NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vira yang Kewalahan

Sebenarnya apa yang dikatakan Farzhan benar adanya. Beban pekerjaannya memang menumpuk luar biasa akhir-akhir ini. Pria itu bekerja seperti mesin tanpa henti, seolah tak punya rasa lelah, sering kali lupa waktu makan, dan yang jelas lupa untuk mengistirahatkan tubuhnya sendiri. Di balik sikap dingin, tenang, dan penampilannya yang selalu sempurna, tubuhnya yang tegap dan atletis itu ternyata tetap memiliki batas kekuatan.

Hujan deras menerpa mobilnya saat pulang kerja semalam, ditambah kelelahan yang sudah menumpuk berbulan-bulan lamanya, akhirnya membuat pertahanan tubuhnya jebol seketika.

Pagi itu, suasana rumah terasa ganjil dan mencekam. Tidak ada suara langkah kaki tegas yang biasa terdengar pukul empat pagi. Tidak ada aroma khas kopi hitam yang menguar dari ruang kerja. Dan yang paling membuat hati Vira berdebar... jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, tapi pintu kamar utama masih tertutup rapat, dan Farzhan belum juga muncul.

Vira yang sudah selesai membereskan ruang tamu dan dapur mulai gelisah bukan main. Ia mendekati pintu kamar itu. Biasanya, ruangan ini adalah wilayah terlarang yang sangat mutlak, tempat di mana Farzhan menetapkan batasan paling ketat. Namun hari ini, rasa khawatir mengalahkan rasa takut dan aturan yang berlaku.

Ia mengetuk pelan, dua kali. "Zhan? Kamu sudah bangun belum? Sarapan sudah siap..."

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara erangan halus, berat, dan terdengar sangat lemah yang menyelinap keluar dari balik pintu tertutup itu.

Jantung Vira mencelos hampir jatuh ke perut. Tanpa pikir panjang lagi, ia memutar gagang pintu yang tidak terkunci secara perlahan dan masuk ke dalam.

Pemandangan di dalam sana membuat mata Vira terbelalak tak percaya. Farzhan Ibrahim, sang pria dingin yang selalu tampil sempurna, kaku, dan menakutkan itu, kini terlihat sangat menyedihkan dan tak berdaya. Ia terbaring meringkuk di bawah tumpukan selimut tebal, wajahnya memerah padam, napasnya terdengar berat, cepat, dan pendek. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya.

"Zhan?!" Vira langsung mendekat dengan langkah tergesa. Ia menyentuh dahi suaminya itu. Tangannya langsung ditarik kembali karena panas yang terasa menyengat. "Ya Ampun! Panasnya sekali! Kamu demam tinggi!"

Farzhan membuka matanya sedikit, pandangannya kabur, sayu, dan sama sekali tak tajam seperti biasanya. Ia menatap Vira dengan tatapan yang layu.

"Vi... " suaranya serak, berat, dan lemah. Sama sekali tak ada wibawa atau aura bosnya. "Dingin... aku kedinginan."

"Kamu sakit, Zhan! Demammu tinggi sekali!" Vira panik setengah mati, tangannya gemetar menyentuh pipi suaminya. "Aku panggil dokter ya? Biar kamu di periksa dan diberi obat."

Tiba-tiba tangan besar dan kekar itu bergerak lemah, namun cukup kuat untuk mencengkeram pergelangan tangan Vira dan menahannya.

"Jangan." gumamnya pelan, matanya terpejam rapat menahan rasa sakit. "Jangan panggil dokter. Aku tidak mau disuntik. Tidak mau ke rumah sakit."

"Tapi kamu kondisinya parah lho! Nanti kenapa-napa gimana?!"

"Tidak mau! Aku hanya butuh istirahat." Farzhan mengerang lagi, menarik selimut sampai menutupi sebagian wajahnya.

"Tolong temani aku... jangan pergi."

Ternyata, Farzhan yang sakit itu bukan Farzhan yang biasa. Itu adalah makhluk yang sangat berbeda. Seolah jiwanya telah berganti. Jika saat sehat ia adalah singa buas yang galak, disiplin, dan penuh aturan, saat sakit ia berubah menjadi bayi besar yang super manja, rewel, dan sangat menuntut.

