Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ZONA EKSPERIMEN "LARI! "
Urat di leher Kapten Rendra menegang saat dia meneriakkan perintah itu. Suaranya yang bariton menggelegar, memantul di dinding-dinding sempit lorong bawah tanah yang lembap.
Tanpa perlu komando kedua, semua orang langsung memacu kaki mereka sekuat tenaga. Sepatu-sepatu boots mereka berderap liar di atas lantai semen, menyusuri koridor panjang yang hanya diterangi oleh pendaran lampu darurat berwarna merah redup. Suara napas yang memburu dan detak jantung yang berpacu gila berbaur menjadi satu dengan gema geraman mengerikan dari arah belakang.
*THUK! THUK! THUK!*
Bunyi hantaman itu terdengar begitu cepat. Terlalu cepat untuk ukuran makhluk apa pun yang pernah mereka hadapi di permukaan.
Sambil terus berlari, Damar nekat menoleh sekilas ke belakang. Detik itu juga, rasanya ada es yang menyergap jantungnya hingga berhenti berdetak sesaat.
Sesosok makhluk dengan ukuran luar biasa besar baru saja menerobos keluar dari pintu laboratorium utama yang ringsek. Tingginya jauh melampaui manusia normal, hampir menyentuh langit-langit lorong. Kulitnya berwarna hitam pucat, tampak kering dan kaku seperti daging busuk yang dipaksa membeku. Tulang-tulang putih runcing menonjol keluar dari sepanjang tulang belakang dan persendian lengannya, merobek sisa-sisa pakaian yang melekat. Sementara matanya... benar-benar kosong, menyisakan selaput putih keruh tanpa pupil.
Namun, yang membuat bulu kuduk Damar meremang adalah cara makhluk itu mengejar mereka. Gerakannya luwes, lincah, dan penuh perhitungan. Sama sekali tidak ada kesan lambat atau linglung. Dia bergerak layaknya seekor predator puncak yang kelaparan.
"Itu bukan *infected* biasa!" teriak Rudi dengan suara melengking, kepanikannya sudah berada di ambang batas.
"Jangan banyak tanya, terus lari!" bentak Kapten Rendra yang berada di barisan paling belakang, sesekali mengarahkan senapannya ke belakang tanpa memperlambat langkah.
Makhluk itu mendadak melompat ke dinding lorong. Dengan kuku-kukunya yang panjang dan hitam, dia mencakar permukaan beton dan pipa-pipa besi yang melintang, menciptakan bunyi gesekan yang memekakkan telinga sekaligus memercikkan serpihan kerikil.
*SKRAAAKKK!*
Rania, yang sejak tadi dipaksa berlari melompati pipa-pipa kecil, mulai menangis histeris. Tangan kecilnya mencengkeram erat jari-jari Pak Rangga yang terasa dingin. "Ayah... takut, Ayah...!"
Pak Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengetatkan genggamannya, hampir menyeret tubuh putrinya agar tidak tertinggal. "Jangan lihat ke belakang, Rania! Lihat jalan di depanmu!"
Di ujung koridor, jalur mulai terpecah menjadi dua cabang. Sebuah papan penunjuk arah yang berkarat menggantung miring di sana.
Kapten Rendra mengayunkan tangannya ke sisi kanan. "Ke sana! Masuk jalur kanan!"
Mereka membelok tajam, nyaris kehilangan keseimbangan di atas lantai yang licin oleh rembesan air.
Namun tepat di saat mereka mengira bisa sedikit mengulur jarak—
*BRAKK!*
Sebuah pipa penyalur uap berukuran besar di langit-langit berderit hebat sebelum akhirnya runtuh total, menghantam lantai tepat di titik di mana Alya baru saja melangkah.
"ALYA!" teriak Damar.
Gadis itu tidak sempat menghindar. Dia terjerembap keras ke atas lantai semen yang dingin. Bagian bawah kaki kanannya terjepit di antara lantai dan gulungan pipa besi yang berbobot ratusan kilogram. Alya meringis kesakitan, wajahnya berkerut menahan nyeri yang menjalar dari pergelangan kakinya.
