"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Masak
“Kakak kuliah dulu ya.” Aryan berkata sembari melepaskan helm dari kepala Zaskia. Perempuan itu berdiri di sisi motor, tepat di samping suaminya.
“Iya. Pulang jam berapa?”
“Kenapa?” Aryan balik bertanya sambil menatap wajah Zaskia yang tampak sedikit canggung.
“Ya gapapa. Nanya doang.”
“Mungkin sore. Tapi belum tau pasti jam berapa. Soalnya masih ada beberapa dosen yang mau Kakak temui sekalian ngajuin judul skripsi.”
Zaskia mengangguk paham.
Entah kenapa suasana di antara mereka terasa kikuk.
Jika bersama Kafa, Zaskia bisa dengan mudah melontarkan candaan setiap kali bertemu atau berpisah. Namun bersama Aryan, ia masih sering salah tingkah. Padahal dulu, sewaktu kecil, mereka biasa bermain bersama tanpa rasa canggung sedikit pun.
Semuanya berubah ketika mereka mulai beranjak dewasa. Ada jarak dan adab yang tanpa sadar tercipta di antara keduanya.
Mungkin kalau Aryan yang memulai candaan duluan, suasana tidak akan sekaku ini.
“Kenapa diem aja? Masuk sana, Kia.”
“Hem… iya.” Zaskia tersenyum kaku lalu berbalik hendak masuk ke rumah.
Namun tiba-tiba Aryan mencekal pergelangan tangannya.
Zaskia terkejut ketika tubuhnya ditarik mendekat hingga kini jarak mereka nyaris tak tersisa. Tangan kanan Aryan bahkan sudah melingkar di pinggangnya, menahan agar perempuan itu tetap berada di dekatnya.
“Cium,” ucap Aryan pelan.
Zaskia langsung melotot bingung. “Di sini?”
Aryan mengangguk kecil sambil tersenyum manja.
“Malu, Kak. Nanti kalau ada yang lihat gimana? Ini di depan pagar loh.”
“Kalau di kamar Kakak gak ada waktunya, Kia.”
“Ih, astaghfirullah mulutnya! Minta disentil!”
Aryan malah tertawa gemas. “Iya, sentil pakai bibir kamu.”
“Kak!”
“Ayo, Kia.”
“Dikit aja ya?”
Aryan mengangguk lalu memejamkan mata, seolah benar-benar menunggu dicium oleh istrinya.
Zaskia menghela napas pelan. Sambil melirik kanan-kiri memastikan keadaan aman, ia akhirnya mengecup pipi Aryan dengan cepat.
“Udah.”
“Enggak terasa.” Aryan melepas helmnya lalu kembali mendekat. “Sekali lagi.”
Zaskia berdecak pelan. “Kak, ya ampun…”
“Cepat, Kia.”
Dengan mendengus malu, Zaskia kembali mendekatkan wajahnya ke arah Aryan. Namun tepat saat bibirnya hampir menyentuh pipi laki-laki itu, Aryan tiba-tiba menoleh.
Dan tanpa sengaja, bibir mereka akhirnya bertemu.
Mata Zaskia langsung membulat.
Sesaat ia ingin menjauh, tetapi tangan Aryan sudah lebih dulu menahan belakang kepalanya.
Senyum tipis tersungging di bibir Aryan di sela matanya yang masih terpejam. Ia mengecup bibir Zaskia singkat namun lembut, membuat jantung perempuan itu berdetak kacau.
“Udah,” ucap Aryan setelah menjauh. Jemarinya lalu mengusap pelan bibir bawah Zaskia.
Sementara Zaskia hanya bisa menunduk dengan wajah merah padam. “K-Kia masuk dulu ya!”
Karena terlalu salah tingkah, Zaskia langsung berbalik dan berjalan cepat memasuki rumah, nyaris setengah berlari.
Aryan terkekeh kecil melihat tingkah istrinya yang lucu. Ia terus memperhatikan sampai sosok Zaskia benar-benar menghilang di balik pintu rumah.
Laki-laki itu kemudian mengembuskan napas panjang untuk meredakan gejolak di dadanya.
Setelah kembali memakai helm, Aryan pun menjalankan motornya dan pergi meninggalkan area rumah.
Sementara itu, di dalam kamar, Zaskia buru-buru mengunci pintu sebelum merebahkan tubuhnya telungkup di atas ranjang.
“Aaa… kenapa Kia jadi deg-degan terus sih!” keluhnya sambil membenamkan wajah ke bantal.
