NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Tamat
Popularitas:52.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia, wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau bercerai!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21 ~ Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Tak lama kemudian, Hezlin baru saja selesai mengganti gaun pesta dengan pakaian tidur yang nyaman, saat terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk." ucapnya pelan.

Pintu terbuka, Bi Rumi masuk membawa nampan berisi mangkuk sup yang masih mengepul hangat, aroma gurihnya langsung memenuhi ruangan. Ia meletakkan nampan di atas nakas, lalu menoleh ramah ke arah Hezlin sambil membawa mangkuk berukuran sedang berisikan sup tersebut.

"Silakan Nyonya, dimakan sup-nya mumpung masih hangat."

Hezlin mengangguk, namun belum sempat Hezlin menyentuhnya. Begitu ia menghirup uap aromanya, rasa mual yang kuat seketika menyerang. Wajahnya seketika pucat, ia langsung berbalik dan berlari kecil menuju kamar mandi.

"Hueekk!"

Bi Rumi terkejut, langsung meletakkan mangkok itu kembali dan segera menyusul ke sana dengan wajah cemas.

"Nyonya? Nyonya tidak apa-apa?" tanyanya khawatir melihat Hezlin terbatuk-batuk di depan kloset.

"Astaga! Nyonya.." Bi Rum segera meletakkan mangkuk tersebut kembali, dan menyusul Hezlin.

"Nyonya? Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Bi Rum cemas.

Hezlin hanya bisa menggeleng lemah, napasnya tersengal berat sambil menahan sisa rasa mual yang masih bergejolak di perut. Wajahnya kian pucat pasi, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

Bi Rumi segera berbalik mengambilkan air putih dan handuk kecil, lalu berlutut di sampingnya sambil mengusap lembut punggung Hezlin.

"Pelan-pelan saja, Nyonya... tarik napas pelan," bujuknya khawatir. "Sepertinya kondisi tubuh Nyonya benar-benar sedang tidak baik. Haruskah saya panggilkan Tuan Garra? Atau dokter?"

"Jangan..." tolak Hezlin lirih, menyeka bibirnya dengan tangan gemetar. "Jangan panggil dia. Aku hanya butuh istirahat saja."

"Baik kalau begitu." jawab Bi Rum patuh.

Setelah rasa mualnya agak mereda, Bi Rumi perlahan menuntun Hezlin kembali ke atas ranjang. Ia segera menyelimuti tubuh wanita itu hingga sebatas dada dengan gerakan lembut.

Bi Rumi menatap wajah pucat Hezlin dengan tatapan bingung sekaligus menduga-duga, lalu berucap pelan.

"Maafkan saya karena berani bertanya... tapi apa mungkin Nyonya sedang hamil?"

Hezlin tertegun sejenak, matanya membelalak tak percaya mendengar dugaan itu. Ia sendiri tak pernah terpikir hal yang sama, dan seketika hatinya berdegup kencang tak menentu.

"Tidak mungkin..." gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Namun kalimat itu terdengar ragu, tak ada keyakinan di sana. "Aku hanya sedang kurang enak badan, jadi tidak perlu berpikir sampai sejauh itu."

Bi Rumi mengangguk pelan, namun raut wajahnya masih belum tenang. "Entahlah Nyonya... Tapi biasanya jika orang yang sedang hamil gejalanya persis seperti itu. Rasa mual tiba-tiba, lemas, dan tak kuat mencium bau makanan. Jika bukan karena sakit, saya khawatir dugaan saya benar."

Hezlin diam seribu bahasa, tangannya tanpa sadar bergerak menyentuh perutnya sendiri. Ada rasa bingung, takut, dan tak percaya yang bercampur aduk memenuhi dadanya. Jika benar dugaan itu nyata... bagaimana nasibnya nanti?

Hezlin menatap kosong ke arah selimut yang menutupi tubuhnya, tangannya masih diam di atas perut. Bayangan perceraian yang sebentar lagi akan rampung, dan kenyataan yang mungkin tersembunyi di dalam tubuhnya, membuat kepalanya terasa berputar.

