NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Sebagai Pelengkap

"Kamu lama."

Dua kata bernada curiga dari Rendra segera menyambut Thalia begitu wanita itu kembali ke ballroom.

Thalia mengambil segelas minuman dari pelayan yang lewat, lalu meneguknya sebelum memberikan jawaban, “Aku butuh udara.”

“Di toilet?”

“Di koridor," jawab Thalia.

Mata Rendra menyipit. “Sendirian?”

Thalia menatap gelas di tangannya, terdiam selama beberapa saat. Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan. Itu jebakan halus.

“Awalnya.”

Rendra menegang. “Awalnya?”

Thalia menatap suaminya. “Pak Arkana lewat. Kami bicara sebentar.”

Perubahan pada wajah Rendra cepat, tapi jelas. Ada marah dan cemburu. Tapi yang paling kuat justru rasa waspada.

“Bicara apa?”

“Tidak penting," jawab Thalia.

“Kalau tidak penting, kenapa kamu tidak langsung kembali?” desak Rendra.

Thalia meletakkan gelas di tangannya ke meja terdekat. “Karena aku lelah, Ren.”

“Jangan gunakan alasan itu terus,” tukas Rendra.

“Lalu alasan apa yang kamu mau?” Thalia balas bertanya.

“Thalia,” desis Rendra menahan kesal.

Thalia menatap suaminya dengan lelah. Andai saat ini mereka berada di rumah, Rendra mungkin sudah menaikkan suara, melemperkan tuduhan yang tidak ia lakukan, dan membuat dirinya merasa bersalah karena sudah berbicara dengan pria lain, meski pria itu adalah orang yang ingin Rendra dekati sejak awal.

Namun mereka berada di ballroom. Di tempat semua orang bisa melihat dan mendengar. Yang membuat Rendra hanya bisa mempertahankan suara rendahnya sambil tetap tersenyum. Dan itu membuat Thalia merasa muak.

“Kamu tahu apa yang aneh?” tanya Thalia pelan.

Rendra menatap istrinya tajam. “Apa?”

“Kamu ingin aku menarik perhatian Pak Arkana. Tapi begitu dia memperhatikan, kamu marah,” jawab Thalia.

Rendra tertawa kecil tanpa humor. “Jangan memutarbalikkan keadaan.”

“Aku hanya mengatakan apa yang terjadi," sanggah Thalia.

“Aku ingin kamu memberi kesan baik, bukan membuat dia mencarimu di koridor," ucap Rendra.

Thalia mengerutkan dahi. “Dia tidak mencariku.”

“Lalu kebetulan lewat?” tanya Rendra sinis.

“Mungkin.”

Rendra menatap istrinya lama, kemudian ia mendekat, meraih tangan Thalia, dan menggenggamnya terlalu erat. Dari luar, sekali lagi mereka terlihat seperti pasangan mesra. Tidak ada yang tahu fakta bahwa kuku Rendra menekan kulit telapak tangan Thalia, dan tidak ada yang tahu jika setiap kata yang Rendra ucapkan adalah ancaman

“Dengar baik-baik,” ucap Rendra rendah. “Pak Arkana bukan pria sembarangan. Jangan merasa spesial hanya karena dia bertanya dua tiga hal padamu.”

Thalia melirik tangannya, menahan rasa sakit yang ia rasakan. “Aku tidak merasa spesial.”

“Bagus. Karena kamu memang tidak," ucap Rendra tanpa jeda.

Deg!

Kalimat itu masuk ke hati Thalia seperti pisau kecil yang membuka luka lama. Thalia menarik tangannya perlahan, tetapi Rendra tidak melepaskan begitu saja.

Tatapan keduanya bertemu, senyum di bibir Rendra tetap ada, tetapi sorot mata pria itu memperingatkan. Sesaat kemudian, Rendra melepaskan tangan istrinya.

“Sebentar lagi ada sesi foto dengan jajaran direksi,” katanya. “Kamu ikut denganku.”

“Aku bukan bagian dari perusahaan," ucap Thalia berusaha menolak.

“Malam ini kamu bagian dari aku,” tegas Rendra.

Bagian dari aku.

Kalimat itu membuat Thalia ingin tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena ia semakin yakin, bagi Rendra, dirinya memang bukan seorang istri. Ia hanya pelengkap.

Sesuatu yang bisa dibawa ketika dibutuhkan dan ditinggalkan ketika tidak lagi berguna.

Rendra kembali menarik istrinya ke tengah ruangan.

Thalia mengikuti. Namun langkahnya tidak lagi sepatuh sebelumnya. Di depan panggung kecil, beberapa petinggi perusahaan mulai berkumpul. Fotografer bersiap. Para istri dan pasangan diminta berdiri di sisi masing-masing. Rendra sengaja memilih posisi yang cukup dekat dengan Arkana.

