JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
SUV hitam itu akhirnya berbelok memasuki gerbang tinggi Mansion Widjaja yang megah namun terasa dingin. Marco memutar kemudi dengan tenang, mengarahkan mobil langsung ke area drop-off tepat di depan teras utama. Begitu mobil berhenti dengan sempurna, ia langsung mematikan mesin.
Belum sempat Marco bergerak untuk membukakan pintu, Haura sudah lebih dulu mendorong pintu penumpang dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia tidak mau berlama-lama terjebak dalam keheningan intim di dalam kabin mobil bersama pemuda yang beberapa menit lalu baru saja menghapus air matanya.
"Saya bisa sendiri," gumam Haura, entah pada Marco atau pada dirinya sendiri.
Ia menurunkan kedua kakinya ke lantai teras, mencoba menumpu berat badannya pada heels stiletto-nya yang tinggi. Namun, baru dua langkah menjauh dari mobil, bumi di bawah kakinya seolah berputar hebat. Rasa perih di ulu hatinya kembali menusuk, membuat pandangannya mengabur dan lututnya mendadak lemas seperti jeli. Tubuhnya limbung ke kanan, nyaris menghantam pilar beton teras jika sebuah sepasang tangan tidak dengan cepat menangkap bahunya.
"Eh, eh! Tante! Astaga!"
Arlo, yang ternyata sudah berdiri di teras sejak tadi bersama Kevin karena cemas menanti kedatangan mereka, langsung menahan tubuh Haura dengan sigap. "Tante pucat banget, ini bau minyak angin sama asam lambung parah banget lagi. Aku tuntun sampe kamar ya, Tan?" tawar Arlo, wajahnya tampak panik melihat tantenya yang biasanya garang kini terkulai lemas di pelukannya.
Meskipun kesadarannya timbul tenggelam, gengsi Haura tetap berada di level tertinggi. Ia mengerang pelan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Arlo walau gerakannya sangat lemah. "Nggak usah... Tante bisa jalan sendiri, Arlo. Minggir!"
"Bisa jalan sendiri apanya? Berdiri aja kayak orang mabuk gitu," celetuk Marco yang baru saja keluar dari kursi kemudi. Ia berjalan mendekat dengan santai, melemparkan kunci mobil SUV itu tepat ke arah tangkapan Arlo. Ia menatap Haura dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara jengkel karena wanita itu keras kepala, dan rasa kasihan.
"Arlo, bawa tante lo masuk. Jangan dengerin omong kosongnya," perintah Marco tegas.
Tepat pada saat itu, pintu jati besar mansion terbuka. Sosok Anggara Widjaja melangkah keluar dengan rapi, masih mengenakan kemeja batiknya. Wajahnya yang tegas langsung mengeras saat melihat pemandangan di teras rumahnya: putri bungsunya yang selalu ia tuntut untuk sempurna, kini pulang dengan keadaan berantakan dan dipapah oleh keponakannya.
Anggara melangkah cepat menghampiri mereka, mengabaikan keberadaan Marco dan Kevin yang berdiri di dekat mobil. "Tante kamu kenapa, Arlo? Kenapa pulangnya jam segini dan penampilannya berantakan seperti ini?" tanya Anggara, suaranya berat dan penuh tuntutan, bahkan tidak ada nada khawatir yang tulus di dalamnya.
Arlo menghela napas, mencoba membetulkan posisi papahan pada bahu Haura. "Biasalah, Opung. Maag-nya kambuh parah banget tadi di jalan. Sampe muntah-muntah katanya."
Anggara beralih menatap Haura, matanya menyipit tidak suka. "Kamu ini bagaimana, Haura? Trian baru saja menelepon Papa sepuluh menit yang lalu. Dia bilang kamu pergi begitu saja dari restoran setelah bersikap sangat tidak sopan. Sekarang kamu pulang dengan alasan sakit?"
Haura mendongak dengan susah payah. Mendengar ucapan papanya, hatinya yang tadi sudah rapuh kini terasa makin hancur. Tidak ada pertanyaan "Kamu nggak apa-apa, Nak?" atau "Mana yang sakit?". Yang ada hanyalah penghakiman karena ia telah mengacaukan kencan yang diatur sang papa.
"Aku emang sakit, Pa..." bisik Haura, suaranya serak dan bergetar. "Aku nggak bohong."
