NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - ATURAN BARU DUNIA

Kolong jembatan beton itu pengap dan bau air sungai yang mandek. Jelas bukan tempat yang ideal untuk sembunyi, tapi setidaknya, sudut gelap ini cukup terlindung untuk sekadar mengistirahatkan kaki yang nyaris lumpuh.

Begitu sampai di sana, Damar langsung ambruk, duduk selonjoran di atas tanah berangkal. Tangannya masih gemetar hebat, dadanya kembang-kempis berkejaran dengan detak jantung yang tak beraturan. Keringat dingin terus meleleh dari pelipisnya, menyatu dengan debu jalanan yang menempel di wajah.

Di dekatnya, gadis yang baru saja mereka selamatkan tadi bersandar pada tiang beton. Kedua tangannya bertumpu di lutut, mencoba menormalkan napasnya sendiri yang kedengaran putus-putus. Kelihatan sekali staminanya sudah habis.

Sementara itu, Rendi tetap berdiri di posisi paling belakang. Tubuhnya merapat ke dinding semen, matanya terus melirik tajam ke arah mulut gang tempat mereka masuk tadi. Di tempat seperti ini, lengah sedetik saja artinya mati. Tidak ada waktu untuk rileks.

“Nama kamu… siapa?” tanya Damar akhirnya, memecah keheningan yang mencekam di antara deru napas mereka.

Gadis itu mendongak perlahan, menyeka air mata yang tersisa di pipinya. “…Naya,” jawabnya lirih.

Damar mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kering seperti berpasir. “Aing Damar.”

Rendi menyahut sekilas tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan luar. “Gue Rendi.”

Perkenalan singkat itu berlalu begitu saja tanpa ada senyum, jabat tangan, atau basa-basi ramah. Di situasi sialan seperti ini, etika perkenalan mendadak jadi hal paling tidak penting di dunia.

Damar melemparkan pandangannya kembali ke arah jalanan yang baru saja mereka tinggali. Dari kejauhan, jeritan histeris manusia masih terdengar bersahutan. Kadang terdengar begitu dekat hingga membuat mereka refleks menahan napas, kadang menjauh lalu tenggelam dalam riuh klakson. Kota ini benar-benar sedang kehilangan ritme hidupnya.

“Ini… beneran terjadi, ya? Bukan mimpi, kan?” gumam Damar, menatap telapak tangannya sendiri yang kotor.

Rendi akhirnya bergerak, menggeser tubuhnya lalu duduk bersila di samping tiang jembatan, persis di hadapan Damar.

“Gue kasih tahu dari awal aja biar lo berdua paham,” kata Rendi, suaranya ditekan serendah mungkin tapi terdengar sangat serius. “Ini bukan kerusuhan atau demo biasa. Ini komedi putar neraka.”

Damar menoleh. “Maksud maneh teh yang tadi pagi apa?”

Rendi menghela napas panjang, tatapannya mendadak kosong mengingat kejadian beberapa jam lalu. “Gue lihat orang pertama yang aneh itu tadi pagi, di depan warung kopi. Dia masih berwujud manusia, masih bisa diajak ngomong meskipun agak ngaco. Tapi matanya… matanya putih kelabu, kosong kayak nggak ada jiwanya. Nggak nyampe setengah jam kemudian, dia tiba-tiba brutal dan langsung gigit leher tukang parkir di depannya.”

Naya langsung mendongak, matanya membelalak ketakutan. “C-cepat banget berubahnya…?”

Rendi mengangguk kaku. “Dan gilanya, orang yang digigit itu nggak butuh waktu lama buat ikut-ikut gila kayak yang ngegigit. Itu nyebar, cepat banget kayak rembesan air.”

Damar menelan ludah dengan susah payah. “Jadi… semacam virus?”

Rendi tidak langsung menjawab. Dia mengulurkan tangan kiri, lalu menarik sedikit lengan jaket lusuhnya ke atas, menunjukkan sebuah luka goresan yang agak panjang di dekat siku.

Refleks, Damar langsung menggeser pantatnya mundur, menjauh dari Rendi. Tangannya spontan meraba tanah, mencari batu atau apa saja yang bisa dipakai buat senjata.

“Santai, anjing. Jangan paranoit duluan,” sela Rendi cepat, mukanya mendadak kesal. “Ini robek kena kawat berduri pas gue lompat pagar tadi pagi. Bukan bekas gigitan. Gue masih sehat walafiat.”

