Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Gertakan Sambal.
"Bunuh saja ...tapi aku pastikan ...setelah kau melepaskan tanganmu dari leherku, racun yang sudah masuk ke dalam tubuhmu tidak akan bisa dinetralkan oleh siapapun."
Thalia mengucapkan kalimat itu dengan napas yang masih tersisa. Wajahnya mulai memerah, tapi matanya menatap Samuel tanpa berkedip. Tidak ada jawaban yang Samuel inginkan, tidak ada permohonan untuk dilepaskan, hanya ada ancaman balasan.
Cengkraman Samuel di leher Thalia bukan melonggar, justru menguat. "Apa maksudmu?"
Thalia tersenyum tipis, sengaja menancapkan kukunya hingga menembus kulit Samuel. Dalam sekejap, bekas luka kuku Thalia di kulit Samuel mulai membiru di sekitar setetes darah yang kaluar, dan secara perlahan bintik merah mulai muncul.
Samuel melepaskan cengkraman tangannya secara tiba-tiba.
Tubuh Thalia merosot sedikit, terbatuk sambil memegangi lehernya yang kini berbekas merah. Ia menghirup udara rakus, sedetik kemudian ia mendongak, tersenyum miring seolah baru saja mendapatkan doorprize.
"Ternyata ...tebakanku tentang kau takut mati itu benar." Thalia terkekeh pelan, mencemooh. "Untuk ukuran orang tidak tahu malu sepertimu, biasanya takut jika berumur pendek."
"Apa yang kau lakukan padaku?" panik Samuel melihat bercak kemerahan mulai menyebar dari segores luka yang Thalia buat.
"Menurutmu apa?" Thalia menyeringai, menegakkan punggungnya, lalu mengeluarkan tissue basah dari saku celana yang segera ia gunakan untuk membersihkan ujung kukunya.
"Kau ..." rahang Samuel mengeras, melangkah maju untuk merebut tissue basah itu dari tangan Thalia, namun kalah cepat ketika seorang pria berbadan besar tiba-tiba berdiri di depannya. Menghalanginya.
Samuel mendongak, menelan ludah. Pria yang sama yang ia temui di kampus kala itu kini berdiri menjulang di depannya; Markus.
"Satu langkah lagi kau maju, tanganmu patah," ujarnya datar namun penuh ancaman.
Samuel melangkah mundur. Pandangannya beralih pada Thalia yang kini berada di balik punggung pria besar di depannya.
"Siapa kau?" tanya Samuel.
"Kau tidak berhak bertanya," sahut Markus dingin.
"Sepertinya kau datang untuk mengacau lagi."
Suara itu datang dari belakang Samuel, membuat tubuh itu reflek berbalik dan mendapati Lea berdiri dalam jarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri.
"Lea ...kamu kambali?" Samuel sumringah, segera melangkah maju dengan tujuan memeluk gadis 'harta karunnya'.
Namun, Lea justru melangkah melewati Samuel begitu saja, mengabaikan tatapan protes yang Samuel berikan.
"Kamu menyakiti sahabatku," Lea membalikan badan, mendesis marah setelah melihat bekas merah di leher Thalia.
"Aku tidak bermaksud," jawab Samuel membela diri, sejenak lupa dengan keadaan pergelangan tangannya. "Aku bertanya di mana kamu berada tapi dia tidak mau mengatakannya."
"Dan itu kau jadikan alasan untuk menyakitinya?" sahut Lea tidak terima.
"Aku ..." ucapan Samuel menggantung, telinganya berdengung, teringat akan percakapannya bersama Sania.
"Katakan saja jika kamu mencintainya. Gunakan kata-kata manis untuk membuat dia luluh, dan dia akan kembali menjadi Lea yang dulu," ucap sania saat itu.
"Tapi aku tidak-..." Samuel bersiap untuk menyanggah, tetapi kalimatnya terputus.
"Dia menyukaimu sejak awal semester, saat kamu masih menjadi senior kami. Kamu tentu tidak lupa kan jika dia juga pernah membantumu dalam pembuatan skripsi? Dia melakukan itu karena dia menyukaimu, manfaatkan saja rasa sukanya itu."
"Setelah suasana hatinya membaik, kita bisa memanfaatkannya lagi."
Semuel tersentak ringan, ingatannya tentang percakapannya bersama Sania menggema kilat di telinganya. Ia menggeleng cepat, kembali menatap lekat manik mata Lea.
"Aku merindukanmu. Sudah satu minggu lebih kamu tidak ada kabar. Aku juga kesulitan menemuimu."
Lea tersenyum tipis, namun cukup untuk membuat Samuel membeku di tempat. Senyum yang baru saja Lea perlihatkan tidak pernah Samuel lihat.
"Menemuiku? Untuk apa? Meminta bantuan gratis lagi?" serang Lea tepat sasaran. "Maaf saja, kali ini waktuku berbayar."