Sementara itu, gema cakar monster di belakang mereka terdengar semakin intens. Jaraknya tinggal hitungan meter.
Damar berhenti mendadak. Tanpa pikir panjang, dia membalikkan badannya dan berlari kembali ke arah Alya.
"Damar, jangan goblok! Balik!" bentak Kapten Rendra, mencoba meraih kerah jaket Damar namun luput.
Tapi Damar tidak peduli. Dia sudah telanjur berada di depan Alya yang sedang berjuang menarik kakinya dari jepitan besi. Bau zat kimia yang pekat dari tubuh makhluk itu kini sudah mulai tercium oleh hidungnya, menandakan maut sudah berada di depan mata.
Damar berjongkok, menyusupkan kedua tangannya di bawah pipa besi tebal itu. Dia menarik napas dalam-dalam, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dia miliki. Otot-otot lengan dan lehernya menegang hebat hingga urat-uratnya menonjol kemerahan.
"Alya, tarik kakimu sekarang! Cepat!" raung Damar, suaranya parau karena menahan beban.
Dengan sisa kekuatannya, Alya menarik kakinya keluar dari sepatu boot yang tersangkut. Begitu kakinya terlepas, Damar langsung melepaskan pipa itu hingga berdentang keras menghantam lantai.
Pada saat yang sama, makhluk itu muncul dari kelokan lorong. Kini, dalam jarak yang begitu dekat, mereka semua bisa melihat wujudnya dengan sangat jelas di bawah tembakan lampu darurat yang berkedip.
Wajah makhluk itu sebenarnya masih menyisakan struktur tengkorak manusia. Namun, bagian rahang bawahnya telah terbelah secara vertikal hingga hampir menyentuh daun telinga, menciptakan rongga mulut yang dipenuhi barisan gigi runcing berlapis-lapis. Lengannya menjuntai panjang hingga menyentuh lantai, dan di balik lapisan kulitnya yang transparan, gumpalan urat hitam bergerak-gerak secara konstan seperti cacing hidup yang terjebak di dalam daging.
"Bangsat..." gumam Damar, tangannya perlahan bergerak meraih gagang kapaknya yang terselip di pinggang, meski dia tahu senjata itu tidak akan banyak membantu.
Makhluk itu berhenti merangkak. Dia berdiri tegak dengan dua kaki belakangnya, menatap lurus ke arah Damar dan Alya yang masih terduduk di lantai.
Lalu, sudut rahangnya yang terbelah itu melebar ke samping. Makhluk itu... tersenyum. Sebuah seringai ganjil yang sarat akan kecerdasan primitif.
Tubuh Damar seketika membeku. Rasa ngeri yang berbeda menjalar di sumsum tulangnya. Ini bukan reaksi dari sebuah mayat hidup yang bergerak tanpa otak.
"Mar... dia... dia sadar apa yang dia lakukan?" bisik Alya dengan suara yang nyaris hilang, tubuhnya gemetar di belakang punggung Damar.
Belum sempat Damar mencerna hal itu, makhluk tersebut tiba-tiba melesat ke depan. Gerakannya begitu cepat, hampir menyerupai bayangan hitam yang memotong jarak dalam sekejap mata.
Di saat yang kritis itu, Kapten Rendra mengambil alih situasi. Dia melangkah maju dan langsung menekan picu senapannya tanpa ragu.
*DUAR! DUAR! DUAR!*
Suara tembakan beruntun memekakkan telinga di dalam lorong yang sempit. Beberapa selongsong peluru kuningan terlempar ke lantai dengan bunyi gemerincing. Peluru-peluru berkaliber besar itu menghantam tepat di dada monster tersebut, merobek daging hitamnya dan memercikkan cairan gelap. Namun, hantaman peluru itu sama sekali tidak membuatnya tumbang; hanya sedikit memperlambat momentum lompatannya.
"Tiarap!" teriak Rendra.
Damar dengan sigap merangkul bahu Alya dan menarik gadis itu jatuh menyungkur ke lantai. Sepersekian detik kemudian, tubuh raksasa monster itu melesat tepat di atas kepala mereka, menciptakan embusan angin dingin berbau busuk, sebelum akhirnya menghantam dinding beton di ujung lorong dengan kekuatan penuh.
