Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Tabib Gila Gu Mian
Kegelapan yang menyelimuti kesadaran Zeng Niu tidaklah damai. Ia bermimpi tentang lautan mayat di Benua Utara, tentang kilat petir yang merobek langit, dan wajah-wajah orang yang pernah ia bantai yang menatapnya dalam kebisuan. Saat mimpi itu perlahan memudar, yang tersisa hanyalah rasa sakit yang luar biasa nyata rasa perih yang membakar setiap inci daging dan tulang fananya.
Zeng Niu perlahan membuka matanya.
Aroma menyengat dari rebusan herbal yang dicampur dengan bau karat darah dan kapur barus menyerbu indra penciumannya. Penglihatannya berangsur fokus, menangkap langit-langit kayu yang dipenuhi gantungan kantong-kantong kanvas berisi rempah kering dan awetan organ siluman.
Ia tidak lagi berada di Lembah Angin Berbisik.
Zeng Niu mencoba mengangkat tangannya, namun ia menyadari pergelangan tangannya telah diikat kuat ke sisi ranjang bambu dengan menggunakan tali urat naga bumi yang lentur namun tak bisa diputuskan oleh tenaga fana.
"Jangan banyak bergerak. Jahitan di dadamu baru saja kurapatkan dengan getah laba-laba. Jika kau merobeknya lagi, aku akan membiarkan isi perutmu tumpah menjadi makanan cacing peliharaanku."
Sebuah suara yang sangat pelan, nyaris seperti desisan ular, datang dari sudut ruangan.
Zeng Niu memutar kepalanya. Di sana, di balik meja kayu besar yang dipenuhi botol-botol kaca dan pisau bedah berkarat, duduklah seorang pria tua. Kulit pria itu luar biasa pucat, hampir transparan, menampakkan pembuluh darah kebiruan di leher dan wajahnya. Rambutnya sangat jarang, dan ia mengenakan kacamata tebal dari kristal yang membuat matanya terlihat sangat besar dan kosong.
Itu pasti Gu Mian, Sang Jarum Beracun, Tabib Gila dari Kota Daun Gugur.
"Di mana Zhao Ying? Dan pria gemuk itu?" tanya Zeng Niu, suaranya parau, mengabaikan ancaman sang tabib.
"Gadis berambut perak dan kultivator gagal yang membusuk itu menunggumu di ruang depan," jawab Gu Mian, tidak mengangkat wajahnya dari ulekan batu tempat ia sedang menumbuk sesuatu yang tampak seperti kelenjar bisa kalajengking. "Kultivator gemuk itu berteriak-teriak bahwa dia memiliki tiga mayat Serigala Bayangan Angin tingkat tiga untuk membayar biaya pengobatanmu. Dia berisik sekali, jadi kulemparkan dia ke luar."
Gu Mian akhirnya menghentikan pekerjaannya. Ia bangkit dan berjalan mendekati ranjang Zeng Niu. Aroma bahan yang kuat menguar dari jubahnya.
"Aku sudah memeriksa tubuhmu, anak muda," ucap Gu Mian, menatap tajam dada Zeng Niu. "Ini adalah karya seni kehancuran yang paling indah yang pernah kulihat dalam delapan puluh tahun praktisku."
Tabib gila itu menyentuhkan jarinya yang sedingin es ke dada Zeng Niu, tepat di atas Dantian yang hancur.
"Dantianmu meledak dari dalam akibat resonansi paksaan Qi Bencana. Meridianmu hancur di dua puluh delapan titik krusial. Dan tulang rusukmu... Tulang Besi Berkarat yang seharusnya kebal dari senjata fana, retak parah." Gu Mian terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang membuat bulu kuduk berdiri. "Orang normal seharusnya mati dalam sepuluh detik setelah ini terjadi. Tapi kau hidup. Kenapa?"
"Karena aku menolak mati," jawab Zeng Niu datar.
Gu Mian tertawa lagi. "Jawaban yang angkuh. Aku menyukainya. Tapi arogansi tidak bisa memperbaiki meridian yang putus. Tiga mayat serigala tingkat tiga yang dibawa teman gemukmu itu cukup untuk biaya menyelamatkan nyawamu, tapi tidak cukup untuk menyambung ulang fondasi kultivasimu."
Zeng Niu memicingkan matanya. "Aku dengar kau tidak selalu meminta Batu Spiritual. Apa yang kau inginkan dariku, Tabib Gu?"
Gu Mian melepaskan kacamata kristalnya, memperlihatkan sepasang mata abu-abu yang buta sebelah. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam jiwa Zeng Niu.
"Untuk merajut kembali Dantianmu dan menyambung meridianmu, aku membutuhkan Sutra Penenun Jiwa. Itu adalah teknik kuno yang menggunakan jarum emas yang dialiri racun kelabang tanah tahap Inti Emas untuk memaksa meridianmu tumbuh kembali," bisik Gu Mian. "Proses ini akan memakan waktu tiga hari tiga malam. Rasa sakitnya... bayangkan kau dikuliti hidup-hidup, lalu dagingmu direbus dalam minyak, dan tulangmu dikikis dengan pisau tumpul, terjadi berulang-ulang tanpa kau bisa pingsan."
"Lakukan," ucap Zeng Niu tanpa ragu satu detik pun. Jika ia masih memiliki Dantian, ia bahkan tidak akan berkedip.
"Oh, aku akan melakukannya," senyum Gu Mian melebar, memperlihatkan deretan giginya yang hitam. "Tapi bayarannya... Aku tidak menginginkan uang. Aku menginginkan Biji Dao yang baru saja lahir di dalam kehampaan Dantianmu itu."
