NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

​Awalnya, kisah ini adalah tentang janji dua hati untuk membangun masa depan yang indah bersama. Namun takdir berputar kejam ketika rahasia dan ambisi besar keluarga mulai terungkap. Kini, perjuangan mereka berubah arah. Di persimpangan jalan yang perih, Brant dan Luca dipaksa mempertaruhkan perasaan dan kisah cinta mereka demi melindungi keluarga masing-masing. Ketika kesetiaan diuji, akankah cinta mereka bertahan, atau justru menjadi korban yang paling tragis?



#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Dua hari sejak kepulangannya dari Indonesia, Brant belum bisa bernapas lega. Langkah kakinya menghentak lorong lantai atas gedung utama. Pintu ruang kerja itu dibuka paksa tanpa ketukan. Di dalam sana, Tuan Lodrik—yang baru saja kembali setelah seminggu menghilang dengan alasan urusan luar—tertegun di balik meja kebesarannya. Sebelum sang ayah bersuara, Brant maju dan menghempaskan tumpukan dokumen serta beberapa lembar foto Junior ke atas meja.

​Brak!

​"Jelaskan apa apa ini?" tuntut Brant langsung, suaranya rendah namun bergetar menahan amarah.

​Dengan ketenangan yang dipaksakan, ayahnya sadar Brant telah mengetahui semuanya. Ia meletakkan penanya dan mengambil salah satu foto Junior, menatapnya sekilas sebelum mendongak menatap Brant. "Anakku juga harus mendapatkan warisanku, Brant."

​"Tapi semua aset ini milik Mama!" potong Brant tajam.

​"Aku juga punya andil di sini!" suara ayahnya mulai meninggi, egonya terusik. "Kau kira sebesar apa bisnis yang dikelola ibumu dulu, hah? Perusahaan kecil! Aku yang memeras keringat, mengusahakannya siang dan malam hingga menjadi raksasa bisnis seperti sekarang, sampai kau dan ibumu bisa menikmati kesuksesan ini!"

​"Jadi... Papa ingin membagi milik Mama? Untuk seorang anak hasil perselingkuhanmu?" Wajah Brant memerah, buku-buku jarinya memutih mengepal di sisi tubuh.

​"Dia juga darah dagingku, Brant!" bentak tuan Lodrik.

​Brant terkekeh sumbang. Tatapannya menajam, menusuk langsung ke manik mata pria di hadapannya. "Oh, iya. Aku lupa. Aku ini... bukan anak kandungmu, kan?"

​Tuan Lodrik tersentak. Ekspresi terkejut yang langka kilat melewati wajah paruh bayanya. "Papa tidak pernah berpikir seperti itu, Brant. Dari dulu sampai saat ini, kau tetap anakku."

​"Tapi tindakanmu menghancurkan kata-katamu," desis Brant kejam.

Tuan ​Lodrik terdiam. Beliau mengembuskan napas kasar, menyugar rambutnya dengan frustrasi. Menjelaskan logika pada singa yang sedang mengamuk seperti Brant saat ini rasanya percuma. Namun, ia harus menyelesaikannya hari ini. "Papa hanya ingin ibumu menerima keputusan ini secara damai."

​"Ini gila, Pa! Kau meminta kami menerima sesuatu yang menjijikkan seperti ini?"

​"Terserah kau mau menganggapnya apa. Papa sudah mengambil keputusan ini sejak lama... menunggu hingga kau selesai kuliah," ucap ayahnya dingin.

​Mendengar kalimat terakhir itu, Brant tertegun. Otaknya yang cerdas langsung merajut benang merah. Ia mengerti mengapa selama bertahun-tahun ini ayahnya selalu mendesak dan menekannya untuk segera menyelesaikan studi dan mengambil alih kendali di kantor pusat.

​"Jadi..." Suaranya mendadak tercekat. "Papa sengaja menyiapkan ini agar Papa bisa meninggalkan Mama dan menetap di Indonesia bersama mereka?"

Tuan ​Lodrik tidak menampik. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. "Kau ambil alih semuanya di sini, Brant. Ini kantor pusat. London adalah jantungnya. Perusahaan ini memiliki koneksi global yang tak terbatas, investor-investor kakap dari negara maju, dan sistem yang jauh lebih besar untuk kau kendalikan. Kau akan menjadi pria paling berkuasa di sini."

