Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Dua
Ketika pulang sekolah, Aruna menunggu jemputannya seperti biasa ditemani oleh Ganesha. Kali ini anak itu yang ngotot karena ia merasa tak enak selalu meninggalkan Aruna sendirian. Jadi, meskipun jemputannya sudah tiba Ganesha tidak beranjak dan masih setia menemani Aruna.
"Loh, belum pulang?" tanya Baskara yang baru saja berjalan keluar bersamaan dengan Mahesa.
"Aku sedang menemani Una menunggu jemputannya. Kalian pulang saja," jawab Ganesha santai.
"Aku akan menamani juga," ucap Mahesa tiba-tiba.
"Aku juga," Baskara menyambung dengan semangat.
Bahkan kedua anak itu yang dulu begitu acuh kini malah menunjukkan ketertarikan padanya. Aruna benar-benar tak memahami dengan perubahan seperti ini. Ia masih tak habis pikir kenapa mereka berdua bisa berubah padanya.
Apa ada yang ia lewatkan tanpa sengaja? Atau ia melakukan sesuatu yang menarik perhatian keduanya ketika telah memutar waktu?
Tak lama mobil jemputan Aruna tiba, tapi ada yang aneh karena ia mengenali mobil yang biasa di gunakan untuk mengantar jemputannya dan mobil yang di hadapannya ini berbeda.
Tak lama seseorang keluar dari dalam dan membuat Aruma melotot kaget karena mendapati Alvaro berdiri di sana sembari melepas kacamata hitamnya. Menatap ke arah Aruna dengan raut wajah biasanya, ia bahkan tidak melirik temannya yang lain.
"Aruna, ayo," ajaknya.
Aruna mengerjap bingung dan berdiri kaku. Jika itu Abi atau Antares atau bahkan Elvio yang menjemput, Aruna takkan sekaget ini.
Tapi ini Alvaro!
Pria dengan salju Antartika yang selalu ia bawa kemana-mana!
Pria itu bahkan sering melontarkan kata-kata tajam yang menyayat meski ia sudah memutar waktu kembali. Meski akhir-akhir ini Alvaro tidak melakukannya lagi, sih. Pria itu lebih banyak diam ketika bertemu dengannya atau bahkan ketika sedang makan malam bersama. Tapi Aruna sering menangkapnya sedang memperhatikan dirinya beberapa kali. Hubungan mereka tidak seakrab lainnya tapi juga tidak sedingin biasanya, jadi Aruna tidak merasa canggung sama sekali.
Hanya saja terkadang Aruna bingung bagaimana harus bersikap di depan si sulung Adijaya.
"Aku duluan," ucap Aruna kepada teman-temannya sembari melambai dan masuk ke dalam mobil di mana Alkan sudah masuk lebih dulu.
"Kau lapar?" tanya Alvaro tiba-tiba.
Aruna menoleh dan mengangguk ragu, "Sedikit, sih. Tapi aku bisa menahannya hingga sampai rumah."
"Ke restauran biasanya," kata Alvaro pada sang supir.
"Baik, Tuan."
Mendengar itu membuat Aruna hanya mengerjapkan kedua matanya bingung. Kenapa tiba-tiba mereka makan diluar?
Tidak ada yang berbicara karena Aruma merasa tak ingin mengatakan sesuatu. Ia hanya diam mengikuti rencana kakaknya saja.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Alvaro lagi.
"Cukup baik, kurasa."
"Apa ada yang bersikap kasar padamu lagi? Bagaimana dengan para guru di sana? Aku bisa meminta untuk menggantikan mereka semua jika mereka masih bersikap kurang ajar padamu," kata Alvaro lagi.
Aruna menggeleng, "Tidak ada. Semua berubah setelah kejadian Marina dan Paula saat itu."
"Bahkan menghancurkan kedua perusahaan mereka masih belum membuatku puas," gerutu Alvaro.
Ucapan itu sampai membuat Aruna menoleh cepat ke arahnya, "Me-menghancurkan apa?"
"Oh, kau belum tahu?"
"Soal apa?"
"Ayah menghentikan pendanaan dan mencabut kembali semua dana di perusahaan mereka. Bahkan menyuruh setiap perusahaan di Negara ini untuk tidak membantu mereka dengan alasan apa pun jika tak ingin bernasib sama juga. Aku mengusulkan itu sebenarnya," jelasnya.
