Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Ryden menatap balik wanita anggun yang duduk di atas singgasana itu, tidak menundukkan pandangannya meski tekanan Haki yang dipancarkannya terasa begitu berat menghantam kesadarannya.
"Namaku Ryden Vale," jawabnya tenang, suaranya tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan meski situasinya jelas sangat berbahaya.
"Aku dan temanku tersesat mencari jalur pelayaran, kami tidak bermaksud melanggar wilayah kalian."
Wanita itu—yang kini Ryden yakini sepenuhnya adalah Boa Hancock, Ratu Kuja sekaligus salah satu Shichibukai paling ditakuti—mengangkat alisnya sedikit, tampak sedikit terkejut dengan keberanian Ryden yang tidak gentar di hadapannya. Kebanyakan pria yang pernah dibawa ke hadapannya biasanya sudah gemetar ketakutan bahkan sebelum ia berkata apa pun.
"Kau tidak takut padaku," ucap Hancock, nada suaranya sedikit menyiratkan rasa penasaran yang tak biasa. "Kebanyakan pria yang berdiri di posisimu sekarang sudah pingsan ketakutan hanya dengan melihat wajahku."
"Aku menghormati kekuatanmu," jawab Ryden hati-hati, memilih kata-katanya dengan seksama. "Tapi rasa takut tidak akan membantu situasi kami saat ini."
Dua kakak Hancock yang berdiri di sampingnya—yang Ryden kenali sebagai Sandersonia dan Marigold dari ingatannya—saling bertukar pandang terkejut, jelas belum pernah menyaksikan seorang pria bersikap seperti ini di hadapan adik mereka.
"Kakak, sikapnya aneh," bisik Sandersonia pelan, meski masih cukup terdengar oleh Ryden berkat pendengarannya yang terlatih.
Hancock mengangkat tangannya, memberi isyarat diam kepada kakak-kakaknya, matanya masih terfokus penuh pada Ryden. "Rambut putih, mata merah, jubah dengan lambang bulan sabit terbalik... aku pernah mendengar rumor tentang seorang buronan dengan ciri-ciri sepertimu. Mereka menyebutmu 'Sang Peretak', bukan?"
"Reputasiku ternyata sudah sampai sejauh ini juga," Ryden sedikit terkejut, meski berusaha tidak menunjukkannya secara berlebihan.
"Aku mendengar banyak hal tentang dunia luar," jawab Hancock, nada suaranya berubah sedikit lebih lunak meski tetap menjaga jarak formal. "Kekuatan macam apa yang kau miliki, hingga berani menyusup ke pulau yang dijaga ratusan prajurit terlatih tanpa perlawanan berarti?"
Sebelum Ryden sempat menjawab, salah seorang prajurit yang berdiri di dekat pintu tiba-tiba berlari masuk dengan wajah panik, terengah-engah menyampaikan kabar mendesak. "Yang Mulia! Kapal Angkatan Laut terdeteksi mendekati perairan pulau kita! Sepertinya mereka sedang memburu buronan lain yang kebetulan melarikan diri ke arah sini!"
Ketegangan langsung menyelimuti ruangan singgasana. Hancock bangkit berdiri, wajahnya berubah serius sepenuhnya. "Berapa banyak kapal?"
"Tiga kapal perang, Yang Mulia. Dan... salah satu perwira yang memimpin sepertinya cukup berpengalaman, berdasarkan formasi penyerangan mereka."
Ryden merasakan firasat buruk mulai muncul, insting bertahun-tahun mengarungi lautan berbahaya memberitahunya bahwa situasi ini bisa berkembang menjadi jauh lebih rumit dari sekadar interogasi sederhana. "Kalau boleh aku bertanya," Ryden memberanikan diri bersuara, "apakah kedatangan Angkatan Laut ini ada hubungannya dengan kedatangan kami?"
Hancock menatap tajam ke arah Ryden, mempertimbangkan sesuatu dalam pikirannya sebelum akhirnya menjawab. "Kemungkinan besar tidak, tapi kehadiran kalian di sini rumit menambah situasi. Pulau ini adalah wilayah terlarang bagi Angkatan Laut, namun jika mereka mengetahui ada buronan bernilai tinggi seperti dirimu bersembunyi di sini, mereka mungkin nekat melanggar batas demi menangkapmu."
"Aku tidak ingin membawa masalah bagi pulaumu," ucap Ryden serius, tekad terpancar jelas di matanya. "Jika perlu, aku bersedia pergi sekarang untuk mengalihkan perhatian mereka jauh dari sini."
Kata-kata itu tampak mengejutkan Hancock, keningnya sedikit berkerut mengamati Ryden dengan pandangan baru—sebuah pandangan yang mulai bercampur dengan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya terhadap seorang pria mana pun dalam hidupnya.
"Kau bersedia mengorbankan dirimu sendiri, demi pulau yang baru saja menahanmu sebagai tawanan?" tanya Hancock, nada suaranya menyiratkan rasa tidak percaya sekaligus kekaguman tersembunyi.
"Kalian tidak bersalah dalam situasi ini," jawab Ryden sederhana. "Lagipula, aku sudah terbiasa menghadapi Angkatan Laut sendirian."
Elira yang sejak tadi berdiri diam di samping Ryden, menatapnya khawatir namun tidak berkata apa-apa, mempercayai sepenuhnya keputusan yang akan diambil Ryden dalam situasi genting ini.
Sementara itu, di dalam hati Hancock, benih ketertarikan yang aneh dan tak terduga mulai tumbuh terhadap pria asing yang berdiri dengan begitu tenang di hadapan kekuatan penuh dirinya.