Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Pegunungan Seribu Bintang
Tetua Guo Rong menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Untuk kesekian kalinya hari itu, beliau benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menghela napas.
Di hadapannya, Feng Bai Hu masih memegang kantong berisi lima batu roh tingkat rendah dengan senyum puas. Bocah itu bahkan sempat menuangkannya ke atas meja, lalu menghitung satu per satu menggunakan kedua tangannya yang masih kecil.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
"Empat..."
"Lima."
Setelah memastikan jumlahnya tidak berkurang, Bai Hu memasukkan kembali kelima batu roh itu ke dalam kantong penyimpanannya dengan gerakan hati-hati.
Tetua Guo memperhatikannya sambil menggeleng pelan.
"Kau benar-benar tidak pernah berubah."
Bai Hu mengangkat kepala.
"Tetua sedang memujiku?"
Tetua Guo kembali memijat pelipisnya.
Tok...
Tok...
Tok...
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruang kerja.
"Masuk."
Pintu kayu terbuka perlahan.
Liang Chen melangkah masuk dengan ekspresi yang jauh lebih serius dibanding biasanya.
Ia membungkukkan badan.
"Guru."
Tetua Guo segera menyadari perubahan wajah muridnya."Ada apa?"
"Guru ada Seorang kultivator lepas datang ,ia terluka parah menurut keterangan ia di serang binatang iblis di pegunugan seribu bintang."
Mendengar nama itu, Bai Hu ikut mengangkat kepala.
Pegunungan Seribu Bintang.
Tempat itu merupakan kawasan yang membentang di utara Kota Qinghe. Di pinggirannya masih sering ditemukan tanaman spiritual dan beast tingkat rendah sehingga banyak kultivator lepas mencari peruntungan di sana.
Namun wilayah terdalamnya...
Bahkan Tetua keluarga besar pun jarang berani memasukinya.
Ruangan mendadak sunyi.
Tetua Guo langsung berdiri.
"Seberapa parah?"
"Dada robek oleh cakar . Bahu kirinya hampir putus. Murid Aula Alkimia yang berjaga mengatakan dia kehilangan terlalu banyak darah."
Tanpa berpikir panjang, Tetua Guo segera melangkah menuju pintu.
"Bawa aku ke sana."
"Baik, Guru."
Bai Hu ikut berdiri.
"Aku juga ikut."
Tetua Guo meliriknya sebentar.
"Kau boleh ikut. Tapi jangan mengganggu."
Bai Hu mengangguk cepat.
"Aku hanya melihat."
Ruang pengobatan Aula Alkimia jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Beberapa murid sibuk membawa baskom berisi air hangat.
Yang lain menyiapkan pil penyembuh dan kain pembalut.
Di tengah ruangan, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun terbaring di atas ranjang batu.
Seluruh pakaian bagian atasnya telah robek.
Luka besar membentang dari bahu hingga dada.
Bekas cakaran itu begitu dalam hingga tulangnya terlihat samar.
Darah masih mengalir perlahan.
Tatapan pria itu dipenuhi ketakutan.
Seolah ia baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia.
Tetua Guo segera mendekat.
"Tahan dia."
Empat murid langsung memegang kedua tangan dan kaki pria tersebut.
Tetua Guo mengeluarkan sebuah pil berwarna hijau, lalu memasukkannya ke dalam mulut pria itu.
Pil itu larut seketika.
Beberapa saat kemudian, aliran darah mulai melambat.
Tetua Guo kemudian meletakkan dua jari di atas luka.
Energi spiritual hangat mengalir perlahan.
Bai Hu berdiri di belakang Liang Chen sambil memperhatikan dengan saksama.
Ini pertama kalinya ia melihat Tetua Guo menyembuhkan seseorang secara langsung.
Beberapa saat kemudian, pria yang terluka itu membuka mata.
Tatapannya masih kosong.
Tetua Guo berbicara dengan suara tenang.
"Kau sudah aman."
Pria itu bernapas berat.
Matanya bergerak perlahan, memastikan ia benar-benar berada di dalam ruangan.
Kemudian bibirnya bergetar.
"tetua tolong sampaikan ke orang orang untuk tidak masuk pegunungan seribu bintang "
Mendengar apa yang di katakan orang itu,,
ruangan mendadak sunyi.
Semua murid berhenti bekerja.
Tetua Guo tetap tenang.
"Ceritakan apa yang terjadi."
Pria itu memejamkan mata beberapa saat.
Napasnya masih tidak beraturan.
"Aku, dan lima orang rekanku pergi tiga hari lalu ke pegunungan seribu bintang, kami ingin mencari Rumput Embun Bintang."
Bai Hu tanpa sadar mengangguk.
Rumput Embun Bintang memang bernilai cukup tinggi.
Pil yang dibuat dari tanaman itu mampu mempercepat penyerapan Qi bagi kultivator Pengumpul Qi.
Karena itulah banyak kultivator lepas rela mengambil risiko mencarinya.
Pria itu melanjutkan.
"Awalnya, semuanya normal, kami berhasil menemukan beberapa tumbuhan, bahkan berhasil membunuh seekor serigala taring besi Tingkat Satu."