Padahal tadi malam mereka sudah melakukan hal yang jauh lebih intim. Namun anehnya, ciuman singkat barusan justru terasa berbeda.
Lebih membuat jantungnya tidak tenang. Zaskia menutup wajahnya malu sendiri. Apa jangan-jangan ia mulai menyukai perlakuan Aryan?
Astaga, jangan sampai begitu. Zaskia tidak mau dianggap genit, bahkan oleh dirinya sendiri.
Namun sejak malam ketika mereka benar-benar menjadi suami istri, perasaannya memang sering berubah aneh. Kadang ia menikmati perhatian dan godaan Aryan, tapi di lain waktu ia justru merasa malu dan ingin menghindar.
Ada perasaan tarik-ulur yang membuat Zaskia sendiri kesulitan memahami isi hatinya.
Zaskia ingin menerima Aryan sepenuhnya. Ia ingin belajar mencintai laki-laki itu sebagaimana dulu ia mencintai Kafa. Namun entah kenapa, semua itu masih terasa sulit.
Padahal mereka sudah saling menyentuh, bahkan beberapa kali berciuman. Aryan juga selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh pengertian. Tidak pernah memaksa, tidak pernah membuatnya merasa tertekan.
Tetapi hati seseorang memang tidak bisa berubah dalam semalam.
Zaskia menghela napas panjang sambil memandang ke arah jendela kamar. Cahaya matahari siang menerobos masuk lewat celah tirai, membuat kamarnya terasa hangat.
“Ya Allah… buat Kia jatuh cinta sama suami Kia,” lirihnya pelan.
Ada rasa bersalah setiap kali mengingat Aryan yang begitu tulus menunggunya, sementara di sudut hatinya masih tersisa nama lain yang belum benar-benar hilang.
Nyatanya, cinta pertama memang tidak semudah itu untuk dilupakan.
Apalagi bagi Zaskia, Kafa bukan sekadar seseorang yang pernah hadir. Laki-laki itu adalah orang pertama yang membuatnya mengenal rasa suka, mengenal harapan, lalu sekaligus mengenal kecewa sedalam itu.
Namun sekarang keadaan sudah berubah. Zaskia adalah istri Aryan.
Dan perlahan, tanpa ia sadari, Aryan mulai mengisi ruang-ruang kosong di hatinya sedikit demi sedikit. Mungkin belum sepenuhnya menjadi cinta, tetapi setidaknya laki-laki itu sudah berhasil membuatnya merasa nyaman, aman, dan dihargai.
Perasaan yang dulu belum pernah benar-benar ia sadari keberadaannya.
***
Usai beristirahat dan makan siang, Zaskia menghampiri Ayesha yang sedang berada di samping rumah sambil memberi makan ikan di kolam.
“Bunda, ajarin Kia masak dong.”
Ayesha menoleh lalu tersenyum heran. “Ih, tumben banget. Ada apa ini?”
“Yaaa... pengen aja, Bun.”
“Hm, pasti buat Gus Aryan kan?”
Zaskia terkekeh malu. “Hehehe... ya gapapa dong, istri masakin buat suami?”
“Gapapa banget.” Ayesha tertawa kecil. “Yuk, Bunda ajarin. Jadi nanti makan malam kamu yang masak.”
“Yah, Bun... Kia takut gak enak.”
“Gapapa. Namanya juga belajar. Enggak semua orang langsung bisa.” Ayesha mengusap kepala putrinya lembut. “Kamu aja pintar bikin kue kok.”
“Masak sama baking kan beda, Bunda.”
“Iya beda, tapi sama-sama pakai hati.”
Zaskia tersipu mendengar ucapan ibunya. Ia lalu ikut duduk di pinggir kolam sambil memperhatikan ikan-ikan yang berebut makanan.
“Emangnya dulu Bunda langsung jago masak buat Ayah?”
Ayesha tertawa kecil. “Enggak lah. Dulu pertama kali masak buat ayah kamu, sayurnya keasinan.”
“Terus Ayah marah?”
“Enggak. Ayah malah nambah.”
Zaskia mengernyit tak percaya. “Boong.”
“Beneran. Padahal habis itu beliau minum air hampir satu teko.” Ayesha kembali tertawa mengingat kejadian lama itu.
Zaskia ikut tertawa kecil. Rasanya hangat mendengar cerita sederhana seperti itu.
“Jadi, gak usah takut gagal. Selama niatnya baik, insya Allah suami kamu juga bakal menghargai usaha kamu.”