*BRAKKK!*
Dinding beton tebal itu retak seketika, menyebarkan pecahan semen ke segala arah.
"Berdiri dan lari sekarang! Jangan sampai dia berbalik!" bentak Rendra lagi, tangannya dengan cepat mengganti magasin senapan yang kosong.
Damar merenggut lengan Alya, memapahnya setengah menyeret karena kaki gadis itu pincang tanpa sepatu. Mereka kembali berlari menyusuri sisa lorong yang tersisa. Di ujung jalan, Rudi sudah berdiri di depan sebuah pintu baja tebal yang dilengkapi dengan panel akses digital. Jemarinya bergerak panik di atas tombol-tombol panel.
"Ayolah... bangsat, jangan macet sekarang..." umpat Rudi, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.
Lampu indikator di atas panel masih berkedip-kedip merah, mengeluarkan bunyi bip pendek yang menjengkelkan.
"Cepat, Rudi! Makhluk itu sudah bangun lagi!" teriak Pak Rangga yang berjaga di sisi kiri sambil memegang sebatang besi pipa sebagai senjata terakhir.
Di belakang mereka, monster itu perlahan bangkit dari reruntuhan dinding. Rahangnya kembali mengeluarkan suara desisan marah. Dia menggelengkan kepalanya yang berdarah, lalu kembali merangkak dengan cepat menggunakan keempat anggotanya, bersiap melakukan penerkaman kedua.
Kapten Rendra berdiri kokoh di tengah koridor, melepaskan sisa pelurunya untuk menahan laju makhluk itu.
*DUAR! DUAR!*
Setiap hantaman peluru membuat makhluk itu melengking marah, namun dia tetap merangsek maju. Jaraknya tinggal lima meter dari posisi Rendra.
"Rudi! Sekarang atau kita semua mati di sini!" raung Rendra tanpa menoleh.
"Gue coba! Gue *bypass* arusnya!" Rudi memukul panel luar hingga penutup plastiknya pecah, lalu menarik dua helai kabel di dalamnya dan menyambungkannya secara paksa.
*SPARK!* Percikan api biru meletik dari panel. Lampu indikator seketika berubah menjadi hijau solid伴disertai bunyi klik hidrolik yang berat.
Pintu baja itu bergeser membuka perlahan ke samping.
"Masuk! Semuanya masuk!" teriah Rendra sambil melangkah mundur, tetap mengarahkan laras senjatanya ke depan.
Damar mendorong Alya masuk terlebih dahulu, disusul oleh Pak Rangga dan Rania. Begitu Rudi ikut menyelinap masuk, Kapten Rendra melompat mundur melewati ambang pintu dan langsung menghantam tombol darurat internal yang berwarna merah besar di dinding dalam.
*BUUMM!*
Pintu baja masif itu menutup dengan kecepatan tinggi, mengunci kompartemen tersebut tepat di saat moncong monster itu nyaris menyentuh celah pintu.
Sebuah dentuman keras yang luar biasa mengguncang seluruh ruangan ketika makhluk di luar sana menabrakkan seluruh bobot tubuhnya ke permukaan baja luar. Rania menjerit ketakutan, langsung menenggelamkan wajahnya di dada Pak Rangga yang duduk bersandar di lantai.
*BRAKK! BRAKK!*
Suara hantaman keras masih terdengar beberapa kali dari balik dinding baja, membuat baut-baut pengikat di sudut pintu bergetar samar. Namun, struktur baja militer itu terbukti jauh lebih kokoh ketimbang pintu laboratorium sebelumnya. Setelah beberapa menit berlalu tanpa hasil, suara hantaman di luar perlahan-lahan mereda, digantikan oleh suara langkah kaki berat yang menjauh.
Semua orang langsung ambruk ke lantai, terengah-engah mencari pasokan udara. Paru-paru mereka terasa terbakar oleh kombinasi rasa lelah dan ketakutan yang mencekam.
Damar jatuh terduduk, menyandarkan kepalanya ke dinding besi sambil memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Di sampingnya, Alya mencoba memeriksa pergelangan kaki kanannya yang mulai membiru dan membengkak.