Tetua Guo mendengarkan tanpa memotong.
"Lalu..."
Pria itu mengepalkan tangan.
"Waktu kami hendak kembali, kami mendengar auman."
"Auman?"
Tetua Guo mengerutkan dahi.
Pria itu menggeleng kuat.
"Banyak suara auman, seluruh pegunungan, seperti dipenuhi suara beast."
Mata pria itu kembali dipenuhi ketakutan.
"Aku belum pernah mendengar suara sebanyak itu,"
Ruangan kembali sunyi.
Tetua Guo mulai menyadari bahwa ini bukan sekadar serangan beast biasa.
"Ceritakan pelan-pelan."
Pria itu mengangguk lemah.
"Kami bergegas untuk kembali, namun sebelum sempat keluar dari hutan,kami melihat... "
Tubuhnya mendadak gemetar.
Bahkan napasnya kembali memburu.
Tetua Guo segera mengalirkan sedikit energi spiritual untuk menenangkannya.
"Apa yang kau lihat?"
Pria itu membuka mulut perlahan.
"Serigala taring besi."
Bai Hu sedikit bingung.
Hanya Serigala taring besi?
Bukankah tadi mereka juga sudah membunuh seekor?
Namun kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan membeku.
"Bukan satu ekor, lebih dari seratus."
Suara pria itu masih bergetar.
Seluruh ruang pengobatan menjadi sunyi.
Bahkan para murid yang sedang menumbuk ramuan menghentikan pekerjaannya.
Tetua Guo Rong menyipitkan mata.
"Seratus Serigala taring besi?"
Pria itu mengangguk lemah.
"Bukan hanya serigala taring besi"
"Kami juga melihat Serigala bayangan bulan"
"Beruang kulit baja"
"Ular sisik hijau."
"Semuanya muncul di tempat yang sama."
Liang Chen yang berdiri di samping gurunya langsung mengernyit.
"Itu tidak mungkin."
Semua beast yang disebutkan pria itu memiliki wilayah hidup yang berbeda.
Serigala taring besi hidup dalam kawanan di hutan bagian luar.
serigala bayangan bulan lebih sering muncul saat malam di lereng berbatu.
Beruang kulit baja biasanya di gua-gua pegunungan.
Sedangkan ular sisik hijau hidup di rawa-rawa dalam.
Selama puluhan tahun...
Tidak pernah ada catatan keempat jenis beast itu berkumpul di satu tempat.
Tetua Guo bertanya pelan.
"apa mereka saling bertarung?"
Pria itu menggeleng keras.
"mereka sama sekali tidak saling menyerang."
Ia menarik napas dalam.
"mereka seperti melarikan diri dari sesuatu"
Ruangan kembali sunyi.
Tatapan Tetua Guo berubah serius.
Beast memiliki naluri mempertahankan wilayah.
Bahkan beast dengan tingkat kultivasi rendah akan bertarung sampai mati jika wilayahnya dimasuki beast lain.
Kalau sekarang mereka meninggalkan wilayah masing-masing...
Berarti ada sesuatu yang memaksa mereka.
Atau...
Sesuatu yang membuat mereka takut.
Pria itu kembali melanjutkan ceritanya.
"Awalnya kami bersembunyi di atas tebing."
"Kami pikir kawanan itu sedang memburu mangsa."
"Tapi..."
Ia menelan ludah.
"...mereka bahkan tidak melirik kami."
"Mereka hanya terus berlari."
Liang Chen bertanya.
"Lalu bagaimana kau terluka?"
Ekspresi pria itu langsung berubah.
"Kami terlalu lambat turun dari tebing."
"Saat kami hendak pergi..."
"...seekor Beruang kulit baja melihat kami."
Bai Hu sedikit menahan napas.
Beruang kulit baja.
Ia pernah membaca tentang beast itu.
Tubuhnya jauh lebih besar daripada beruang biasa.
Bulunya sekeras besi.
Kedua cakarnya mampu menghancurkan batu.
Pria itu mengepalkan tangannya.
"Ketua kelompok kami adalah kultivator Pembentukan Fondasi Tahap Menengah."
"Dengan kekuatannya,.membunuh Black Iron Bear Tingkat Tiga seharusnya bukan masalah."
"Tapi ,Beruang itu berbeda."
Tetua Guo bertanya singkat.
"Berbeda bagaimana?"
"Mata dan bulunya merah gelap, ditumbuhi garis-garis hitam, auranya jauh lebih kuat."
"Ketua kelompok kami menebaskan Pedang Roh berkali-kali tetapi hanya meninggalkan goresan tipis."
Beberapa murid langsung saling berpandangan.
beruang kulit baja memang terkenal memiliki pertahanan tinggi.
Namun bukan berarti mampu menahan serangan kultivator Pembentukan Fondasi dengan mudah.
Tetua Guo mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Lalu?"
Pria itu menutup mata.
" ketua kelompok kami mencoba melindungi kami."
"Ia menyuruh kami lari ,namun baruang kulit besi itu terlalu cepat."
Suara pria itu perlahan mengecil.