“Maneh yakin itu nggak bakal bikin Maneh berubah?” tanya Damar penuh selidik, matanya masih menatap curiga pada darah kering di lengan Rendi.

Rendi menurunkan kembali lengan jaketnya sambil mengedikkan bahu acuh. “Gue juga nggak yakin sama apa-apa sekarang. Tapi yang jelas, kalau ini luka gigitan, gue udah nyerang lo dari pas di koridor kosan tadi.”

Jawaban blak-blakan itu membuat Damar terdiam. Dia melirik Naya yang kini ikut duduk meringkuk di dekat mereka, memeluk lututnya yang gemetar.

“Kalau ini virus… pemerintah atau dinas kesehatan pasti bakal turun tangan, kan? Pasti ada obatnya, kan, Mas?” tanya Naya, suaranya serak menahan tangis.

Rendi terkekeh, tapi bunyinya lebih mirip seperti ejekan yang pahit. “Berharap sama pemerintah yang bahkan nggak tahu kalau kota mereka sendiri udah runtuh dari subuh? Mending lo simpen harapan lo buat besok pagi.”

Damar menatap Rendi tajam. “Maneh tahu dari mana soal pihak atas?”

Rendi melempar pandangannya ke luar kolong jembatan. “Karena sebelum gue ketemu lo di jalan kosan tadi, gue sempat lihat truk tentara lewat di jalan protokol.”

Mendengar kata tentara, fokus Damar langsung terkunci. “Serius? Mereka bikin barikade?”

Rendi mengangguk, tapi raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa lega. “Mereka mulai bangun titik evakuasi di beberapa stadion dan lapangan terbuka. Tapi… bukan evakuasi aman kayak yang lo bayangin di film-film.”

Damar mengernyitkan dahi. “Maksud maneh kumaha?”

Rendi menatap Damar lurus-lurus, matanya menyiratkan kengerian yang nyata. “Siapa pun yang udah masuk ke barikade itu… belum tentu bisa keluar lagi dalam keadaan hidup.”

Keheningan mendadak jatuh menimpa mereka. Hanya suara angin malam yang berembus pelan di bawah kolong jembatan, membawa aroma busuk yang makin menyengat. Suara kekacauan kota di kejauhan masih terdengar, tapi entah kenapa, atmosfer di sekitar mereka sekarang terasa berkali-kali lipat lebih berat.

“Terus… kita harus ke mana sekarang?” cicit Naya, air matanya akhirnya menetes lagi.

Rendi terdiam sejenak, mengamati siluet bangunan di sekitar kolong jembatan sebelum akhirnya menunjuk ke arah utara, jalur yang mengarah ke pinggiran kota. “Kalau lo berdua masih mau napas besok pagi, kita jalan ke arah atas. Cari wilayah yang sepi, minim pemukiman padat.”

Damar langsung menyela, dahinya berkerut tidak setuju. “Bukannya kalau sepi malah bahaya? Kalau kita kejebak dan nggak ada yang nolong gimana?”

Rendi menggeleng lambat. “Aturan dunianya udah berbalik sekarang, Dam. Tempat yang ramai itu magnet kematian. Kerumunan manusia itu jaminan kalau wilayah itu bakal hancur paling pertama.”

Rendi bangkit berdiri, menepuk-nepuk celananya yang kotor terkena tanah.

Damar ikut berdiri dengan bertumpu pada tiang jembatan, badannya masih terasa pegal luar biasa. “Aing masih nggak habis pikir… kenapa bisa mendadak kayak begini dalam sehari.”

Rendi menatapnya datar. “Gue juga sama. Makanya, nggak usah dipikirin. Yang penting kaki lo tetep melangkah.”

Tiba-tiba—

*DUAR!*

Suara dentuman keras yang mirip tembakan atau ledakan transformator menggema dari arah jalan utama, memotong kalimat Rendi. Tubuh mereka bertiga seketika kaku. Naya langsung berdiri tegak dengan wajah pucat pasi.

“Suara apa itu?!” pekik Naya panik.

Rendi menajamkan pandangannya ke arah langit malam yang mulai memerah di sisi selatan. “Nah, pertunjukannya udah dimulai…”

“Mulai apaan?!” tuntut Damar, jantungnya kembali berdegup kencang.

Rendi menghela napas berat. “Pembersihan taktis. Militer.”