"Apa... makhluk apa sebenarnya yang barusan ngejar kita, Mar?" bisik Alya, suaranya bergetar dengan nada yang sangat rapuh.
Kapten Rendra tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu berdiri diam di tengah ruangan, menyandarkan berat tubuhnya pada senapan serbu yang kini sudah kehabisan peluru. Dia menggelengkan kepalanya perlahan dengan pandangan mata yang kosong.
"Saya tidak tahu pasti," sahut Rendra dengan suara parau. "Tapi satu hal yang jelas... hal seperti itu tidak akan pernah bisa tercipta dari mutasi alami sebuah virus influenza atau rabies. Sesuatu telah merekayasa strukturnya dari dalam laboratorium."
Damar membuka matanya, lalu mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tempat mereka terdampar sekarang. Suasana di tempat ini terasa sangat berbeda dari laboratorium penelitian yang mereka temukan sebelumnya. Ruangan ini jauh lebih besar, berbentuk melingkar, dan dikelilingi oleh puluhan layar monitor raksasa yang tertanam di dinding betonnya.
Di bagian tengah ruangan, terdapat sebuah meja konsol berbentuk bundar dengan permukaan kaca yang memancarkan cahaya biru redup—sebuah peta digital kota yang tampaknya disuplai oleh sistem generator cadangan independen.
Rudi melangkah mendekati meja konsol tersebut dengan langkah ragu-ragu. Dia mengusap permukaan kaca yang berdebu dengan telapak tangannya. "Ini... tempat ini bukan bagian dari lab riset lagi, Kapten. Ini pusat kontrol operasional."
Damar bangkit berdiri secara perlahan, menahan rasa sakit di persendiannya, lalu ikut berjalan mendekati meja konsol utama. Begitu matanya menangkap visualisasi yang ditampilkan di atas layar digital raksasa di depan mereka, rahang Damar mendadak mengunci. Ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi sangat dingin.
Peta digital kota tempat mereka tinggal selama ini terpampang dengan detail yang sangat akurat. Namun, permukaan peta itu kini dipenuhi oleh ribuan titik merah kecil yang berkedip-kedip secara konstan. Titik-titik merah itu berkerumun, bergerak dalam pola-pola tertentu menyusuri jalur jalan raya, kompleks pemukiman, hingga area pinggiran kota.
"Titik-titik merah itu... apa maksudnya, Kak?" tanya Alya yang kini berdiri sambil bertumpu pada pundak Damar.
Kapten Rendra ikut melangkah mendekat, matanya menyipit menatap baris legenda di pojok bawah layar monitor. "Itu pelacak biologis berskala makro..." gumamnya dengan nada suara yang berangsur-angsur melemah.
Rudi mengernyitkan dahi, jemarinya mulai menyentuh panel kontrol di tepi meja. "Pelacak biologis? Maksudnya gimana, Pak?"
Rendra mengulurkan tangannya yang bersarung tangan, menunjuk ke arah salah satu kerumunan titik merah terbesar yang berada di pusat distrik perbelanjaan lama. "Setiap titik merah itu... merepresentasikan satu entitas biologi yang membawa kode genetik virus. Itu adalah posisi para *infected* di atas sana. Sistem ini memantau pergerakan mereka secara *real-time*."
Ruangan pusat kontrol itu seketika jatuh ke dalam keheningan yang mencekam.
Damar menatap layar dengan dada yang terasa kian sesak. Ribuan titik merah itu menyelimuti hampir seluruh permukaan kota tanpa menyisakan ruang kosong sedikit pun. Tidak ada area hijau yang menandakan zona aman. Tidak ada celah kosong yang bisa mereka gunakan sebagai jalur pelarian keluar dari neraka ini. Kota tempat mereka bertahan hidup selama ini telah sepenuhnya dikuasai dari ujung ke ujung.