Mata Zeng Niu sedikit membesar. Biji Dao Kesepian dan Kehidupan yang ia dapatkan dari pemahaman fana di Desa Ujung Sungai... tabib gila ini bisa melihatnya?!
"Kau terkejut?" Gu Mian terkekeh. "Aku adalah tabib. Tugasku melihat apa yang tak terlihat. Kau telah kehilangan Dao Bencana-mu, tapi kau melahirkan Dao baru dari keputusasaan. Aku menginginkan benih pencerahan itu. Jika kau memberikannya kepadaku, aku akan memperbaiki meridianmu, dan kau bisa kembali berlatih kultivasi secara normal dari tahap awal."
Keheningan yang sangat pekat turun di ruang yang berbau darah itu.
Kehilangan Biji Dao berarti Zeng Niu akan kehilangan seluruh pemahaman spiritual yang baru ia dapatkan. Ia akan menjadi seperti manusia kosong yang hanya bisa mengumpulkan Qi secara mekanis, tanpa pernah bisa mencapai tahap Nascent Soul di masa depan. Itu adalah harga yang sangat menghancurkan masa depan kultivator mana pun.
"Jika aku menolak?" tanya Zeng Niu dingin.
"Maka aku hanya akan menjahit kulitmu, dan kau akan hidup sebagai manusia fana yang kuat hingga lima puluh tahun ke depan, lalu menua dan mati," jawab Gu Mian santai sambil membersihkan kacamata kristalnya. "Pilihan ada di tanganmu. Menyerahkan masa depan spiritualmu padaku demi mendapatkan kekuatan sesaat untuk melindungi bidadari di luar sana, atau menyimpan Biji Dao-mu dan mati sebagai manusia tak berguna."
Tabib gila ini sangat ahli membaca pikiran dan kelemahan manusia. Ia tahu persis apa yang paling penting bagi Zeng Niu saat ini.
Zeng Niu memejamkan mata. Ingatan tentang Zhao Ying yang menangis saat ia menahan tombak es, ingatan tentang senyum tulus gadis itu di bawah hujan Desa Ujung Sungai, dan tekadnya untuk membawa bidadari itu pulang melintasi jutaan galaksi.
Jika ia tidak memiliki Qi, ia bahkan tidak akan bisa melindungi Zhao Ying dari bandit fana rendahan. Apa gunanya memiliki pemahaman Dao tertinggi jika orang yang ingin kau lindungi mati di hadapanmu?
Zeng Niu kembali menatap mata abu-abu sang tabib. Matanya tak lagi memancarkan keraguan, hanya kekosongan murni milik seorang algojo yang siap mengorbankan segalanya.
"Ambil benih itu, Tabib," bisik Zeng Niu pelan. "Dan jahit tubuhku. Buat aku bisa memegang pedang lagi."
Senyum Gu Mian merekah lebar, terlihat seperti iblis yang baru saja memenangkan jiwa manusia. "Sepakat."
Gu Mian berbalik menuju lemari kayunya, mengambil sebuah kotak kayu hitam yang memancarkan aura Yin pekat. Di dalamnya, berderet rapi ratusan jarum emas yang sangat tipis, berkilau dengan warna kehijauan akibat racun kalajengking.
"Proses ini akan sangat menyakitkan, anak muda. Dan kau tidak boleh pingsan, atau meridianmu akan salah tersambung," ucap Gu Mian, mencabut jarum pertama.
Zeng Niu menggertakkan giginya. "Mulai."
CRAAS!
Jarum pertama menancap tepat di titik Dantian Zeng Niu. Detik itu juga, rasa sakit yang melampaui batas kewarasan meledak di sekujur tubuhnya. Rasanya seolah-olah ribuan semut api sedang merayap di bawah kulitnya, menggigit dan merobek jaringan ototnya dari dalam.
Racun kelabang itu membakar sarafnya, sementara Qi asing milik Gu Mian masuk secara paksa, menarik paksa sisa-sisa energi di Dantiannya untuk mencabut Biji Dao tersebut.
Zeng Niu menggeram pelan, tubuhnya menegang hebat hingga tali urat naga yang mengikat tangannya berderit keras. Keringat dingin bercampur darah mulai merembes dari pori-porinya. Namun, ia tidak menjerit. Ia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah, memusatkan sisa kewarasannya pada satu pemikiran: bertahan.
Di ruang tunggu luar yang remang-remang, Zhao Ying sedang duduk di atas kursi kayu panjang. Qian Fugui berjalan mondar-mandir dengan cemas sambil menggigit ujung kukunya.
"Sudah dua jam berlalu! Kenapa tidak ada suara dari dalam?" bisik Fugui panik. "Jangan-jangan Tabib Gila itu sudah menjadikannya bahan percobaan obat racun!"
Zhao Ying tidak menjawab. Tangannya yang bertumpu pada pangkuannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke arah pintu kayu tebal yang tertutup rapat.
Di Surga Atas, ia telah melihat kultivator kuat menangis darah saat meridian mereka dibersihkan. Namun dari balik pintu itu, tidak ada satu pun suara jeritan yang terdengar. Hanya ada kesunyian yang mencekam kesunyian dari seseorang yang sedang bertarung sendirian melawan neraka rasa sakit yang tak terbayangkan.
Bertahanlah, Zeng Niu, batin Zhao Ying, setetes air mata jatuh membasahi gaun rami kasarnya. Jika kau hancur, maka duniaku juga akan runtuh.
Di dalam ruangan, malam pertama dari tiga hari penyiksaan baru saja dimulai.