban, menekan mental Widya yang mulai goyah.
Widya memalingkan wajahnya, berdehem keras untuk menutupi kegugupannya, lalu meluapkan kekesalannya pada objek lain yang sudah lama ia benci dari silsilah keluarga Aruna. "Euh... maksud Ibu, Valerie tidak akan serakah seperti si Aldo itu! Pamanmu! Orang yang mengambil alih Purnama Group begitu saja dari masa lalu! Apa coba jasa si Aldo itu dibanding Adrian di dunia bisnis? Seharusnya dulu itu... almarhum ayahmu, Pak Arif, memberikan juga Purnama Group itu kepada Adrian sebagai menantunya, bukan malah membiarkannya dikuasai oleh Aldo!"
Aruna menatap mertuanya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kasihan sekaligus cemooh atas ketidaktahuan wanita tua itu. "Purnama Group itu adalah perusahaan warisan peninggalan almarhum kakekku, Bu. Paman Aldo memiliki hak penuh di sana karena beliau adalah anak dari adik sepupu Ayah yang sejak awal ikut membangun modal. Ayah tidak punya hak untuk membagikannya kepada orang luar seperti Mas Adrian."
"Ya tapi kan tetap saja!" bantah Widya dengan nada suara yang meninggi, tidak mau kalah. "Adiwangsa Logistik ini dulunya hanya bekas cabang kecil dari Purnama Group! Kalau dulu Adrian tidak berjuang keras melepaskan Adiwangsa dari bayang-bayang Purnama Group dan menjadikannya mandiri, mungkin sekarang Adiwangsa juga sudah diakuisisi secara paksa oleh si Aldo serakah itu! Untung Adrian pintar!"
Aruna menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. "Itu... hanya pemikiran sempit Ibu saja."
"Wajar kalau kamu membela si Aldo! Dia kan pamanmu, darah dagingmu!" Widya mencemooh, melipat tangannya kembali dengan angkuh setelah turun dari ranjang. "Tapi lihat mana sekarang pamanmu yang hebat itu? Saat Adiwangsa Logistik sedang anjlok dan kehilangan proyek besar belakangan ini, apa dia mau datang mengulurkan tangan untuk membantu suamimu? Tidak, kan?! Dia pasti sedang menertawakan kita di luar sana!"
Widya tidak pernah tahu. Wanita tua yang egois itu benar-benar buta akan kenyataan yang sebenarnya terjadi di balik layar besi dunia bisnis mereka.
Widya sama sekali tidak tahu bahwa selama lima tahun ini, setiap kali Adiwangsa Logistik mengalami krisis keuangan, setiap kali Adrian hampir gagal membayar utang bank atau kekurangan modal untuk tender proyek besar, Arunalah yang bergerak secara senyap di belakang layar.
Aruna yang mengemis kepada Paman Aldo, Aruna yang menjaminkan nama baiknya sebagai pewaris sah garis keturunan kakeknya agar Purnama Group mau mengalirkan dana talangan dan memberikan kontrak sub-proyek kepada Adiwangsa dengan cara-cara yang halus—seolah-olah itu adalah murni keberhasilan negosiasi Adrian di luar sana. Aruna melakukan semua itu dulu hanya karena satu alasan: dia sangat mencintai Adrian dan tidak ingin melihat suaminya hancur atau stres akibat tekanan bisnis.
Namun sekarang, semua pengorbanan suci itu telah selesai. Kran bantuan dari Purnama Group telah Aruna tutup total sejak ia melayangkan gugatan cerai, dan itulah alasan sebenarnya mengapa proyek dengan Purnama Group dan lingkaran bisnisnya mendadak berantakan belakangan ini.
"Kenapa kamu diam?" tanya Widya dengan nada sinis, membuyarkan lamunan Aruna. "Jangan-jangan kamu mendadak menyesal dan sadar kalau kamu masih mencintai anakku, Adrian? Dengar ya, Aruna... Ibu ini sudah tua. Ibu ingin sekali menimang cucu dari darah daging Adiwangsa yang asli! Valerie itu jauh lebih baik daripada kamu dalam segala hal! Dia wanita terhormat yang bisa membantu Adrian mengurus perusahaan di luar, sedangkan kamu... apa gunanya kamu di rumah ini selain menyusahkan hidup anakku?!"
Hasutan dan hinaan yang keluar dari mulut Widya mengalir begitu saja bagai air yang kotor. Aruna mendengarkan semuanya tanpa ada rasa sakit hati lagi di dadanya. Rasa sakit itu sudah lama mati dan menjelma menjadi beton pertahanan yang kokoh.
Aruna perlahan bangkit, duduk di tepi ranjang, lalu menatap Widya dengan pandangan yang teramat tenang—sebuah ketenangan yang justru membuat Widya perlahan merasa tidak nyaman.
"Nggak kok, Bu... Aku tidak diam karena menyesal," jawab Aruna dengan nada suara yang sangat datar namun menusuk. "Baik... nanti kalau Mas Adrian pulang, aku sendiri yang akan coba mengobrol baik-baik dengannya untuk memastikan semua urusan ini selesai secepatnya, sesuai dengan keinginan Ibu."
Widya mendengus puas, merasa dirinya baru saja memenangkan perdebatan mental ini. "Bagus kalau kamu sadar diri! Ingat janji kamu ya!" ucap Widya dengan ketus, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kamar utama sambil membanting pintu.
Begitu pintu tertutup rapat, Aruna menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Ia meraih ponsel hitamnya kembali, lalu mengetik sebuah pesan singkat kepada Paman Aldo:
"Paman, dugaanku benar. Ibu mertuaku sama sekali tidak tahu tentang rencana Adrian yang ingin mengalihkan saham Adiwangsa kepada Valerie sebagai mahar. Mereka berdua berjalan di jalur kebodohan yang berbeda. Biarkan Valerie menekan Adrian dari luar, sementara aku akan menekan mereka dari dalam rumah ini. Waktu kita semakin dekat."
Aruna meletakkan ponselnya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar utama. Sebuah senyuman manipulatif yang sangat dingin kini mengembang sempurna di wajahnya. Hari ini Widya memaksanya bersujud pada egonya, namun dalam hitungan hari, Widya dan putranya yang sombong itu yang akan bersujud di bawah kakinya, meratapi hilangnya seluruh harta yang selama ini mereka curi dari tangannya. Rencana berikutnya telah matang, dan badai penghancuran yang sesungguhnya kini sedang bersiap untuk menggulung kediaman Adiwangsa tanpa sisa.