Ketika Aisyah terjebak di Shanghai sebagai seorang imigran gelap, ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah karena dua bersaudara dari keluarga Lin.
Lin Zhao memberinya rasa aman dan cinta yang tak pernah ia duga.
Sementara Lin Chou justru memberinya ancaman, kebencian, dan luka.
Namun siapa sangka, di balik semua kebencian itu tersimpan rahasia masa lalu yang mampu menghancurkan segalanya.
Tentang cinta yang tertinggal.
Tentang janji yang gagal ditepati.
Dan tentang seorang perempuan... yang memilih pergi setelah diam-diam menyelamatkan keluarga yang telah menyakitinya.
Di antara dua negara, dua budaya, dan dua hati yang dipertemukan takdir.
apakah cinta cukup kuat untuk melawan luka masa lalu?
Atau justru penyesalan akan datang... saat semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Aisyah tersenyum kemudian menyimpan kembali Al-Qur'an miliknya dikamar.
"Kak Lin. Apakah selama ini Kak Lin tidak pernah merasa tenang?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja dari bibir Aisyah. Wanita itu juga bingung kenapa dia bertanya hal yang sangat sensitif.
Lin Zhao tersenyum kemudian dia menatap atap rumahnya..
"Tidak pernah Aisyah. Kehidupan keluargaku terlalu rumit. Apalagi Kak Lin dia kini menjadi seorang mafia paling kejam di Shanghai sehingga selalu membuatku merasa tidak pernah aman."
Mata Lin Zhao berkaca-kaca ia pun mulai menceritakan sedikit demi sedikit,bahwa dia sudah lelah memiliki kehidupan yang keras. Dia ingin hidup tenang.
"Kak Lin. Maafkan aku jika pernyataan aku membuat Kak Lin merasa sedih."
Lin Zhao tersenyum sembari menatap Aisyah.
"Tidak apa-apa Aisyah. Aku hanya merasa kadang hidup ini terasa tidak adil. Orang tuaku meninggal tiba-tiba. Dan kini aku seperti hidup dalam bayang-bayang Kak Lin Chou."
"Sabar dan ikhlaskan Kak Lin."
"Bersabarlah dalam menjalani semuanya."
"Dan ikhlaskan lah apa yang telah terjadi."
"Aku juga pernah merasakan hal yang sama seperti Kak Lin. Aku juga pernah merasakan bahwa duniaku telah runtuh ketika aku menyambut kepulangan Kakakku."
"Dulu dia pergi dengan membawa begitu banyak mimpi tapi dia justru pulang didalam peti mati."
"Hatiku sakit. Duniaku runtuh walaupun dia bukan kakak kandungku tapi dia orang yang paling menyayangiku. Dan aku telah kehilangannya bahkan aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepadanya."
Aisyah pun menangis mengingat kembali luka yang dia simpan sendirian..
"Tapi aku belajar untuk ikhlas. Aku terus berusaha untuk keluar dari rasa kehilangan yang besar dan aku yakin Kakakku disana melihatku dan dia juga akan sedih ketika melihatku bersedih."
Keduanya pun saling menatap. Mereka sedang merasakan bagaimana sakitnya pernah ditinggalkan oleh orang yang mereka sayangi. Dan kini keduanya pun sama-sama belajar tentang arti ikhlas yang sebenarnya..
***
Di sisi lain Lin Chou masih terus merasa gusar. Kehadiran Mr.Wang membuatnya selalu terbayang akan ucapannya. Bukan karena takut kepada Mr.Wang melainkan tentang rahasia yang dimiliki laki-laki itu.
"Sebenarnya siapa itu Wang Xuan. Apa hubungannya dengan Alesya?"
"Apakah mereka saling mengenal? Apakah mereka sebenarnya memiliki hubungan?"
Semua hal berputar-putar didalam pikiran Lin Chou. Banyak hal yang tidak bisa di terima. Bagaimana jika ternyata Wang Xuan adalah suami baru Alesya? Bagaimana jika sebenarnya Wang Xuan adalah saudara Alesya? Bagaimana?"
Semuanya berputar didalam pikiran Lin Chou dia benar-benar merasa gagal.
"Papa.. Kenapa Papa sedih. Apa Papa sedang ingat Mama?"
Ucapan Xioyi membuyarkan lamunannya dan membuatnya langsung memeluk putrinya. Bagi seorang Lin Chou kini Xioyi adalah kekuatannya.
"Qīn'ài de, bàba méishì. (Sayang,Papa tidak apa-apa.) Lin Chou memeluk putrinya dengan penuh kehangatan.
Tiba-tiba saja mata Lin Chou tertuju pada sebuah benda asing ditangan putrinya itu.
"Sayang ini apa? Kamu menemukan ini dari mana?"
Lin Chou terlihat panik melihat sebuah kalung liontin yang melingkar di leher Xioyi.
"Xioyi dapat dari Om baik. Kata Om itu dia adalah sahabat Mama. Disini ada foto Xioyi dan Mama."
Xioyi menunjukan foto dirinya dan Alesya.
