Bagaimana jika kita di jodohkan dan ternyata kita sudah menyukai laki-laki itu dari pandangan pertama? tentu rasanya seperti semesta memberikan restu pada kita.
Clara seorang gadis cantik, manja, periang dan humble akan di jodohkan dengan seorang laki-laki bernama bastian, laki-laki yang arogan dan sombong, meski dia sangat tampan, Clara sudah menyukai Bastian dari awal dia melihatnya, namun sikap bastian justru sebaliknya pada Clara, Clara di anggap orang yang sudah menghancurkan hubungannya dengan kekasihnya.
Lalu bagaimana kelanjutan kisah Cinta Clara?apakah Bastian akan mencintai Clara ?
yuk terus baca karyaku ya.....
jika ada kesalahan dalam penulisan tolong beri kritik dan sarannya
jangan lupa dukung karyaku dengan memberikan, like,comment,dan vote ya
terima kasih
Happy reading
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
sayang kalian semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SL 12 : Wanita itu!
Kejadian semalam menyisakkan rasa sakit bukan hanya fisikku, namun juga batinku, sedang dia dengan santainya seakan tak terjadi apapun malam tadi.
Pagi ini! aku sudah menyiapkan secangkir teh yang kutaruh di meja, kubuka kulkas hanya tersedia telur, keju, dan macaroni. bukan Clara namanya, jika bahan itu tak bisa menjadi sebuah sarapan pagi yang enak.
Bastian masih tertidur lelap di kamarnya, sepertinya kejadian semalam sudah menguras tenanganya, hingga membuat dia begitu lelah, jam menunjukan pukul tujuh pagi, aku sudah menyiapkan sarapan untuk Bastian diatas meja.
"kring...Kring...Kring" Terdengar suara dering telpon, aku yang masih berada di dapur berlari untuk mengangkat telpon yang terus berdering tanpa henti.
"Hallo!" sapaku pada sambungan telpon
"Clara!Bastian ada?" tanya seorang pria yang suaranya tak asing bagiku
"Ada Om, ta-pi masih tidur" jawabku
"Clara! masih saja kamu memanggil Om, panggil papi saja nak!" ucap Om Wiguna
"Oh...baik Om, eh maaf , baik Pi!"
"Cepat bangunkan Bastian, papi perlu bicara sama dia" suruh Om Wiguna,
"ta-ta-tapi Om, eh pi!"
"Sudah bangunkan saja, bilang papi telpon!" potong Om Wiguna, mana berani aku membangunkannya? dia bahkan lebih mengerikan dari pada singa. gumamku dalam hati
"Pi maaf, lebih baik papi hubungi ponselnya saja! Clara gak berani jika harus bangunkan Bastian" ucapku memelas
"Apa yang membuatmu tak berani membangunkanku?" Suara Bastian terdengar menggema keseluruh ruangan.
"i-ini papi menghubungimu!" ucapku, sambil menyodorkan gagang telpon pada Bastian yang berdiri di depan kamarnya dengan hanya menggunakan celana pendek, tanpa memakai baju. Tanpa sepatah katapun, dia mengambil gagang telpon yang masih ku pegang, hanya lirikkan sinis yang ia berikan padaku.
"Iya pi! kenapa harus hari ini? bastian ngantuk" ucapnya kesal
"Ok,ok baik pi! Bastian akan ke kantor hari ini" Ucapnya sambil membanting gagang telpon.
Aku hanya memandangi raut wajahnya yang terlihat kesal entah apa yang di bicarakan Om Wiguna, hingga ia sangat menekuk wajahnya itu.
"Aku akan ke kantor hari ini, siang ini kamu harus temui aku di kantor," tegasnya,
"Tapi aku harus ke resto!" sahutku yang masih berdiri di depan meja makan
"Aku tak perduli, aku tunggu jam dua siang , tidak ada kata terlambat, sudah tidak usah berdebat denganku, aku mau mandi!" ucapnya sambil berlalu pergi
"Apa kamu gak sarapan dulu?" tanyaku, dia hanya melirik kearah meja makan, lalu pergi begitu saja.
Manusia tak punya hati, dia bahkan tak minta maaf atas kejadian semalam. gumamku kesal
Bastian sama sekali tak menyentuh makanan yang sudah kubuat, akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke kampus, disana banyak yang menghargai masakanku.
Sebenarnya moodku tidak terlalu baik pagi ini, seandainya tidak ada persentase dengan dua mata kuliahku, mungkin aku akan memutuskan untuk membolos.
Aku bersiap untuk pergi ke kampus, untunglah semalam Bastian, tidak memberi tanda di bagian leherku, melainkan di dada. Aku bergegas kekampus masih dengan ojek online, jam menunjukan pukul sembilan pagi, l**ima belas menit sebelum mata kuliah pertama di mulai,
"Ra, Lo sakit?" tanya Anya ketika aku lebih banyak berdiam diri.
"Gak kok Nya, gue cuman lagi males aja?" jawabku, mencoba menyembunyikan kesedihan.