Hari pertama, Vira benar-benar merasa kewalahan setengah mati.

Tugas rumah tangga yang banyak tidak berkurang sedikit pun. Ia tetap harus memasak, tetap harus menjaga kebersihan rumah sesuai standar tinggi yang ditetapkan, tetap harus mematuhi setiap poin aturan Versi 2.0 itu. Tapi sekarang, ada tambahan tugas utama yang jauh lebih berat: Menjaga "Pasien Spesial" yang tingkahnya tak masuk akal.

"Vi... air." rengek Farzhan dari dalam kamar, suaranya terdengar lirih tapi menuntut.

Vira buru-buru lari dari dapur membawa segelas air hangat. "Iya, iya ini. Pelan-pelan ya minumnya."

Ia mencoba membantu mengangkat kepala Farzhan agar lebih mudah untuk menelan. Tapi Farzhan malah memejamkan mata, menolak mengangkat tangannya sendiri.

"Aku tidak kuat... tanganku berat." bisiknya dengan nada yang sangat manja. "Suapin.."

Mata Vira melotot lebar-lebar. "HAH?! Suapin? Kamu orang dewasa, Zhan! Cuma demam aja kok tanganmu tidak kuat?!"

"Aku sakit parah." Farzhan menatap Vira dengan mata yang menyipit, terlihat sedih dan memelas, persis seperti anak kecil yang baru terjatuh. "Tolong ya... istri yang baik dan setara itu harusnya sayang sama suami yang lagi sakit dan tidak berdaya... kan ada di perjanjian, saling bantu saat susah."

Ah sial! Pria itu bahkan di saat sakit pun masih bisa mengikuti aturan untuk keuntungannya sendiri. Kata-kata itu ampuh sekali. Vira yang tadinya mau marah besar, hatinya langsung luluh seketika.

"Ya sudah, dasar bayi besar." Vira menghela napas pasrah, lalu menyuapi suaminya minum dengan hati-hati, menahan gelas itu sampai tetes terakhir.

Belum selesai urusan minum, perut Farzhan berbunyi nyaring terdengar sampai ke telinga Vira.

"Lapar." keluhnya pelan sambil memegang perutnya.

"Oke, aku ambil bubur ya! Tunggu sebentar!" Vira berlari lagi ke dapur, mengambil mangkuk bubur ayam hangat yang baru saja ia masak dengan sabar.

Kembali ke kamar, Vira menaruh mangkuk itu di meja samping tempat tidur. "Nah, sekarang makan ya. Buburnya ku buat lembut dan masih hangat."

Lagi-lagi, Farzhan diam saja. Ia tidak mau bergerak sedikit pun. Hanya menatap mangkuk itu lalu beralih menatap wajah Vira dengan tatapan anak kucing yang lemah, kelaparan dan tak berdaya.

"Suapin juga..." pintanya pelan, hampir berbisik.

"Farzhan!" Vira sudah mulai emosi campur bingung. "Minum disuapin, makan disuapin! Kamu ini bayi umur berapa sih?! Tangannya kan sehat, matanya bisa lihat, mulutnya juga bisa gerak! Cuma demam dikit kok manjanya minta ampun!"

"Pusing, kepala ku berat kalau diangkat." Farzhan mengerang sambil memijat pelipisnya pelan. "kepalaku tidak bisa gerak. Tolong Vi... aku sedang sakit. Tolongin aku, nanti kalau sembuh aku ganti jasamu. Aku janji."

Dan lagi-lagi, Vira kalah telak. Dengan wajah kesal tapi tangan yang tetap sigap dan lembut, ia menyuapi suaminya makan. Sendok demi sendok. Farzhan makan dengan patuh, mulutnya terbuka lebar seperti burung jalak yang menunggu makan, dan sesekali mengeluh, "Panas, tiup dulu dong." yang membuat Vira harus meniup-niup bubur itu berkali-kali dengan sabar, sambil menggerutu panjang lebar dalam hati.

 

Belum selesai urusan makan dan minum, malam harinya cobaan berat yang sesungguhnya datang menghampiri.

Demam Farzhan makin meninggi. Tubuhnya panas membara, lalu sekejap menggigil hebat sampai bingkai tempat tidur terdengar bergetar. Ia mulai gelisah, membolak-balikkan badan, dan sedikit mengigau tak jelas.