"Bagaimana jika dugaan itu benar..." batinnya pelan, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Bi Rumi mengusap pelan punggung tangannya. "Apa pun hasilnya, Nyonya... tubuh Nyonya butuh perawatan. Saya sarankan agar Nyonya cepat memeriksanya ke dokter."

Hezlin hanya menggeleng lemah, memejamkan mata rapat-rapat. "Tolong biarkan aku sendiri dulu sebentar, Bi... aku butuh istirahat."

"Baik, Nyonya. Saya taruh air putih di sini kalau Nyonya butuh," ucap Bi Rumi lembut, lalu berdiri dan berjalan perlahan keluar pintu sambil menutupnya pelan.

Di dalam kamar yang kembali hening, Hezlin memeluk dirinya sendiri erat-erat. Satu pertanyaan besar kini menghantui pikirannya. Apakah benar ada nyawa lain yang sedang tumbuh di sana? Dan jika ya... bagaimana ia harus menghadapinya, terutama pada Garra?

••

••

Keesokan paginya...

Ervan melangkah masuk ke ruang kerja Garra, lalu berdiri tegak di hadapan meja kerja.

"Tuan, semua perintah Tuan sudah saya laksanakan. Berkas-berkasnya sudah ditangani, sekarang tinggal menunggu hasil kepastiannya saja."

"Bagus," Garra hanya mengangguk singkat, matanya tak lepas dari tumpukan dokumen di depannya.

Belum sempat ia berbicara lebih lanjut, ponsel di atas mejanya berdering. Garra segera mengangkatnya, dan wajahnya perlahan berubah saat mendengar suara Bi Rum dari seberang.

"Tuan... maaf mengganggu. Semalam Nyonya Hezlin mual-mual cukup hebat, dan pagi ini dia juga menolak sarapan. Dia bersikeras tetap mau berangkat bekerja. Tapi... saya sangat curiga, Nyonya mungkin sedang hamil."

Garra terdiam seketika, matanya membelalak tak percaya.

"Baik, aku akan segera pulang sekarang," ucapnya cepat.

Garra hendak melangkah berdiri, namun sekretarisnya tiba-tiba mengetuk pintu terburu-buru sambil membawa berkas darurat.

"Tuan, rapat penandatanganan kerja sama senilai triliunan rupiah dengan mitra asing sudah menunggu. Semua delegasi sudah berkumpul, dan mereka hanya mau Tuan yang langsung datang kesana."

Garra menghentakkan kakinya pelan, rahangnya mengeras. Ia tahu betul, urusan ini menyangkut nama besar keluarga dan keberlangsungan perusahaan secara keseluruhan, ia sama sekali tidak bisa meninggalkannya. Ia segera menoleh tajam ke arah Ervan.

"Ervan, kamu pulang ke rumah sekarang juga. Bawa Hezlin untuk diperiksakan ke dokter kandungan. Kalau dia menolak dan tetap ingin berangkat ke kantor, kamu tetap harus mengantarnya sampai kedepan kantor Xabiru. Dan sampaikan pesanku, suruh dia jangan pernah lagi membahas soal perceraian. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah bercerai dengannya."

"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan," jawab Ervan mantap, lalu segera bergegas meninggalkan ruangan itu dan pergi menuju rumah Garra.

 ••••

Sesampainya di rumah, Ervan menyambut Hezlin yang sudah siap berjalan menuju pintu depan.

"Selamat pagi, Nyonya. Saya diperintahkan Tuan Garra untuk mengantar Nyonya hari ini," ucapnya sopan namun tegas.

Hezlin menggeleng pelan. "Tidak perlu, Ervan. Aku bisa pergi sendiri."

"Maaf Nyonya, Tuan punya perintah khusus," potong Ervan tak membiarkan penolakan. "Pertama, Nyonya harus diperiksakan ke dokter terlebih dahulu. Atau jika tetap bersikeras bekerja, saya yang harus mengantar Nyonya sampai ke kantor Xabiru."

