Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara di Balik Asap Bakso
Hari itu Elang memutuskan untuk pulang lebih awal,ia ingin membersihkan kontrakannya karena ia tidak mau Arumi melihat kontrakan mereka masih berantakan sepulang ia bekerja.
"Ini noda apa sih? Kenapa tidak mau hilang?" gerutu Elang",seharusnya ini kerjaannya Bima " kembali ia mengomel sendiri. Pikirannya melayang pada Bima yang berjanji akan menyusul untuk membantu tentu saja dengan imbalan "uang tutup mulut" yang dalam dunia profesional disebut sebagai bonus gaji.
"Tapi kalau aku terlihat lemah pasti Arumi curiga padaku. Ini Bima jam segini belum muncul, katanya mau bantuin. Awas kamu Bim, gaji kamu akan aku potong," gumamnya kesal.
Elang tidak menyadari bahwa di ambang pintu, asisten sekaligus sahabatnya itu sudah berdiri dengan ekspresi antara kasihan dan ingin tertawa melihat sang Tuan Muda kini berduel dengan noda lantai.
Aroma pembersih lantai murahan menyeruak di dalam kontrakan sempit berukuran empat kali enam meter itu. Elang Dirgantara, pria yang seharusnya sedang menyesap cerutu mahal di penthouse mewah, kini justru sedang berjongkok, mencoba menggosok noda membandel di ubin dapur yang kusam. Keringat bercucuran di pelipisnya, membasahi kaus oblong putih yang sudah agak dekil.
"Sial, kenapa noda ini tidak mau hilang?kalau sampai lima menit Bima nggak datang,awas saja,aku tendang ia sampai kutup Utara ,biar menjadi teman beruang disana." Elang masih mengomel ,sedangkan Bima yang melihat itu semua hanya cekikikan saja .
"Itu karena kau menggosoknya dengan emosi, bukan dengan teknik, Tuan Muda," sebuah suara berat menyahut dari arah pintu,dan menahan tawanya .
Elang menoleh cepat. Di ambang pintu berdiri Bima, sahabat sekaligus asistennya yang kini menjabat sebagai Wakil CEO di kantor cabang. Bima tampak sangat kontras dengan Elang; ia mengenakan kemeja slim-fit mahal dan jam tangan mahal namun terlihat sederhana,meski ia sengaja memakai motor butut yang ia pinjam padanya penjaga kebun untuk ke kontrakan Elang agar tidak memancing kecurigaan tetangga.
"Bima! Jangan panggil aku Tuan Muda di sini. Bagaimana kalau ada tetangga yang dengar?" desis Elang sambil meletakkan sikat plastiknya.
Bima terkekeh, lalu melangkah masuk setelah memastikan pintu tertutup rapat dan terkunci. Ia meletakkan sebuah kantong plastik besar berisi perlengkapan rumah tangga di atas meja kayu yang sudah goyang.
"Maaf, kebiasaan. Tapi lihatlah dirimu, Elang. Kalau Pak Surya melihat putranya yang sombong ini sedang bertarung melawan kerak lantai, beliau pasti akan sangat bangga," goda Bima sambil mulai menyingsingkan lengan kemejanya.
"Jangan hanya mengejek. Bantu aku! Jangan sampai Arumi tahu siapa aku,Aku tidak mau dia curiga apalagi sampai kecapekan membereskan kontrakan ini." perintah Elang.
Bima menghela napas, lalu mengambil kain pel. "Arumi ... Cie ..yang sudah nikah,perhatian banget nih ."
"Apaan sih kamu Bim,malah ngeledek aku,sekarang bantuin nih ."
"Bro,kamu nikahi Arumi secara mendadak, Kau benar-benar nekat, Lang. Menikahinya tanpa memberitahu siapa dirimu sebenarnya? Itu bom waktu."
Elang terdiam sejenak. Ia teringat wajah Arumi yang lelah namun tetap tegar saat mereka dipaksa menikah oleh Warga .
"Dia pikir aku hanya Elang, seorang pengangguran yang kebetulan dapat kerja jadi OB dan jualan bakso bakar. Dia tidak boleh tahu tentang posisiku di Dirgantara Group, setidaknya sampai misi ini selesai," ucap Elang serius
.
### Gotong Royong Dua Identitas
Bima mulai membantu membereskan tumpukan kardus di sudut ruangan. Di dalam kardus-kardus itu terdapat peralatan "perang" Elang: sebuah rombong motor untuk berjualan bakso bakar dan beberapa seragam OB yang masih baru,beserta semua berkas -berkas pekerjaannya .
"Aku sudah mengatur semuanya di kantor," kata Bima sambil menyusun piring-piring plastik ke rak. "Sebagai Wakil CEO, aku memastikan kau ditempatkan di lantai manajemen,dan para petinggi kantor. Kau akan sering melihatku, tapi ingat, jangan sekali-kali menyapaku dengan akrab jika ada orang lain. Di kantor, aku adalah atasanmu yang dingin, dan kau adalah bawahan yang sering kumaki agar sandiwara ini sempurna."
Elang mendengus. "Kau sepertinya sangat menikmati peran itu, ya? Menindas calon bosmu sendiri."
"Anggap saja ini balas dendam karena dulu kau sering menyuruhku mengerjakan tugas kuliahmu di London," balas Bima dengan cengiran lebar.
