NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan yang Tidak Pernah Ada

Suara sistem terus menggema di seluruh ruangan.

"SUBJEK A-07 MEMILIH."

Kalimat itu muncul berulang kali di setiap layar.

Aluna hanya berdiri diam.

Memilih?

Tapi memilih apa?

Dan kenapa semua orang seolah menunggu keputusannya?

"Niel..."

Suaranya terdengar pelan.

"Apa maksud semua ini?"

Niel menatap layar.

Namun kali ini...

Dia tidak punya jawaban.

Karena untuk pertama kalinya, ia juga tidak tahu apa yang sedang direncanakan.

Ayahnya berjalan mendekati panel kontrol.

"Proyek Takdir selalu berakhir di titik ini."

Niel langsung menatapnya.

"Berhenti bicara seperti dia sebuah objek."

Pria itu menghela napas.

"Kau masih tidak mengerti."

"Justru karena aku mengerti..."

Niel mengepalkan tangan.

"Aku tahu ini salah."

Suasana menjadi sunyi.

Ayah Niel menatap anaknya.

"Kau benar-benar berubah."

"Atau mungkin..."

"Kau akhirnya menjadi dirimu sendiri."

_________________________________________

Tiba-tiba layar utama menyala.

Sebuah rekaman muncul.

Seorang anak perempuan kecil terlihat duduk sendirian di ruangan putih.

Aluna langsung membeku.

"Itu aku..."

Di layar, Aluna kecil terlihat ketakutan.

Kemudian seorang anak laki-laki masuk.

Niel kecil.

Dia membawa sesuatu di tangannya.

Sebuah boneka kecil.

"Aku bilang jangan menangis."

Suara Niel kecil terdengar.

"Aku di sini."

Aluna menatap rekaman itu dengan mata berkaca-kaca.

Karena meskipun ia tidak mengingatnya...

hatinya mengenal perasaan itu.

"Aku pernah merasa aman bersamamu..."

Bisiknya.

Niel menatapnya.

"Kamu selalu aman."

Aluna menoleh.

"Bahkan saat itu?"

Niel diam.

Karena jawaban sebenarnya adalah...

iya.

Bahkan ketika mereka masih kecil.

Ia selalu mencoba melindungi Aluna.

__________________________________________

Rekaman berubah.

Kali ini menunjukkan ruangan berbeda.

Beberapa peneliti berdiri mengelilingi mereka.

Suara seorang ilmuwan terdengar.

"Subjek N menunjukkan keterikatan emosional yang tidak stabil."

"Hubungan dengan A-07 harus dihentikan."

Lalu terdengar suara anak kecil.

"Tidak."

Semua orang terdiam.

Itu suara Niel kecil.

"Aku tidak akan meninggalkan dia."

Aluna menutup mulutnya.

Air matanya jatuh.

"Niel..."

Pria itu menatap layar.

Ia bahkan tidak ingat pernah berkata seperti itu.

Tapi ternyata...

versi kecil dirinya sudah membuat pilihan.

Jauh sebelum ia memahami apa arti melindungi seseorang.

_________________________________________

Ayah Niel mematikan layar.

"Cukup."

Niel menoleh tajam.

"Kenapa dihentikan?"

"Karena kalian tidak seharusnya melihat semuanya."

"Kenapa?"

Niel melangkah mendekat.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Ayahnya diam.

Lalu berkata,

"Karena setelah kejadian itu..."

"kau bukan hanya kehilangan ingatan."

"Kau kehilangan sesuatu yang lebih penting."

"Apa?"

"Kemampuan untuk mengingat perasaanmu sendiri."

Niel terdiam.

Aluna juga ikut diam.

Maksudnya...

Niel tidak hanya melupakan kejadian masa lalu.

Tapi sebagian dari dirinya juga ikut hilang.

__________________________________________

Tiba-tiba alarm berbunyi lebih keras.

03:00:00

Darren melihat panel.

"Tuan."

"Ada masalah."

"Apa?"

"Sistem mulai mengunci seluruh ruangan."

Ayah Niel langsung berubah serius.

"Seseorang mengaktifkan protokol terakhir."

Niel menatapnya.

"Bukan kamu?"

Pria itu menggeleng.

"Tidak."

"Kalau bukan kamu..."

Semua mata saling berpandangan.

Berarti ada seseorang yang lebih tinggi.

Seseorang yang selama ini mengendalikan semuanya.

__________________________________________

Pintu besar di belakang mereka terbuka perlahan.

Suara langkah kaki terdengar.

Satu orang masuk.

Namun kali ini...

bukan pasukan.

Bukan peneliti.

Hanya seseorang yang berjalan santai.

Pria itu tersenyum.

"Menarik."

"Semua orang berkumpul di tempat yang sama."

Niel langsung mengenali wajah itu.

Orang yang selama ini hanya muncul dalam bayangan.

Orang yang mengirim pesan.

Orang yang mengawasi mereka.

Adrian menatapnya.

"Kau."

Pria itu tersenyum.

"Ya."

"Aku yang sebenarnya menjalankan permainan ini."

Niel menatap tajam.

"Siapa kamu?"

Pria itu berhenti.

Lalu menjawab,

"Orang yang memastikan takdir kalian tetap berjalan."

Tatapannya berpindah kepada Aluna.

"Dan sekarang..."

"Kita sampai pada pilihan terakhir."

_________________________________________

Ruangan itu kembali sunyi.

Pria yang baru masuk berdiri di tengah cahaya merah dari alarm.

Tidak terburu-buru.

Tidak terlihat takut.

Seolah seluruh tempat ini memang berada dalam kendalinya.