"Jangan! Jangan ambil datanya. Itu rahasia. Jangan..." gumam Farzhan tidak jelas, keringat dingin mengucur deras di dahinya.

Vira panik bukan main. Ia terus mengompres dahi dan lipatan-lipatan tangan suaminya, mengganti kainnya berkali-kali. Tapi Farzhan terus saja gelisah, matanya terbuka sedikit tapi pandangannya kosong.

"Dingin Vi... aku merasa badanku membeku."

"Udah aku tambah selimutnya jadi tebal ini Zhan, kalau ditambah lagi nanti makin panas demamnya," kata Vira lembut sambil merapikan selimut itu.

"Masih dingin.. peluk aku biar hangat. Biar aku merasa aman..." Farzhan malah meraih pinggang Vira dengan tangan gemetar, menariknya pelan agar duduk lebih dekat di tepi kasur, lalu membenamkan wajahnya di perut Vira seperti anak kecil yang mencari perlindungan paling aman.

"Punggungku di tepuk-tepuk." pintanya dengan suara serak dan memelas, posisinya makin menempel erat. "Tepuk-tepuk pelan, elus-elus juga biar aku tidak mimpi buruk seperti waktu kecil... Mama selalu tepuk punggung aku..."

Vira benar-benar syok berat. Tangannya terangkat ke udara, kaku dan bingung harus berbuat apa.

Ini... ini Farzhan Ibrahim yang galak itu kan? Yang dinginnya minta ampun? Yang bikin aturan ketat sampai sejuta pasal? Yang matanya tajam kayak elang? Sekarang dia minta dielus-elus dan ditepuk-tepuk punggungnya kayak bayi mau tidur?!

"Ya ampun, beban hidupku jadi berlipat ganda rasanya," gerutu Vira pelan, matanya menatap langit-langit kamar pasrah. Namun perlahan, tangannya mulai bergerak turun. Ia menepuk-nepuk punggung lebar dan kekar suaminya itu dengan gerakan lembut dan teratur.

"Sstt... tidur ya, singa kecil." gumamnya pelan, tak sadar mengubah panggilan untuk suaminya itu.

Ajaibnya, hanya dengan sentuhan dan tepukan itu, tubuh Farzhan yang tadinya tegang, gemetar, dan gelisah perlahan menjadi rileks seketika. Napasnya yang berat mulai teratur, genggamannya di pinggang Vira makin erat, dan ia pun tertidur pulas sambil tetap menempel, seakan takut istrinya akan pergi dan meninggalkannya sendirian dalam kelemahannya itu.

 

Situasi melelahkan ini berlangsung selama tiga hari tiga malam penuh. Vira benar-benar kewalahan setengah mati sampai rasanya ingin menangis.

Matanya mulai terlihat lingkaran hitam legam karena hampir tak tidur sama sekali. Badannya pegal linu luar biasa karena harus lari kesana-kemari, memasak, membersihkan rumah sesuai standar tinggi, dan di saat bersamaan harus mengurus "bayi besar" yang rewelnya minta ampun, pemilih, dan penuh tuntutan.

Siang harinya, saat Farzhan tertidur lelap setelah meminum obat dan makan, Vira menyelinap keluar kamar dengan napas panjang lega. Ia duduk sebentar di ruang tengah, lalu mengambil ponselnya, dan menelepon satu nomor yang saat ini paling ia butuhkan: Ibu mertuanya, Mama Shaffa.

Tuuut... tuuut...

"Halo? Halo, Vira Sayang! Ada apa? Tumben telepon siang-siang gini?" suara Shaffa terdengar ceria dan hangat di seberang sana.

"Mama Shaffaa... tolong Viraaaa..." rengek Vira langsung menangis bahu membahu, melepaskan semua keluh kesahnya.

"Eh? Kenapa sayang? Kenapa nangis? Ada apa? Farzhan jahat sama kamu ya? Biar Mama marahin dia habis-habisan nanti!"