​Meskipun dadanya bergemuruh hebat oleh rasa marah, sisi pebisnis Brant tetap mendengarkan penjelasan itu.

​"Papa hanya ingin mengambil alih kantor anak cabang di Indonesia, dan tinggal di sana," lanjut tuan Lodrik.

​Brant melangkah satu langkah lebih dekat ke meja kerja. "Mengapa Papa tega sekali ingin meninggalkan Mama? Apa salah Mama?" tanya Brant, suaranya melunak namun terasa sangat dingin.

​Melihat gurat kekecewaan di mata anak yang dibesarkannya, benteng pertahanan tuan Lodrik akhirnya runtuh. Ia merasa, hari ini adalah waktu yang tepat untuk memuntahkan rahasia yang ia pendam puluhan tahun.

​"Kau tidak pernah tahu rasanya menjadi papa, Brant," ucap ayahnya, suaranya mendadak terdengar lelah dan penuh luka lama. "Dulu, aku hanyalah seorang perantau miskin yang beruntung menikahi ibumu. Begitu perusahaan ini sukses besar berkat kerja keras yang kupikir bisa membanggakannya, aku meminta ibumu untuk kembali dan menetap di Indonesia bersamaku. Memulai hidup baru yang tenang di tanah kelahiran kami berdua."

Tuan ​Lodrik menjeda kalimatnya, tersenyum pahit. "Tapi ibumu menolak keras. Dia bersikeras tetap tinggal di London hanya karena makam mantan suaminya—ayah kandungmu—ada di sini. Dia lebih memilih liburan di Indonesia daripada harus menetap bersamaku di sana."

​Brant tertegun.

​"Puluhan tahun aku hidup dalam bayang-bayang pria yang sudah mati, Brant. Ibumu hanya membutuhkanku untuk mengurus perusahaan ini, bukan karena cinta," lanjut beliau meluapkan rasa cemburu dan tidak dihargai yang menumpuk jadi racun. "Ditambah kenyataan bahwa ibumu tidak bisa memberiku keturunan. Aku kesepian. Rasa frustrasi itu... yang membuat papa mengambil pilihan ini."

​Mendengar pengakuan panjang itu, hati Brant sempat bergetar. Ia bisa memahami luka ayahnya, namun hal itu tetap tidak bisa membenarkan sebuah pengkhianatan. Cinta Brant pada ibunya jauh lebih besar dari rasa simpati apa pun.

​"Terserah apa alasan Papa," ucap Brant, memutus rantai melankolis di ruangan itu. "Apa yang Papa lakukan tetap sebuah kesalahan. Dan mulai detik ini... kita adalah saingan. Aku tidak akan membiarkan satu sen pun dari aset keluarga ini dibagi untuk anak itu."

​Jauh di lubuk hatinya, Brant sebenarnya tidak ingin kedua orang tuanya bercerai. Namun, harga diri ibunya dan warisan itu adalah harga mati.

​Tanpa menunggu jawaban lagi, Brant berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruangan, membanting pintu di belakangnya. Sembari berjalan cepat di koridor kantor, jemarinya dengan kilat mengetik pesan singkat di ponsel, mengirimkannya kepada Leo:

​“Cepat temukan siapa sosok bintang di balik produk kosmetik Junior."

Aku akan mengancurkan bisnis itu. Batin brant penuh dendam.

Hampir seminggu berlalu, dan keheningan di antara Luca dan Brant masih belum terpecahkan. Ego Luca yang sempat mengeras kini telah meluluh sepenuhnya. Pengalihan panggilan di ponselnya sudah ia matikan sejak tiga hari lalu. Namun, nihil. Hanya ada riwayat pesan dan panggilan tak terjawab dari Brant sesaat sebelum pria itu lepas landas ke London seminggu yang lalu. Setelah itu, tidak ada lagi.

​"Kalian masih bertengkar?"

​Suara datar Lea memecah keheningan di ruang tamu. Ia melirik jengah ke arah Luca yang sejak satu jam lalu hanya duduk diam di sofa, memandangi layar ponselnya tanpa henti.

​"Nggak bertengkar. Cuma... lagi sama-sama diam aja," jawab Luca pelan.