Thalia berdiri di samping suaminya, sedikit di belakang. Ia menunduk sebentar untuk memastikan gaunnya tidak terinjak. Namun, ketika ia mengangkat wajah, Arkana sudah berdiri tidak jauh dari tempat ia berdiri yang hanya berjarak dua orang saja.

Pria itu berbicara singkat dengan salah satu komisaris, lalu menoleh, yang membuat pandangan mereka bertemu. Detik berikutnya, Thalia mengalihkan pandangan. Namun entah kenapa, ia masih merasakan tatapan pria itu.

“Semuanya senyum, ya.” fotografer memberi aba-aba.

Rendra melingkari pinggang Thalia posesif.

Thalia menahan napas, memaksa bibirnya melengkung menyunggingkan senyum.

Kamera menyala.

Satu kilatan.

Dua kilatan.

Tiga.

“Satu lagi, Pak. Bu. Lebih dekat sedikit.” ucap fotografer.

Rendra menarik Thalia lebih rapat ke tubuhnya.

Thalia hampir kehilangan keseimbangan karena tumitnya benar-benar nyeri. Tubuhnya sedikit oleng. Namun, sebelum ia terjatuh, sebuah tangan menahan lengannya dari sisi lain.

Thalia menoleh, kemudian membeku begitu tahu siapa yang sudah menahan lengannya. Arkana berdiri tepat di sebelahnya. Entah kapan pria itu bergeser mendekat.

Tangan Arkana hanya menyentuh lengan bawahnya. Singkat. Sopan. Tidak lebih dari bantuan agar ia tidak terjatuh.

Tapi panas tangan pria itu terasa menembus kulit Thalia.

“Terima kasih,” bisik Thalia sangat pelan.

Arkana menatap lurus ke kamera, seolah tidak terjadi apa-apa. “Hati-hati.”

Hanya dua kata, tetapi cukup untuk membuat Rendra menoleh, sekaligus mengeratkan cengkraman tangannya pada pinggang istrinya.

Fotografer kembali memotret. Kilatan kamera menyambar. Pada foto itu, mungkin mereka semua tampak sempurna.

Rendra tersenyum penuh percaya diri. Thalia tampak anggun di sisinya. Dan Arkana berdiri dingin serta berkuasa tidak jauh dari mereka berdua.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik satu foto itu, ada tangan suami yang mencengkeram pinggang terlalu kuat, ada tangan pria lain yang baru saja menahan Thalia agar tidak jatuh, dan ada hati seorang wanita yang mulai bergetar oleh sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia rasakan.

Setelah sesi foto selesai, Arkana melepaskan tangannya dari lengan Thalia dengan gerakan cepat, tetapi Rendra sudah melihat. Dan Thalia tahu, malam ini belum selesai.

.

.

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Di dalam mobil, Rendra menyetir tanpa menyalakan musik. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan. Kota bergerak di luar sana, tapi di dalam mobil, udara membeku.

Thalia duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan.

Ia sudah melepas antingnya dan menggenggamnya di tangan. Tumitnya nyeri. Pinggangnya juga terasa sakit karena cengkeraman Rendra sepanjang malam.

Namun semua itu tidak seberapa dibandingkan ketegangan di sampingnya. Rendra belum bicara sejak mereka meninggalkan ballroom. Dan diamnya Rendra selalu lebih melelahkan daripada pria itu meledakkan amarahnya.

“Kamu senang?” suara Rendra akhirnya keluar saat mobil berhenti di lampu merah.

Thalia tidak menoleh. “Senang apa?”

“Mendapatkan perhatian darinya,” ucap Rendra.

Thalia memejamkan mata sebentar, mengembuskan napas pelan. “Jangan mulai.”

“Jawab,” tekan Rendra.

“Aku tidak senang,” jawab Thalia.

“Bohong.”

Thalia menoleh ke arah suaminya. “Lalu, untuk apa kamu bertanya kalau kamu sudah punya jawaban sendiri?”

Rendra tertawa pendek. “Kamu pikir aku tidak tahu cara pria seperti Pak Arkana melihat wanita?”

“Dia tidak melihatku seperti itu,” sanggah Thalia.

“Jangan naif.”

“Justru kamu yang sejak awal ingin dia melihatku,” sahut Thalia tidak terima.

Rendra menginjak gas saat lampu berubah hijau, mobil melaju lebih cepat. “Jaga bicaramu.”

“Kenapa? Karena aku benar?” Thalia tersenyum lelah.