Zaskia menunduk pelan sambil memainkan ujung gamisnya. “Bunda...”
“Hm?”
“Kia masih bingung sama perasaan Kia sendiri.”
Ayesha menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh lembut pada putrinya. “Maksudnya?”
“Kia pengen belajar nerima Kak Aryan sepenuhnya. Kak Aryan juga baik banget sama Kia.”
Tatapan Ayesha melembut penuh pengertian. “Itu wajar, sayang.”
“Beneran?”
“Iya. Hati manusia gak bisa berubah dalam semalam.” Ayesha menggenggam tangan Zaskia lembut. “Yang penting sekarang kamu sedang berusaha.”
Zaskia diam mendengarkan.
“Dan satu hal yang harus kamu tau...” lanjut Ayesha pelan, “cinta yang baik itu bukan cuma soal deg-degan atau rasa suka. Tapi tentang siapa yang bertahan, siapa yang menjaga, dan siapa yang tulus memperlakukan kamu dengan baik.”
Zaskia langsung teringat Aryan.
Tentang laki-laki itu yang sabar menghadapi dirinya, yang tidak pernah memaksa, yang diam-diam selalu memperhatikan hal kecil tentangnya.
Tanpa sadar sudut bibir Zaskia terangkat tipis.
“Nah, sekarang malah senyum sendiri.”
“Ih Bunda...” Zaskia salah tingkah sambil menutupi wajahnya.
Ayesha tertawa gemas. “Udah yuk masuk. Kita mulai belajar masak sebelum calon istri idaman ini berubah pikiran.”
Zaskia mendengus malu sambil mengikuti langkah Ayesha masuk ke dapur. Begitu tiba di sana, Ayesha langsung mengambil celemek bermotif bunga lalu memakaikannya pada putrinya.
“Nih, biar kelihatan kayak chef.”
“Chef apaan, Bun. Kia aja motong bawang masih nangis.”
“Gapapa. Nanti juga terbiasa.”
Ayesha kemudian mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Ada ayam, wortel, kentang, dan beberapa bumbu dapur lainnya.
“Kita masak yang simpel dulu aja ya. Ayam kecap sama sop.”
“Mudah gak, Bun?”
“Kalau sama Bunda, mudah.”
Zaskia terkekeh kecil lalu mulai membantu mencuci sayuran. Sesekali ia memperhatikan tangan Ayesha yang cekatan mengiris bawang.
“Bun, bawangnya tipis banget motongnya.”
“Ya iyalah, masa dipotong pakai golok.”
“Bunda ih.”
Ayesha tertawa kecil melihat wajah manyun putrinya.
Tak lama kemudian, dapur mulai dipenuhi aroma tumisan bawang putih dan bawang merah. Zaskia yang sedang mengaduk ayam tampak serius sekali sampai alisnya bertaut.
“Pelan-pelan ngaduknya, Kia. Itu ayam bukan musuh.”
“Takut gosong, Bun.”
“Makanya apinya jangan kegedean.”
Zaskia mengangguk patuh.
Namun beberapa menit kemudian—“Bun!”
“Kenapa lagi?”
“Ini kecapnya kebanyakan enggak?”
Ayesha melongok ke wajan lalu tertawa pelan. “Kamu niat bikin ayam kecap atau ayam berenang?”
“Yahhh... gimana sih, Bun.”
“Udah sini.” Ayesha membantu menambahkan sedikit bumbu lain agar rasanya seimbang. “Masak itu gak harus langsung sempurna.”
Zaskia memperhatikan ibunya dengan saksama. Pelan-pelan ia mulai menikmati kegiatan itu.
“Kalau Kak Aryan suka gimana?”
“Ya syukur.”
“Kalau gak suka?”
Ayesha menoleh sambil tersenyum kecil. “Kalau dia sayang sama kamu, dia bakal tetap makan.”
Zaskia terdiam.
Entah kenapa, ia jadi membayangkan ekspresi Aryan nanti saat mengetahui dirinya memasak khusus untuk makan malam.
Mungkin laki-laki itu akan tersenyum senang. Atau malah menggoda dirinya habis-habisan. Membayangkan hal itu membuat pipi Zaskia menghangat sendiri.
“Kia.”
“Hm?”
“Kamu ngaduk sopnya sambil senyum-senyum begitu kenapa?”
Zaskia langsung tersadar lalu buru-buru membuang muka. “Enggak kenapa-napa!”