Lalu, mata tajam Damar menangkap detail lain di atas peta digital tersebut. Beberapa wilayah tertentu di dalam kota sengaja diberi arsiran warna hitam pekat dan ditandai dengan kode huruf kapital yang tegas:
**ZONE A — DISPERSAL AREA**
**ZONE B — HIGH-DENSITY TESTING**
**ZONE C — CONTAINMENT PROTOCOL**
Dan tepat di posisi pusat kota, di mana markas lama mereka yang hancur berada, terdapat sebuah tulisan berukuran besar dengan warna kuning mencolok:
**MAIN TEST SECTOR**
Alya membeku di tempatnya berdiri, matanya terpaku pada tulisan di layar. "...*Test sector*? Sektor uji coba? Jadi... seluruh distrik tempat tinggal kita selama ini cuma dianggap sebagai sektor?"
Rudi tidak menjawab. Dia dengan panik mulai mengetikkan beberapa baris perintah pada papan ketik di meja konsol utama, mencoba membuka direktori tersembunyi di balik sistem operasi peta tersebut. Beberapa jendela dokumen teks dan grafik medis langsung terbuka secara otomatis di layar utama.
Dan semakin jauh mereka membaca dokumen-dokumen internal tersebut... semakin pucat wajah semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Di bagian kepala dokumen, tertulis judul besar dengan cap rahasia negara:
> **PROJECT GENESIS — LIVE CITY CONTAINMENT PROTOCOL**
> **TUJUAN OPERASIONAL:**
> 1. Observasi tingkat penetrasi dan kecepatan penyebaran virus biologis dalam populasi padat.
> 2. Observasi psikologi dan tingkat kelangsungan hidup subjek sipil tanpa bantuan logistik.
> 3. Observasi stabilitas dan arah mutasi genetik sekunder dalam lingkungan urban tertutup.
> **STATUS OPERASIONAL:** AKTIF / TAHAP EVALUASI AKHIR
>
Pak Rangga melangkah mundur setapak, matanya menatap layar dengan pandangan tidak percaya sekaligus ngeri. "Observasi...? Mereka menggunakan kata 'observasi' untuk ribuan orang yang mati kelaparan dan saling bantai di atas sana?!"
"Subjek sipil..." bisik Alya, air mata kemarahan kembali menggenang di pelupuk matanya. "Mereka bahkan tidak menganggap kami sebagai manusia. Kami cuma dianggap sebagai kelinci percobaan."
Rudi menelan ludah dengan susah payah, suaranya terdengar sangat bergetar saat dia membaca baris kesimpulan dokumen. "Artinya... semua ini bukan kecelakaan, Mar. Mereka... orang-orang yang membuat fasilitas ini, sengaja melepas varian virus itu ke tengah kota untuk melihat bagaimana cara kita mati..."
Tidak ada satu pun dari mereka yang sanggup mengeluarkan kata-kata untuk membalas ucapan Rudi. Kenyataan yang terpampang di depan mata mereka jauh lebih kejam dan menjijikkan ketimbang bayangan terburuk mereka tentang akhir dunia.
Kota ini bukan korban dari sebuah bencana wabah medis yang malang. Kota ini adalah sebuah akuarium raksasa, sebuah kandang eksperimen yang sengaja dirancang dengan dinding pembatas beton dan kawat berduri agar tidak ada satu pun kelinci percobaan yang bisa meloloskan diri dari pengamatan mereka.
Damar mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar karena amarah yang memuncak. "Mereka membiarkan semua orang mati... mereka membiarkan anak-anak, wanita, dan orang tua saling bantai di jalanan hanya demi melihat grafik di layar ini..."
Kapten Rendra hanya diam, berdiri dengan rahang yang mengeras menetap layar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sebagai seorang pria yang pernah mendedikasikan hidupnya untuk mengenakan seragam militer, dia paham betul arti dari dokumen semacam ini. Ini adalah produk dari sebuah birokrasi yang dingin, sebuah rencana yang telah disusun dengan rapi di balik meja rapat yang mewah oleh orang-orang yang tidak pernah mengotori tangan mereka dengan darah langsung.
Tiba-tiba, salah satu layar monitor sekunder di sisi kanan menyala secara otomatis, menampilkan sebuah file rekaman video arsip yang terenkripsi.
Video itu memperlihatkan sebuah ruang rapat tertutup yang mewah dengan pencahayaan minim. Di tengah meja rapat, tampak seorang pria paruh baya mengenakan seragam militer lengkap dengan deretan bintang di pundaknya. Wajah pria itu sengaja disensor dengan kotak hitam digital, namun suaranya yang berat dan penuh otoritas terdengar sangat jelas melalui speaker ruangan.
*"Jika Project Genesis ini berhasil mencapai fase stabilisasi,"* ujar suara pria di dalam video tersebut dengan nada dingin tanpa emosi. *"Negara kita akan memiliki keunggulan taktis mutlak di medan tempur global. Kita akan memiliki generasi tentara baru yang tidak membutuhkan biaya perawatan medis atau logistik konvensional."*
Kemudian, terdengar suara pria lain dari ujung meja rapat yang menimpali, *"Bagaimana jika terjadi kegagalan sistem penahanan dan virus menyebar ke luar dari zona isolasi kota, Jenderal?"*
Pejabat militer yang dipanggil Jenderal itu terdiam sesaat, sebelum akhirnya menjawab dengan intonasi suara yang datar, seolah-olah sedang membicarakan masalah pembuangan sampah biasa:
*"Jika protokol karantina gagal menahan penyebaran di dalam perimeter, maka opsi terakhir akan diambil. Aktifkan protokol pembersihan total. Musnahkan seluruh isi kota tanpa menyisakan satu pun subjek hidup."*
Mendengar kalimat terakhir itu, Pak Rangga langsung merengkuh tubuh Rania dan memalingkan wajah putrinya agar tidak melihat atau mendengar lebih jauh rekaman jahanam tersebut. Sementara Alya tampak gemetar hebat, seluruh tubuhnya lemas karena kombinasi rasa marah dan benci yang teramat sangat.
"Mereka... mereka benar-benar monster..." bisik Alya dengan suara yang pecah oleh tangis.
Damar merasakan dadanya seperti dihantam oleh batu besar hingga sesak. Selama berbulan-bulan ini, mereka semua bertaruh nyawa di permukaan atas, mengorbankan teman, mengais sisa makanan di antara tumpukan mayat, dan tidur dalam ketakutan setiap malam hanya untuk bertahan hidup—sementara di luar sana, ada sekelompok orang yang menganggap seluruh perjuangan hidup-mati mereka tidak lebih dari sekadar angka statistik percobaan yang bisa dihapus kapan saja.
Tiba-tiba—
*BZZZZT!*
Monitor utama di meja konsol kembali berkedip dengan keras. Layar peta digital kota sempat bergoyang horizontal sebelum akhirnya tergantikan oleh sebuah dokumen baru yang berlabel merah tebal di bagian atasnya:
**PHASE 2 EVOLUTION REPORT — LIVE SUBJECT UPDATE**
Kapten Rendra langsung mengalihkan pandangan matanya dengan tajam ke arah layar tersebut. "Rudi, buka file itu sekarang. Jangan lewatkan apa pun."
Rudi dengan cepat mengetuk tombol *Enter*. Dan begitu isi dokumen itu terbuka sepenuhnya di hadapan mereka, hawa dingin di dalam ruangan pusat kontrol itu mendadak terasa semakin menusuk tulang.
> **LAPORAN EVOLUSI FASE 2 — KODE MUTASI: APEX**
> **HASIL MUTASI SEKUNDER PADA SUBJEK:**
> * Peningkatan kecepatan motorik hingga 300% dari subjek fase awal.
> * Peningkatan agresi dan ketahanan jaringan otot terhadap peluru kaliber kecil.
> * Peningkatan kemampuan berburu taktis dalam kondisi minim cahaya.
> **CATATAN OBSERVASI LAPANGAN:** Subjek fase dua mulai menunjukkan indikasi perkembangan psikologis baru, termasuk:
> * Pola koordinasi kelompok yang terstruktur (berburu dalam kawanan).
> * Kemampuan mengenali frekuensi suara spesifik dan sinyal digital.
> * Kemampuan mengingat dan melacak target yang pernah meloloskan diri.
>
"Tidak... ini gak mungkin terjadi..." gumam Pak Rangga pelan, wajahnya tampak semakin pias menatap baris catatan observasi tersebut.
