NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 GANGGUAN

Siang itu, udara di dalam kamar Abdul terasa sangat menyengat. Kipas angin kecil yang menempel di dinding hanya berputar malas, mengalirkan hawa panas yang membuat keringat terus menetes dari dahi Abdul. 

Setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk mengurus administrasi dan pembayaran sewa kamar kos baru untuk Rian di depan gang, tubuh Abdul merasa sangat lelah. Ditambah lagi, ia harus menemani ibunya belanja beberapa kebutuhan dapur dasar agar dapur mereka tetap mengepul.

Abdul merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai, berniat untuk memejamkan mata sejenak demi memulihkan tenaganya. 

"Rebahan dulu bentar lah, mumpung si Rian lagi beres-beres di kosan barunya," gumam Abdul sambil memosisikan badannya senyaman mungkin.

Namun, ketenangan yang dicari Abdul tampaknya harus berbenturan dengan realitas kehidupan di Gang Seng. Baru saja ia mulai memasuki fase setengah sadar, suara bising dari luar rumah langsung menembus dinding kamarnya yang tipis. Di lapangan kecil yang terletak tepat di sebelah rumahnya, gerombolan anak-anak kecil kampung sedang asyik bermain sepak bola plastik. Setiap kali bola menghantam pagar seng, suara dentuman keras menggema ke seluruh penjuru kamar.

"Ayo oper sini! Tendang!" teriak anak-anak itu bersahut-shutan dengan suara melengking.

Abdul menghela napas panjang, ia mencoba membalikkan badannya membelakangi jendela, berharap suara itu bisa sedikit berkurang. Namun, penderitaannya belum selesai. Tidak lama kemudian, suara musik dangdut dengan dentuman bass yang pecah mulai terdengar dari rumah tetangga sebelah kiri. Rupanya, keluarga prasejahtera di samping rumahnya sedang mengadakan acara syukuran kecil-kecilan dan menyetel pengeras suara dengan volume maksimal tanpa memedulikan kenyamanan lingkungan.

Kombinasi suara teriakan anak-anak, hantaman bola di pagar seng, dan alunan musik dangdut yang memekakkan telinga membuat otak Abdul terus terjaga. Matanya terpejam, namun kesadarannya tetap penuh. Ia merasa gerah, gelisah, dan badannya terus berganti posisi dari kiri ke kanan demi mencari kenyamanan yang mustahil didapatkan dalam kondisi seberisik itu.

---

Sementara itu, di dunia nyata, jarum jam sudah merangkak ke sore hari. Layar handphone jadul Abdul tetap gelap, teronggok sunyi di lantai kamar. Karena kondisi lingkungan yang sangat bising, gelombang otak Abdul tidak mampu masuk ke fase REM. Sistem gaib di balik ponselnya memantau aktivitas konveksi pikiran Abdul yang kacau balau:

[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Melakukan Pemindaian Gelombang Otak Subjek.]

[Status: Gagal Memasuki Fase Tidur Nyenyak Akibat Kebisingan Eksternal.]

[Mimpi Alami Berunsur Finansial: Tidak Ditemukan.]

[Nilai Konversi Nilai Astral: Rp0,00.]

[Menunda Pengiriman Dana Kebijakan Mutasi Rekening...]

Proses pemindaian ditutup dengan layar yang langsung menggelap kembali, mengunci rapat rahasia sistem dari dunia luar.

---

Ketika waktu menunjukkan pukul lima sore, Abdul akhirnya menyerah. Ia bangkit dari kasurnya dengan wajah kusut dan mata yang agak merah karena kekurangan tidur yang berkualitas. Badannya justru terasa lebih pegal daripada sebelum ia merebahkan diri tadi. 

"Sialan, bukannya seger malah tambah pusing kepala aku," rutuk Abdul sambil berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air dingin.

Malam harinya berjalan seperti biasa. Abdul menghabiskan waktu di ruang tengah bersama ibu dan bapaknya yang masih terbaring lemah di ranjang besi. Mereka makan malam dengan lauk seadanya, diselingi obrolan ringan tentang Rian yang mulai besok akan resmi menempati teras rumah mereka untuk mulai bekerja jahit. Ibu Yanti tampak senang karena rumah mereka kini akan terlihat lebih hidup dan produktif.

Ketika fajar subuh menyingsing keesokan harinya, Abdul terbangun dengan kondisi tubuh yang biasa saja. Hal pertama yang ia lakukan tentu saja memeriksa handphone jadulnya di kolong bantal. Ia membuka menu pesan masuk, menanti apakah ada kejutan baru dari Bank Suka yang selalu ia anggap sedang rusak sistemnya itu.

Namun, kotak masuknya kosong. Tidak ada pemberitahuan SMS perbankan yang masuk sejak kemarin malam. Saldo di rekeningnya tetap berada di angka dua puluh empat juta enam ratus lima puluh ribu rupiah, tidak bertambah satu rupiah pun.

Abdul menatap layar handphonenya selama beberapa detik, lalu mengedikkan bahunya dengan santai. Sama sekali tidak ada rasa kecewa atau panik di dalam dirinya. Lagipula, sejak awal Abdul memang menganggap uang puluhan juta yang masuk kemarin-kemarin itu hanyalah murni sebuah keberuntungan palsu atau kesalahan teknis dari pihak bank yang tidak mungkin terjadi setiap hari.

"Tuh kan, emang bener banknya udah benerin sistem mereka," pikir Abdul sambil tersenyum tipis. "Ya baguslah, lagian duit dua puluh empat juta ini udah lebih dari cukup buat modal awal si Rian jahit dan buat makan kami beberapa bulan ke depan. Gak usah muluk-muluk berharap dapet durian runtuh terus tiap subuh."

Abdul bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan yang tetap tenang. Ia sama sekali tidak mengaitkan hasil 'zonk' hari ini dengan fakta bahwa tidurnya kemarin sore sangat terganggu oleh kebisingan Gang Seng. 

Baginya, uang masuk atau tidak masuk adalah murni urusan operasional teknologi perbankan di pusat sana, bukan karena aktivitas tidurnya. Abdul melangkah keluar kamar dengan semangat baru, siap menyambut hari pertama di mana teras rumahnya akan disulap menjadi tempat usaha jahit yang nyata oleh Rian.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!