"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Loka
Bima dan Loka saat ini tengah berada diapartement milik Bima, mereka sudah mencari informasi perihal wanita yang Bima tolong dari kejaran anak Buah Bella namun bagaikan mencari jarum dalam tumpukkan jerami.
Bima tidak mengetahui siapa namanya dan Bima juga tidak mengetahui identitas wanita tersebut hanya mengandalkan sebuah sketsa yang telah dibuat oleh salah satu rekan kerjanya dengan ciri - ciri fisik yang Bima ketahui.
Bima memandangi sketsa wajah wanita itu dengan diam "coba aku lihat Bim" Bima menyerahkan sketsa itu pada Loka, Loka memandangi gambar sketsa wajah yang telah terukir diatas kertas dengan teliti hingga dia menyadari sesuatu.
"Tidak mungkin" Loka bergumam didalam hati sembari terkejut saat otaknya mulai mengingat wajah cantik milik Garima "kai mengenalinya ?" Loka semakin tersentak kaget karna tuduhan dari Bima.
"Tidak, hanya saja dia terlihat wanita baik" Bima tersenyum mendengar jawaban Loka "pemikiranmu sama denganku As, itulah kenapa aku menolongnya dari kejaran anak buah Bella" Loka hanya diam masih fokus memandang sketsa wajah milik Rima.
Ingatan Loka kembali pada malam dimana dia melihat Rima menangis dan tatapan matanya mengisyaratkan sebuah kebencian pada dirinya "seharusnya aku bisa menjaga ucapanku" Loka menyesali ucapannya yang menyakiti hati Rima karena dia juga merasa bahwa Rima masih perawan saat malam laknat itu.
Loka menghela nafasnya dengan kasar membuat Bima yang saat ini tengah meneguk sekaleng minuman soda melirik Loka "ah aku baru menyadari sesuatu" Loka melihat Bima dengan mengangkat satu alisnya.
"Aku baru mengingatnya As, wanita itu adalah wanita yang sama dengan pelayan salah satu cafe dekat gang sempit tempat kita makan bersama dengan Hilda" Loka melototkan kedua matanya kemudian melihat Bima dengan tajam.
"Apa kau yakin Bim ?" Bima mengangguk pasti "ya aku sangat yakin, apa kau tidak mengingat wanita itu sama sekali As dengan melihat sketsa wajah yang ada didiatas kertas itu ?" Loka menggaruk tengkuknya dengan canggung.
"Ya aku mengingatnya hanya saja aku tidak yakin" Bima tersenyum mengejek Loka "apa kau menyukai wanita itu As ? Sepertinya kalian sudah saling akrab saat berbicara digang sempit menuju rumah bordil milik Bella" Loka semakin terkejut hingga tersedak minumannya yang tengah dia teguk.
Bima menghampiri Loka kemudian menepuk bahu Loka untuk menenangkan lelaki tersebut "seperti anak kecil saja ck" Loka berdiri dari duduknya dan menghindari Bima.
Loka menatap jendela besaf apartement Bima yang berhadapan langsung dengan hiruk pikuknya jalanan ibu kota, Loka menghela nafasnya "aku mengenalnya Bim" Bima melototkan kedua bola matanya mendengar pengakuan Loka.
"Bagaimana bisa ? Kau mengenalnya pertama kali dimana As ?" Loka menimbang antara menceritakan apa yang terjadi padanya atau tidak saat malam dimana Bella memberikannya segelas minuman dicampur dengan obat laknat itu.
"Seorang Asmaraloka mengenal wanita, amazing hahahha" Loka menatap tajam Bima wajahnya berubah menjadi dingin "kau fikir aku Gay ?" Bima semakin tertawa mendengar jawaban Loka.
"Okey sorry sorry, jadi bagaimana kau bisa mengenal dia ?" Loka menghela nafasnya menerawan kedepan sambil melihat lampu dari gedung tinggi didepan jendela besar apartement Bima.
"Tunggu, tadi kau bilang bahwa kau melihatku mengobrol dengan wanita itu digang sempit ? Bagaimana kau bisa tahu ?" Bima mengendikkan bahunya cuek.
"Aku tidak sengaja melihat kalian saat akan menuju rumah bordil milik Bella" Loka kira tidak ada seorangpun yang melihat mereka berdua saat tengah beradu argument nyatanya Bima telah melihatnya.
"Apa kau ingat saat aku pertama kali bernegosiasi dengan Bella ?" Bima diam seraya mengingat kemudian mengangguk "disitulah Bella memberiku sehelas minum dan didalamnya telah tercampur obat perangsang" Bima terkejut hingga mulutnya mengangga lebar.
"Aku tidak sengaja melihat dia didepan rumah kecil yang ada digang sempit itu" Loka berhenti saat Bima tiba - tiba menyela "lalu kau menidurinya ?" Loka menatap dalam mata Bima kemudian mengangguk.
Bima mendengus sambil menggelengkan kepala seraya tidak percaya "katakan bahwa itu tidak benar As ?" Loka hanya diam sembari menghela nafasnya dengan lelah.