​"Sama aja kali, bedanya cuma nggak adu mulut," cibir Lea. Namun melihat raut lesu kakaknya. Ia bangkit berdiri dari posisinya. "Udah, kalau Kak Brant telepon lagi, angkat aja. Nggak usah gengsi. Gue tahu lu udah tersiksa banget, kan?"

​Luca mendongak, sedikit terkejut. "Tumben kamu perhatian? Biasanya paling rajin ngejalin kalau tahu aku lagi kayak gini."

​"Kasihan aja gue liat lu," sahut Lea datar sebelum melangkah pergi menuju kamarnya.

​Keesokan harinya, suasana hati Luca jauh lebih cerah. Sepulang dari rapat penting bersama tim kreatif, Luca langsung meminta sopir taksi mengantarnya ke butik sang ibu. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mampir jika ada waktu luang.

​"Sore, Kak! Mama ada di dalam?" sapa Luca ceria kepada salah satu karyawan butik.

​"Sore, Luca. Iya, Ibu Lana ada di dalam ruang kerjanya," jawab karyawan itu ramah.

​"Oke, makasih ya!" Luca langsung berlari kecil menuju ruangan pribadi ibunya. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu kayu itu. "Sore, Mama!"

​"Astaga, Luca! Biasain ketuk pintu dulu kenapa? Mama kaget tahu," ucap Ibu Lana seraya mengelus dadanya terkejut. Namun, senyumnya langsung mengembang melihat putranya kini sudah duduk manis di depannya dengan wajah berbinar-binar penuh rahasia.

​"Ma, tahu nggak hari ini aku dapat apa?" tanya Luca, mencondongkan tubuhnya ke depan meja kerja.

​Ibu Lana terkekeh menggeleng. "Dapat apa?

​Luca segera membuka aplikasi M-Banking di ponselnya lalu menyodorkannya tepat di depan wajah sang ibu. "Lihat! Aku dapat banyak banget, Ma!"

​Sepasang mata Ibu Lana membelak sempurna saat membaca deretan angka yang tertera di layar. "Luca... ini jumlah yang besar sekali. Kamu tidak sedang bercanda, kan?"

​"Iya, aku juga awalnya nggak percaya, Ma! Aku sampai telepon Kak Citra buat mastiin transferan itu. Ternyata benar, katanya ini uang DP untuk termin pertama kontrak baruku, sekalian ditambah bonus royalti karena penjualan produk kemarin meledak tembus target!" jelas Luca panjang lebar dengan nada bangga.

​"Benarkah? Wah... diam-diam anak Mama sudah sukses sekarang," ucap Ibu Lana dengan mata berkaca-kaca karena haru.

​"Maka dari itu, Ma... aku mau uang ini dipakai buat biaya pembangunan lantai dua butik Mama," sela Luca cepat.

​Ibu Lana tertegun. Rasa haru dan bangga kini bercampur dengan rasa heran. "Ca, kenapa uangnya malah buat bangun butik Mama? Kamu nggak pengin beli mobil sendiri buat pakai kerja atau keperluanmu?"

​"Nggak dulu, Ma. Kak Citra bilang minggu depan aku sudah difasilitasi mobil dinas dari perusahaan untuk kerja jarak jauh. Kalau cuma dekat-dekat, aku bisa pesan transportasi online," tolak Luca santai.

​"Kalau begitu, ditabung saja dulu untuk masa depanmu," bujuk ibunya lagi.

​"Nanti kan masih ada lagi, Ma. Hasil yang kali ini khusus mau aku kasih buat Mama. Biar lantai dua butik bisa cepat dibangun, jadi Mama bisa nambah pajangan jualan atau buka usaha lain," jawab Luca mantap disertai anggukan riang.

​"Kamu beneran nggak apa-apa, sayang?" tanya Ibu Lana, memastikan ketulusan putranya.

​"Beneran, Ma!" Luca tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit indah.

​"Terima kasih banyak ya, sayang. Mama benar-benar terharu," ucap Ibu Lana lembut, mengusap kepala putranya penuh kasih.

​Sembari kembali merapikan beberapa berkas di mejanya, Ibu Lana mencoba bertanya dengan nada kasual, seolah hanya basa-basi biasa. "Oh ya, Ca. Gimana kabar Brant? Dia sudah hubungi kamu?"