“Iya deh, enggak kenapa-napa.” Ayesha menahan tawa geli melihat putrinya yang salah tingkah.
Zaskia juga menyempatkan untuk membuat cookies khusus untuk Aryan. Zaskia jadi teringat kalau cookies yang ia buat itu adalah kesukaan Kafa. Namun, sekarang ia akan membuatkannya khusus untuk suaminya. Kafa sudah menjadi masa lalu baginya yang tak perlu lagi ia ingat.
***
Di kampus, Aryan beberapa kali menguap saat dosen sedang memaparkan materi. Tubuhnya terasa lelah karena tadi malam ia tidak tidur seperti biasanya. Kegiatan panasnya bersama Zaskia benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.
Beberapa menit berlalu, dosen akhirnya menyudahi kelas dengan tugas makalah sebagai penutup pertemuan sore itu. Aryan menghela napas pelan sambil menyandarkan kepala ke kursi.
“Enggak balik, lu, Yan?”
“Iya, duluan aja, Bro.”
“Ya udah, gue cabut ya.”
“Mhm, hati-hati.”
“Siap.”
Setelah temannya pergi dan keadaan kelas mulai sepi, Aryan baru memasukkan laptop ke dalam tas. Ia bangkit sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu berjalan keluar kelas menyusuri koridor kampus seorang diri.
“Aryan!”
Seruan itu membuat langkahnya terhenti. Aryan menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis berkulit putih bersih sedang berlari kecil menghampirinya. Rambut hitam panjangnya bergerak mengikuti langkah kaki jenjangnya.
“Lo udah mau pulang?” tanya gadis itu saat sudah berada di samping Aryan.
“Iya. Kenapa?”
“Ada rapat BEM. Lo gak buka grup chat ya?”
Aryan dan gadis bernama Giska itu memang tergabung dalam organisasi yang sama, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa.
Aryan mengembuskan napas lelah. “Gue izin ya, capek banget.”
“Lo sebenarnya masih minat gak sih, Yan? Udah berapa kali coba lo bolos rapat. Lo bisa dikeluarin sama presma kalau kayak gini terus.”
Dulu, posisi ketua BEM itu ditempati Aryan. Namun karena tugas kuliah yang menumpuk ditambah pekerjaannya di luar kampus, ia memilih mundur dan hanya menjadi anggota biasa. Sejak saat itu, Aryan memang jadi jarang aktif menghadiri rapat.
“Ntar gue yang ngomong sama presma kalau dia marah.”
“Enggak semudah itu, Yan. Seenggaknya lo tanggung jawab sama posisi lo.”
“Gue harus tanggung jawab apa? Gue cuma anggota, Gis.”
Giska menghela napas panjang. Sebagai sekretaris BEM, ia paling sering berhubungan dengan Aryan dulu. Wajar jika ia merasa kehilangan sosok pemuda itu yang kini perlahan menjauh dari organisasi.
“Lo sibuk apa sih sebenarnya? Semenjak bukan lo yang jadi presma, kegiatan organisasi gak berjalan sebaik dulu.”
“Bukan karena gue atau Andre, Gis. Kita sama aja kok.” Aryan menjawab tenang. “Semua program tetap jalan sesuai keputusan departemen.”
Giska kembali terdiam. Sebenarnya ia tau ucapan Aryan benar. Namun jauh di dalam hatinya, ia hanya merindukan Aryan yang dulu—aktif, berwibawa, dan selalu penuh semangat.
“Lo belum jawab pertanyaan gue.”
Aryan menatapnya sebentar. “Gue kerja sekarang, Gis. Makanya gue enggak bisa fokus kayak dulu.”
Mata Giska langsung membulat. “Lo kerja? Kerja apa?”
“Ngajar.”
“Hah? Serius?” Giska tampak benar-benar kaget. “Bukannya bokap lo seorang gus? Beliau juga punya beberapa café kan? Kenapa lo harus capek-capek kerja? Emangnya enggak ganggu kuliah?”
Aryan tersenyum tipis. “Enggak ganggu. Gue cuma pengen belajar berdiri di atas kaki sendiri.” Tatapannya perlahan melembut ketika bayangan Zaskia melintas di kepalanya. “Apalagi sekarang ada seseorang yang jadi tanggung jawab gue.”
Giska mengernyit bingung. “Maksud lo?”
“Bukan apa-apa.” Aryan membetulkan posisi tas di pundaknya. “Gue balik ya.”
“Tunggu, Yan.”