Mereka menghabiskan waktu dua jam berikutnya untuk menyulap kontrakan kumuh itu menjadi tempat yang layak huni. Bima, meskipun sekarang sudah menjadi pejabat perusahaan, tidak kehilangan ketangkasannya. Ia sangat cekatan karena memang berasal dari keluarga sederhana sebelum diangkat anak oleh keluarga Dirgantara.
"Oh ya, ini resep bumbu rahasia bakso bakar yang diminta Papimu," Bima menyodorkan sebuah catatan kecil. "Aku sudah membayar seorang koki terkenal untuk meracik bumbu yang rasanya merakyat tapi tetap membuat orang ketagihan. Kau harus mempelajarinya malam ini. Jangan sampai bakso bakarmu rasanya seperti sandal jepit terbakar."
Elang menerima catatan itu dengan wajah masam. "Jualan bakso bakar ... sungguh, Papi punya selera humor yang sangat aneh untuk menguji mental anaknya."
"Ini bukan soal bakso, Elang. Ini soal kerendahan hati," Bima menepuk bahu sahabatnya. "Saat kau berdiri di pinggir jalan, menunggu pembeli, kau akan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Kau akan melihat bagaimana orang-orang memandang rendah mereka yang kecil, dan di situlah kau akan belajar menjadi pemimpin yang memiliki empati."
### Kehadiran Arumi yang Tak Terduga
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di lorong depan kontrakan. Elang dan Bima membeku.
"Itu Arumi!" bisik Elang panik. Ia melihat ke arah Bima yang masih terlihat sangat rapi dan mewah. "Cepat sembunyi di kamar mandi! Atau keluar lewat jendela belakang!"
"Apa? Aku ini Wakil CEO, Elang! Masa aku harus memanjat jendela seperti maling?" protes Bima.
"Cepat!" Elang mendorong Bima ke arah dapur belakang tepat saat kunci pintu berputar.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pintu terbuka. Arumi melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat letih. Tas kerjanya tersampir lesu di bahu. Ia berhenti di ambang pintu, matanya membelalak melihat ruangan yang tiba-tiba bersih dan mengkilap.
"MAS Elang?kamu sudah pulang ? Dan Kamu yang membereskan semua ini?" tanya Arumi heran. Matanya kemudian tertuju pada dua cangkir kopi di atas meja dan sebuah jas mahal yang tertinggal di kursi,jas milik Bima.
Jantung Elang serasa mau copot. Ia lupa menyembunyikan jas itu!
"Eh, iya ... aku tadi ... anu," Elang gagap. Ia segera mengambil jas itu dengan gerakan cepat. "Tadi ada teman lama yang mampir! Teman sesama pencari kerja. Dia baru saja dapet kerja jadi sales jas, makanya dia pamer jasnya di sini."
Arumi mengerutkan kening, melangkah mendekat dan meraba bahan jas tersebut. "Sales jas? Tapi bahan ini ... sepertinya wol Italia kualitas tinggi. Wanginya juga seperti parfum mahal di mall besar."
Elang menelan ludah. "Ah, itu ... barang KW, Dia beli di pasar loak, tapi katanya biar kelihatan profesional saat melamar kerja. Kau tahu kan, zaman sekarang penampilan itu nomor satu meski kantong kosong."
Arumi menghela napas panjang, tampak mempercayai alasan absurd Elang karena rasa lelahnya yang luar biasa. Ia duduk di kursi kayu dan memijat pelipisnya.
"Syukurlah kalau kamu punya teman yang juga berjuang. Oh ya, kalau kamu sedang bekerja,Kamu harus hati-hati di sana, Elang. Kantor itu sedang sensitif. Ada isu penggelapan dana yang besar, dan manajemen sedang sangat ketat,Aku tidak mau kamu jadi kambing hitamnya," ujar Arumi memberikan peringatan yang tulus.
Elang merasa tersentuh sekaligus bersalah. Istrinya ini yang ia nikahi demi misi dan situasi ternyata begitu peduli padanya. Ia duduk di hadapan Arumi, berusaha menyembunyikan tangannya yang masih kotor karena debu.
"Aku akan berhati-hati, Besok setelah pulang dari kantor, aku juga akan mulai menyiapkan rombong bakso bakar di depan minimarket dekat sini. Kita butuh uang tambahan, kan?"
Arumi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat hati Elang berdesir aneh.
"Kamu tidak perlu memaksakan diri, Mas Tapi aku hargai semangatmu. Kita mulai dari bawah sama-sama, ya?"
### Pelajaran Pertama: Ego yang Terkikis
Malam semakin larut setelah Arumi masuk ke kamar untuk beristirahat. Elang kembali ke dapur dan mendapati Bima sudah berhasil menyelinap keluar lewat pintu belakang, meninggalkan sebuah pesan singkat di WhatsApp: ["Jas itu harganya 20 juta, Bos, Jangan sampai istrimu memakainya untuk lap dapur!"]
Elang hanya bisa membalasnya dengan emoji tinju.
Ia kemudian berdiri di depan cermin kecil di kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya
Dia harus bisa menyelesaikan misinya ,ia tidak mau selalu berbohong ,dan Arumi cepat atau lambat siapa dirinya ,siapa Elang Dirgantara ?