Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Melarikan diri dari binatang iblis
Selagi binatang iblis masih berada di sana, Wang Chan dan Qing Yi masih berdiri diam.
Wang Chan menghela napas pelan. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya, tapi tubuhnya tidak bergerak, hanya matanya yang terus mengamati pergerakan makhlut itu.
Duri-duri hitam di punggung binatang itu tampak berdenyut samar seolah-olah sedang mengumpulkan energi.
Raungannya yang kedua lebih berat dari yang pertama, membuat genting-genting rumah di sekitarnya bergetar.
"Bagaimana bisa binatang iblis tiba-tiba datang..." gumamnya pelan.
Bukan musim migrasi binatang iblis. Tidak ada laporan sebelumnya.
Dan desa kecil seperti Desa Hitam seharusnya tidak memiliki apa pun yang menarik makhluk selevel itu.
Tapi fakta tetap fakta, di depan matanya sekarang, rahang raksasa sedang mengoyak panggung kayu tempat para tetua duduk beberapa saat lalu.
Ia kemudian meraih pergelangan tangan Qing Yi.
"Hmm?" Qing Yi menatapnya penasaran.
Matanya berkedip cepat, bingung, tapi tidak ada rasa takut yang berlebihan di sana, hanya keheranan biasa.
"Binatang itu masih berada di sana... dengan waktu yang cukup maka..."
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Wang Chan kemudian menggendong Qing Yi dengan gaya tuan putri.
Satu tangan di bawah punggungnya, satu tangan di bawah lekuk lututnya. Ringan.
Qing Yi sama sekali tidak berat meskipun tubuhnya tidak bisa dibilang kurus.
"Eh? Heh?!"
Qing Yi sedikit terkejut dengan apa yang ia lakukan.
Wajahnya yang awalnya tenang kini memerah tipis, tapi bukan karena malu, lebih karena dia tidak menyangka laki-laki yang biasanya pendiam ini akan bertindak secepat itu.
"Lebih baik lari saja!"
Kekuatan spiritual perlahan menyelimuti tubuh Wang Chan, tipis, nyaris tidak terlihat, seperti kabut pagi yang cepat sirna.
Tapi itu cukup. Ia kemudian melesat cepat melewati beberapa perumahan desa.
Langkahnya teratur, nafasnya tenang, kedua tangannya memegangi Qing Yi dengan erat, seolah takut wanita itu akan jatuh.
Meskipun kultivasinya rendah, ia sudah berlatih teknik selama bertahun-tahun, sampai kedua kakinya lecet dan kapalan. Dan sekarang, di saat-saat seperti ini, latihan itu membayar.
"Wang Chan! Bagaimana dengan yang lain?!"
Suara Qing Yi sedikit meninggi.
Ia menoleh ke belakang, melihat kepulan debu dan kepanikan yang menjalar seperti api. Api mulai menjilat atap-atap rumah dari jerami kering.
Jeritan orang tua, tangisan anak-anak, suara kayu patah, semuanya menyatu menjadi satu suara mengerikan yang menggema di malam hari.
Wang Chan menutup matanya pelan.
Seolah ia tidak mendengar jeritan orang-orang di sekitarnya.
Tidak ingin melihat itu.
Bukan karena dia tega.
Tapi karena dia tahu, dengan kekuatannya yang hanya sebatas merintis Qi, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mati bersama mereka.
Dan kematian yang sia-sia tidak akan menyelamatkan siapa pun.
"Dengarkan aku, Qing Yi. Jika kau ingin hidup... maka ikuti aku, jika tidak aku bisa meninggalkanmu di sini sekarang juga."
Suaranya datar, hampir dingin.
Tapi genggamannya di tubuh Qing Yi justru mengerat, kontradiksi antara kata-kata dan tindakannya begitu terang.
Nafas Wang Chan perlahan terengah-engah. Ia berlari dengan kecepatan penuh, menggunakan seluruh kekuatannya.
Terlebih harus menggendong wanita cantik yang bahkan dalam situasi kacau seperti ini masih sempat mengernyitkan hidung bingung.
Qing Yi melihat keseriusan dari wajah Wang Chan.
Rahangnya mengeras, alisnya menyatu, matanya hanya fokus ke depan. Ini bukan laki-laki pengecut yang dia kenal selama ini.
Ini Wang Chan yang berlatih sampai darah membasahi ujung jarinya. Ini Wang Chan yang jatuh bangun demi satu kesempatan masuk sekte.
Mereka berdua tidak memiliki orang tua, tidak ada yang mereka tinggalkan di desa itu.
Wang Chan tidak akrab dengan anak seusianya, ia selalu menyendiri, selalu dijauhi, selalu menjadi bahan tertawaan.
Sementara Qing Yi hanya bersikap ramah pada siapapun yang ia temui, tidak pernah benar-benar terikat pada satu tempat atau satu kelompok.
Tidak ada yang akan menangisi mereka jika mati malam ini.
Tapi mungkin itulah kenapa, tidak ada yang perlu ditunggu di sana.
"Aku akan ikut denganmu."
Tangan Qing Yi melingkar di leher Wang Chan, tidak ingin terjatuh ketika Wang Chan semakin cepat.
Wajahnya kini menempel di dekat bahu Wang Chan, dan dia bisa mencium bau tanah dan keringat, bau yang akrab, bau yang selalu ia hirup setiap kali diam-diam mengamati pemuda itu berlatih di malam hari.
"Baiklah... Langkah Bintang Ketujuh!"
Wang Chan melesat semakin cepat. Bayangannya tercerai-berai di bawah cahaya rembulan, meninggalkan jejak kabur di udara malam yang dingin.
Meninggalkan desa, meninggalkan warga yang sedang diserang, meninggalkan semua orang yang panik di sana.
Luo Peiran, pahlawan desa yang baru diterima di Sekte Bulan Kabut, bahkan tidak sempat menghunus pedangnya.
Wang Chan mengepalkan tangannya lebih erat di punggung Qing Yi.
Ia tau, jika meninggalkan desa seperti ini, ia tidak akan punya tempat lagi.
Rumahnya, meskipun hanya gubuk reot dengan dinding bambu yang bolong-bolong, adalah satu-satunya tempat yang ia kenal sebagai 'tempat pulang'.
Tapi ia juga tidak ingin mati.
Bukan karena takut mati, tapi karena mati sekarang berarti semua latihan yang ia jalani, semua harapan yang ia genggam erat-erat meskipun terus diremukkan orang lain, semuanya akan berakhir tanpa makna.
"Binatang iblis itu... terlalu kuat, bahkan jika kultivator kuat datang juga sudah terlambat. Desa pasti hancur," gumamnya.
Pepohonan berlalu cepat di samping mereka.
Jalan setapak yang biasa ia lewati untuk mengambil air kini terasa asing, bukan karena tempatnya berbeda, tapi karena ia tidak pernah meninggalkan desa sejauh ini tanpa rencana kembali.
Mereka melarikan diri semalaman. Menjauh sejauh-jauhnya dari desa itu.
Langit mulai berubah warna ketika fajar menyingsing, dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu keunguan, lalu jingga di ufuk timur.
Wang Chan akhirnya berhenti di tepi sungai kecil yang tidak ia kenali.
Kakinya gemetar, dadanya naik turun seperti orang yang baru saja selesai tenggelam. Keringat membasahi seluruh punggung bajunya.
Dengan hati-hati, ia menurunkan Qing Yi ke tanah.
Wanita itu masih menggenggam erat kerah bajunya, jari-jarinya pucat karena terlalu kencang.
"Kita... selamat." Wang Chan terengah-engah.
Qing Yi berdiri, menatap ke belakang, ke arah desa yang kini tidak terlihat sama sekali, hanya hamparan pepohonan dan kabut tipis pagi.
"Wang Chan."
"Ya?"
"Terima kasih... sudah membawaku."
Wang Chan menunduk.
Ia menarik napas panjang, lalu meludah ke samping untuk membuang rasa getir yang tertinggal di mulutnya.
"Jangan berterima kasih dulu. Kita baru kehilangan rumah."
Qing Yi tersenyum kecil. Senyum yang sama seperti tadi malam di bawah pohon tua.
Senyum yang entah bagaimana, di tengah kacau, masih bisa muncul.
"Rumah bukan hanya tempat, Wang Chan."
Wang Chan menatapnya.
"Rumah juga orang."
Ia tidak menjawab.
Tapi untuk pertama kalinya setelah desanya hancur, ada sesuatu yang hangat menyentuh dadanya, hanya sedikit, tapi cukup nyata.
Angin pagi berembus, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Sungai kecil di depan mereka mengalir tenang, seolah tidak tahu bahwa di ujung hutan sana, sebuah desa telah luluh lantak.
Wang Chan mengepalkan tangannya.
"Ayo."
"Ke mana?"
"Ke mana saja. Asal tidak kembali."
Ia melangkah duluan.
Qing Yi mengikuti, tepat di belakangnya, seperti malam-malam sebelumnya saat ia diam-diam mengawasi Wang Chan berlatih, kecuali kali ini, mereka berdua sama-sama sadar, dan sama-sama tidak punya apa-apa lagi selain satu sama lain.