"Lo ada masalah Ra?" tanya Ega , menghampiriku.
"Gak kok gue gak papa! gue baik-baik aja" jawabku tersenyum pada mereka, aku tak mungkin cerita tentan kejadian malam tadi.
"Ra, lo gak lagi bohong sama kita-kitakan?" tanya Anya curiga.
"Gak kok, beneran gue baik-baik aja!" jawabku mencoba meyakinkan, aku lalu langsung melihat jam di tanganku " sepuluh menit lagi masuk, ke kelas yu!" ajakku, berusaha mengalihkan semua pertanyaan mereka,
"Oh..yasudah!" Anya dan Egapun memilih tidak mempertanyakan lagi, mereka hanya saling berpandangan melihat sikapku yang sedikit berbeda.
Semua tugas persentaseku sudah selesai, untunglah aku sudah menguasai materi hari ini, jadi aku dengan mudah memberi penjelasan pada mahasiswa yang lainnya,
"Ra, kantin yuk!" ajak Anya, aku langsung melihat jam yang melingkar di tanganku, sudah jam satu lima belas menit, aku sudah tidak mungkin lagi berlama-lama di kampus.
"Maaf Nya, guebharus ke kantor Bastian, dia nungguin gue," ucapku dengan wajah kecewa
"Ciee pengantin baru rasanya gak mau jauh-jauh, nempel terus!" ledek Ega , aku hanya tersenyum mendengar ledekan Ega, mereka tak tahu jika aku menemuinya bukan untuk melepas rindu seperti layaknya suami dan istri.
"Lo naik apa?' tanya Anya
" Gue naik ojek online paling!" jawabku sambil merapikan buku-buku yang masih berserakan di meja
"Gue anter aja ya!" ucap Anya,
"Hmm boleh deh" jawabku
"Lo ikut gak?" tanya Anya pada Ega,
"Boleh, gue mau liat gimana sih kantor suami sahabat gue ini" jawab Ega kegirangan
Kamipun bergegas menuju kantor Bastian yang jaraknya, kurang lebih empat puluh lima menit, sayang jalanan jakarta begitu padat, sepertinya keputusanku untuk menaiki mobil Anya salah, sudah hampir lima puluh menit kami masih belum sampai, dengan wajah panik aku terus melihat jam tanganku.
Akhirnya aku bisa sampai di kantor Bastian, meski aku telat sekitar dua puluh menit.
"thanks ya!" ucapku saat keluar dari pintu mobil Anya
"Ok, bye!" ucap Anya sambil melamoaikan tangan, aku bahkan tak sempat membalas lambaian tangannya, karena terburu-buru. Ruangan Bastian berada di lantai 8, aku pernah kesini, ketika aku dan Bastian menemui Om Wigusa sebelum pernikahan kami.
"Pagi bu!" sapa seorang wanita muda bernama Tari, yang sedang duduk di samping ruangan Bastian, ia adalah sekertaris Bastian hanya saja selama ini Bastian tidak oernah memegang perusahaan, semua pekerjaannya Aldy yang menghandle
"Pagi!" balasku tersenyum kearahnya, "Pak Bastian ada?"
"Ada bu!ta-pi.." belum sempat Tarielanjutkan ucapannya, aku segera membuka ruangan Bastian, kulihat dia begitu asik memainkan bibirnya dengan seorang wanita yang kulihat semalam di apartmen
wanita itu lagi, benar-benar tidak punya otak, mereka masih melakukannya juga di kantor.
Bastian terperanjat, kala menyadari aku sudah berada di ruangannya, dia segera melepaskan ciuamannya bersama wanita itu, ia menatapku begitu sinis, namun begitu manis kala menatap wanita itu.
"Bisa gak kalau masuk ketuk dulu!" ucap Bastian sinis, wanita itu hanya tersenyum penuh kemenangan, sambil bermanja di pangkuan Bastian, bodohnya aku, aku merasakan cemburu yang membuat aku hanya bisa diam terpaku menatap kemesraan mereka.
"Hei, kenapa kamu masih berdiri disana!" teriak Bastian, rasanya aku ingin menangis saat ini.
"Kenapa ada dia disini?" tanyaku sedikit gugup
"Memang kenapa? ada aturan juga, aku tak boleh membawa wanita lain ke kantor" jawabnya dengan nada tinggi
"Lagian ini jam berapa, kamu aja datang telat, telat 20 menit" tegasnya
"Yank, aku pulang aja ya, kamu selesaikan urusanmu, nanti malam kamu jemput aku" ucap wanita itu manja, membuatku semakin kesal
"Oh, baiklah, kamu hati-hati ya!" jawabnya sambil melayangkan kecupan di jidat wanita itu, sungguh saat itu aku cemburu.
Wanita itu lalu berjalan kearah pintu, dan terus melirikku yang masih berdiri di depan pintu, iya bahkan dengan sengaja menyenggol bahuku, membuatku sedikit trrdorong, dan hampir saja jatuh.
peran utama nya bego banget