"Kami semua di bantai habis"
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Semua orang memahami apa arti kalimat itu.
Tetua Guo menghela napas pelan.
"Berapa orang yang berhasil keluar?"
Pria itu menjawab tanpa membuka mata.
"Hanya aku."
Bai Hu berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata.
Di matanya...
Pembentukan Fondasi sudah merupakan ahli.
Mereka mampu terbang dalam jarak pendek.
Mengendalikan Senjata Roh.
Bahkan mampu membunuh puluhan beast tingkat rendah sendirian.
Namun hari ini...
Seorang kultivator seperti itu justru tewas hanya karena seekor Black Iron Bear.
Apa yang sebenarnya terjadi di Pegunungan Seribu Bintang?
Tak lama kemudian...
Seorang murid Aula Alkimia berlari memasuki ruangan.
"Guru!"
Tetua Guo menoleh.
"Ada apa?"
"Murid dari keluarga Liu datang, wajahnya penuh luka."
"Katanya tetua keluarga mereka juga mengalami serangan beast."
Belum sempat Tetua Guo menjawab.
Seorang murid lain kembali masuk.
"Keluarga Wang juga mengirim orang."
"Mereka kehilangan dua kultivator Pengumpul Qi Puncak."
Liang Chen langsung berubah pucat.
Berita seperti ini...
Biasanya baru terdengar beberapa bulan sekali.
Hari ini...
Tiga kabar buruk datang hampir bersamaan.
Tetua Guo segera mengambil keputusan.
"Liang Chen."
"Ya, Guru."
"Kirim pesan kepada Aula Alkimia cabang Kota Qinghe."
"Mulai hari ini seluruh murid dilarang memasuki Pegunungan Seribu Bintang."
"Baik!Lalu..."
Beliau memandang murid lain.
"Persiapkan seluruh persediaan Pil Penyembuh."
"Termasuk Pil Pemulih Qi."
"Mungkin dalam beberapa hari ke depan kita akan menerima banyak korban."
Para murid segera bergerak.
Ruang pengobatan yang tadi masih tenang berubah sibuk.
Suara langkah kaki bersahutan.
Pil dipindahkan.
Ramuan mulai dipanaskan.
Tungku alkimia kembali dinyalakan.
Semua orang bekerja lebih cepat.
Di sudut ruangan...
Bai Hu masih berdiri memandangi kultivator lepas yang terluka,
Tetua Guo berjalan menghampirinya.
"Apa kau takut?"
Bai Hu terdiam beberapa saat.
Lalu menggeleng pelan.
"Tidak."
Tetua Guo mengangkat alis.
"Benarkah?"
Bai Hu memandang pria yang sedang dirawat itu.
"Aku hanya berpikir , bahkan kultivator Pembentukan Fondasi bisa mati, berarti aku harus menjadi jauh lebih kuat."
Tetua Guo menatap Bai Hu cukup lama.
Kemudian tersenyum tipis.
"Itu jawaban yang bagus,tetapi ingatlah
"Kekuatan tidak akan datang begitu saja"
Bai Hu mengangguk sungguh-sungguh.
Sementara itu...
Jauh di utara Kota Qinghe.
Ratusan li dari tembok kota.
Kabut tipis menyelimuti hutan di kaki Pegunungan Seribu Bintang.
Beberapa mayat beast bergelimpangan di tanah.
Seekor serigala taring besi Tingkat Dua Tahap Akhir terbaring dengan leher hampir putus.
Di dekatnya.
Dua kultivator lepas berpakaian lusuh berdiri sambil terengah-engah.
"Kita harus kembali."
Salah seorang dari mereka baru saja melangkah.
Tiba-tiba...
Tanah di bawah kakinya bergetar pelan.
Buk...
Buk...
Buk...
Getaran itu sangat lemah
Namun berlangsung terus-menerus.
Kedua kultivator itu saling berpandangan.
"Lari!"
Mereka berdua segera mengendalikan Pedang Roh masing-masing dan melesat meninggalkan tempat itu.
Beberapa tarikan napas kemudian...
Semak-semak di hadapan mereka berguncang hebat.
Puluhan...
Lalu ratusan beast keluar bersamaan.
Serigala Taring Besi
Serigala Bayangan Bulan.
Ular Sisik Hijau.
Beruang Kulit Baja.
Singa Api
Kera Gunung
.
Semuanya berlari ke arah luar pegunungan.
Tidak ada yang saling menyerang.
Mereka melarikan diri.
di suatu wilayah pegunungan seribu bintang yang belum pernah dijamah manusia...
Terdengar suara retakan yang sangat pelan.
Krek...
Suara itu hanya berlangsung sesaat.
Namun...
Pada detik yang sama.
Seluruh beast di Pegunungan Seribu Bintang serentak mengangkat kepala ke arah puncak terdalam.
Lalu...
Mengeluarkan raungan yang mengguncang langit.
Auuuuuuuuuu—!
Raungan itu menggema hingga keluar dari pegunungan.
Sampai ke tembok Kota Qinghe.
Membuat setiap kultivator yang mendengarnya perlahan mengubah ekspresi wajah mereka.
— Bersambung—
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut