NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:75.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Tak lama kemudian, aroma nasi goreng memenuhi seluruh ruang tamu. Laras keluar dari dapur sambil membawa sebuah nampan berisi sepiring nasi goreng hangat, semangkuk acar, dan secangkir teh susu yang masih mengepulkan uap.

Aurora masih tertidur tenang di dalam baby box, sesekali menggerakkan tangan mungilnya. Laras meletakkan nampan itu di atas meja.

"Silakan, Tuan."

Evan menoleh dan tersenyum.

"Wah ... cepat sekali."

"Saya memang sudah terbiasa memasak." Laras mendorong piring itu sedikit lebih dekat.

"Dimakan selagi masih hangat, Tuan."

Evan mengangguk. "Terima kasih."

Tanpa banyak bicara, ia langsung menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Beberapa detik kemudian matanya membulat.

"Enak."

Laras tersenyum tipis. "Baguslah kalau sesuai selera Tuan."

"Bukan cuma sesuai." Evan kembali mengambil suapan berikutnya.

"Sudah lama aku tidak makan nasi goreng seenak ini." Ucapan itu membuat Laras hanya tersenyum sopan.

Ia berdiri tidak jauh dari baby box, memastikan Aurora tetap tertidur dengan nyaman. Namun, di balik senyum tenangnya. Tatapan Laras perlahan beralih kepada Evan.

Pria itu tampak menikmati setiap suapan dengan wajah yang begitu damai.

Sulit dipercaya, wajah setenang itu pernah menghancurkan seluruh hidupnya. Sulit dipercaya, pria yang kini terlihat hangat di depan putrinya adalah orang yang tega merampas perusahaan, harga diri, bahkan bayinya. Tanpa sadar, kedua tangan Laras mengepal erat di balik tubuhnya.

Kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan sendiri.

'Tenang...' batinnya. 'Belum waktunya.'

Ia menarik napas panjang hingga amarah di dadanya perlahan mereda. Saat kembali mengangkat kepala, Laras menyadari ada beberapa butir nasi menempel di sudut bibir Evan.

"Tuan..."

Evan menghentikan aktivitas makannya. "Hm?"

"Ada..." Laras melangkah mendekat.

"Sebentar."

Sebelum Evan sempat bertanya, Laras mengambil selembar tisu dari atas meja. Dengan gerakan yang sangat alami, ia mengusap pelan sudut bibir Evan.

"Ada nasi." Bisiknya lembut.

Evan membeku, jarak mereka begitu dekat. Tatapan keduanya tanpa sengaja bertemu.Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara. Evan hanya mampu menatap wajah Laras yang diterangi cahaya lampu ruang tamu.

Sementara Laras segera menarik tangannya kembali.

"Sudah bersih, Tuan."

Evan bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.

Suara pintu utama yang dibuka dengan keras memecahkan keheningan.

"Kalian sedang apa?!" Suara wanita itu menggema ke seluruh rumah.

Laras dan Evan spontan menoleh bersamaan.

Di ambang pintu, Carolin berdiri dengan napas memburu. Wajahnya dipenuhi amarah. Tatapannya tepat tertuju pada Laras yang masih berdiri sangat dekat dengan Evan. Sorot matanya seketika berubah tajam.

"Apa yang sedang kalian lakukan?!" Suara Carolin menggema sekali lagi, jauh lebih keras dari sebelumnya.

Suasana rumah yang semula tenang. Dalam sekejap berubah menjadi mencekam. Suara Carolin yang melengking membuat seluruh rumah seketika sunyi. Tatapan tajamnya bergantian mengarah kepada Evan dan Laras.

"Kalian sedang apa?" bentaknya.

Laras langsung mundur selangkah.

"Nyonya, ini tidak seperti yang Nyonya pikirkan."

"Tidak seperti yang kupikirkan?" Carolin tertawa sinis. "Aku melihatnya dengan mataku sendiri!"

Ia menunjuk Laras dengan jari gemetar karena emosi.

"Kau sengaja menggoda suamiku, ya?"

Laras menggeleng cepat. "Tidak, Nyonya. Saya hanya membersihkan sisa nasi yang menempel di sudut bibir Tuan, itu saja."

"Bohong!" Bentakan Carolin menggema. "Jangan kira aku bodoh! Aku tahu perempuan seperti apa kau!"

Laras menundukkan kepala.

"Saya benar-benar tidak punya niat seperti itu. Maaf kalau tindakan saya membuat Nyonya salah paham."

Carolin justru semakin naik pitam melihat sikap Laras yang tetap tenang.

"Berhenti berpura-pura polos! Kau baru sebulan bekerja di rumah ini, tapi sudah berani mencari perhatian suamiku!"