Ada terselip perasaan bangga di sana dan Aruna tak dapat mengatakan apapun lagi. Ia pikir semua selesai ketika kedua anak itu dikeluarkan dari sekolah, tapi nyatanya lebih dari itu.
Sebenarnya Aruma ingin merasa kasihan tapi jika mengingat perlakuan mereka dulu sebelum ia memutar waktu itu jauh lebih kejam dan buruk dari yang mereka alami sekarang. Bahkan dulu Aruna di permalukan habis-habisan hingga wajahnya masuk di media sosial dan tersebar luas.
Saat itu Aruna hanya bisa menangis menahan rasa marahnya karena ia tak bisa melakukan apa-apa, ditambah keluarga Adijaya bahkan tidak bereaksi untuk membantunya.
Mengingatnya kembali membuat hatinya berdenyut sakit.
Dan sekarang, ia tak merasakan apa pun kepada mereka. Mungkin ini merupakan hukuman yang pantas untuk mereka berdua.
Tak lama mereka tiba di sebuah restauran ternama. Di sana nampak seorang pelayan yang sudah menunggu mereka dengan senyuman lebar.
"Selamat datang, Tuan muda Adijaya dan Nona muda Adijaya. Silahkan masuk, kami sudah menyiapkan tempat khusus untuk anda berdua," ucapnya.
Alvaro dan Aruna akan berjalan masuk mengikuti pelayan itu sebelum sebuah suara memanggil nama Alvaro dengan semangat.
"Alvaro!"
Mereka sama-sama menoleh dan mendapati seorang wanita dengan gaun yang membungkus tubuhnya cantik. Wanita itu tersenyum manis pada Alvaro lalu menatap Aruna bingung, tapi ia mengabaikannya dan lebih fokus kepada sang kakak. Well, Aruna tidak perduli, sih.
"Kau mau makan?" tanyanya.
"Ya," jawab Alvaro datar.
Si wanita tersenyum semangat lalu memeluk lengan Alvaro tiba-tiba bahkan Aruna kaget melihat hal itu. Apakah ia tak tahu jika Alvaro tidak suka di sentuh sembarangan tanpa ijin?
"Aku juga! Ayo makan bersama! Bukankah kita sudah lama tidak—" ucapannya terhenti ketika Alvaro melepas tangan si wanita yang sudah melingkar di lengannya.
Tuh, benarkan?
"Tolong jangan menyentuhku seenaknya dan kau bahkan tidak menyapa adikku, Erina," kata Alvaro dingin.
Wanita yang di panggil Erina itu nampak kaget dan canggung karena mendapat penolakan terang-terangan begitu di tempat umum. Ia menatap Aruna dengan tatapan tak suka tapi tetap menampilkan senyumannya.
"Oh, maafkan aku. Aku terlalu merasa lapar. Hai, kau Aruna, kan? Aku Erina Putri Khasim. Senang berkenalan denganmu!" katanya sambil mengulurkan tangan.
Ah, puteri keluarga Khasim? Ia ingat sekarang siapa wanita itu. Ia merupakan wanita yang kelak akan menikahi Alvaro di masa depan nanti. Itu pun menikah bukan karena Alvaro mencintainya tapi lebih karena pria itu membutuhkan bantuan Erina melakukan sesuatu.
Sayangnya, Aruna tidak tahu hal apa hingga membuat salah satu keluarga Adijaya sampai tak seberdaya itu. Satu yang ia tahu, Erina tidak menyukainya dan sering menghinanya secara terang-terangan jika ada acara khusus yang di hadiri keluarga Adijaya. Menjadikannya bahan lelucon hingga Aruna hanya bisa menundukkan kepalanya malu.
Bahkan saat ini pun Aruna bisa melihat dari caranya menatap sudah menunjukkan bahwa ia tengah merendahkan dirinya. Menganggap ia hanyalah anak adopsi yang bahkan tidak memiliki kuasa apapun meskipun memliki nama Adijaya tersemat di sana. Jika itu dulu, mungkin Aruna akan menunduk takut. Tapi sekarang berbeda, akan ia tunjukkan cara bermain dengan benar.
"Pacarmu, kak?" tanya Aruna tiba-tiba dengan nada polos. Ia bahkan mengabaikan uluran tangan Erina dan membuat gadis itu mendesis tertahan. Namun, Erina akan menjawab pertanyaan itu sebelum suara Alvaro terdengar.