Benar saja, beberapa saat setelah ledakan itu, suara sirine yang jauh lebih masif terdengar meraung-raung. Di sela-sela kebisingan itu, gema suara dari pengeras suara jarak jauh mulai terdengar sayup-sayup, memantul di antara dinding-dinding beton kota.

*“DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH WARGA SIPIL… HARAP SEGERA MENUJU TITIK EVAKUASI TERDEKAT…”*

*“TETAP TENANG DAN JANGAN MELAKUKAN TINDAKAN PROVOKATIF TERHADAP PETUGAS…”*

Damar menatap kosong ke arah luar jembatan. “Berarti… masih ada otoritas yang ngatur jalannya evakuasi?”

Rendi menggelengkan kepalanya perlahan, senyum sinisnya kembali muncul. “Bukan ngatur, Dam. Mereka cuma lagi nyoba nahan runtuhnya tembok biar nggak langsung ambruk seketika. Sambil ngorbanin yang ada di dalemnya.”

Naya menatap Damar dengan pandangan memohon. “Jadi… kita beneran nggak boleh ikut rombongan evakuasi?”

Rendi memotong cepat sebelum Damar sempat bersuara. “Jangan pernah berani. Apa yang kita lihat di jalanan kosan tadi… itu belum ada seujung kukunya dari masalah yang bakal terjadi di posko evakuasi nanti.”

Suasana kembali senyap. Damar bisa merasakan dadanya sesak oleh jenis ketakutan yang belum pernah dia rasakan seumur hidup. Ini bukan ketakutan biasa seperti saat tersesat atau dirampok. Ini adalah perasaan ngeri ketika sadar bahwa dunia nyaman yang dia kenal selama puluhan tahun… baru saja kiamat dalam hitungan jam.

Belum sempat Damar mencerna semuanya, telinganya menangkap suara desas-desus halus dari arah semak-semak di atas tanggul jembatan.

Itu bukan langkah kaki manusia biasa. Ritmenya kacau, seretannya berat, dan diselingi suara erangan parau yang lolos dari tenggorokan kering. Makhluk-makhluk itu bergerak terlalu cepat di satu sisi, tapi tubuh mereka miring dan kaku di sisi lain.

Rendi langsung menegakkan punggung, tangannya memberi isyarat agar mereka mundur. “Sial, mereka udah mulai ngendus ke sini.”

Damar refleks melangkah mundur, matanya membelalak menembus kegelapan. “Siapa? Yang tadi?”

Rendi tidak menjawab, pandangannya terkunci pada ujung jalan setapak di atas jembatan.

Sesosok bayangan manusia muncul dari balik kegelapan lampu jalan yang berkedip-kedip. Cara jalannya serong, kepalanya terkulai miring ke bahu seperti tulang lehernya sudah patah. Begitu makhluk itu menyadari keberadaan tiga manusia di bawah kolong jembatan, gerakannya mendadak berhenti. Matanya yang putih keruh langsung menyorot lurus ke arah Damar.

Naya membekap mulutnya sendiri, badannya gemetar hebat. “Jangan bilang itu…”

Rendi langsung menyambar lengan Damar dan Naya sekaligus, memutar paksa tubuh mereka. “Nggak usah banyak nanya, LARI SEKARANG!”

Mereka bertiga kembali menghambur, memacu sisa energi keluar dari kolong jembatan dan melesat masuk ke dalam labirin jalan tikus yang gelap. Di belakang mereka, suara erangan itu mendadak berlipat ganda, bertransformasi menjadi gemuruh langkah kaki kaku yang mengejar dengan beringas. Sekarang jumlahnya bukan cuma satu, melainkan belasan.

Damar bersumpah dalam hati untuk tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi. Dia hanya terus memproyeksikan kakinya untuk berlari secepat mungkin menembus kegelapan malam. Karena di lembar aturan baru dunia ini, dia tahu satu hal pasti.

Di kota yang sudah mati ini, begitu lo mutusin buat berhenti melangkah… lo bukan cuma bakal ketangkap dan mati.

Tapi lo bakal berubah menjadi salah satu dari *mereka*.

Dari kejauhan, sirine militer masih terus meraung membelah malam. Namun kali ini, bagi Damar, suara itu tidak lagi terdengar sebagai tanda datangnya bantuan. Bunyi itu terdengar seperti sebuah lonceng kematian—peringatan terakhir bahwa kota ini sudah resmi menjadi neraka.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!