Wajah Hezlin mengeras, dia terkejut. 'Apakah mungkin Bi Rum berbicara pada Garra tentang keadaannya?' batin Hezlin.

Namun itu tidak berlangsung lama, Hezlin langsung kembali menatap tajam pada Ervan. "Katakan pada Boss-mu, aku bukan tahanan yang harus diawasi ke mana pun aku pergi."

Ervan menatapnya tenang namun tak bergeming. Ia membukakan pintu mobil.

"Silahkan Nyonya, saya tidak akan membiarkan anda keluar satu langkah pun dari rumah ini tanpa mengawalan dari saya."

Wajah Hezlin memerah menahan amarah, ia berbalik menatap Ervan tajam.

"Ervan! Aku sudah bilang... aku tidak mau! Lagipula apa kamu tidak punya pekerjaan lain? Pergilah! Aku tidak mau berurusan denganmu. Dan sampaikan pada Garra! Tidak perlu memperdulikanku. Cukup tunggu saja surat resmi perceraian itu turun!"

Hezlin berbalik cepat dan melangkah menjauh hendak melewati pria itu.

"Nyonya!" panggil Ervan tegas.

Hezlin berhenti mendadak, menoleh dengan nada kesal. "Apa lagi?!"

Ervan menatapnya lurus tanpa ragu, menyampaikan pesan itu dengan jelas dan tegas.

"Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!"

❤️

1
Siti Maulidah
ceritanya menarik
🥀
terimakasih KK Thor 😍
Zhao_Xena: sepertinya tidak kakak.. yukk kepoin aja novel baru akuuh..🤗🤗
total 3 replies
Zhao_Xena
Luar Biasa
You `ka
semoga Garra mau membantu, kasihan Rachel
You `ka
masih nggak sadar juga Kamu Felicia. Jangan takut Rachel
ayo lawan..💪
You `ka
mampus kau Felicia 🤣🤣
Rian Moontero
mampiiirr👍🤣
Zhao_Xena: silahkan... 🤗🤗
total 1 replies
Red Blossom
Bikin Hezlin bantu pengobatan mamanya Rachel serta biaya adiknya Rachel thor
Zhao_Xena: asyaaappp....👍
total 1 replies
Alya Bau
up yang banyak lagii thorr 😍
Zhao_Xena: ditunggu besok yakk....🤗🤗
total 1 replies
aku
gara lembek
Gita ayu Puspitasari
ayo hempaskan pelakor hezlin🤭
Zhao_Xena: /Determined//Determined//Hammer//Hammer//Hammer/
total 1 replies
🥀
lgi Thor jgn ngantung kyk jemuran 😄
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ ditunggu ya kak...
total 1 replies
You `ka
Cerita yang sangat bagus .. Berawal dari sebuah kesalahpahaman yang perlahan tumbuh menjadi tembok tinggi di antara mereka, kisah ini mengajarkan kita betapa mahalnya sebuah kepercayaan.

Kita disuguhi pergulatan batin yang nyata di mana cinta yang seharusnya menjadi pelindung, justru sempat menjadi sumber luka karena ketidaksabaran untuk saling mendengar. Namun di balik semua pertengkaran, diam, dan rasa sakit, terlihat jelas bahwa ikatan mereka tak pernah benar-benar putus.
Zhao_Xena: waahh... terimakasih banyak untuk bintang sempurna serta ulasan terbaiknya kakak...🥰🥰
total 1 replies
You `ka
next..
You `ka
akhirnya ketauan juga... ayo Ervan, buat Rachel mengaku..
Alya Bau
di tunggu bab selanjutnya Thor, up yang banyak
Zhao_Xena: asyiiiaaappp...🫡
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
semangat garra😄
Zhao_Xena: /Smirk//Smirk//Smirk/
total 1 replies
You `ka
lanjut
You `ka
gercep Garra.. jangan biarin Felicia berhasil membohongi Hezlin
You `ka
jangan mudah percaya ucapan Felicia Hezlin,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!