“Kenapa lagi?”
“Minggu ini lo ada acara enggak?”
“Ada.”
“Oh...” Wajah Giska sedikit meredup. “Rencananya gue mau minta tolong lo anterin gue jemput nyokap di bandara.”
“Sorry ya.”
“It’s okay.” Giska memaksakan senyum. “Mungkin lain waktu.”
Aryan hanya mengangguk kecil. “Udah ya, gue jalan dulu.”
“Iya. Hati-hati.”
“Oke.”
Aryan pun pergi meninggalkan koridor itu. Langkahnya tenang seperti biasa, tanpa menyadari ada seseorang yang diam-diam memandang punggungnya dengan perasaan rumit.
Giska menunduk pelan sambil menggenggam tali tasnya.
“Kenapa sih gue suka sama cowok sesulit ini...” gumamnya lirih.
Sudah lama ia memendam rasa pada Aryan. Baginya, laki-laki itu hampir sempurna—pintar, berwibawa, tenang, saleh, dan selalu menjaga sikap pada perempuan.
Namun justru karena itulah Aryan terasa begitu jauh untuk digapai.
“Sampai kapan gue cuma bisa suka diam-diam?” bisiknya lagi. “Dia bahkan gak pernah kasih kode apa pun.”
Giska menggigit bibir bawahnya pelan..“Apa jangan-jangan Aryan udah suka sama seseorang?”
Entah kenapa, memikirkan kemungkinan itu membuat dadanya terasa sesak.
“Tapi kalau gue gak pernah ngomong... dia juga gak bakal tau.”
Perlahan, gadis itu menarik napas panjang lalu mengangkat kepalanya dengan tekad yang mulai tumbuh di dalam hati.
“Mungkin... gue harus jujur sebelum semuanya terlambat.”
***
Saat waktu makan malam tiba, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Berbagai hidangan tersaji hangat, termasuk ayam kecap dan sop buatan Zaskia yang tadi dimasaknya bersama Ayesha.
Zaskia duduk di samping Aryan dengan wajah sedikit tegang. Sedangkan Aryan tampak belum menyadari kalau sebagian besar makanan malam ini dibuat oleh istrinya.
“Ini untuk Kakak.” Zaskia menyodorkan piring berisi ayam kecap ke hadapan Aryan.
Aryan menoleh sebentar lalu menerima piring itu. “Makasih.”
“Loh?” Zaid langsung bersuara protes. “Kenapa cuma Bang Aryan yang ditawarin? Zaid sama yang lain enggak?”
“Itu karena khusus dibuat sama kakak kamu untuk Aryan,” sahut Ayesha santai sambil mengambil sayur.
“Bundaaa...” Zaskia langsung salah tingkah sampai pipinya memerah.
Zaid sontak membulatkan mata. “Hah?! Kak Kia masak?”
“Emang kenapa kalau aku masak?” balas Zaskia cepat.
“Takut aja rasanya...” gumam Zaid pelan.
“ZAID!”
Semua orang langsung tertawa melihat ekspresi kesal Zaskia.
Aryan sendiri tampak sedikit terkejut. Ia menatap lauk di piringnya lalu beralih pada wajah Zaskia yang sedari tadi menunduk malu.
“Kamu masak ini?”
Zaskia mengangguk pelan. “Diajari Bunda.”
Aryan perlahan tersenyum. Entah kenapa, dadanya terasa hangat mendengar itu.
Tanpa banyak bicara, ia langsung mengambil suapan pertama.
Semua orang otomatis memperhatikan Aryan, termasuk Zaskia yang tampak paling tegang di antara semuanya.
“Gimana, Yan?” tanya Ayesha.
Aryan mengunyah pelan sebelum akhirnya mengangguk.
“Enak, Bun.”
Mata Zaskia langsung berbinar. “Serius?”
“Mhm.” Aryan kembali mengambil suapan kedua. “Kakak suka.”
Zaskia spontan tersenyum lebar sampai matanya ikut menyipit gemas.
“Tumben gak asin,” celetuk Zaid.
Sendok di tangan Zaskia langsung terangkat. “Mau aku lempar gak?”
“Heh! Galak banget!”
Tawa kembali memenuhi meja makan malam itu.
Aryan diam-diam memperhatikan Zaskia yang sedang berdebat dengan adiknya. Sudut bibirnya terus terangkat kecil tanpa sadar.
Rasanya sederhana. Namun justru suasana seperti inilah yang diam-diam selalu ia inginkan sejak dulu.