​Pertanyaan sederhana itu seketika membuat senyum manis di wajah Luca luntur. Bahunya merosot turun. "Nggak tahu, Ma. Kita lagi nggak bicara...seminggu lalu juga nggak sempat ketemu sebelum dia balik ke London."

​Ibu Lana menghentikan gerakannya, lalu menatap Luca. "Tapi waktu itu Brant nyariin kamu sampai datang ke rumah. Dia teriak-teriak panggil nama kamu di depan pagar."

​Mata Luca membelak sempurna. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Hah? Kapan, Ma? Kok aku nggak tahu?"

​"Kita masih di luar kota. Lea yang bilang ke Mama. Brant datang dan manggil-manggil kamu. Adikmu cuma mengintip dari balik jendela sambil merhatiin dia," jelas Ibu Lana panjang lebar. Ia menatap Luca penuh selidik namun lembut. "Kalian... masih baik-baik saja, kan?"

​Luca sempat terdiam lama, mencerna informasi yang baru saja ia dengar. Jadi... Brant tidak mengabaikannya? Pria itu benar-benar datang mencarinya ke rumah?

​Perlahan, senyum manis yang sempat hilang kini kembali terbit di bibir Luca. "Iya, Ma. Aku dan Kak Brant baik-baik aja kok. Cuma lagi ada salah paham sedikit. Nanti juga baikan lagi."

​"Ya sudah, selesaikan baik-baik. Jujur, Mama sangat berharap kamu dan Brant bisa terus bertahan. Dia anak yang baik, perhatian, dan selalu jadi andalan Mama untuk jagain kamu di sini," ucap Ibu Lana tulus, menaruh harapan besar pada hubungan putranya.

​Kata-kata ibunya terus terngiang di kepala Luca, bahkan setelah percakapan mereka selesai. Apa yang dikatakan ibunya sama sekali tidak salah. Brant adalah sosok pelindung yang luar biasa, pria yang selalu ada untuknya dalam kondisi apa pun. Mengingat kembali bagaimana perlakuan manis Brant membuat hati Luca kembali menghangat dan berbunga-bunga.

​Sebelum menyusul ibunya melangkah keluar dari ruangan untuk pulang ke rumah, Luca merogoh ponselnya. Dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan penuh harap, jemarinya mengetik sebuah pesan singkat untuk sang kekasih:

​“Kak, kalau ada waktu luang, ayo kita bicara.”

​Pesan terkirim. Tanpa menunggu balasan, Luca mengantongi kembali ponselnya dan melangkah keluar dengan senyum yang tak lagi pudar.

Sebelum pesan damai dari Luca masuk, Brant sempat terduduk diam di kursi kerjanya, memandangi foto dirinya bersama Luca yang menjadi wallpaper ponselnya. Tatapannya kosong, diselimuti kemurungan yang begitu pekat. Kondisi itu tertangkap jelas oleh sepasang mata Leo saat asisten pribadinya itu melangkah masuk membawa laporan tambahan.

​Leo menghentikan langkahnya sejenak, menimbang situasi sebelum bersuara dengan sangat hati-hati. "Brant... apa boleh aku bicara sesuatu secara pribadi?"

​Brant mendongak sekilas, lalu mengangguk lemah. "Apa?"

​"Mana yang sebenarnya membuatmu jauh lebih kacau saat ini?" tanya Leo ragu, atmosfer di antara mereka mendadak tegang. "Masalah aset keluarga... atau beban pikiran tentang hubungan asmaramu?" Leo menjeda, menarik napas dalam. "Maaf, Brant. Aku menanyakan ini karena melihatmu kacau sampai mabuk parah waktu lalu.

​Brant menyandarkan punggungnya ke kursi, mengembuskan napas berat tanpa mengalihkan pandangan dari foto Luca di layarnya.

​"Semuanya penting bagi gue, Leo. Semuanya bisa bikin gue hancur," jawab Brant, suaranya terdengar serak. Ia lalu menatap Leo dengan mata memerah. "Bukan cuma masalah warisan, tapi melindungi Nyokap dan mempertahankan keluarga gue... beban ini terlalu berat. Tapi bukan berarti gue lepas tangan sama hubungan gue. Masalah hubungan.. gue rasa masih lebih mudah diatasi. Luca anak yang baik, dia mudah dibujuk. Meski agak sulit, dia pasti akan mengerti posisi gue."

​Leo terdiam sejenak, merenungkan ucapan atasannya sebelum kembali memberi pandangan realistis. "Tidak semudah itu menyelesaikan semuanya secara bersamaan, Brant. Pikiran dan energimu akan terkuras habis untuk perang keluarga ini. Pada akhirnya, kau akan mengulangi kesalahan yang sama pada kekasihmu... mengabaikannya lagi."

​"Mengapa lu bisa seyakin itu? Gue sangat mencintainya, Leo," sergah Brant, egonya sedikit terusik.

​"Karena aku melihat ambisimu jauh lebih besar untuk urusan perusahaan ini," balas Leo tenang namun menusuk. "Aku mengerti perasaanmu. Tapi maksudku, kau perlu waktu dan fokus penuh untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar ini dulu, agar kau tidak kelelahan dan semakin kacau."

​"Tapi bukan berarti gue akan mengesampingkan Luca," bisik Brant pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

​"Jika kalian memang berjodoh, dia pasti akan menunggumu," saran Leo tulus, berharap kalimat itu bisa meringankan sedikit beban di pundak sang bos muda.

​Brant memandangi Leo dengan tatapan dingin, tajam, dan penuh arti. Ia paham maksud baik Leo, namun batinnya bergolak hebat. Mengembuskan napas kasar, Brant memejamkan matanya rapat-rapat. "Entahlah... gue juga mulai merasa lelah."

​Dilema besar menghantamnya. Sisi egois dalam dirinya mulai berbisik; mengapa hanya dia yang harus tertekan untuk berjuang demi semua orang? Dia juga ingin berjuang demi kewarasannya sendiri. Sebagai anak tunggal, tanggung jawab melindungi ibunya adalah keharusan, dan konflik terus menurus karna hubungan jarak jauh di tengah badai ini terasa seperti menekan pikiran Brant.

​Tepat setelah pergolakan batin itu, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Pesan dari Luca: “Kak, kalau ada waktu luang, ayo kita bicara.”

​Ada binar senang yang sempat melonjak di dada Brant. Namun, ego dan pemikiran realistis yang menurutnya tepat untuk saat ini langsung membunuh binar tersebut. Brant perlu berfikir dalam, untuk sebuah keputusan. Ia tidak boleh hancur atau menghancurkan orang- orang tercintanya. Menunggu setelah leo keluar dari ruangannya, brant telah mengambil keputusan yang implusif. Ia segera menekan tombol telepon.

​Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu terangkat.

​"Kak... apa kabar?" Suara Luca terdengar sedih, namun ada nada bahagia yang tertahan di sana. "Maaf ya, kita nggak ketemu waktu Kak Brant ke rumah kemarin."

​"Nggak apa-apa, Ca. Mungkin lain kali," jawab Brant, singkat dan terasa begitu berjarak.

​"Kak Brant baik-baik aja kan di sana? Ada salam dari Mama, kemarin nanyain kabar Kakak."

​"Iya, gue baik."

​"Kak... kok gitu?" bisik Luca lirih. Nada bicara Brant begitu dingin, tidak ada basa-basi rindu, apalagi panggilan sayang yang biasa ia dengar. Perasaan buruk seketika menyelimuti hati Luca.

​Setelah keheningan yang mencekam selama beberapa detik, Brant kembali bersuara dengan sisa-sisa ketegasannya. "Ca, lu bilang mau ajak gue bicara, kan? Gue juga ada hal penting yang mau disampaikan."

Di seberang sana, Luca menangkap perubahan nada itu. Ia mencengkeram ujung bajunya, ketakutan mulai merayapi dadanya. "Iya... aku mau dengar Kakak bicara aja dulu."

Brant menarik nafas panjang, menahan denyut menyakitkan di dadanya. "Kita... masing-masing dulu ya, Ca. Sekarang keluarga dan urusan kerjaan gue di London lagi kacau banget. Waktu gue nggak akan cukup buat..." Brant menjeda, suaranya mendadak mengecil, sarat akan kesedihan dan keputusasaan yang teramat dalam. "Bukan karena gue ingin pisah atau nggak cinta lagi sama lu, Ca. Tapi... gue di sini lelah banget. Gue stres berat, sumpah."

