NovelToon NovelToon
Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Pawang Para Villainess: Kadar Kewarasan Mereka Sisa 1%!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.

Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: GERBANG NERAKA KATEDRAL

Malam itu, langit di atas ibu kota tidak memancarkan cahaya bulan. Awan hitam pekat menggantung rendah, seolah menutupi kebobrokan yang terjadi di balik tembok-tembok suci katedral.

Axel berdiri di atas tebing yang menghadap ke arah Katedral Terlarang, sebuah struktur tua yang berdiri di atas distrik kumuh. Di matanya, katedral itu bukan lagi tempat ibadah, melainkan sebuah sarang parasit yang harus dimusnahkan.

"Host, deteksi radar saya menunjukkan frekuensi energi yang sangat tidak stabil. Mereka sedang memulai inisiasi ritual. Jika energi itu mencapai titik jenuh dalam satu jam, seluruh distrik di bawah katedral akan tersedot ke dalam dimensi kehampaan."

"Satu jam," gumam Axel. "Itu lebih dari cukup."

Di sampingnya, Reynarda, Elysia, dan Valeria sudah siap. Zirah Reynarda kini berwarna hitam kelam—hasil modifikasi Elysia agar tidak mencolok di kegelapan malam—namun auranya tetap tajam.

"Reynarda, kau hancurkan barisan depan Inquisitor," perintah Axel. "Elysia, fokus pada perisai pelindung katedral. Jangan biarkan satu pun energi ritual keluar ke pemukiman penduduk. Valeria, temukan Uskup Agung. Jangan biarkan dia melarikan diri."

"Dan kau?" tanya Reynarda, matanya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran.

"Aku akan masuk ke ruang inti ritual," jawab Axel tenang. "Aku satu-satunya yang bisa menyentuh artefak itu tanpa terpengaruh kutukannya."

Tanpa banyak bicara, mereka meluncur seperti bayangan dari tebing.

Begitu mereka menginjakkan kaki di halaman katedral, alarm sihir berbunyi nyaring. Puluhan Inquisitor muncul dari balik pilar, namun mereka bukan tandingan bagi kelompok Axel. Reynarda melesat ke depan, pedangnya menari dengan keanggunan seorang jenderal, meruntuhkan barisan pertahanan dalam hitungan detik. Elysia merapal mantra angin yang memotong perisai katedral seperti pisau memotong mentega, membuka jalur langsung ke pintu utama.

Axel berlari di tengah, dikawal oleh mereka bertiga. Mereka menembus lorong-lorong katedral yang penuh dengan lukisan suci yang kini tampak mengerikan karena distorsi sihir hitam.

Di aula utama, lantai marmer terbelah, memperlihatkan sebuah ruang bawah tanah yang luas. Di sana, di tengah-tengah lingkaran sihir yang berdenyut warna ungu gelap, Uskup Agung berdiri dengan jubahnya yang berkibar oleh energi yang tidak wajar. Di depannya, artefak pusat—sebuah kristal yang tampak seperti jantung yang berdenyut—sedang menyedot mana dari seluruh kota.

"Kalian!" Uskup Agung tertawa parau, wajahnya kini terlihat membusuk karena efek samping sihir yang dia gunakan sendiri. "Kalian datang terlambat! Ritual ini sudah tidak bisa dihentikan!"

Valeria melompat dari kegelapan, belatinya mengincar tenggorokan sang Uskup, namun sebuah perisai transparan menahannya. Uskup itu memukul udara, dan Valeria terlempar ke dinding dengan keras.

"Aku sudah memprediksi kedatangan kalian," Uskup itu menyeringai. Dia menjentikkan jari, dan lantai di sekitar Axel mendadak berubah menjadi lumpur hitam.

"Host! Itu bukan sekadar lumpur, itu adalah material dimensi hampa. Jika Anda menyentuhnya, Anda akan terhapus dari realitas!"

Axel tidak panik. Dia melihat ke arah jantung kristal itu. Dia tahu, kuncinya bukan melawan Uskup, tapi menghancurkan koneksinya.

"Elysia! Alihkan semua energi pertahanannya ke arahku!" teriak Axel.

Tanpa ragu, Elysia melepaskan seluruh cadangan mana-nya dalam satu pilar cahaya hijau yang menghantam perisai Uskup Agung. Uskup itu terpaksa mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan serangan itu.

Dalam detik yang sangat singkat itu, pertahanan di sekitar kristal terbuka. Axel berlari, melompat di atas bongkahan batu yang melayang, dan tepat saat dia berada di depan kristal itu, dia tidak memukulnya.

Dia menempelkan tangannya yang tidak bersenjata ke permukaan kristal tersebut.

"Host, peringatan! Arus energi yang Anda terima bisa membakar saraf manusia biasa! Anda harus—"

"Aku tahu," desis Axel.

Axel mengaktifkan Aura Penenang Jiwa miliknya hingga ke tingkat maksimal. Dia tidak menghancurkan kristal itu dengan kekuatan, dia "menenangkan" energi parasit di dalamnya. Dia membanjiri kristal itu dengan ketenangan yang mutlak, memaksa energi yang kacau itu untuk berhenti berdenyut.

KREEEKKK!

Kristal itu retak. Bukan karena ledakan, tapi karena "kesadaran" parasit di dalamnya dipaksa tidur oleh aura Axel.

"TIDAK! KERJA KERAS SELAMA BERTAHUN-TAHUN!" teriak Uskup Agung, panik melihat jantung ritualnya meredup.

Reynarda tidak membuang kesempatan. Dengan satu ayunan pedang yang digerakkan oleh amarah suci, ia menebas sang Uskup. Uskup Agung jatuh, ritualnya terputus total. Seluruh katedral berguncang hebat, bukan karena ledakan, tapi karena energi yang terkurung di dalamnya mulai runtuh karena tidak lagi memiliki inang.

"Axel!" Reynarda berlari ke arah Axel yang kini terduduk lemas di dekat kristal yang sudah pecah menjadi debu.

Axel terengah-engah, tangannya yang tadi menyentuh kristal kini mati rasa. Dia menatap Reynarda, lalu ke arah Elysia dan Valeria yang mendekat.

"Host, denyut nadi Anda stabil. Anda berhasil. Energi parasit di kota ini telah dinetralkan."

Axel tersenyum tipis. "Lain kali, ingatkan aku untuk mencari pekerjaan yang lebih aman."

Valeria tertawa kecil, menyeka darah di bibirnya. "Maaf, Axel. Tapi kurasa nasibmu sudah terkunci sebagai 'pawang' kami selamanya."

Di kejauhan, fajar mulai menyingsing. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, langit ibu kota terlihat bersih. Mereka telah memenangkan pertempuran, namun Axel sadar, dunia luar sana kini pasti sudah tahu bahwa dalang dari semua kekacauan ini telah tumbang. Mereka bukan lagi buronan biasa, mereka kini adalah penyelamat yang tidak diinginkan oleh penguasa.

1
Pria Misterius
Harem😋 aku suka ini
Orimura Ichika
up yg banyak thor👍
Orimura Ichika: di tungguin 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!