Saat liontin itu terbuka, napas Lin Chou seakan terhenti.
Di satu sisi terdapat foto Alesya yang sedang tersenyum.
Di sisi lainnya terdapat foto bayi Xioyi yang baru lahir.
Jari-jarinya bergetar saat menyentuh wajah wanita itu.
Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi rasa sakit itu masih sama.
"Alesya..."
"Siapa Sebenarnya yang telah menemui putrinya itu. dan memberikan kalung padanya."
"Lepaskan sayang. Kamu tidak boleh menerima barang apapun dari siapapun."
Xioyi menunduk dia sedih. Selama ini Lin Chou sendiri tidak pernah menunjukan foto Alesya kepada putrinya. Dan kini Xioyi telah mendapatkan apa yang dia mau,dan dia harus melepaskannya.
"Papa.. Jangan ambil kalung ini. Ini adalah kalung pemberian Om baik. Dan aku sangat suka dengan kalung ini. Disini ada Mama."
"Papa, selama ini Xioyi tidak punya foto Mama..."
Xioyi menunjukan kembali foto Alesya membuat hati Lin Chou serasa di remas-remas dia tak berdaya melihat putrinya menangis..
"Oke Papa tidak akan mengambilnya. Sudah jangan menangis lagi." Lin Chou mencoba untuk menenangkan putrinya itu.
*Satu jam yang lalu.*
Xioyi yang sedang duduk sendirian di taman bermain. Wajahnya terlihat murung dan dia selalu berharap untuk bisa bertamu dengan Ibunya.
"Mama.. Mama dimana? Xioyi merindukan Mama. Xioyi ingin dipeluk,Xioyi ingin Mama ada disamping Xioyi."
Gadis kecil itu terlihat menangis.
Selama ini Xioyi tidak pernah berani menangis didepan Papanya gadis kecil itu selalu menangis diam-diam.
Sepasang mata yang sedari tadi terus menatapnya pun tak kuasa menahan kesedihannya.
"Alesya maafkan aku,aku tak bisa berbuat banyak untuk putrimu. Jika aku terlalu dekat dengannya aku takut aku akan menyakitinya."
Wang Xuan menghapus airmatanya dan kemudian dia mendekati Xioyi..
"Gadis kecil kamu kenapa?"
tanyanya pelan.
Xioyi menatap Wang Xuan dan kemudian dia mundur. Ia ketakutan.
"Om siapa? Kenapa Om kesini? Pergilah Om nanti kalau pengawal Papa melihat Om bisa dalam bahaya."
Wang Xuan tersenyum,dia bangga karena Xioyi berhasil mewarisi sikap Alesya yang selalu memperdulikan orang lain.
"Om akan baik-baik saja. Xioyi merindukan Mama?"tanyanya kemudian membuat Xioyi terkejut.
"Om tahu tentang Mama?"tanya Xioyi pelan.
Wang Xuan hanya mengangguk dia tidak menjawab apapun. Wang Xuan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah kalung liontin berbentuk hati. Kalung yang terbuat dari emas murni dengan ukiran khusus.
"Ini adalah hadiah dari Om untuk Xioyi lihatlah disini ada Mama dan ada Xioyi waktu Xioyi baru lahir. Kamu simpan baik-baik dan jika kamu merindukan Mama kamu bisa melihatnya. Om pergi dulu."
Wang Xuan langsung berbalik pergi. Setelah sebelumnya dia mencubit pipi Xioyi dengan lembut.
"Xioyi pulang ini sudah sore. Om pergi dulu."
"Terima kasih Om baik." Xioyi pun langsung berbinar bahagia,pergi sembari memegang kalung liontin itu dengan sangat erat.
****
Lin Chou menjadi gelisah dia ingin tahu siapa yang telah memberikan kalung itu pada Xioyi. Awalnya Lin Chou berpikir bahwa mungkin Alesya telah kembali. Dia diam-diam menemui Xioyi.
"Alesya jika benar kamu telah kembali maka aku akan memperjuangkan cinta kita lagi."ucapannya penuh dengan percaya diri.
"Cepat cek rekaman cctv,hari ini siapa yang datang menemui Xioyi. Dan apa motifnya."
Lin Chou memerintahkan anak buahnya untuk mengecek rekaman cctv di taman tempat Xioyi bermain.
Pengawal itu terkejut karena yang datang menemui Xioyi adalah Mr.Wang.
"Bagiamana,sudah ketemu?" tanya Lin Chou dengan gugup.
"Sudah Tuan tapi.."
Pengawal itupun menunjukan rekaman cctv.
Saat Lin Chou melihat rekaman CCTV:
Lin Chou membeku.
Bola matanya membesar.
Tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.
Di layar itu terlihat jelas sosok Wang Xuan sedang berbicara dengan Xioyi.
"Wang Xuan..."
suaranya terdengar dingin.
"Kali ini apa sebenarnya tujuanmu?"
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Lin Chou merasakan ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan.
Karena ia sadar...
Wang Xuan mungkin mengetahui sesuatu tentang Alesya yang selama ini tidak ia ketahui.