​Mendengar kata masing-masing dulu, air mata Luca langsung luruh dengan deras membasahi pipinya. Wajahnya memerah padam. Ia membekap mulutnya sendiri, meremas kuat pakaian di dadanya agar suara tangisnya tidak lolos ke seberang telepon.

Luca tidak sanggup lagi mendengar kejujuran Brant yang terasa mencekik lehernya. Tanpa sanggup menjawabnya. Dengan tangan bergetar Luca langsung memutuskan sambungan itu secara sepihak.

​Ponselnya terjatuh begitu saja di atas kasur. Dalam keheningan kamar yang mendadak terasa mencekam, Luca menatap layar ponsel yang telah menggelap dengan pandangan kabur oleh air mata. Bibirnya yang gemetar perlahan terbuka, berbisik parau pada kekosongan.

​"Iya, Kak Brant... aku mengerti. Aku setuju kok, kita masing-masing dulu..."

​Usai kalimat itu terucap, tangisnya yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah sejadi-jadinya. Luca menenggelamkan wajahnya ke bantal, tidak peduli lagi jika Lea atau ibunya bisa mendengar isak tangisnya yang memilukan dari balik kamar.

​Di belahan bumi lain, setelah panggilan terputus, Brant segera menjatuhkan ponselnya ke meja. Ia menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya, menyembunyikan parasnya yang memerah padam menahan sesak. Dada pria itu naik-turun tak beraturan; ia begitu hancur, ingin menangis meluapkan rasa sakitnya, namun air matanya terlalu kelu untuk keluar.

​Mulai hari itu, baik Luca maupun Brant memilih untuk menyetujui sebuah keputusan yang sebenarnya teramat menyakitkan untuk diterima. Mereka terpaksa melangkah di jalan masing-masing, memilih berpisah justru di saat rasa cinta di hati keduanya masih tumbuh dengan begitu besar dan membara. Sebuah perpisahan egois demi sebuah keharusan yang mengorbankan perasaan.

Di sebuah kafe bernuansa temaram tak jauh dari area kantor pusat, Brant dan Leo duduk berhadapan. Secangkir kopi pesanan mereka mengepulkan uap tipis, namun Brant hanya menatapnya kosong, jemarinya memegang pinggiran cangkir dengan dingin. Pesan pasrah dari Luca yang ia terima beberapa jam lalu—menyetujui keputusan untuk jalan masing-masing—masih membekas perih di benaknya, membuat fokusnya menguap.

​Leo, yang tidak tahu apa yang terjadi pada atasannya, mulai membuka dokumen di tabletnya untuk menyampaikan laporan penting.

​"Ada beberapa orang yang ikut direkrut dalam tim promosi produk kosmetik Junior Willey, dan merekalah yang membantu menaikkan nilai saham bisnis itu di pasaran," lapor Leo serius.

​Brant mencoba mengembalikan fokus bisnisnya. Ia mendengarkan dengan tatapan tajam.

​"Tapi, dari semua tim promosi itu, ada satu bintang utama yang menjabat sebagai Brand Ambassador. Dialah alasan utama mengapa produk ini meledak dan laku keras di pasaran," lanjut Leo. Ia menggeser layar tabletnya, hendak memperlihatkan foto dan profil lengkap sang bintang kepada Brant. "Ini orangnya, Brant..."

​Sebelum layar tablet itu berputar sempurna ke arahnya, Brant mengangkat tangan, menolak dengan gestur dingin.

​"Gue nggak peduli siapa sialan di balik produk itu," potong Brant kejam, memotong gerakan tangan Leo. Tatapannya lurus ke depan, dipenuhi aura balas dendam yang pekat. "Langsung putuskan saja kontraknya, atau buat kekacauan apa pun yang bisa membuat reputasi bintang itu hancur bersama produknya. Gue mau saham penjualan bisnis Junior hancur total secepatnya."

​Tangan Brant mengepal kuat di atas meja. Pria itu sama sekali tidak menyentuh ponsel Leo, menolak melihat sosok yang kini resmi menjadi target penghancurannya—tanpa pernah menyadari, bahwa nama yang baru saja ia perintahkan untuk dihancurkan adalah Luca, kekasihnya sendiri yang baru saja ia sakiti demi sebuah ego keselamatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!