Alya mundur satu langkah dari meja konsol, tangannya mencengkeram lengan jaket Damar dengan sangat kuat. "Mar... mereka... makhluk-makhluk di luar sana... mereka bisa belajar? Mereka bukan cuma bergerak pakai insting lapar?"
Ekspresi wajah Kapten Rendra kini terlihat jauh lebih tegang ketimbang saat mereka dikejar oleh monster di lorong tadi. "Jika subjek fase dua ini sudah mulai mengembangkan kemampuan koordinasi kelompok dan mengingat target..." Rendra tidak melanjutkan kalimatnya secara lisan.
Namun, semua orang yang ada di dalam ruangan itu sudah paham betul apa arti mengerikan di balik kalimat yang menggantung itu. Para *infected* di luar sana kini bukan lagi sekadar kumpulan mayat hidup tanpa arah yang bisa mereka hindari dengan cara bersembunyi di dalam kegelapan. Mereka sedang berevolusi menjadi barisan pemburu yang cerdas, terorganisir, dan efisien. Dan yang lebih buruk, makhluk raksasa yang baru saja menyerang mereka di lorong tadi kemungkinan besar adalah salah satu dari subjek Fase Dua tersebut.
Dan sebelum siapa pun di antara mereka sempat mendiskusikan langkah antisipasi selanjutnya—
Lampu-lampu fluoresen di dalam ruangan pusat kontrol tiba-tiba berkedip dengan sangat keras disertai bunyi desis tegangan listrik yang tidak stabil.
*BZZTTT! BZZTTT!*
Seluruh monitor besar di dinding mati seketika selama dua detik, melemparkan mereka ke dalam kegelapan total sebelum akhirnya menyala kembali dengan warna merah menyala yang berputar-putar di seluruh sudut ruangan. Sebuah suara sirine darurat bernada tinggi mulai melengking keras, memekakkan telinga mereka.
*WARNING! WARNING!*
*CRITICAL CONTAINMENT BREACH DETECTED IN SECTOR 04!*
Bersamaan dengan bunyi sirine tersebut, suara geraman panjang yang bergaung rendah kembali terdengar merayap masuk ke dalam ruangan melalui celah ventilasi udara.
Namun kali ini... suara itu tidak datang dari satu arah. Dan suara itu jelas bukan berasal dari satu tenggorokan saja. Dari balik dinding baja tebal yang baru saja mereka kunci, terdengar sahutan geraman yang saling bersahutan, menciptakan gelombang suara statis yang mengerikan yang membuat bulu kuduk mereka meremang sempurna.
Kapten Rendra dengan cepat membalikkan tubuhnya, tangannya bergerak cepat menarik tuas pengokang senapannya yang kosong, hanya untuk menyadari dengan kepahitan bahwa dia sudah tidak memiliki sisa amunisi lagi. Wajah sang perwira tangguh itu tampak berubah pucat untuk pertama kalinya sejak wabah ini menghancurkan dunianya.
"Semuanya mundur... merapat ke dinding belakang! Sekarang!" perintah Rendra dengan suara yang bergetar tegang.
*THUK!*
Sebuah hantaman keras muncul dari arah permukaan luar pintu baja darurat tempat mereka masuk tadi.
Lalu disusul oleh hantaman kedua yang tidak kalah masif dari sudut yang berbeda. Dan hantaman ketiga, keempat, hingga seluruh permukaan baja tebal itu mulai bergetar hebat di bawah tekanan yang luar biasa dari luar.
*BRAKK! BRAKK! BRAKK!*
Suara cakar-cakar tajam yang menggores permukaan logam terdengar saling berdesakan di luar sana. Mereka tidak lagi sedang berhadapan dengan satu ekor monster yang tersesat di dalam fasilitas ini. Jeritan dan aktivitas digital dari komputer utama tadi tampaknya telah berhasil memanggil seluruh kawanan pemburu Fase Dua yang berkeliaran di dalam kompleks bawah tanah ini.
Sesuatu yang jauh lebih buruk, jauh lebih cerdas, dan jauh lebih mematikan baru saja menemukan posisi persembunyian mereka. Dan kali ini, tidak ada lagi pintu baja lain yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi.