“Wah, cantik deh. Aku suka sama gambar bunga tulip merahnya,” katanya.
Noah langsung duduk tegak begitu melihat gambar tato itu. Wajahnya berubah seketika, tampak terkejut dan tak percaya. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap Melody lekat-lekat.
“Kamu nutupin gambar yang lama ya...” katanya pelan, dan Melody dengan jelas menangkap nada tuduhan di mata laki-laki itu.
Noah tahu bahwa dahulu Melody pernah menginginkan tato bergambar bunga Daisy beserta dua huruf inisial tertentu. Dulu, Melody sempat berbohong dan mengatakan bahwa gambar itu berasal dari kutipan tulisan yang disukainya. Saat itu, Noah belum mengenal Adden, sehingga ia tidak pernah mengaitkan hal tersebut dengan laki-laki itu. Ia mengiraj mustahil Melody memiliki hubungan dengan seseorang seperti Adden.
“Iya. Aku nutupin gambar yang lama,” jawab Melody singkat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Cowok Memang Menyebalkan
Melody menggeleng tak habis pikir, lalu memalingkan wajah. "Kamu itu brengsek banget sih. Aku bingung orang-orang di sekitar kamu bisa tahan sama sifat kamu."
"Itu karena aku jujur dan gak perlu pura-pura jadi orang lain," sahut Adden cepat.
Melody mendongakkan kepalanya ke belakang seakan baru saja ditampar ucapan Adden. Adden tahu ia sedang bersikap jahat, tapi ia tak bisa bersikap manis pada gadis ini. Ia membencinya karena apa yang pernah terjadi. Hanya karena hidupnya susah, bukan berarti dia berhak menghancurkan hidup orang lain. Seharusnya Melody bersyukur ayah kandungnya mau menerimanya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu didorong. Melody membuka pintu dan turun dari mobil.
Sial!
Adden segera menurunkan kaca jendela. "Balik sini, Melody!"
Gadis itu berjalan menjauh dengan langkah kesal. Matanya tak lepas dari sosok itu yang bergerak seksi setiap kali melangkah. Pemandangan itu membangkitkan hasrat liar dalam dirinya.
"Enggak! Aku lebih baik jalan kaki! Aku gak butuh belas kasihan kamu! Kan kamu sendiri yang bilang, biar aku tetep jadi sampah dan nyari barang curian, kan? Sana pergi kamu, Adden! Aku benci kamu! Mending kamu cari kesibukan lain dan jangan ganggu hidup aku!" teriak Melody tanpa menoleh lagi.
...***...
Melody akhirnya sampai di rumah dengan badan penuh keringat dan kepanasan. Ia sangat butuh mandi, dan berterima kasih pada penemu kunci pintu digital berbasis kode ini.
Ini pertama kalinya ia memakai fasilitas semewah ini. Melody yakin ayah kandungnya pasti bergaji sangat besar sampai bisa tinggal di tempat semewah ini.
Saat pintu tertutup, aroma wangi lilin langsung tercium ke seluruh ruangan. Bau ini jauh lebih enak dibanding bau narkoba dan rokok, atau bau apek di panti asuhan tempat ia tinggal dulu.
Melody melangkah melewati ruang tamu dan mulai menaiki tangga, tapi langkahnya terhenti.
"Halo, Melody. Kupikir Messy yang akan mengantarmu pulang?" ucap Pujiana dengan suara pelan.
Melody menoleh, tangannya masih bertumpu pada pegangan tangga berwarna putih. Wanita itu mengerutkan kening saat melihat kaos polo yang dikenakannya, model yang sama persis dengan milik anaknya.
Seolah harinya belum cukup buruk, Edgard Lukita muncul dari belakang Pujiana. Pria itu menatap Melody dari balik bahu istrinya dengan tatapan tajam.
"Kamu tadi di mana? Kenapa pakai baju seragam cowok? Papa kan sudah jelaskan aturannya dengan jelas."
Melody menggeleng kesal. Pria itu pasti mengira ia sedang berkencan. Ia tak mau ambil pusing dan langsung berbalik menaiki tangga.
"Kenapa nggak tanya aja sama anak Tuan? Dan halo juga buat Nyonya Lukita."
Sesampainya di lantai dua, Melody memutar gagang pintu perak, kamar yang sudah ditunjuk untuknya. Tepat sebelum pintu tertutup, suara Pujiana terdengar lagi.
"Panggil aku Mama."
Melody memanggil mereka Tuan dan Nyonya Lukita hanya karena formalitas. Sejujurnya, ia tak pernah menganggap mereka orang tua atau wali. Melody tak punya orang tua dan sudah berhenti berharap akan hal itu sejak umur sebelas tahun.
Di usianya yang kini, Melody sadar betul ia benar-benar sendirian. Ibunya masih mendekam di penjara karena kasus narkoba dan penganiayaan anak. Papa tirinya juga divonis hukuman yang jauh lebih berat untuk kejahatan yang sama.
Matanya mengamati selimut tebal berwarna putih yang ia gunakan tidur semalam, masih terlipat rapi di dalam lemari. Ia menatap kasur di tengah ruangan.
Melody membuka kedua pintu lemari yang luasnya sampai ke dinding. Di dalamnya hanya tergantung seragam sekolah dan satu kantong sampah hitam berisi pakaian-pakaiannya yang lain.
Ia menyingkirkan kantong itu sedikit untuk memberi ruang, lalu merapikan selimut di lantai. Rencananya, setelah mandi air hangat, ia akan tidur di sana lagi.
Kebiasaannya tidur di dalam lemari sudah ia lakukan sejak umur sembilan tahun. Caranya agar Papa tirinya tak mudah menemukannya saat sedang mabuk obat-obatan.
Jika pria itu datang dan tak melihatnya di kasur, biasanya ia akan pergi begitu saja. Lemari adalah tempat paling aman bagi Melody.
Bersembunyi juga memberinya waktu untuk lari jika ada yang mencarinya, atau melarikan diri lewat jendela. Melompat dari jendela bukan hal sulit baginya dan ia selalu memastikan penguncinya tidak dikunci dari dalam.
Trauma yang ia terima selama ini meninggalkan luka yang sangat dalam. Ia sadar betapa rapuh dan sendiriannya dia, bahkan saat berada di tengah keramaian.
Di rumah mewah ini, Melody tak bisa memastikan siapa yang bisa dipercaya, tapi ia tak mau ambil risiko. Ia sudah terlatih untuk tak percaya pada siapa pun, sekalipun mereka mengaku sebagai keluarga.
Messy pun tinggal tak jauh dari kamarnya, dan Melody juga tak menaruh kepercayaan sedikit pun pada cowok itu. Sejak awal, cowok itu sudah menunjukkan sikap seakan Melody adalah beban yang tak diinginkan.
Setelah selesai mandi dan merasa segar, terdengar suara ketukan pintu.
"Ya?" sahut Melody.
"Mama bilang makan malam sudah siap," suara Messy terdengar samar dari balik pintu.
Melody menghela napas panjang, lalu membuka pintu dengan agak kasar. Cowok itu berdiri di ambang pintu, menunduk menatapnya dengan wajah datar.
"Kamu bakal cerita ke mereka apa yang terjadi tadi?"
"Buat apa? Biar tambah panjang daftar omong kosong yang udah kamu sebar ke seluruh sekolah soal aku? Kalau aku juga tukang ngaduan?"
bukan kakaknya