NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vinna naa

Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.

Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.

Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Ketika Singa Belanja Dapur

Keberhasilan Kimberly menaklukkan arisan sosialita dengan sayur lodeh menjadi penutup cerita yang manis minggu itu.

Namun, efek samping dari kejadian itu justru menular pada Justin. Sang Tuan Besar Mafia tampaknya mulai mengembangkan obsesi baru yang tidak ada hubungannya dengan penyelundupan senjata atau perebutan wilayah kekuasaan: dia ingin ikut campur dalam urusan belanja logistik dapur.

Sabtu pagi yang cerah, Kimberly sudah bersiap-siap dengan pakaian santainya, dia mengenakan kaos katun putih longgar, celana kulot hitam, dan membawa sekeranjang anyaman kecil.

Dia berniat pergi ke pasar tradisional yang terletak agak jauh di pinggiran kompleks untuk membeli persediaan bumbu dapur dan jahe segar.

Saat dia baru saja hendak melangkah melewati lobi utama, sesosok tubuh tinggi tegap sudah berdiri di dekat pintu, menghalangi jalan.

Justin berdiri di sana, namun penampilannya membuat Kimberly tertegun hingga mengerjapkan matanya berulang kali.

Pria itu tidak memakai setelan jas hitam formalnya, dia mengenakan kaos polo hitam polos yang melekat ketat di dada bidangnya, celana jin gelap, dan sepasang sepatu sneakers kasual.

Meskipun pakaiannya santai, aura dominan, tatapan mata elangnya yang tajam, serta tato naga yang mengintip samar di lengan kanan tetap membuatnya terlihat seperti seorang pembunuh bayaran yang sedang menyamar.

Di belakangnya, Marco berdiri tegak sambil membawa tiga buah tas belanja kain berukuran besar dengan wajah tanpa ekspresi.

"Mas Justin mau ke mana? Rapi sekali?" tanya Kimberly bingung.

"Ikut denganmu," jawab Justin pendek, suaranya berat dan mutlak.

"Eh? Aku kan mau ke pasar tradisional, Mas. Mau beli cabai, bawang, sama jahe. Tempatnya becek, ramai, dan panas. Mas Justin di rumah saja, ya?" bujuk Kimberly.

Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika seorang penguasa dunia bawah tanah berjalan di antara lapak penjual ikan asin.

Justin tidak menjawab, dia justru maju selangkah, merebut keranjang anyaman dari tangan Kimberly, lalu menggandeng jemari kecil istrinya dengan erat.

"Tidak ada bantahan, Kim. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat ramai tanpa pengawasanku. Marco, siapkan mobil biasa."

"Siap, Tuan Besar," jawab Marco tanggap.

Kimberly hanya bisa mengembuskan napas pasrah, di dalam hatinya, dia hanya bisa berdoa agar suaminya tidak meledakkan pasar jika ada pedagang yang berani menaikkan harga cabai terlalu tinggi.

Pasar tradisional pagi itu sangat padat, suara riuh tawar-menawar berpadu dengan aroma khas sayuran segar, bumbu giling, dan amisnya lapak ikan.

Begitu rombongan kecil ini melangkah masuk, suasana di sekitar pintu pasar mendadak berubah.

Kehadiran Justin yang bertubuh jangkung, berwajah tampan namun sangat dingin dan intimidatif, langsung membuat para pengunjung pasar refleks memberi jalan.

Orang-orang menepi seolah-olah yang sedang lewat adalah seorang pejabat tinggi negara atau seorang gangster internasional.

Marco berjalan dua langkah di belakang mereka, matanya berpendar waspada mengawasi setiap pasang tangan pedagang yang memegang pisau pemotong daging, memastikan tidak ada ancaman bagi sang nyonya.

Kimberly berjalan dengan santai, mengabaikan tatapan heran orang-orang, dia berhenti di depan sebuah lapak sayur milik seorang ibu paruh baya.

"Permisi, Bu. Cabai rawit merahnya satu kilo berapa ya?"

Pedagang wanita itu hendak menjawab dengan ramah, namun begitu matanya melirik ke arah pria di samping Kimberly yang sedang menatap tumpukan cabai dengan pandangan sedingin es seolah sedang memeriksa kiriman paket gelap si penjual langsung menelan ludah dengan gugup.

"E-Eh... biasanya tiga puluh ribu, Neng. Tapi... tapi buat Neng dan... Tuan di sebelahnya, dua puluh lima ribu saja deh!" ucap si penjual dengan suara agak gemetar.

Kimberly mengernyitkan dahi, dia tahu ini karena efek suaminya yang terlalu menyeramkan, Kimberly menoleh, menatap Justin yang berdiri kaku di sampingnya.

"Mas, matanya jangan melotot begitu. Ibu penjualnya jadi ketakutan. Coba tolong senyum sedikit."