Alis Samuel berkerut tipis. Ingin menyangkal, tapi tidak ada kata yang bisa ia keluarkan untuk pembelaan diri.
"Apa yang terjadi denganmu, Lea? Apakah mereka mengancammu?" ucap Samuel menunjuk Thalia dan Markus di belakang Lea menggunakan dagunya.
"Aku sangat baik. Bahkan tidak pernah merasa sebaik ini sebelummya," jawab Lea.
Tidak ada senyum manis, tidak ada gelayutan manja, hanya ada tatapan sedingin es kutup utara yang Samuel terima.
"Pergilah," usir Lea kemudian.
Samuel terperangah, hembusan napasnya berubah kasar. Tapi ia berusaha meredam semuanya demi tujuannya. "Kau mengusirku, Lea? Aku datang karena aku khawatir. Justru dia yang mencelakaiku. Lihat ini." ujarnya menunjukan tangannya yang memiliki bercak merah lebih banyak dari sebelumnya. Kedua mata Samuel membelalak.
"Ini semakin menyebar. Berikan aku tissue-nya! Itu pasti yang kau sebut sebagai penetral racun kan?"
Wajah panik Samuel begitu nyata. Matanya menatap lurus ke arah Thalia. Ia ingin maju, tapi Markus masih setia menghalangi. Dan Lea? Sama sekali tidak menunjukkan rasa peduli.
Wanita yang sebelumnya akan panik hanya karena goresan kecil di jarinya, kini sedikitpun tidak peduli padanya. Sebaliknya, wanita itu justru menambah kepanikan yang sedang Samuel rasakan.
Lea menggeleng dengan dramatis, memberikan tatapan prihatin. "Apakah luka itu kamu dapatkan dari Thalia?"
Samuel mengangguk cepat. "Ya. Dia mengatakan memiliki penawarnya."
"Sayang sekali. Tissue basah tidak bisa menjalankan perannya. Kau sudah menghabiskan waktu terlalu lama untuk mengatasi itu. Harusnya, kamu segera ke rumah sakit. Efek dari racun itu sudah bekerja. Dalam dua puluh empat jam kedepan, tanganmu akan membengkak, kemudian melepuh," tutur Lea dalam bentuk dongeng teror karangannya sendiri.
"Jari tanganmu akan membiru dengan rasa gatal luar biasa. Bintik yang saat ini memerah akan menghitam, dan kau akan muntah. Bukan muntah makanan, tetapi darah sampai cairan di dalam tubuhmu habis."
Wajah Samuel sepucat kapas, tubuhnya gemetar, ketakutan akan kematian melanda.
"T-tapi dia bi-bilang memiliki penawarnya," ucap Samuel terbata. "Berikan padaku."
"Enak saja. Tidak akan," jawab Thalia ketus. "Pergi saja ke rumah sakit. Itupun kalau kamu masih memiliki waktu."
Ketakutan Samuel meningkat. Pandangannya beralih pada Lea, memberikan tatapan memohon untuk pertama kali.
"Lea ..."
"Aku akan meminta Thalia memberikan obatnya. Tapi jawab pertanyaanku dengan jujur." kata Lea mengangkat bahu.
"Aku akan jawab. Katakan apa yang ingin kamu tanyakan," sahut Samuel cepat.
"Saat aku tenggelam, apakah benar kau yang menyelamatkanku atau orang lain?" tanya Lea.
Hening...
Samuel membeku. Bagaimana cara Lea bertanya, tatapan dingin yang Lea berikan, serta sikap yang Lea tunjukkan sudah menjadi peringatan jika Lea tahu sesuatu.
"Tidak mau jawab? Ya sudah." Lea membalikkan badan, meminta sahabatnya serta Markus untuk masuk ke dalam rumah.
"Aku jawab," teriak Samuel panik. Ia tidak ingin mati mengenaskan. "Bukan aku ...itu orang lain. Tapi aku bersumpah, aku tidak tahu siapa orangnya."
Jawaban itu cukup bagi Lea. Ia tidak perlu mengetahui lebih jauh alasan Samuel berbohong. Pengakuan itulah yang ia butuhkan.
"Bagus jika kamu jujur. Jawabanmu sudah aku simpan. Sekarang pergilah, aku muak melihatmu," ucap Lea datar.
"Tunggu! Mana obatnya!" teriak Samuel putus asa
"Tissue ini?" Thalia menunjukkan tissue di tangannya. "Bisa kau dapatkan di toko terdekat."
"Dan untuk obatnya, cukup mandi menggunakan air hangat yang kamu campur menggunakan soda kue. Aku tadi hanya asal bicara, kau saja yang bodoh percaya begitu saja pada gertakan sambal," Lea menimpali.
Blam!
Pintu rumah Lea tertutup rapat, meninggalkan keheningan singkat.
"LEA ...!!"
Thalia dan Lea saling pandang sejenak, kemudian terbahak di balik pintu.
. . ..
.. . .
To becontinued...