"Bukan. Hanya kenalan biasa," jawab Alvaro. Raut wajahnya lebih lembut ketimbang berbicara dengan orang lain termasuk Erina dan gadis itu menyadarinya.
"Benar. Aku teman Alvaro. Jadi, namamu Aruna?"
"Sudah tahu, kenapa masih bertanya?" Aruna membalas dengan sarkas dan membuat Erina langsung menatapnya tajam sementara Alvaro hampir terbahak tapi ia menahan dirinya.
Gadis itu berdehem mencoba menahan emosinya dan kembali tersenyum lebar, "Jadi, bagaimana jika kita—"
"Kak Al, sampai kapan kita akan di luar? Aku sudah lapar," ucap Aruna dengan suara pelan di akhir. Sebenarnya sengaja agar terdengar lebih memelas saja.
"Ah, benar. Ayo, kita masuk," kata Alvaro cepat dan langsung meraih tangan Aruna untuk di genggam kemudian akan berjalan masuk. Namun, sekali lagi Erina masih mencoba menahan dengan memegang tangannya yang bebas.
"Alvaro kenapa kita tidak—"
"Hey, sudah kubilang jangan menyentuhku sembarangan. Kau tuli?"
Hal itu membuat Erina langsung melepas pegangannya dengan kaku. Sementara Aruna berusaha menahan tawanya pelan. Ia melirik Erina yang ternyata juga sedang meliriknya marah. Kemudian Aruna tersenyum miring pada gadis itu seolah menunjukkan bahwa gadis itu bukan apa-apa jika di bandingkan dengan dirinya yang hanya anak adopsi.
Ia bahkan tak perlu mengemis pada Alvaro dan pria itu sudah melakukan semua untuknya termasuk menggenggam tangannya.
Erina tahu itu dan ia merasa marah. Tapi, ia tak bisa melakukan apapun yang lebih dari ini jika tak ingin Alvaro membencinya.
"Maaf," ucap Erina pelan.
Alvaro mendengus lalu berjalan masuk dengan menggandeng tangan Aruna ke dalam begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Mereka di antar menuju ruangan tertutup khusus di mana nampak begitu luas dan elegan padahal hanya ada satu meja juga beberapa kursi lainnya.
Aruna duduk di salah satu kursi begitu pun Alvaro yang duduk di hadapannya. Pria itu nampak lebih lembut sekarang saat berbicara dengannya, bahkan Aruna bisa melihat senyuman tipis di sana.
"Kau mau daging?" tawar Alvaro.
"Daging?" Aruna berucap bingung. Kenapa tiba-tiba daging? Apa ia terlihat seperti menginginkan daging saat ini?
"Ayah bilang kau suka daging dan menghabiskan dua potong steak berukuran besar saat itu," kata Alvaro.
Ah, pantas saja. Saat itu Aruna sampai memakan dua potong steak berukuran besar karena ia memang sedang merasa lapar, juga memang steaknya terasa enak dan lembut untuknya jadi ia ketagihan.
Anak itu terdiam sejenak sebelum mengangguk sebagai jawabannya. Ia memang menyukai daging jadi tak masalah jika memakannya lagi.
Setelah memesan, mereka terduduk diam masing-masing tanpa ada yang bicara. Untungnya suasana tidak canggung sama sekali.
"Wanita tadi, Erina. Dia bukan pacarku," ucap Alvaro tiba-tiba.
"Aku tahu, tadi kan kakak sudah bilang."
Senyuman Alvaro mengembang, "Kakak hanya ingin menegaskan saja. Wanita itu selalu saja menggangguku di kantor dan itu menjengkelkan. Jika ia mengganggumu juga, katakan padaku. Paham?"
Aruna mengangguk paham, "Iya."
Tak terasa obrolan mengalir begitu saja dan Alvaro takjub karena Aruna bisa menjawab dan mengimbangi obrolannya padahal usia anak itu masih 10 tahun. Ia tak menyangka jika Aruna akan sejenius ini dalam hal berpikir.
Sementara Aruna tidak perduli karena ia hanya ingin makan dan pulang.
Ia kelelahan, rasanya terlalu banyak hal yang ia alami saat ini dan itu menjengkelkan!
Ah, tapi setidaknya ia merasa sedikit puas karena sudah membalas Erina meski rasanya belum cukup.
Semua ada waktunya. Ia hanya perlu bersabar saja.