"Bukan Ma... justru kebalikannya!" Vira mengeluh cepat dan panjang lebar. "Farzhan sakit demam tinggi, Ma! Panasnya minta ampun, tapi kelakuannya aneh! Manjanya kelewat batas! Makan harus disuapin, minum harus disuapin, tidur harus ditemani, harus ditepuk-tepuk punggungnya, kalau dilepas sebentar langsung bangun dan cari! Vira kewalahan, Ma! Vira juga harus kerja bersih-bersih rumah, ngurusin dapur, terus harus ngurusin dia yang kelakuannya seperti balita umur satu tahun! Capek, Maa.."

Di seberang telepon, Mama Shaffa justru tertawa terbahak-bahak. Tawanya keras sekali dan panjang sampai Vira harus menjauhkan HP dari telinganya.

"Hahaha! Ya ampun lucu sekali anakku itu! Hahaha! Tidak berubah kelakuannya!"

"Mama kok ketawa?! Vira serius nih lho! Dia tidak mau dibawa ke dokter juga! Apakah dari kecil memang gitu, susah sekali diajak ke rumah sakit kalau belum pingsan! Gimana cara ngobatinnya Ma? Resep rahasia apa biar dia nurut dan cepet sembuh?!"

Shaffa akhirnya berhenti tertawa, suaranya menjadi lembut, bijak, dan penuh makna.

"Sayangku Vira yang baik, cerdas, dan sabar. Dengarkan Mama ya. Farzhan itu memang dari kecil begitu sifatnya. Kalau sehat dia keras kepala, dingin, perfeksionis, galak, dan mau menang sendiri. Tapi kalau dia sakit atau benar-benar lelah, pertahanannya runtuh. Dia kembali menjadi anak kecil lagi. Dia manja begitu bukan karena dia tidak bisa melakukan apapun sendiri, tapi karena dia percaya penuh sama kamu, dan dia merasa aman berada di dekat kamu. Cuma sama kamu dia berani kelihatan lemah."

"Tapi Vira capek, Ma.." rengek Vira lagi, tapi kali ini suaranya lebih lembut.

"Sabar ya sayang. Itu ujian sekaligus bukti besar rasa percayanya ke kamu. Sebenarnya cara ngobatin paling ampuh buat Farzhan itu cuma satu," bisik Shaffa seolah berbagi rahasia negara.

"Apa Ma? Bilang dong..."

"Dimanja saja. Turuti saja semua maunya, sebisamu. Dia minta disuapin ya suapin, dia minta ditemani ya temani, dia minta dipeluk ya peluk saja. Dia itu lagi cari perhatian dan kasih sayang. Kalau hatinya senang, tenang, dan merasa diperhatikan, imun tubuhnya pasti naik dengan cepat, demamnya pasti cepat urun. Percaya deh sama Mama. Laki-laki itu, sekaya apapun, sepintar apapun, setinggi apa pun jabatannya, sedingin apa pun sikapnya, kalau sakit pasti balik jadi anak kecil, manja cuma di depan istrinya."

Vira menghela napas panjang, menatap pintu kamar tempat suaminya sedang tidur nyenyak. Ada rasa hangat yang perlahan menyelinap di hatinya mendengar penjelasan itu.

"Jadi... Vira harus sabar dan ikhlas ya Ma?"

"Iya sayang. Kamu hebat kok, kamu sudah lakukan yang terbaik sampai sekarang. Mama bangga sama kamu. Nanti kalau dia sembuh dan balik jadi galak lagi, suruh dia bayar jasa kamu mahal-mahal ya! Hahaha!"

Vira tersenyum kecil, senyum yang melegakan dan menguatkan. "Iya Ma... nanti Vira tagih utang jasanya. Makasih banyak ya Ma, sudah bikin hati Vira tenang lagi."

Setelah menutup telepon, Vira menarik napas dalam-dalam, mengisi ulang tenaga dan kesabarannya yang hampir habis.

"Oke Vira... semangat. Ternyata singa galak itu, kalau sakit cuma jadi kucing oren manja yang butuh elusan. Yasudah, terima saja takdir ini. Siapa suruh nikah sama dia, harus terima dia paket lengkap kan..."

Dengan semangat baru yang dipaksakan, Vira kembali masuk ke kamar singa itu, siap melanjutkan tugas beratnya sebagai perawat sekaligus ibu pengganti bagi bayi besarnya.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!