Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Badai Logam di Jalur Selatan
Tali seluncur sihir menarik tubuh Clara dan Leo ke atas dengan sentakan hidrolik yang cepat, membawa mereka menembus kabut salju yang pekat hingga mendarat dengan mulus di atas dek peluncuran bagian belakang The Sky Leviathan. Begitu kaki mereka menyentuh lantai besi kapal, pintu hidrolik buritan langsung menutup rapat dengan suara debuman keras, mengunci hawa dingin mematikan Pulau Frostfire di luar sana
Clara terengah-engah, tubuh fisiknya terasa sangat rapuh setelah memaksakan sarung tangan Sutra Laba-laba Salju bekerja melebihi batas ketahanan manusia. Namun, tangan kirinya masih mendekap botol kristal berisi Air Mata Phoenix Ice dengan kekuatan yang tidak tergoyahkan.
Di sampingnya, sayap api Phoenix di punggung Leo perlahan memudar, menyisakan semburat jingga redup di sekeliling tubuhnya yang kelelahan.
"Nyonya Clara! Tuan Muda Leo!" Bernet berlari mendekat bersama dua perwira medis kapal. Wajah kepala pelayan tua itu dipenuhi gurat kecemasan yang mendalam ketika melihat kondisi lengan kanan Clara yang melepuh kemerahan di balik sarung tangan perak yang rusak sebagian. "Astaga, luka tolak balik energi Anda semakin parah. Mari saya bantu ke ruang perawatan."
"Tidak, Bernet. Obati Leo dan para prajurit terlebih dahulu," potong Clara tegas, suaranya parau namun memancarkan sikap yang menolak bantahan. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak, menggunakan tongkat komando elang perak sebagai penopang kakinya yang lemas. "Bawa saya langsung ke kabin perawatan Rin dan Toby. Waktu kita tidak banyak. Efek hantaman meriam utama tadi pasti memicu pergerakan armada sekte hitam yang lebih besar di luar cincin badai ini."
"Tapi, Kapten Clara, kondisi luar angkasa saat ini sangat kritis," timpal wakil komandan dek yang baru saja tiba dari ruang kemudi dengan baju zirah yang tergores. "Dua kapal penjelajah ringan milik The Obsidian Dawn yang kita hantam tadi hanyalah umpan. Pemindai sonar sihir kita baru saja mendeteksi adanya pergerakan tiga kapal perang kelas berat (Dreadnought) milik sekte yang sedang bergerak memutar untuk mengunci jalur keluar tunggal kita di celah The Dragon's Breath. Kita terjebak di ambang wilayah beku."
Clara memejamkan matanya sejenak, menahan denyut perih yang kian menghebat di lengan kanannya. Pikirannya berputar cepat, menyusun kembali strategi berdasarkan peta navigasi militer yang pernah diajarkan Alden sebelum keberangkatannya.
"Leo, pergilah bersama tim medis untuk memulihkan energimu. Ibu harus menyelamatkan adik-adikmu sekarang," kata Clara lembut, menatap putra sulungnya dengan tatapan penuh rasa percaya.
"Baik, Ibu. Tapi berjanjilah untuk mengobati tangan Ibu juga setelah ini," bisik Leo dengan nada khawatir yang sangat tulus sebelum melangkah mengikuti perwira medis.
Clara segera melangkah cepat menyusuri koridor-koridor besi kapal menuju kabin khusus anak-anak di sektor terdalam. Begitu pintu kabin bergeser terbuka, pemandangan di dalamnya membuat hati Clara mencelos nyeri.
Rin terlentang di atas ranjang dengan tubuh yang terus bergetar hebat, lapisan es hitam akibat kutukan Sirene telah merayap naik hingga ke batas leher dan pipi mungilnya, memancarkan hawa kematian yang kental.
Di ranjang sebelahnya, Toby menangis tanpa suara, meringkuk memegangi dadanya yang memancarkan semburat hitam dari kutukan teror malam yang kian mengganas akibat pengaruh atmosfer Gerhana Abadi yang kian mendekat di luar sana.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Clara berlutut di antara kedua ranjang anak tirinya. Dengan tangan kiri yang gemetar, ia membuka sumbat kristal Air Mata Phoenix Ice. Cairan biru keemasan murni itu seketika melepaskan aroma kesegaran luar biasa yang langsung menetralkan sebagian hawa pekat di dalam ruangan.
"Rin, Toby... Ibu di sini. Obat kalian sudah tiba," bisik Clara penuh kasih sayang.
Ia menuangkan setengah dari cairan suci itu ke dalam cangkir perak, lalu perlahan meminumkannya kepada Rin. Detik berikutnya, Clara meneteskan sisa cairan murni tersebut tepat di atas kening Toby, sembari merentangkan kedua tangannya yang terluka untuk menyentuh dada kedua anaknya, mengalirkan sisa-sisa energi vital fisiknya sendiri sebagai katalisator pemurnian.