Rendra menoleh cepat, memberikan tatapan tajam. “Karena kamu istriku.”

Thalia menatap suaminya lama. “Aku tahu. Kamu selalu mengingatkanku setiap kali kamu merasa kehilangan kendali.”

Rendra mendadak menginjak rem saat mobil mendekati sisi jalan.

Thalia tersentak maju. “Ren!”

Mobil berhenti di bahu jalan yang cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan lewat, suara mesin, dan lampu jalan yang jatuh pucat ke wajah Rendra.

Pria itu menoleh penuh kepada Thalia. “Kamu sekarang berani sekali melawanku.”

Dada Thalia naik turun pelan. “Aku hanya lelah terus disalahkan.”

“Disalahkan?” Rendra mengulang dengan mata menyipit. “Aku membawamu ke acara penting. Aku memperkenalkanmu pada orang-orang penting. Aku membuatmu dihormati sebagai istriku. Dan kamu merasa disalahkan?”

“Dihormati?” Thalia tertawa getir. “Kamu membiarkan orang memanggilku penurut seolah itu pujian. Kamu menyuruhku diam. Kamu mengatur cara aku berpakaian. Kamu bahkan marah karena pria yang ingin kamu dekati bicara denganku.”

“Karena aku tahu batas,” jawab Rendra.

“Batas?” Thalia menatap suaminya tak percaya. “Batas seperti apa yang sedang kamu bicarakan saat ini? Kamu yang mendorongku ke dekat batas itu, Ren.”

Rahang Rendra mengeras. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korban.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Thalia retak. Ia menatap suaminya. “Aku memang korban dari ambisimu.”

Hening.

Untuk sesaat, Thalia mengira Rendra akan membentak. Tapi pria itu justru tersenyum tipis. Senyum dingin yang lebih menyakitkan daripada kemarahan.

“Kamu berubah,” kata Rendra. “Dan aku tidak suka.”

Thalia menggenggam anting di tangannya erat. “Mungkin karena aku memang sudah terlalu lama diam.”

Rendra mendekatkan wajahnya pada Thalia.

“Dengar, Thalia. Jangan biarkan perhatian kecil dari pria seperti Arkana membuatmu merasa punya pilihan.”

Thalia membeku. Tetapi Rendra melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Kamu istriku. Apa pun yang terjadi, orang-orang akan melihatmu sebagai istriku. Jadi jangan bermimpi terlalu jauh hanya karena dia bertanya apakah kamu nyaman.”

Thalia merasa napasnya terhenti. “Buka pintunya,” ucapnya pelan.

Rendra mengerutkan dahi. “Apa?”

“Aku mau turun,” ucap Thalia.

“Kamu gila?” hardik Rendra.

“Aku butuh udara.”

“Di tengah jalan?” sahut Rendra sinis.

“Lebih baik daripada duduk di sini mendengarmu menghinaku,” jawab Thalia.

Tatapan Rendra menajam. “Kamu tidak akan turun.”

Thalia menekan tombol pembuka pintu, tetapi pintu itu masih terkunci. “Buka.”

“Tidak sebelum kamu tenang,” sahut Rendra.

“Aku tenang,” jawab Thalia.

“Tidak. Kamu sedang terbawa emosi karena merasa ada pria lain yang peduli padamu," ucap Rendra.

Kalimat itu menampar Thalia lebih menyakitkan dari tamparan asli. Ia menatap Rendra dengan mata memanas, tapi tidak membiarkan air matanya jatuh. Ia sudah terlalu sering menangis untuk pria ini.

“Pulang,” kata Thalia menyerah.

Rendra menatap istrinya beberapa detik, lalu kembali menghadap ke depan. Ia membuka kunci mobil, bukan agar Thalia turun, tetapi seperti menunjukkan bahwa ia tetap yang memegang kendali.

Mobil kembali melaju. Tidak ada lagi percakapan setelah itu.

Namun di dalam kepala Thalia, suara Arkana kembali menggema.

Jika suatu saat Anda benar-benar tidak baik-baik saja, jangan memaksa diri terlihat sebaliknya hanya karena seseorang menyuruh Anda.

Thalia menggigit bibirnya. Ia tidak baik-baik saja. Untuk pertama kalinya, ia mengakui itu di dalam hati. Dan orang pertama yang membuatnya berani mengakui itu bukan suaminya, melainkan Arkana Dirgantara. Bos suaminya sendiri.

Pria yang seharusnya tidak boleh ia pikirkan bahkan sedetik lebih lama.

Namun malam itu, sepanjang perjalanan pulang, Thalia gagal mengusir tatapan Arkana dari kepalanya.

. . ..

. . . .

To be continued....

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!