Niel menatapnya tajam.

"Kau."

Pria itu tersenyum.

"Ya."

"Orang yang selama ini mencari jawaban."

Darren langsung bergerak sedikit ke depan.

Namun Niel mengangkat tangannya.

Memberi tanda untuk berhenti.

Ada sesuatu yang berbeda dari pria ini.

Dia bukan seperti orang-orang sebelumnya.

Dia tidak datang untuk menyerang.

Dia datang untuk berbicara.

"Siapa namamu?"

tanya Niel.

Pria itu tersenyum tipis.

"Kau bisa memanggilku Leon."

Adrian langsung menatapnya.

Ekspresinya berubah.

"Mustahil."

Leon menoleh.

"Sudah lama, Adrian."

Suasana berubah.

Niel menangkap perubahan itu.

"Kalian saling mengenal."

Adrian tidak menjawab.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

____________________________________

Leon berjalan mendekati layar utama.

"Selama bertahun-tahun..."

"Aku melihat manusia mencoba mencari arti dari hidup mereka."

"Mereka berpikir pilihan adalah sesuatu yang bebas."

Ia menyentuh layar.

Menampilkan data Proyek Takdir.

"Tapi kenyataannya..."

"Semua keputusan dipengaruhi oleh sesuatu."

"Pengalaman."

"Trauma."

"Ingatan."

"Perasaan."

Aluna menatapnya.

"Jadi semua ini hanya untuk membuktikan teori?"

Leon tersenyum.

"Bukan."

"Ini untuk membuktikan bahwa seseorang bisa diarahkan."

Kalimat itu membuat Niel mengepalkan tangan.

"Kau menggunakan manusia."

Leon menatapnya.

"Dan kau pikir dunia di luar sana tidak melakukan hal yang sama?"

"Tidak."

Jawaban Niel cepat.

"Karena manusia bukan alat."

Untuk beberapa detik...

Leon hanya diam.

Lalu tersenyum kecil.

"Masih sama."

"Kau selalu menjadi bagian yang tidak bisa dihitung."

__________________________________________

Leon melihat ke arah Aluna.

"Karena itu aku tertarik padamu."

Aluna langsung mundur.

"Aku bukan percobaan."

"Tidak."

Leon menggeleng.

"Kau lebih dari itu."

"Kau adalah bukti bahwa sesuatu yang tidak seharusnya terjadi..."

"bisa mengubah semuanya."

Niel berdiri di depan Aluna.

"Jangan mendekatinya."

Leon menghela napas.

"Selalu begitu."

"Kau menghalangi semua orang yang mencoba mendekatinya."

Niel menatapnya.

"Karena aku tahu orang sepertimu."

"Orang yang menyebut kehancuran sebagai penelitian."

Tiba-tiba layar utama berubah.

Muncul sebuah pilihan.

PILIHAN A:

MENGEMBALIKAN SELURUH INGATAN A-07

PILIHAN B:

MENGHAPUS SELURUH DATA PROYEK TAKDIR

Semua orang terdiam.

Aluna membaca tulisan itu.

"Jadi..."

"Aku harus memilih?"

Leon mengangguk.

"Ya."

"Karena hanya kau yang memiliki akses."

Niel melihat layar.

"Lalu apa akibatnya?"

Leon tidak langsung menjawab.

Dan diamnya membuat Niel semakin curiga.

"Jawab."

Leon akhirnya berkata,

"Jika kau memilih mengembalikan ingatanmu..."

Tatapannya kepada Aluna berubah.

"Kau akan mengetahui semua hal yang terjadi."

"Termasuk alasan kenapa Niel kehilangan sebagian hidupnya."

Aluna menahan napas.

"Lalu pilihan kedua?"

"Jika kau menghancurkan proyek ini..."

Leon menatap mereka.

"Semua data akan hilang."

"Termasuk kemungkinan mengembalikan ingatanmu."

Ruangan menjadi hening.

Pilihan yang diberikan...

bukan pilihan.

Karena keduanya memiliki harga.

___________________________________

Aluna menatap layar.

Lalu menatap Niel.

"Aku takut."

Niel langsung menoleh.

"Aku tahu."

"Aku takut kalau aku mengingat semuanya..."

"Aku tidak akan menjadi orang yang sama lagi."

Niel terdiam.

Karena ia memahami ketakutan itu.

Namun kemudian ia berkata,

"Kalau ingatan itu memang milikmu..."

"Kamu berhak memilikinya kembali."

Aluna menatapnya.

"Tapi bagaimana kalau aku berubah?"

Niel menjawab pelan,

"Aku tetap akan mengenalmu."

Kalimat itu membuat Aluna terdiam.

Karena sekali lagi...

Niel memilih percaya kepadanya.

Bukan kepada masa lalu.

Bukan kepada proyek.

Tapi kepada dirinya.

__________________________________________

Hitungan mundur terus berjalan.

01:00:00

Leon memperhatikan mereka.

"Kalian selalu melakukan hal yang sama."

"Apa?"

"Kalian selalu memilih satu sama lain."

Adrian menatap Leon.

"Dan itu yang tidak pernah bisa kau kendalikan."

Leon tersenyum.

"Mungkin."

"Tapi kali ini..."

Ia melihat Aluna.

"Takdir yang akan memilih."

Lampu ruangan tiba-tiba padam.

Dan ketika menyala kembali...

Leon sudah menghilang.

Namun di layar hanya tersisa satu pesan.

"Waktu hampir habis."

"Pilih dengan bijak, A-07."

Aluna berdiri di depan panel.

Tangannya perlahan terangkat.

Satu keputusan akan mengubah semuanya.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!