Justin berdeham sejenak, dia mencoba menarik sudut bibirnya ke atas, berusaha menampilkan senyuman ramah sesuai perintah istrinya.

Namun, hasilnya justru terlihat seperti seringai kejam seorang penjahat yang siap mengeksekusi korbannya.

Penjual sayur itu langsung pucat pasi dan buru-buru memasukkan cabai ke dalam kantong plastik dengan tangan gemetar.

"Ini, Neng... cabainya. Bonusnya saya tambah setengah kilo. Tolong... jangan apa-apa kan lapak saya." Kimberly menepuk jidatnya sendiri dengan gemas, sementara Justin tampak bingung di tempatnya.

"Aku sudah senyum, Kim," bisik Justin membela diri.

"Senyum Mas Justin itu mirip orang mau ngajak berantem," balas Kimberly berbisik, menyerahkan uang pas kepada penjual tersebut sambil meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju lapak bumbu, kali ini, Kimberly berniat membeli jahe merah dan kunyit untuk ramuan teh herbal suaminya.

Saat Kimberly sedang sibuk memilih jahe yang bagus, seorang pria muda bertubuh tambun yang tampaknya merupakan preman pasar setempat berjalan mendekat dengan gaya angkuh.

Pria itu membawa sebuah buku catatan kecil dan sebatang rokok yang menyala di mulutnya, dia berniat meminta uang retribusi harian pada pedagang bumbu.

Namun, karena jalanan pasar yang sempit dan padat, preman tersebut tidak sengaja menyenggol bahu kekar Justin dari belakang.

Bruk.

Preman itu terhuyung mundur selangkah, merasa seperti baru saja menabrak dinding beton, dia langsung naik pitam tanpa melihat siapa yang ditabraknya.

"Heh! Punya mata enggak lu?! Kalau jalan lihat-lihat dong—" kata-katanya langsung terputus di tenggorokan.

Justin membalikkan tubuhnya perlahan, sepasang mata elangnya menatap lurus ke bawah, ke arah preman yang tingginya bahkan tidak mencapai bahunya.

Aura membunuh yang sangat pekat dan dingin seketika menguar dari tubuh Justin, membuat suhu di sekitar lapak bumbu itu terasa anjlok drastis.

Marco yang berada di belakang langsung melangkah maju, tangannya sudah menyelinap ke balik kaos polonya, bersiap mencabut senjata jika pria di depan mereka berani bertindak lebih jauh.

Preman pasar itu seketika gemetar hebat, rokok di mulutnya jatuh ke tanah yang becek, nyalinya menciut hingga ke titik nol saat melihat tato naga di lengan Justin dan menyadari bahwa pria di hadapannya ini berada di kasta yang jauh berbeda dengan dirinya. Ini bukan sekadar orang kaya biasa; ini adalah predator puncak dari rantai makanan jalanan.

"M-Maaf... Bang... Tuan... saya tidak sengaja..." cicit preman itu dengan wajah pucat pasi, langsung membungkuk berkali-kali sebelum akhirnya berbalik dan berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri, meninggalkan buku catatannya yang terjatuh.

Para pedagang di sekitar lapak langsung menatap Justin dengan pandangan kagum bercampur ngeri, preman yang biasanya memeras mereka setiap hari, lari ketakutan hanya karena satu tatapan mata dari suami Kimberly.

Kimberly menghela napas panjang, lalu memegang lengan kekar Justin, menepuknya dengan lembut untuk menurunkan tensi ketegangan.

"Sudah, Mas. Jangan diladeni. Ini jahenya sudah selesai dipilih. Ayo masukkan ke tas yang dibawa Marco."

Mendengar suara lembut Kimberly, badai amarah di mata Justin seketika lenyap berganti ketenangan, pria itu mengangguk patuh.

Dia mengambil kantong berisi jahe dari tangan Kimberly dan menyerahkannya pada Marco yang langsung menerimanya dengan sigap.

"Ada lagi yang mau dibeli, Istriku?" tanya Justin, suaranya kini terdengar sangat lembut dan penuh perhatian, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan suaranya saat menghadapi preman tadi.

"Sudah cukup kok, Mas. Ayo kita pulang. Aku mau buatkan wedang jahe hangat untuk Mas Justin biar pikirannya tidak tegang terus," jawab Kimberly tersenyum manis, menggandeng lengan suaminya menuju pintu keluar pasar.

Siang itu, pasar tradisional kembali ke ritme normalnya setelah kepergian sang penguasa kegelapan.

Bagi Kimberly, belanja dapur kali ini penuh dengan kejutan yang menggelikan, di balik statusnya yang ditakuti se-ibu kota,

Justin membuktikan bahwa dia bersedia merendahkan egonya demi menemani sang istri masuk ke dunia kesederhanaan, menjadikan rumah tangga mereka sebuah cerita unik yang tak pernah membosankan untuk dijalani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!