"Sakit karena kamu tidak bisa mengontrol gaya hidupmu! Kamu terlalu egois, Haura. Papa menjodohkanmu dengan Trian agar ada yang mengurusmu, tapi kamu malah memperlakukan dia seperti musuh bisnis," sahut Anggara dingin, suaranya menggelegar di teras malam yang sepi. "Kalau kamu terus-terusan seperti ini, sampai kapan kamu mau hidup sendirian dan menyusahkan keluarga?"
Mendengar kata-kata 'menyusahkan' keluar dari mulut pria yang selama ini ia hormati, setitik air mata kembali lolos dari pelupis Haura. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis agar tidak pecah di depan ayahnya.
Arlo yang merasa situasi semakin canggung hanya bisa diam, tidak berani membantah kakeknya yang terkenal otoriter. Namun, di belakang mereka, suasana mendadak mendingin. Marco yang sejak tadi menyimak perdebatan itu melangkah maju. Tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket denimnya, wajahnya yang tampan kini sepenuhnya datar dengan tatapan mata yang sangat tajam mengarah lurus pada Anggara.
"Permisi, Om," potong Marco, memecah ketegangan. Suaranya terdengar sangat tenang namun memiliki penekanan yang tidak bisa diabaikan.
Anggara menoleh, menatap Marco dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Kamu siapa? Teman Arlo? Jangan ikut campur urusan keluarga saya."
Marco tersenyum miring—senyum khasnya, tapi kali ini tanpa rasa hormat. "Saya memang bukan siapa-siapa, Om. Tapi sebagai orang yang tadi nemenin Tante Haura muntah-muntah di pinggir jalan sampai badannya gemeteran, saya cuma mau bilang satu hal. Anak Om ini sakit beneran, bukan cari alasan."
"Marco, diem lo..." bisik Arlo panik, menyenggol lengan temannya. Namun Marco mengabaikannya.
"Dia kerja dari pagi di ruko, nggak makan siang demi mastiin barang-barang jastipnya aman, dan malamnya masih harus maksain diri datang ke restoran pilihan Om cuma buat dengerin omongan cowok yang nggak punya otak," lanjut Marco, suaranya naik satu nada, menantang dominasi Anggara. "Kalau Om emang sayang sama anak Om, harusnya Om tanya kondisinya sekarang, bukan malah ceramahin dia soal harga diri cowok S2 yang lecek itu."
"Marco!" Haura bersuara dengan sisa tenaganya, menatap Marco dengan mata membelalak terkejut. Ia tidak menyangka bocah ini akan senekat itu membentak papanya di rumah mereka sendiri.
Anggara Widjaja terdiam sejenak, wajahnya memerah padam karena murka. Baru kali ini ada anak muda berandalan yang berani menceramahinya di halaman rumahnya sendiri. "Kamu... berani sekali bicara seperti itu di rumah saya! Keluar kamu dari sini sekarang!"
"Saya emang mau keluar, Om. Nggak betah juga lama-lama di rumah yang hawanya lebih dingin dari kulkas begini," sahut Marco santai. Ia melirik Haura yang masih menatapnya dengan pandangan campur aduk—antara marah, terkejut, dan sesuatu yang menyerupai rasa terima kasih yang mendalam.
Marco berjalan mendekati Haura, mengabaikan tatapan membunuh dari Anggara. Ia menepuk pelan puncak kepala Haura—sebuah tindakan yang sangat tidak sopan untuk ukuran hubungan 'tante dan anak magang', namun terasa sangat intim.
"Masuk sana, Tante Sayang. Minum obatnya, terus tidur. Besok nggak usah ke ruko kalau masih lemes. Biar gue sama Arlo yang urus kerjaan lo," bisik Marco dengan suara yang melembut hanya untuk didengar oleh Haura.
Setelah itu, Marco berbalik, menepuk bahu Kevin yang sejak tadi mematung seperti patung selamat datang. "Yuk, Vin, balik. Taksi kita udah di depan gerbang."
Haura menatap punggung tegap Marco yang berjalan menjauh membelah kegelapan malam menuju gerbang mansion. Di dalam hatinya yang sedang terluka oleh kata-kata ayahnya, ada sebuah kehangatan aneh yang mulai merayap. Bocah tengil itu... baru saja menjadi satu-satunya orang yang membelanya di saat seluruh dunianya menuntutnya untuk tidak boleh jatuh. Benteng kokoh yang selama tiga puluh delapan tahun ini dibangun Haura, malam ini, resmi retak karena ulah seorang Marco Permana.
semangattt