Mata Laras mulai berkaca-kaca.

"Saya tidak pernah berniat merebut apa pun dari Nyonya. Saya hanya menjalankan pekerjaan saya."

Melihat Laras terus disalahkan, Evan akhirnya berdiri.

"Sudah, Car."

Carolin menoleh tajam. "Jangan ikut campur!"

"Aku harus ikut campur." Evan menatap istrinya dengan serius.

"Aku ada di sini dari awal. Laras tidak melakukan kesalahan. Aku yang meminta dia mendekat karena ada nasi di bibirku. Dia hanya membantu membersihkannya, itu saja."

Carolin menggeleng tidak percaya.

"Masih sempat membelanya?"

"Aku membela karena memang dia tidak salah."

"Kamu tahu apa yang ku lihat saat masuk? Kalian berdiri sangat dekat! Kalau aku tidak pulang sekarang, entah apa lagi yang terjadi!"

Evan mulai kehilangan kesabaran.

"Carolin! Cukup!" Suara Evan yang meninggi membuat Carolin terdiam sesaat.

"Laras bekerja dengan baik. Dia merawat Aurora siang dan malam. Dia bahkan hampir tidak pernah mengeluh. Jangan menuduh orang tanpa bukti."

Ucapan itu justru terasa seperti tamparan bagi Carolin.

"Kamu lebih percaya dia daripada istrimu sendiri?"

"Bukan begitu."

"Lalu bagaimana?"

"Sejak dia datang, kamu terus membelanya!" Carolin menatap Laras penuh kebencian.

"Sekarang aku mengerti. Kenapa Aurora lebih nyaman dengannya. Kenapa kamu selalu memujinya." Tatapan Carolin berubah semakin dingin.

"Rupanya memang ada maksud lain."

Laras menggeleng sambil menahan air mata.

"Nyonya ... saya mohon jangan berkata seperti itu. Saya hanya ingin bekerja dengan baik."

Namun, semakin Laras terlihat lemah, semakin besar keinginan Evan untuk melindunginya.

"Cukup, Car." Evan berdiri di depan Laras seolah menjadi pembatas di antara kedua wanita itu.

"Aku tidak akan membiarkanmu terus menyalahkannya."

Melihat suaminya berdiri membela Laras, hati Carolin terasa semakin panas. Ia mengepalkan kedua tangannya.

"Baik, kalau memang itu pilihanmu..." Carolin tersenyum tipis, tetapi sorot matanya dipenuhi amarah.

"Mulai hari ini ... Aku sendiri yang akan membuktikan siapa sebenarnya perempuan itu."

Setelah mengatakan itu, Carolin berbalik meninggalkan ruang tamu dengan langkah cepat, dan menaiki tangga lantai dua, dengan langkah yang tergesa-gesa.

Pintu kamarnya ditutup begitu keras hingga membuat Aurora yang sedang tertidur di dalam baby box mulai bergerak gelisah.

Sementara Laras menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Rencana yang ia susun perlahan mulai berhasil. Benih-benih keretakan di antara Evan dan Carolin kini tumbuh semakin dalam.

Suasana ruang tamu kembali hening setelah Carolin pergi. Laras masih berdiri di tempatnya. Kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara kepalanya tertunduk.

Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas panjang.

"Maafkan saya, Tuan." Suaranya terdengar lirih.

"Saya benar-benar tidak bermaksud membuat rumah tangga Tuan dan Nyonya bertengkar."

Evan menatap Laras. "Ini bukan salahmu."

"Tapi..." Laras menggeleng pelan.

"Tetap saja, kalau saya tidak membersihkan nasi di wajah Tuan, mungkin Nyonya tidak akan salah paham."

Ia mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya dipenuhi rasa bersalah.

"Tuan memang orang yang sangat baik. Selama saya bekerja di sini, Tuan selalu menghargai saya sebagai karyawan. Orang seperti Tuan ... pasti disukai banyak wanita."

Evan tersenyum kecil mendengar pujian itu.

Namun, Laras segera melanjutkan ucapannya.

"Tapi saya tahu batas saya. Saya sadar Tuan sudah beristri. Saya datang ke rumah ini hanya untuk bekerja dan merawat Baby Aurora. Saya tidak pernah berniat mengambil tempat siapa pun."

Ucapan itu membuat hati Evan terasa hangat.

Di matanya, Laras bukan hanya wanita yang lembut, tetapi juga tahu menempatkan diri. Tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajahnya.

"Kau terlalu memikirkan semuanya."

"Tuan..."

"Aku mengenal Carolin. Nanti emosinya juga reda."

Laras justru menggeleng.

"Menurut saya, sebaiknya Tuan yang mengalah."

Evan mengernyit. "Mengalah?"

"Iya." Laras tersenyum tipis.

"Bagaimanapun juga, Nyonya adalah istri Tuan. Mungkin tadi beliau hanya cemburu karena melihat kami berdiri terlalu dekat. Kalau saya berada di posisi Nyonya, mungkin saya juga akan salah paham."

Evan terdiam.

"Lagi pula..." lanjut Laras pelan, "rumah tangga tidak akan bertahan kalau tidak ada yang mau meminta maaf lebih dulu. Tuan sebaiknya menemui Nyonya. Jelaskan semuanya baik-baik. Saya tidak ingin menjadi penyebab hubungan Tuan dan Nyonya semakin buruk."

Mata Evan menatap Laras beberapa saat. Semakin lama mengenalnya, semakin ia merasa wanita itu berbeda. Tidak pernah memanfaatkan keadaan. Tidak pernah mencari perhatian. Bahkan, ketika dirinya dibela, Laras justru memintanya untuk mengejar istrinya.

"Kau benar-benar wanita yang baik, Laras."

Laras hanya tersenyum kecil. "Saya hanya tidak ingin ada kesalahpahaman."

Evan mengangguk pelan.

"Baik, aku akan bicara dengan Carolin. Terima kasih sudah mengingatkanku."

"Sama-sama, Tuan."

Evan pun melangkah menuju lantai atas. Sementara itu, Laras tetap berdiri di ruang tamu hingga langkah kaki Evan menghilang di balik tangga.

Perlahan, senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. Ia menatap ke arah lantai atas dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Semakin kau menganggapku wanita yang baik..." batinnya.

"Semakin mudah bagiku membuatmu kehilangan segala yang paling berharga."

1
merry
laras peka dikit napa jgn minder lgian elang bantu kmu dr awal,,, kshn loh ayo lang ungkapin donk perasaan mu jgn diem ajjj,,
Pjjmakkem
mau dong kisah elang yg udah move on genre komedi, biar ga sedih2 amat..
jd pas ketemu laras lg, elang da bs tersenyum tanpa rasa cinta sendirian, krn dia da merasa dunia nya gong dicintai ugal2an sm wanita lain
Pjjmakkem: trus laras ttp jd wanita kuat tanpa rasa pelakor 😍
total 1 replies
Nurjannah Rajja
Hancurin juga perusahaan bagaskara dong, dia kan bersekongkol pada waktu itu.
Runi Mayantri
suka critany
Runi Mayantri
buat jodoh elang yg badas ya thor,biar mkin seru,gak usah ma laras gpp thor,yg pntg elang bsa move on n bhgia
vania larasati
lanjut
Ita rahmawati
kok ya nyesek amat sih Lang nasib cintamu 😔
kasih jodoh elang dong thor
Ita rahmawati
sidangnya masih berlanjut
Ita rahmawati
gimana hubungan antara Amelia dn Evan dulu ya saat jd suami istri 🤔
apakah aurora bener bener bibitnya Evan SM Caroline,, kasian Amelia ya ya😔 tp mau bagaimanapun dia yg mengandung jd ttep kasih sayangnya GK main main
May Satibi Satibi
yuhuuu Thor ku tunggu jlanya mau maju mundur kiri atau kanan🤭🤭🤭🤭💪💪💪💪💪💪💪
Les Tary
Laras ga peka
Jaya Fandi
elang,,,luar biasa sekali kamu,,semoga mendapatkan jodoh yg luar biasa juga elanh
Aysah Meta
Bener sih apa kata elang,kenapa gak test DNA.
Takutnya emang bukan anak Caroline tapi anak Evan dan Amelia..tapi bener² di rahasiakan sama si Evan.
wihhh..jadi penasaran.
Masih ada yg janggal dr sekian episode ini
SasSya
kasihan sekali anak sulung Bu Araaa
kisah cintanya mengsediiihh 🥲
SasSya
Laras 🫂🫂🫂
semoga menemukan kebahagiaan dan tidak trauma untuk menjalin hubungan baru
bersama siapapun
Elang atau yg lain
SasSya
paiiiiittttt kisah mu Eeelllll
SasSya
😔🥺🥺🥺🥺🥺😭😭😭😭
sampai akhir jadi Sad boy Eeellll
sini peluk siniiiii🫂🫂🫂🫂
SasSya
Sampai Akhir persidangan Rahasia Amelia yg berubah jdi Laras tidak di ungkap
memang sebaiknya begitu
SasSya
wawwwww
seumur hidup Za iniii
👍👍👍👍
SasSya
persidangan ternyata melelahkan memakan waktu lama sekali zaa
ber bulan2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!